TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Berebut Shower


__ADS_3

Rizal terjaga saat mendengar bunyi alarm di ponselnya. Dia yang sangat merasakan lelah akhirnya tertidur di sofa yang memang empuk seperti yang dikatakan oleh Grace.


Rizal mengambil ponselnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan jam lima pagi dan memperbaiki posisinya hingga dia terduduk. Rizal melirik ke arah pintu kamar Grace yang masih tertutup.


Rizal lalu bangkit mencari kamar mandi karena dia ingin mencuci wajahnya. Sekalian mengambil air wudhu karena dia ingin melaksanakan sholat Shubuh. Dia masih menjalankan kewajiban ibadahnya walaupun kadang masih ada yang terlewat. Sebelumnya dia mencari arah kiblat melalui ponselnya.


Setelah melaksanakan Sholat Shubuh, Rizal kembali duduk di sofa seraya membuka ponselnya mengecek pesan yang masuk sembari menunggu Grace keluar dari kamarnya.


Dia mendapati pesan dari Isabella putrinya yang baru dikirim sekitar lima menit lalu. Kemungkinan putrinya itu mengirim pesan ketika dia sedang sholat tadi.


" Assalamualaikum. Pih. Papih tidak pulang semalam ya? Papih ada di mana?" Itu pertanyaan yang dilontarkan Isabella kepadanya. Putri semata wayangnya itu memang begitu sangat perhatian kepadanya.


Rizal dengan cepat mengirim balasan kepada Isabella.


" Waalaikumsalam, Papih ada tugas yang harus diselesaikan, Sayang. Kamu jangan khawatir dengan Papih." Tak ingin putrinya itu menjadi cemas, Rizal mengatakan jika dia baik-baik saja dan sedang menjalani tugas. Walaupun dia yakin, putrinya itu akan marah jika tahu tugas yang dia jalani saat ini adalah menjaga seorang wanita cantik yang hampir saja membuatnya lepas kendali.


" Oh ya sudah, Pa. Tapi Papih jaga kesehatan ya! Jangan terlalu capek bekerja, apalagi lembur sampai malam." Kembali Isabella menunjukkan rasa perduli kepada Papihnya itu.


" Iya, Sayang. Papih pasti selalu jaga kesehatan Papih, kok." Rizal menyakinkan putrinya.


" Ya sudah, Bella mau mandi dulu. Assalamualaikum ..." Isabella berpamitan ingin mengakhiri panggilan teleponnya.


" Waalaikumsalam ..." sahut Rizal langsung menutup panggilan telepon.


Rizal menoleh ke arah pintu apartemen. Dia ingin keluar apartemen Grace untuk mencari kopi. Rasanya asam sekali mulutnya jika belum merasakan secangkir kopi. Namun, pintu itu terkunci dan dia pun takut Grace memakai kesempatan itu untuk kabur jika dia tidak ada di tempat.


Rizal akhirnya berjalan ke arah dapur. Walau akan dianggap kurang sopan tapi tenggorokannya terasa kering ingin segera dialiri minuman meski hanya air mineral.


Rizal mengambil gelas dan air dari galon dispenser yang ada di dapur apartemen Grace, lalu meneguknya sampai tenggorokannya terasa basah. Setelahnya dia kembali ke arah sofa dan kembali duduk bersandar dengan pandangan terus menatap pintu kamar Grace.


Sampai pukul 06.00 pagi, pintu kamar Grace tidak juga terbuka. Rizal yakin Grace tidak akan bangun pagi, hingga akhirnya dia melangkah mendekat ke arah pintu kamar Grace berniat membangunkan wanita itu.


Tok tok tok


" Nona, bangunlah! Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Nona." Rizal mengetuk pintu seraya memanggil nama Grace dari luar kamar Grace.


" Nona ...!!" Rizal kembali berseru memanggil nama Grace, namun tak juga pintu kamar itu terbuka.


" Nona, tolong buka pintunya! Jangan sampai saya dobrak kamar Anda!" Kesal karena Grace tak juga memperdulikan panggilannya, Rizal sampai mengancam wanita itu.


" Saya benar-benar akan mendobrak pintu kamar Anda, Nona!" Merasa jika Grace sudah membuat kesabarannya menipis, Rizal mendorong kuat daun pintu kamar Grace seraya menekan handlenya. Namun, ternyata pintu kamar Grace tidak terkunci, membuat Rizal hampir terjungkal jika saja dia tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, karena dia mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga.


