
Rizal menyentuh dadanya yang entah mengapa tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar cukup kencang. Saat ini dia bersama Vito dalam perjalanan ke luar Jakarta, karena ada klien mereka di luar kota yang ingin memakai jasanya untuk mengungkap kasus yang terjadi di perusahaan kliennya itu.
" Ada apa, Pak?" tanya Vito menoleh ke arah Rizal yang masih memegangi dada sebelah kirinya. Dia menduga jika bos nya itu sedang merasakan sesuatu.
" Entahlah, Vito. Perasaan saya tiba-tiba saja tidak enak." Rizal menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini. Walaupun dia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
" Apa kita berhenti dulu, Pak?" tanya Vito menawarkan mereka beristirahat lebih dahulu.
" Tidak usah, Vit! Lanjutkan saja perjalanannya." Rizal menolak tawaran Vito karena dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan tidak sampai pulang larut sampai rumahnya.
Sementara itu di Jakarta
Rivaldi memperhatikan Isabella yang terduduk lemas si sampingnya. Gadis itu masih terisak dan memeluk erat tubuhnya sendiri. Sepertinya rasa takut itu belum hilang dari hati Isabella.
" Saya antar kamu pulang, kamu tinggal di mana?" Rivaldi bertanya kepada Isabella. Namun Isabella tidak memperdulikan pertanyaan Rivaldi. Rivaldi memaklumi jika Isabella mengacuhkan pertanyaannya karena gadis itu masih nampak syok. Dan sayangnya Rivaldi juga tidak tahu keberadaan rumah Isabella. Dia hanya tahu rumah milik Grace, tapi dia rasa Grace tidak akan di rumah itu.
Rivaldi mengambil ponselnya. Dia tidak punya pilihan lain selain menghubungi Grace, karena Grace saat ini adalah ibu tiri dari Isabella.
Dua kali panggilannya pada nomer Grace tidak juga terangkat oleh wanita itu, membuat Rivaldi mendengus kasar.
" Ayolah, Rena! Angkat teleponnya!" Rivaldi menghubungi nomer telepon Grace untuk yang ketiga kalinya, karena wanita itu tidak juga merespon panggilannya. Rivaldi menduga jika Grace tidak mau menerima panggilan telepon darinya karena Grace merasa dirinya akan mengusik wanita itu.
" Angkat, Rena! Kau akan menyesal jika tidak segera mengangkat panggilan dariku." Rivaldi terlihat kesal karena grace tidak cepat merespon panggilan telepon darinya.
***
Grace mengerjapkan matanya saat mendengar ponselnya berbunyi. Dia meraba ponselnya untuk melihat siapa orang yang menghubunginya saat ini. Karena saat ini Rizal ada jadwal ke luar kota hingga membuatnya memilih berdiam diri di rumah saja.
Grace mengerutkan keningnya melihat deretan nomor yang muncul di layar ponselnya saat ini. Dia ingat jika deretan nomer cantik itu adalah nomer milik Rivaldi.
" Ada apa orang itu menghubungiku?" Grace bergumam. Sudah cukup lama juga Rivaldi tidak menghubungi, seingatnya setelah menikah dengan Rizal, dia tidak pernah dihubungi oleh Rivaldi. Karena itu dia merasa heran kali ini Rivaldi menghubunginya. Bahkan Rivaldi menghubunginya berkali-kali membuat dirinya merasa penasaran.
Ddrrtt ddrrtt
Untuk yang keempat kalinya ponsel Grace berbunyi dari nomer yang sama, membuat Grace semakin bertanya-tanya.
Akhirnya setelah bunyi panggilan yang kelima, Grace mengangkat panggilan telepon dari Rivaldi itu.
__ADS_1
" Ada apa kau menghubungiku!?" Dengan nada ketus, Garce menjawab panggilan telepon Rivaldi.
