TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Seperti Wanita Penghibur


__ADS_3

" Nona, nanti Nona akan ikut bersama Jamal dan Indra untuk mulai penyelidikkan kasus sengketa tanah di daerah X." Vito menyampaikan informasi kepada Grace mengenai perintah kerja yang mulai akan dikerjakan oleh Grace hari ini.


" Iiisshh, hanya mengurus masalah sengketa tanah? Tidak ada kasus lainnya yang lebih bonafit gitu? Seperti kasusku itu?" Merasa jika kasus yang akan ditangani adalah urusan perdata, Grace terlihat enggan untuk ikut bergabung dengan kedua anak buah Rizal lainnya.


" Nona jangan memandang remeh kasus yang akan kita tangani. Tanah sengketa itu harganya puluhan milyar. Dan jika tim kita berhasil membantu klien kita mendapatkan tanah miliknya, besar fee yang akan kita terima, Nona." Vito menjelaskan pada Grace, agar Grace tidak memandang sebelah mata kasus yang akan mereka tangani.


" Puluhan milyar? Kau tidak pernah merasakan mempunyai uang milyaran, ya?" sindir Grace. Tentu saja untuk Grace yang mempunyai orang tua pebisnis, uang sejumlah yang disebutkan Vito bukanlah nominal yang besar.


" Hmmm, saya hanya pegawai biasa, Nona. Sudah pasti saya tidak pernah mempunyai uang sebanyak itu." Bukan bermaksud merendah. Namun, pada kenyataannya Vito tidak pernah mempunyai uang sebanyak itu di tabungannya. Kalau pun mempunyai uang simpanan, itu pun hanya sebesar puluhan juta saja jumlahnya, tidak sampai menembus ratusan juta.


" Kalau begitu kau harus bekerja lebih giat lagi agar bisa punya uang milyaran!" celetuk Grace kemudian.


Vito hanya tersenyum merespon perkataan Grace. Jika mengandalkan pekerjaannya saja, rasanya mustahil bisa mempunyai uang sampai milyaran rupiah.


" Lantas, aku mesti berbuat apa nanti? Aku 'kan tidak mengerti soal tanah. Kenapa aku tidak di sini saja? Aku itu 'kan anak bos, masa disuruh kerja lapangan seperti itu!?" protes Grace karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang disebutkan Vito tadi.


" Bukankah Pak Rizal sudah berkali-kali mengatakan pada Nona, jika Nona ini sedang menjalani hukuman. Sebaiknya Nona jangan menawar atas pekerjaan yang diserahkan pada Nona." Merasa jika Grace terlalu banyak memprotes, Vito kembali memperingatkan Grace soal posisi wanita itu saat ini.


" Kau ini lama-lama seperti bosmu itu!" umpat Grace mengomentari sikap Vito yang sebelas dua belas dengan Rizal menurutnya. Wanita itu lalu berjalan menuruni anak tangga karena merasa jenuh di lantai atas.


***


Seperti yang diarahkan oleh Vito, kali ini Grace ikut bersama Jamal dan Indra menangani kasus sengketa tanah di daerah X. Dan saat ini mereka bertiga berada di dalam mobil menuju daerah tempat tanah yang bermasalah itu berada.


" Mbak Nona ini asli dari mana?" Mendengar Rizal dan Vito selalu menyebut Grace dengan sebutan Nona, Indra menduga jika itu adalah nama dari Grace yang sesungguhnya.


" Kau tanya aku?" Grace yang sedang memainkan game di ponselnya melirik ke arah Indra yang mengendarai mobil.


" Tentu saja, Mbak Nona. Masa saya tanya sama dia!" Indra menunjuk ke arah Jamal dengan arahan matanya seraya terkekeh.

__ADS_1


" Namaku bukan Nona! Jangan asal sebut nama sembarangan ya! Orang tuaku kasih nama aku bagus-bagus Grace Renata! Main ganti seenak udelmu saja!" semprot Grace karena Indra salah menyebutnya.


" Oh, maaf, Mbak Grace. Saya kira nama Mbak ini Nona. Soalnya saya sering mendengar Pak Rizal dan memanggil Nona pada Mbak ini. Saya pikir itu nama Mbak." Melihat Grace marah, Indra langsung menyampaikan permohonan maafnya.


" Makanya jangan sok kenal sok dekat kau, Ndra!" Jamal yang sejak tadi hanya mendengar mencibir rekannya yang kena marah Grace.


Setelah terkena marah Grace, kedua anak buah Rizal itu tak ada satu pun yang berani mengajak bicara Grace sampai akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan.


Satu jam kemudian, mereka kini sedang memantau lokasi tanah seketa yang sudah banyak didirikan bangunan permanen rumah-rumah penduduk. Mereka pun mengunjungi aparat terkait untuk menanyakan kejelasan soal tanah yang menjadi sengketa itu.


