TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Lebih Hidup


__ADS_3

Grace mengusap rahang suaminya yang lebat ditumbuhi cambang. Mereka baru saja selesai melakukan ritual memuaskan pasangan. Walaupun Rizal harus menahan sampai mereka melaksanakan sholat Isya satu setengah jam kemudian, namun akhirnya aktivitas itu tertuntaskan.


" Pih ...."


" Hmmm …."


" Kenapa Bella tidak bisa bela diri? Memang waktu kecil Papih tidak menyuruh dia belajar ilmu bela diri?" Grace sebenarnya agak heran, dan pertanyaan itu sebenarnya sudah lama muncul dalam benaknya. Karena dia berpikir untuk orang seperti Rizal, seharusnya mempunyai anak gadis yang tangguh dan mandiri, tidak seperti Isabella yang dia nilai terlalu lemah dan manja.


" Itu karena Mamihnya tidak memperbolehkan Bella terluka apalagi harus terkena cidera jika latihan ilmu bela diri. Dulu aku sempat berdebat dengan Mamihnya soal ini. Mamihnya merasa Bella tidak perlu ikut latihan-latihan seperti itu dan aku hanya bisa mengalah," jawab Rizal menjelaskan kenapa Isabella tidak menguasai ilmu bela diri.


" Mamihnya selalu beranggapan, jika Papihnya sudah cukup bisa melindungi Bella,” lanjutnya kemudian


" Kalau kita punya anak nanti, mau itu laki-laki atau perempuan, mereka harus belajar bela diri, ya, Pih!? Biar mereka bisa menjaga diri mereka dan juga saudara dan keluarga mereka." Grace sudah berencana mendidik anaknya untuk dapat menguasai salah satu ilmu bela diri.


Rizal tersenyum mendengar ucapan sang istri yang sangat antusias membicarakan soal anak. Sepertinya istrinya itu sudah tidak sabar untuk memiliki momongan.


" Kamu ingin punya anak berapa, Sayang?" Kini tangan Rizal yang memainkan anak rambut Grace.


" Aku ingin punya dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Tapi, kalau dikasih lima atau enam anak juga tidak apa-apa, Pih! Aku ini 'kan masih muda. Melahirkan enam anak, kayaknya aku bisa, deh!" Grace memang menginginkan punya banyak anak. Karena dia merasakan tidak enaknya tidak mempunyai kakak juga adik.


Rizal tertawa lebar mendengar istrinya itu menyebutkan jumlah anak mereka yang diharapkan oleh Grace. Dan angkanya di luar dugaan Rizal.


" Banyak sekali anak kita nanti, Grace.” Rizal belum menghentikan tawanya.


" Biar rumah kita ramai sama anak- anak, Pih!” Grace mengungkap alasannya ingin punya banyak anak pada suaminya itu.


‘Oh ya, apa kamu masih merasakan pusing dan lemas seperti kemarin?" tanya Rizal kemudian.” Kalau iya, sebaiknya periksa saja ke dokter kandungan, siapa tahu ada hasil menggembirakan." Rizal menyarankan istrinya untuk mengecek langsung ke dokter kandungan untuk memastikan apakah gejala yang dirasakan Grace kemarin karena gejala kehamilan atau bukan.


" Nanti saja, deh Pih! Feeling aku, aku belum merasakan sedang hamil, kok!" Grace enggan disuruh suaminya periksa ke dokter kandungan, karena dia tidak ingin melambungkan harapan seperti kemarin, namun hasilnya mengecewakan.


" Tidak ada salahnya coba cek kehamilan, siapa tahu memang rezeki, kamu sedang isi." Rizal menginginkan istrinya agar tetap melakukan pemeriksaan. " Besok saja aku jadwalkan kamu periksa ke dokter Ambar, ya!?" Rizal berencana menjadwalkan periksa ke dokter kandungan kenalan mantan istrinya dulu.


" Aku tidak mau, Pih! Aku tidak mau berharap tapi hasilnya mengecewakan. Nanti saja kalau aku sudah mulai merasa mual-mual, aku janji langsung periksa ke dokter kandungan, deh!" Grace tetap menolak dan berjanji akan periksa kandungan jika dia sudah merasakan tanda-tanda kehamilan yang jelas.


" Oh ya, Pih. Apa Vito sudah tahu, apa yang terjadi pada Bella?" Grace merubah topik pembicaraan.


" Vito sudah aku kasih tahu. Dia sangat kaget juga marah. Vito menyesal karena tidak dapat menjaga Bella." Vito sangat menyanyangi Isabella, sehingga Rizal dapat memaklumi perasaan Vito saat mendengar tragedi yang hampir menghancurkan Isabella.