" Kenapa kau ketus sekali bicara padaku, Rena?" Rivaldi bertanya karena Grace masih saja memusuhinya. Padahal justru sikap Rivaldi yang mempengaruhi Agatha lah yang membuat Grace kesal, karena itu, Agatha justru melarangnya menikah dengan Rizal.
" Kita sudah tidak ada urusan lagi, untuk apa kau menghubungiku!?" Grace memang menunjukkan rasa tak sukanya kepada Rivaldi yang saat ini menghubunginya.
" Kau benar-benar galak sekali, sangat berbeda dengan Rena yang aku kenal," ujar Rivaldi mencibir Grace. Sepertinya Rivaldi masih belum bisa move on dari sosok Rena.
" Rena itu tidak ada! Harusnya kau sadar itu, Aldi!" Grace menyuruh agar Rizal dapat membuka matanya, dan tidak terus membandingkan dirinya dengan sosok Rena yang dia perankan sangat baik.
" Iya, Rena itu tidak ada. Tapi kau berhasil menciptakan karakter Rena dengan sangat sempurna hingga sanggup menipu orang," sindir Rivaldi yang masih kecewa karena Grace telah mempermainkannya.
" Tidak usah merasa paling tersakiti! Kau juga pernah menipu orang lain!" Grace balik menyindir Rivaldi, mengingatkan akan apa yang sudah diperbuat oleh Rivaldi pada Erlangga.
" Tapi, setidaknya aku tidak sebreng sek mantan kekasihmu dulu, yang senang memanfaatkan keluguan seorang wanita hanya untuk memenuhi naf su semata!" Rivaldi yang menyaksikan sendiri kebe jatan Joe merasa yakin jika dia lebih baik dibanding kekasih Grace dulu. Setidaknya, dia tidak pernah menyakiti hati wanita, apalagi sampai mele cehkan seperti yang dilakukan Joe tadi kepada Isabella.
" Tidak usah menyinggung soal dia! Itu tidak ada urusannya denganmu!" hardik Grace tidak senang Rivaldi membawa-bawa soal Joe. Sebenarnya dia agak kaget karena Rivaldi menyinggung soal Joe.
" Sayang sekali, aku baru saja berurusan dengan mantan kekasihmu itu, sampai aku buat bon yok wajahnya." Rivaldi menyebutkan apa yang sudah dia buat pada mantan kekasih Grace itu.
" Kau bertemu Joe? Joe ada di sini?" Grace bahkan tidak sempat berpikir dari mana Rivaldi mengetahui soal Joe. Dia lebih terkejut dengan keberadaan Joe di Jakarta.
" Kenapa? Kamu merindukannya? Apa kamu ingin bertemu dengannya lalu merajut kisah asmaramu kembali dengan dia? Apa kamu lupa kalau saat ini kamu sudah menjadi seorang istri dari laki-laki berusaha hampir dua kali lipat dari usiamu?" Rivaldi merasa puas menyindir Grace habis-habisan.
" Tutup mulutmu, Aldi! Apapun alasanmu beradu fisik dengan dia, tidak ada sangkut pautnya denganku!" tegas Grace tak ingin disangkut pautkan dengan Joe lagi.
" Sayangnya apa yang terjadi tidak seperti keinginanmu, Rena. Nyatanya dia baru saja berulah, dan itu bersangkutan denganmu." Rivaldi tidak secara langsung memberitahu Grace soal ulah yang dilakukan oleh Joe kepada Isabella, yang notabene adalah anak sambung dari Grace.
" Apa maksudmu, Aldi? Apa yang dilakukan oleh Joe yang bersangkutan denganku?" Grace semakin penasaran dengan maksud ucapan Rivaldi. Dia mengingat apa yang berhubungan dengannya menyangkut Joe. Gavin? Tidak mungkin! Karena Rizal sudah menjamin dirinya, apalagi saat ini dia sudah berstatus sebagai istri Rizal, tidak mungkin kalau ulah Joe bersinggungan dengan aksi nekatnya setahun lalu saat ingin mencelakai Gavin.
