
Grace beberapa kali melirik Rizal yang berbaring di atas tempat tidur dengan tangan sibuk mengetik di ponselnya. Entah dengan siapa Rizal berkomunikasi? Yang pasti pria itu terlihat begitu serius. Sementara dirinya duduk di sofa ruang kamar tersebut padahal dirinya sudah mengantuk dan beberapa kali menguap.
" Kalau kau sudah mengantuk, tidurlah ..." Rizal menepuk sisi di sebelahnya yang kosong. Sepertinya dia menyadari jika sejak tadi Grace beberapa menolehkan pandangan ke arahnya.
" Aku takut kau perko sa!" celetuk Grace.
Seketika Rizal tertawa lebar mendengar jawaban Grace.
" Sudah aku bilang, aku akan melakukannya jika sudah menikahmu." Rizal menepis dugaan Grace. " Tidurlah di sini, aku akan tidur di sofa." Rizal bangkit dan duduk di tepi tempat tidur menyuruh Grace untuk cepat tidur karena waktu sudah lewat jam sebelas malam.
Mendengar Rizal mengatakan akan tidur di sofa, Grace bangkit dan melangkah ke sisi lain tempat tidur yang tadi ditiduri Rizal. Grace langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi tidur membelakangi Rizal.
Setelah Grace membaringkan tubuhnya, Rizal pun melakukan hal yang sama. Dia merebahkan tubuhnya di sebelah Grace dan menatap punggung Grace yang membelakanginya. Namun tak lama dia melihat Grace menoleh ke arahnya.
" Hei, kenapa kau malah tidur di sini, sih?! Tadi kau bilang akan tidur di sofa!" Garce seketika bangkit karena merasa Rizal telah menipunya.
" Spring bed ini sangat luas. Sayang jika dibiarkan kosong," sahut Rizal terkekeh dan melipat kedua tangannya di belakang kepala.
" Lagipula tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa, kok!" Rizal mencoba menepis dugaan buruk Grace terhadapnya.
" Siapa yang bisa percaya padamu!?" Garce segera turun dari tempat tidur dan mengambil bantal. Garce memilih tidur di sofa.
" Kau yakin tidur di sana? Sebagai anak orang kaya, apa kamu pernah merasakan tidur si sofa sebelumnya? Kemarilah, aku tidak akan menggigitmu. Paling hanya sekedar mencium saja. Lagipula, bukankah kamu menikmati jika aku cium?" Rizal kembali terkekeh menggoda Grace.
Grace tidak perduli apa yang dikatakan Rizal. Dia langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Namun, beberapa detik kemudian tubuhnya seakan melayang di udara, karena saat ini Rizal sudah mengangkat tubuhnya dengan kedua lengan kekar pria itu.
" Hei, kau mau apa, Pak tua!?" Grace kaget saat Rizal membawanya kembali ke tempat tidur.
" Kau tidurlah di tempat tidur, aku yang di sofa." Setelah merebahkan tubuh Grace di atas tempat tidur, Rizal kembali ke arah sofa dan membaringkan tubuhnya di sana dengan satu tangan melipat di bawah kepala.
" Tidurlah! Aku tidak akan mengganggu!" ucap Rizal selanjutnya dengan mata terpejam tanpa menolehkan pandangan ke arah Grace.
Merasa yakin jika Rizal tidak akan berbuat macam-macam terhadapnya, Grace pun akhirnya menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai batas leher dan mencoba mengistirahatkan tubuhnya.
***
Rizal dan Grace meninggalkan hotel sekitar jam sembilan setelah mereka menikmati sarapan pagi. Mereka segera kembali ke Jakarta karena sudah tidak ada lagi pekerjaan yang harus dilakukan oleh Grace di Bandung.
Erlangga sendiri memutuskan menghentikan tugas yang selama ini dikerjakan oleh Rizal dan Grace, karena merasa informasi penting sudah dia dapatkan.
" Kenapa kau melamun? Apa kau berat meninggalkan kota ini?" tanya Rizal saat melihat Grace sejak tadi hanya terdiam dan memandang ke luar jendela mobil.
" Aku hanya kasihan dengan Tante Arina. Dia seorang wanita yang baik. Dia terlihat syok saat melihat Erlangga dan Pak Krisna. Aku tidak menyangka di balik kebahagiaan rumah tangga nya saat ini ada kisah pilu yang pernah dialami Tante Arina dulu saat masih bekerja sebagai pengasuh di keluarga Mahadika." Grace masih memikirkan tentang Arina.
" Sayang sekali aku harus cepat-cepat keluar dari sana. Padahal, Tante Arina begitu baik terhadapku. Dia menganggap aku seperti anaknya sendiri. Benar-benar calon Mama mertua idaman." Grace menyilangkan tangannya di dada dan mendramatisir dengan ekor mata melirik ke arah Rizal.