" Apa Vito sudah menghubungi Bella?" tanya Grace kembali.


" Sudah. tapi sepertinya Bella belum membuka ponselnya," balas Rizal. " Vito bilang siap jika ditugaskan untuk mengawal Bella, Tapi , aku butuh vito di kantor," sambungnya. Biarpun keselamatan putrinya lebih penting dari segalanya, namun dia tidak bisa menyuruh Vito untuk melakukan tugas itu. Karena dia membutuhkan orang yang bisa mengawal Isabella, tidak hanya sekedar mengantar dan menjemput Isabella dari kampus.

__ADS_1


" Sebaiknya memang jangan Vito, Pih. Cari orang lain saja. Kalau bisa perempuan yang bisa bela diri agar Bella lebih aman," saran Grace. " Nanti aku bantu carikan, deh! Sementara ini, biar aku dulu yang mengawal Bella sambil mencari orang yang cocok untuk menjadi pengawal Bella." lanjut Grace kemudian.


" Terima kasih, kamu sudah sudah sangat perduli pada Bella, Sayang." Rizal teringat, jika dia belum sempat mengucapkan rasa terima kasihnya atas keperdulian Grace kepada Isabella, padahal istrinya itu sudah bertindak cepat menjemput Isabella saat kejadian itu.


" Papih tidak perlu mengucapkan terima kasih seperti itu. Saat aku menikah dengan Papih, Bella sudah menjadi tanggung jawabku juga, dong, Pih! Aku 'kan bukan Ibu tiri yang hanya sayang pada Papihnya Bella saja." Grace berseloroh dan tertawa kecil.


" Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu, Grace? Aku harap Bella dapat melihat kebaikanmu ini secepatnya, agar Bella bisa memahami, jika Mamih barunya ini tidak seburuk yang dia perkirakan." Rizal mengakhiri kalimatnya dengan memberikan satu kecupan di bibir Grace.


***


Isabella mencari-cari chat lama dia dengan Rivaldi di ponselnya. Dia ingin mengucapkan rasa terima kasihnya, karena Rivaldi telah menolongnya juga menyelamatkan dirinya dari bahaya yang sempat menimpa dirinya.


Setelah menemukan nomer ponsel Rivaldi. Isabella langsung mengetik pesan untuk pria itu. Ia memilih menulis pesan. Isabella tidak berani jika harus menelpon Rivaldi, karena merasa bersalah, dulu sempat menghindari Rivaldi.


" Assalamualaikum, Kak Aldi. Kak aku ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan Kak Aldi kemarin. Aku tidak tahu apa jadinya kalau Kak Aldi tidak ada kemarin. Terima kasih banyak ya, Kak. Maaf kalau aku sudah merepotkan Kak Aldi."


Itu isi pesan yang diketik oleh Isabella yang ingin dia kirim ke nomer Rivaldi. Isabella membaca ulang kata-kata yang sudah disiapkan untuk dia kirimkan. Ada keraguan yang tiba-tiba menyeruak dihatinya. Apakah dia akan tetap mengirimkan pesan itu atau tidak.


Setelah lima menit mempertimbangkan. akhirnya pesan itu benar-benar terkirim dengan hati yang berdebar-debar, menanti reaksi Rivaldi pada pesan yang dia kirim itu.


Hingga tiga puluh menit berselang, ternyata pesan yang dia kirim masih memperlihatkan tanda centang dua dan masih berwarna hitam. Artinya pesan itu belum dibaca oleh Rivaldi, membuat Isabella memutuskan menghapus pesannya. Dia sungguh malu kalau Rivaldi sampai membaca pesan itu.


Isabella menduga-duga, mungkin Rivaldi marah terhadapnya, karena dulu dia sengaja mengacuhkan Rivaldi. Saat itu dia terpaksa menjauhi Rivaldi yang sedang mendekatinya, sebab Papihnya melarang dirinya dekat dengan pria itu. Juga karena Vito bercerita tentang keburukan Rivaldi padanya.


Tak berselang lama setelah Isabella menghapus pesan yang dia kirim, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan ternyata itu dari Rivaldi.


Isabella terkesiap, karena ternyata Rivaldi sempat membaca pesannya yang telah ia hapus. Isabella mengigit bibirnya, karena bingung ingin berkata apa untuk membalas pesan masuk dari Rivaldi tadi.


" Maaf, Kak." akhirnya hanya kata itu yang terkirim darinya.


" It’s OK." Singkat juga jawaban yang diberikan oleh Rivaldi.


" Terima kasih karena Kak Aldi sudah menyelamatkanku kemarin." Isabella mengulang kembali pesan yang dia kirim.