Sekitar pukul tiga, mereka bertiga akhirnya kembali ke markas. Saat ini Jamal dan Indra sedang memberikan laporan kepada Rizal. Tentu saja Grace pun ada dalam ruangan kerja Rizal, agar memahami hasil penyelidikan yang telah mereka lakukan.


" Bagaimana hasil penyelidikan kalian?" tanya Rizal dari kursi kerjanya.


" Kami sudah menemui aparat desa di sana, Pak Rizal. Menurut informasi dari aparat desa di sana dan instansi yang terkait di sana. Pemilik bangunan itu memiliki sertifikat atas tanah tersebut, Pak. Dugaan kami adanya sertifikat tumpang tindih di tanah itu." Jamal menjelaskan kepada Rizal apa yang dia dan Indra dapatkan dari penyelidikkan mereka.


" Ya, Pak Handy memang mengatakan jika selama ini orang tuanya tidak pernah memberitahu soal tanah tersebut. Mereka baru menemukan sertifikat itu setelah orang tuanya meninggal." Rizal teringat akan ucapan kliennya saat bercerita tentang sengketa tanah tersebut.


Sementara Grace yang juga ada di ruangan itu terus memperhatikan Rizal yang sedang berbicara kepada anak buahnya. Pria itu nampak berwibawa saat berbicara kepada kedua anak buahnya, berbeda jika saat dia goda. Rizal pasti akan salah tingkah. Mengingat hal itu, bibir Grace langsung melengkungkan sebuah senyuman.


Rizal sendiri sebenarnya menyadari jika saat ini pandangan mata Grace sedang menatapnya. Namun, dia tidak ingin memperdulikannya. Karena Rizal yakin hal tersebut akan membuat konsentrasinya buyar.


" Menurut Pak Rizal, apa ada keterlibatan pihak aparat desa dan petugas di sana dalam kasus ini?" tanya Jamal kemudian.


Rizal mengedikkan bahunya lalu berkata, " Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Mal. Dan pihak pemilik bangunan itu pasti tidak ingin melepas begitu saja karena merasa memiliki sertifikat juga. Nanti saya akan tanyakan kepada Pak Handy, apakah akan melibatkan pihak berwajib untuk menyelesaikan masalah ini. Sekarang kalian bisa kembali ke tempat kalian." Rizal mempersilahkan Jamal dan Indra untuk melanjutkan pekerjaannya.


" Baik, Pak. Permisi ..." Jamal dan Indra bergegas keluar dari ruangan Rizal, sementara Grace masih tetap berada di ruangan Rizal.


" Kenapa Nona masih di sini?" tanya Rizal kepada Grace yang tak ikut keluar dari ruangannya.

__ADS_1


" Memangnya aku harus ke mana, Pih? Enak juga di sini menemani Papih. Bisa berduaan dengan Papih ..." Grace berjalan mendekat ke arah meja Rizal lalu duduk di meja kerja pria itu.


" Jangan mulai, Nona! Ini kantor!" hardik Rizal melihat Grace mulai melancarkan aksi nakalnya kembali.


" Memangnya kenapa kalau kantor?" Grace menyilangkan kakinya, untung saja kali ini Grace memakai celana jeans, jadi tidak sampai memamerkan paha indahnya.


" Nona, Anda itu seorang wanita. Seharusnya Anda malu menawarkan tubuh Anda untuk disentuh pria! Dengan sikap Nona ini, Nona tidak beda jauh seperti wanita pela cur yang senang menyerahkan tubuhnya untuk disentuh oleh banyak pria!" Kesal dengan sikap Grace yang terus memancingnya, Rizal pun akhirnya mengeluarkan kalimat sindiran yang langsung menohok di hati Grace.


" Si alan kau! Berani sekali kau mengatakan aku seperti pela cur!" Tak terima dikatakan seperti wanita penghibur, Grace langsung melayangkan tangannya ingin menampar Rizal. Namun, tangan Rizal lebih dulu mencengkram pergelangan tangan Grace.


" Nona tidak terima disebut pela cur, tapi kelakuan Nona tidak jauh beda dengan wanita ja lang!" desis Rizal seraya berdiri dan berhadapan dengan Grace hingga mereka kini saling menatap penuh rasa marah dan kesal dengan tangan Rizal masih mencengkram erat tangan Grace.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Ponsel saya ketinggalan ..." Jamal yang masuk ke dalam ruangan Rizal karena ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di sofa sontak kaget melihat posisi Rizal dan Grace yang terlihat sangat berdekatan.


Tak beda jauh dengan Jamal, Rizal yang kaget dengan kemunculan Jamal lalu melepas tangan Grace dan menjauh dari tubuh Grace.


" Oh, maaf, Pak." Merasa dirinya telah mengganggu interaksi antara Grace dan Rizal, Jamal bergegas mengambil ponselnya lalu berlari meninggalkan ruang kerja bosnya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2