" Kau tahu, Pak tua? Status Tante Arina dan Rivaldi itu Mama dan anak sambung. Tapi, Rivaldi sangat menyanyangi Tante Arina begitu juga sebaliknya. Hubungan mereka sangat harmonis. Jika orang yang tidak tahu, pasti akan menganggap jika mereka itu adalah Mama dan anak kandung." Grace masih terus membicarakan soal Arina.
Rizal melirik ke arah Grace karena dia tahu Grace pasti sedang menyindir soal Isabella.
" Apa kau ingin terlihat seperti itu dengan Isabella?" Rizal meledek Grace.
Sontak Grace mendelik saat mendengar sindiran Rizal. " Hei, kau pikir aku ini sudah tua!? Siapa yang akan berani mengatakan kalau aku terlihat seperti Mama kandung untuk anakmu yang manja itu!?" protes Grace karena dia dan Isabella hanya terpaut satu tahun. Isabella lebih muda satu tahun darinya.
" Kamu dan Bella lebih cocok jadi kakak adik, saudara," sahut Rizal terkekeh.
__ADS_1
" Kau tahu tentang hal itu. Seharusnya kau sadar kalau aku ini lebih pantas jadi anakmu! Dan seharusnya kau batalkan niatmu untuk menikahiku!" Grace mencoba mempengaruhi Rizal untuk membatalkan niatnya untuk memilikinya.
" Melupakan niatku menikahimu, dan membiarkan Rivaldi memilikimu, begitu? Itu tidak akan terjadi!" tegas Rizal tak terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Grace kepadanya. Dan penegasan dari Rizal tadi membuat Grace memutar bola matanya.
" Tidak usah bersusah payah mempengaruhiku! Terima saja nasibmu, kalau akulah jodohmu. Jika aku tidak ditakdirkan bersamamu, mungkin Tuhan tidak akan mempertemukan kita malam itu." Rizal mengingatkan kembali kala mereka pertama kali bertemu saat dirinya menolong Gavin yang diserang oleh Grace dan Joe.
" Sedangkan kamu dan Rivaldi? Kalian dipertemukan karena settingan, bukan murni pertemuan yang tidak disengaja. Kalian tidak cocok untuk berjodoh!" Rizal mengakhiri kalimatnya dengan tawa lebar membuat Grace mencebikkan bibirnya.
" Menurutmu, apa Rivaldi akan mencari keberadaan kita?" tanya Grace kemudian.
" Tentu saja! Dia pasti akan marah sangat mengetahui jika selama ini dia telah kita kelabui, terutama darimu," jawab Rizal dengan terkekeh. Karena dia menduga jika Rivaldi sudah mulai menyukai sosok Rena. Dan saat Rivaldi tahu jika Rena itu bukanlah orang yang dikira sebelumnya, sudah jelas Rivaldi akan sangat kecewa.
" Apa dia bisa menemukan kita?" tanya Grace kembali.
" Dia tidak mempunyai data yang jelas tentang siapa kita. Dia tidak mungkin mengetahui jejak kita," sahut Rizal dengan percaya diri.
***
Tak beda jauh dengan Rizal dan Grace. Rivaldi pun kembali ke Jakarta. Namun, lebih pagi dari mereka. Rivaldi belum mendapat kabar dari Jimmy soal siapa Firman dan Rena ini. Bahkan orang di apartemen tempat tinggal Grace, tidak ada satu pun tetangga apartemen itu yang bisa dimintai keterangan oleh Jimmy. Hanya security yang memberitahu memang sering melihat sosok Rizal dan Grace yang beberapa hari ini muncul di apartemen itu.
Setelah sampai di Jakarta, Rivaldi yang masih penasaran dengan sosok Grace segera menunju ke apartemen milik Grace. Dia harus mendapatkan jawaban tentang siapa dan apa motif di balik penyamaran Grace dan juga Rizal.
Sudah keempat kalinya Rivaldi menekan bel di dekat pintu apartemen yang selama ini dihuni oleh Grace. Namun, pintu kamar itu tidak juga dibuka.
" Apa dia sudah meninggalkan apartemen ini? Dia tahu jika aku sudah mencium tentang kebohongannya. Hebat sekali, siapa di balik dia hingga bisa bertindak secepat ini?" Rivaldi mengeryitkan keningnya mencoba menduga-duga.
" Si al! Selama ini ada yang memata-mataiku tapi aku tidak menyadarinya!" Rivaldi merasa jika dirinya sangat bo doh. Tidak hanya karena dia telah diperdaya oleh Rizal dan Grace. Namun, dia juga tidak menyangka jika gerak-gerik dia selama ini dipantau oleh seseorang.