" Mantan kekasihmu itu hampir saja menodai anak sambungmu, anak dari suamimu ... Isabella." Rivaldi menceritakan apa yang baru saja dialami oleh Isabella.
Grace tersentak kaget mendengar informasi yang sangat mengejutkan untuknya. Bukan saja sangat mengejutkan, tapi menyeramkan menurutnya.
" Apa kau bilang? Kau jangan bercanda, Aldi! Ini tidak lucu!" Justru Rivaldi yang terkena marah Grace. Dia berharap jika yang dikatakan Rivaldi tidak benar
" Jika kau tidak percaya, aku akan tunjukkan buktinya, kau lihatlah sendiri!" Rivaldi merubah panggilan teleponnya mencari video call.
__ADS_1
Grace terbelalak melihat Isabella yang sedang menangis di dalam mobil dengan memeluk tubuhnya sendiri. Wajah Isabella nampak kacau dan memerah karena Isabella menangis.
" Astaga, Bella!?" Grace terperangah. " Si alan! Apa yang kau lakukan pada Bella, Aldi!?" geram Grace melihat Isabella terlihat menangis dan syok. Grace kembali menyalahkan Rivaldi dan menganggap jika ini adalah akal-akalan Rivaldi saja.
" Hei, kenapa kamu marah padaku? Aku ini yang sudah menolong dia dari kebru talan mantan kekasih breng sekmu itu. Seharusnya kamu mengucapkan terima kasih kepadaku, bukannya mengumpat seperti itu!" protes Rivaldi karena Grace justru melampiaskan amarah kepadanya.
" Di mana posisimu sekarang?" Grace bergegas mengambil tas dan kunci mobilnya lalu berjalan ke luar kamarnya. Dia harus secepatnya menjemput Isabella. Dia tidak tega melihat Isabella terlihat syok seperti yang dia lihat di layar ponselnya.
" Kau tahu kantorku, kan? Aku ada di jalan depan seberang kantorku." Rivaldi menyebutkan posisinya sekarang ini.
" Oke, aku akan menyusul ke sana. Jangan berani sentuh dia, Aldi!" Sebelum menutup panggilan video dari Rivaldi, Grace sempat memberi ancaman kepada Rivaldi agar tidak memanfaatkan keterpurukan Isabella saat ini.
Setelah memasukkan ponsel kembali ke dalam tas, Grace berlari ke arah tangga.
" Mau ke mana, Non?" tanya Bi Tinah saat melihat Grace berlari terburu-buru menuruni anak tangga.
" Bi, Bibi ikut aku!" Grace berniat mengajak Bi Tinah untuk menjemput Isabella. Karena dia pasti akan membutuhkan orang yang akan menenangkan Isabella, sementara dia harus mengendarai.
" Memangnya mau ke mana? Mau shopping ya, Non?" tanya Bi Tinah terkekeh, menebak jika Grace akan membawanya pergi berbelanja di mall.
" Kalau aku mau shopping, tidak mungkin Bibi yang aku ajak!" Grace memutar bola matanya menanggapi perkataan Bi Tinah yang sebenarnya hanya sebuah candaan saja.
" Saya ganti pakaian dulu ya, Non?" Bi Tinah berniat mengganti pakaiannya dengan yang lebih pantas dari sekedar daster, karena akan diajak oleh majikannya pergi.
" Tidak usah, Bi! Sudah begitu saja! Ayo, cepat!" Grace menyuruh Bi Tinah untuk segera mengikutinya.
Grace bergegas ke arah mobilnya dengan Bi Tinah yang mengikuti di belakangnya. Sementara Grace memilih tidak mengabari Rizal karena dia ingin konsentrasi Rizal terpecah karena kabar tidak menyenangkan yang baru dialami Isabella.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1