Pandangan mata Rizal kini terpusat ke arah tempat tidur Grace. Wanita itu tertidur dengan telungkup hanya menggunakan kaos lengan pendek dengan panjang setengah badan hingga menutupi bo kongnya. Sementara paha bening dan mulus sampai ujung kaki terbiarkan terbuka tanpa penutup apapun.


Rizal hanya mampu menelan salivanya, karena harus kembali digoda oleh Grace.


" Si al! Wanita ini senang sekali memancingku!" umpat Rizal mengambil selimut lalu menutup bagian tubuh Grace yang terbuka.


" Nona, bangunlah! Cepatlah bersiap! Kita harus pergi dari sini!" Rizal kembali membangunkan Grace dengan menguncang punggung Grace.


" Uuuggghh ... apaan, sih? Mengganggu sekali!" Dengan mata masih terpejam, Grace memutar tubuhnya hingga kini tidur telentang dengan tangan memukul ke udara seolah memukul orang yang mengusiknya.


Dan kali ini Rizal kembali disuguhi dengan godaan karena dia melihat kaos tipis berwarna putih yang digunakan Grace itu sampai memperlihatkan puncak kembar yang tinggi menjulang walaupun tertutup kaos.


" Si al!" Rizal lalu menarik guling yang tidak digunakan oleh Grace lalu menutupi bagian dada Grace dengan guling itu.


" Kau sengaja melakukan ini, kan? Asal kau tahu! Saya tidak akan tergoda dengan wanita sepertimu, Nona!" Rizal bergerutu karena aksi Grace itu dia rasa sudah sangat mengganggu dirinya sebagai pria dewasa.


Grace yang mendengar suara-suara yang mengganggu tidurnya seketika mengerjapkan matanya hingga kini dia melihat Rizal yang sedang mendekatkan guling ke arahnya. Seketika itu juga bayangan menyeramkan yang sering dia lihat di film-film thriller, ketika seorang penjahat ingin membunuh korban dengan membekap korban dengan bantal hingga si korban kehilangan nafas dan tewas karena kekurangan oksigen, tiba-tiba muncul di benaknya.

__ADS_1


" Aaakkkhhh ..." Grace dengan cepat melayangkan tendangannya ke arah tubuh Rizal.


Buuggghh


" Anda benar-benar tidak sopan, Nona!" geram Rizal akibat tendangan Grace mengenai pinggangnya. Karena Grace mempunyai ilmu bela diri, tendangan wanita itu tentu cukup bertenaga terasa di pinggangnya.


" Hei, kau ingin membunuhku ya!?" tuduh Grace seraya bangkit dan memegangi lehernya karena kembali terasa nyeri karena aksinya tadi.


" Jangan sembarang bicara, Nona!" sanggah Rizal.


" Lalu kenapa kau masuk-masuk kamarku?" Grace memicingkan mata menatap Rizal.


" Atau jangan-jangan kau ingin memper kosa aku ya?!" Grace justru menuduh Rizal ingin memper kosanya.


" Buang pikiran kotor Anda, Nona! Cepatlah mandi dan berpakaianlah yang sopan!" Rizal memalingkan wajahnya dari Grace. Entah mengapa wanita di hadapannya itu seolah mengusik jiwa kelaki-lakiannya yang selama ini bisa dia kendalikan seperti mulai goyah dengan aksi nakal Grace.


Melihat Rizal memalingkan wajahnya, Grace pun lalu menurunkan pandangan menatap tubuhnya yang mengenakan kaos hanya sepinggul dengan bahan tipis hingga bagian puncak kembarnya tercetak jelas.


Grace menarik satu sudut bibirnya mengetahui jika Rizal sedang menahan diri agar tidak tergoda dengan penampilan sek sinya saat ini.


Grace turun dari tempat tidur dan melangkah perlahan ke arah Rizal, bahkan sakit di lehernya sudah dia abaikan saat ini.


" Apa kau takut tergoda denganku, Pak tua?" Seperti semalam, kali inipun Grace melingkarkan lengannya di leher Rizal.


Rizal tersentak dengan aksi nekat Grace yang sengaja menggodanya.


" Tolong lepaskan, Nona! Sebaiknya Anda cepat mandi!" Rizal menepis tangan Grace yang melingkar di lehernya.