Rivaldi melirik unit apartemen di sebelah Grace yang tiba-tiba pintunya dibuka dari dalam dan menampakkan sosok seorang wanita paruh baya keluar dari apartemen itu.
" Ibu maaf, saya mau bertanya. Apa ibu kenal dengan pemilik apartemen sebelah ini? Namanya Rena. Dia masih muda dan cantik." Rivaldi mencoba bertanya guna mendapatkan informasi soal Grace.
" Setahu saya unit sebelah itu masih kosong belum berpenghuni. Tapi, kalau memang beberapa hari ini ada yang menempati, saya kurang tahu juga," sahut wanita itu kemudian.
" Oh, terima kasih untuk informasinya, Bu." Merasa tidak ada lagi informasi penting yang bisa dia dapatkan dari wanita itu, Rivaldi memilih mempersilahkan wanita itu untuk melanjutkan aktivitasnya.
Rivaldi mencoba mencari informasi dari front office di dekat pintu lobby. Namun, tak satu pun informasi yang dia terima soal Grace dari petugas front office di sana
Rivaldi akhirnya memutuskan untuk segera ke kantornya. Tapi, tiba-tiba dia ingat akan sesuatu.
" Gadis itu ... gadis yang diakui si Firman itu sebagai anaknya. Apa itu juga sebagian rencana mereka?" Rivaldi terus berpikir mengingat alamat Isabella yang sempat dia baca di kartu identitasnya.
" Sayang sekali aku tidak sempat mencopy kartu pengenalnya." Rivaldi mendengus saat mengingat jika dia tidak menyimpan dokumen kartu pengenal Isabella.
" Bengkel itu, apa mereka masih menyimpannya, ya?" Rivaldi teringat jika sempat menyerahkan kartu tanda penduduk milik Isabella pada pihak bengkel karena dia ingin meminta Isabella bertanggung jawab atas kerusakan mobilnya. Walaupun pada akhirnya dia tidak meminta ganti rugi kepada Isabella setelah dia tahu jika Isabella adalah anak Rizal. Namun, dia berharap pihak bengkel masih menyimpan arsip kartu tanda penduduk Isabella. Dari situ mungkin Rivaldi bisa mulai menyelidik siapa sosok Firman dan Rena yang telah menipunya itu.
***
Memasuki jam makan siang Rizal dan Grace sampai di kota Jakarta. Rizal sengaja membawa Grace makan siang dulu sebelum kembali ke kantornya. Dan kali ini Rizal dan Grace sedang berjalan di sebuah mall menuju restoran ramen yang diinginkan oleh Grace.
" Hai, Sugar Daddy ..." saat Grace dan Rizal berjalan di koridor dan melewati beberapa remaja-remaja putri yang sedang berkumpul dan bersandar di pagar pembatas besi. Salah satu dari mereka menyapa Rizal dengan sebutan Sugar Daddy.
" Om, aku mau dong, jadi Sugar Baby Om juga!" teriak satu remaja lainnya. " Kalau sudah bosan sama yang itu, sama saya saja, Om." lanjut remaja itu tanpa rasa malu.
Rizal menanggapi perkataan anak muda tadi dengan mengulum senyuman, berbeda dengan Grace yang nampak kesal karena mereka seolah mencemoohnya.
__ADS_1
" Dia ini calon istri saya." Rizal merangkulkan tangannya di pundak Grace hingga membuat tubuh mereka merapat.
" Istri simpanan ya, Om?" tanya remaja tadi yang disambut tawa teman-temannya.
" Saya juga mau dong, jadi simpanannya, Om." Remaja pertama yang menyapa Rizal ikut menimpali.
Rizal menghentikan langkahnya dan juga memutar tubuhnya lalu memperhatikan remaja-remaja itu. " Kalian masih muda dan cantik. Kenapa kalian menawarkan diri kalian menjadi istri simpanan? Apa tujuan kalian belajar sejak TK itu hanya ingin menjadi istri simpanan? Apakah status itu membanggakan bagi kalian? Walaupun itu diucapkan hanya sebagai suatu candaan, itu tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita, apalagi diusia belia seperti kalian." Wejangan yang disampaikan oleh Rizal membuat remaja itu terdiam dan hanya saling bisik.
" Saya juga punya anak seusia kalian. Jika anak saya melakukan apa yang kalian katakan tadi, sudah pasti saya sebagai orang tua akan kecewa. Saya rasa orang tua kalian pun akan merasakan hal yang sama. Mereka banting tulang memeras keringat untuk menyekolahkan kalian, berharap kalian bisa menjadi anak yang sukses dan berhasil, yang bisa membahagiakan keluarga. Justru kalian dengan mudah mengatakan ingin menjadi wanita simpanan. Jika ada pria hidung belang yang menanggapi serius perkataan kalian tadi, bagaimana??" Rizal masih belum berhenti memberikan nasehatnya membuat semua remaja itu terdiam.
Sementara Grace pun ikut terdiam. Kata-kata Rizal secara tidak langsung ikut menyindirnya juga. Walaupun dia melakukan hal itu bukan untuk mendapatkan uang.
" Aku lapar, buruan!" Tak ingin Rizal terus menceramahi remaja-remaja tadi, Grace meminta Rizal segera pergi dari kerumunan remaja tadi.
" Om bicara seperti ini bukan karena Om membenci kelakuan kalian tadi. Om hanya menempatkan diri sebagai orang tua yang mempunyai anak gadis, apa yang Om rasakan akan sama dengan yang orang tua kalian rasakan." Rizal tidak berhenti menceramahi remaja-remaja itu.
" Om sendiri sama dia bagaimana?" Salah satu dari remaja itu menyindir Rizal yang menggandeng wanita yang lebih muda.
" Tidak ada yang salah dengan kami. Om bukan Sugar Daddy! Om sudah hampir enam tahun menduda dan dia single. Kalau kalian pikir dia mau sama Om karena Om ladang uang untuknya, justru kekayaan Om tidak sebanding dengan kekayaan yang dia punyai karena dia anak orang kaya. Papa Mamanya mempunyai bisnis yang sangat sukses. Dia mau menerima Om apa adanya, karena dia sangat mencintai Om. Karena dia tahu, tidak ada pria mana pun yang bisa membahagiakan dia seperti Om membahagiakannya." Dengan percaya diri Rizal menceritakan hal yang sebenarnya tidak penting untuk remaja-remaja itu dengar.
" Usia tidak masalah untuknya, walaupun banyak pria muda dan tampan yang mencoba mendekatinya, tapi dia tetap memilih Om. Karena dia tahu jika Om adalah yang terbaik untuknya. Jadi, mana mungkin dia bisa menolak Om." Rizal masih dengan bualannya.
Grace mendelik ke arah Rizal yang semakin meracau dan mengarang cerita.
" So sweet banget sih, Om. Kisah cinta Om sama Mbak ini." Remaja yang menawarkan diri menjadi istri simpanan Rizal tadi langsung berkomentar.
" Tapi Om masih ganteng dan keren, lho!" Remaja lainnya ikut berkomentar.
" Kalau itu sudah pasti. Makanya Om percaya diri bisa mendapatkan dia." Rizal menyeringai, dalam hatinya dia menertawakan dirinya atas tindakan konyolnya berkata-kata tidak penting pada remaja tadi setelah menceramahi mereka.
" Buruan!" Melihat Rizal semakin narsis, Grace segera menarik lengan Rizal untuk segera menjauh dari remaja-remaja itu.
" Kalian lihat, kan? Dia itu sudah bucin sama Om!" seru Rizal sebelum meninggalkan mereka.
" Semangat, Om!!"
" Lanjutkan, Om! Jangan kasih kendor!!"
Beberapa remaja tadi justru menjawab ucapan Rizal dengan memberikan dukungan kepada Rizal.
" Gi la kau, Pak tua! Apa untungnya membual seperti itu kepada mereka!?" Grace kesal dengan sikap Rizal.
" Tidak apa-apalah, kasih sedikit hiburan untuk mereka." Rizal justru terkekeh tak serius menanggapi kekesalan Grace.
Sementara di area parkir mall tersebut, mobil yang dikendarai oleh Isabella dan Fauziah, baru saja tiba. Mereka berdua memang sengaja ke mall itu untuk mencari buku dan dilanjutkan dengan makan siang selepas jam kuliah mereka berakhir.
*
*
*
Bersambung ...
Bantu ramaikan kisahnya Bagas & Indhira di novel SKANDAL VIDEO MASA LALU ya, readers. Sekarang ini pertumbuhan level author agak sulit dan sepertinya lebih mengutamakan viewer dari karya itu. Ga seperti kemarin dari reward² bisa nabung poin pertumbuhan untuk author. Selama bulan Januari aja poinku cuma naik 2 poin padahal rajin update. Kalau sebelumnya bisa dapet ratusan poin dalam 1 bulan, aturan NT sekarang malah bikin poin author banyak yg anjlok bahkan ada yg turun level. Jadi selain berusaha rajin update, aku minta dukungan kalian untuk berkenan membaca karya2ku lainnya. Makasih🙏
__ADS_1
Happy Reading