" Bagaimana jika kalau kau menemani aku mandi?" Grace semakin gencar menggoda Rizal yang semakin risih dengan tingkahnya.


Grace lalu mendorong Rizal hingga pria itu berjalan mundur dan tersudut di tepi tempat tidur lalu akhirnya terjatuh di atas tempat tidur milik Grace.


" Nona, menyingkirlah! Apa yang hendak Anda lakukan?" Wajah Rizal sudah mulai menegang, bukan hanya wajahnya saja sebenarnya, tapi juga bagian miliknya yang sedang diduduki Grace saat ini.


Grace merapatkan tubuhnya dengan tubuh Rizal hingga saat ini wajahnya berjarak dua jengkal saja.


" Bagaimana jika kita membuat kesepakan, Pak tua? Aku akan melayanimu ..." jari lentik Grace kini menyapu wajah Rizal hingga kini berada di bibir pria bermata elang tersebut. " Dan kau lepaskan aku dari hukuman ini? Bagaimana?" Grace melakukan penawaran gi la kepada Rizal.


" Anda sungguh gi la, Nona! Saya tidak akan melakukan kesepakatan dengan wanita bekas pakai banyak pria!" sindiran pedas langsung terucap di bibir Rizal. Pria itu sepertinya sudah merasa muak dengan tingkah laku Grace.


" Si alan!"


Plaakk


Sebuah tamparan langsung diberikan Grace pada Rizal. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Rizal yang mengatakan jika dirinya bekas pakai banyak pria. Padahal selama ini dia hanya melakukan hubungan in tim itu hanya dengan Joe saja.


Sedangkan Rizal yang terkejut mendapatkan tamparan dari Grace langsung mengangkat tubuh Grace dengan kedua lengannya dan bangkit lalu berjalan ke arah kamar mandi.


" Hei, lepaskan! Kau mau apa!?" teriak Grace melihat Rizal membawanya ke kamar mandi.


Tak ada jawaban dari Rizal, hingga akhirnya Rizal menurunkan tubuh Grace di dalam bathtub dan menyalakan kran shower hingga percikan air shower itu mengenai tubuh Grace.


" Pak tua si alan!" Grace mengambil shower dan menyiramkan air dari shower itu ke arah Rizal.


" Hei, hentikan, Nona!" Rizal yang terkena semburan air shower meminta Grace menghentikan aksinya.


" Itu balasan untukmu, Pak tua!!" Grace puas membuat pakaian Rizal basah.


" Dasar bocah nakal!" Rizal mendekati Grace untuk mengambil shower dari tangan Grace. Hingga kedua orang itu kini saling rebut karena Grace tidak mau mengalah.

__ADS_1


" Kau mau apa, Pak tua? Lepaskan aku!" Grace berontak. Mereka bagaikan dua anak kecil yang saling berebut mainan. Tanpa mereka sadari jika tubuh mereka berdua berdekatan sangat in tim dengan tubuh ramping Grace berada dalam dekapan tubuh kekar Rizal. Bahkan air shower yang memercik telah membuat pakaian mereka benar-benar basah. Apalagi pakai Grace yang sangat tipis membuat lekukan tubuh wanita itu terlihat jelas. Hingga tiba-tiba Grace mende sah saat puncak pengununganya terkena gesekan lengan Rizal yang sedang berusaha mengambil handle shower dari tangan Grace.


" Ouuugghh ...."


Grace bahkan menghentikan gerakannya. Wanita itu menatap wajah Rizal yang basah terkena air, membuat pria itu nampak semakin maskulin. Tanpa sadar Grace menelan salivanya, apalagi sentuhan lengan Rizal yang tanpa sengaja mengenai bagian ujung asset kembarnya.


Menyadari Grace terdiam, Rizal pun ikut berhenti dan menatap wajah Grace yang sedang menatapnya. Bibir sek si wanita itu sedikit terbuka seakan menggoda untuk disentuh. Hingga berapa saat tatapan mata mereka bertemu pandang. Seakan terhipnotis dengan lawannya, mereka berdua seakan enggan untuk memutus pandangan.


Pandangan mereka menatap semakin kuat. Seolah ada yang mengerakkan mereka hingga jarak kedua insan itu terpangkas semakin menipis. Mungkin tersisa lima sentimeter saja saat ini kedua bibir mereka hampir saling bertemu.


" Ha ... huacim ...!!" Grace tiba-tiba bersin hingga memercikkan cairan dari mulutnya ke wajah Rizal. Sontak hal itu membuat Rizal tersentak.


" Dasar jo rok!" umpat Rizal berjalan keluar meninggalkan kamar mandi dengan pakaian basah kuyup dan terus menggerutu.


Grace yang melihat Rizal menggerutu sontak tertawa puas. Dia bisa melihat kekesalan di wajah Rizal karena gagal berciuman dengannya.


'" Dasar pria tua munafik! Bilang tidak tertarik, ternyata kepingin juga menciumiku ..." cibir Grace lalu melepas kaosnya hingga tubuhnya kini tak terbalut sehelai benang pun. Dia lalu duduk dalam bathtub dan mulai menyabuni tubuhnya dengan bodywash.


***


Rizal melepas Hoodie nya yang basah karena siraman air shower saat dia melakukan tindakan konyol berebut benda itu dari tangan Grace. Rizal merutuki dirinya yang seperti anak kecil melakukan tindakan itu tadi.


" Kenapa aku jadi terpengaruh sikap bocah nakal itu?!" Rizal berjalan seraya memijat pelipisnya.


Rizal rasanya ingin segera keluar dari apartemen Grace. Sepertinya menerima tawaran Grace untuk ke apartemen milik wanita itu adalah kesalahan besar. Dan dia hampir terjebak dengan permainan wanita nakal itu. Reputasinya sebagai detective yang handal seolah luntur saat menghadapi tawanan seperti Grace.


Rizal mengambil ponselnya. Untung saja saat masuk ke kamar Grace dia meninggalkan benda komunikasi itu di atas meja sofa hingga tidak sampai basah juga seperti tubuh dan pakaiannya.


" Halo, Jun. Tolong kamu sekarang ke rumah saya! Suruh ART di rumah saya untuk menyiapkan satu set pakaian kerja saya dan bawa ke kantor secepatnya. Taruh di ruangan kerja saya!" Rizal menyuruh salah seorang security di kantornya yang hari ini berjaga untuk bergerak ke rumahnya.


" Baik, Pak." sahut Junaedi dari seberang.


Sedangkan Grace yang baru menyelesaikan membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian juga berdandan natural segera keluar dari kamarnya.


Grace melihat Rizal yang berdiri membelakanginya dengan ponsel di tangannya. Pakaian yang dikenakan pria itu terlihat basah karena aksi saling rebut di kamar mandi tadi.


Grace teringat jika dia masih menyimpan pakaian Joe di lemari pakaiannya. Memang tubuh Rizal lebih tinggi dan lebih tegap dibanding Joe. Namun, tak ada salahnya, siapa tahu ada pakaian Joe yang cukup di tubuh Rizal.


Grace kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil pakaian untuk Rizal. Dia membuka lemari lalu mengambil dua potong kemeja dan dua potong denim milik Joe, lalu dia kembali berjalan ke luar kamarnya untuk memberikan pakaian itu kepada Rizal.


" Ini pakailah! Siapa tahu ada yang cocok untukmu!" Grace menyodorkan dua setel pakaian kepada Rizal.


Rizal memutar tubuhnya menatap pakaian yang disodorkan Grace padanya. Dengan senyum sinis di bibirnya dia berkata, " Maaf, Nona. Saya tidak suka pakai baju bekas orang!"


" Hei, kau jangan sombong, Pak tua! Aku hanya kasihan melihat bajumu basah! Nanti kalau kau sakit, tidak ada yang mengawasiku, aku bisa kabur, kau yang kena tegur orang yang membayarmu itu!" Kesal karena Rizal tidak merespon baik pertolongannya, Grace sengaja menyindir Rizal.


" Terima kasih atas perhatian Anda, Nona! Tapi saya lebih baik berpakaian seperti ini. Lagipula, saya tidak ingin tubuh terkontaminasi dengan pengaruh jahat dari pemilik pakaian ini!" Rizal balik menyindir Grace.


" Ck, dasar pria tua menyebalkan!" Grace melempar pakaian itu ke atas meja. Namun, saat dia melempar pakaian itu, sebuah benda terjatuh dari selipan pakaian dan terjatuh di hadapan Rizal.


Rizal melihat benda yang terjatuh di hadapannya yang dia duga adalah alat kontrasepsi pria. Dia mengambil benda itu seraya melirik dan tersenyum mencibir pada Grace.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy reading ❤️


__ADS_2