" OK." Jawaban Rivaldi kali ini lebih singkat dari jawaban pertama, sehingga membuat Isabella kembali bingung, harus mengetik kalimat apa lagi


***


Setelah tiga hari beristirahat di rumah untuk menenangkan hati dan pikirannya pasca mengalami peristiwa yang menyeramkan, hari ini Isabella sudah kembali beraktivitas kuliah.


Seperti yang dijanjikan oleh Grace. Wanita yang kini berstatus ibu sambung Isabella itu akan bertugas mengantar dan menjemput Isabella kuliah, sampai Rizal mendapatkan orang yang cocok untuk melakukan tugas tersebut.

__ADS_1


" Nanti Grace yang akan mengantar dan menjemput kamu ke kampus, Bella." Saat Rizal dan keluarganya menyantap sarapan pagi bersama, Rizal kembali memberitahu Isabella, dia berharap putrinya itu bisa bersikap baik kepada Grace, karena Grace sudah berusaha bersikap baik kepada Isabella.


" Iya, Pih." Isabella melirik ke arah Grace yang sedang menatapnya.


" Kalau kamu mau mampir ke suatu tempat, kamu bilang saja sama Grace tidak usah segan. Grace pasti akan mengantar kamu." Rizal kini melirik ke arah istrinya. " Benar 'kan, Grace?" tanyanya kemudian.


" Iya, Pih." Jawaban yang sama dilontarkan Grace pada Rizal.


" Papih harap dengan kejadian ini, kalian bisa menjadi dekat dan akrab. Usia kalian hanya terpaut satu tahun, pasti banyak hal yang bisa dilakukan oleh kalian bersama." Rizal memang ingin segera melihat istri dan anaknya bisa dekat satu sama lain.


" Iya, lho, Non Bella. Bibi lihat Non Zie saja bisa akrab dengan Non Grace. Bisa tertawa-tawa, bercanda. Kalau Non Bella sama Non Grace bisa seperti itu, pasti suasana di rumah ini jadi lebih hidup." Tanpa diduga, Bi Tinah yang sedang menyajikan buah melon yang sudah dia kupas, turut bergabung dengan obrolan keluarga Rizal.


Perkataan Bi Tinah membuat ketiga orang yang berkumpul dalam satu meja makan itu memusatkan pandangan pada Bi Tinah. Mereka tidak menyangka kalau Bi Tinah berani menyampaikan pendapatnya.


Bagi Rizal maupun Grace, apa yang dikatakan oleh Bi Tinah bukanlah suatu masalah. Berbeda dengan Isabella yang justru merasa tidak nyaman. Dia merasa semua orang terdekatnya tidak berpihak lagi kepadanya. Dari Papihnya, Fauziah, sahabatnya, hingga Bi Tinah yang pernah menjadi sekutunya dalam menentang pernikahan Rizal dengan Grace kini sudah beralih mendukung Grace.


" Maaf, Pak. Saya tadi keceplosan bicara." Menyadari dirinya telah lan cang ikut bicara, Bi Tinah langsung menyampaikan permohonan maafnya kepada Rizal, Grace, terlebih Isabella.


" Tidak apa-apa, Bi." Rizal lalu menoleh ke arah putrinya. " Tuh, Bella. Dengarkan yang Bi Tinah bilang! Suasana rumah ini lebih hidup jika kamu dan Grace bisa akur. Papih juga senang kalau kalian bisa saling berdamai. Bukankah damai itu indah?" Rizal seakan melengkapi pendapat Bi Tinah tadi soal dampak jika istri dan anaknya itu akur.


" Hihihi ..." Bi Tinah tiba-tiba terkikik melihat Rizal seperti seorang ayah yang sedang berusaha mendamaikan kedua anak gadisnya yang sedang bersitegang.


" Ada apa Bibi tertawa?" Rizap kembali menoleh ke arah Bi Tinah dan memangnya heran.


" Maaf, Pak. Bibi jadi membayangkan kalau Bapak sedang menasehati anak-anaknya yang sedang bertengkar." Bi Tinah memberi alasan kenapa dia tertawa.


" Oh, itu resiko punya istri masih muda belia, Bi." Bukannya marah, Rizal justru menimpali ucapan Bi Tinah dengan tertawa.


" Sudah, deh, Pih! Jangan meledek terus! Mungkin belum waktunya saja kami dekat. Nanti juga lama-lama kita bisa akrab, kok, Pih! Benar 'kan, Bel?" Dengan santai, Grace menanggapi ucapan sang suami.


" Papih lihat saja nanti! Kalau kami sudah saling akrab, kami sering pergi bersama dan bersenang-senang. Hmmm ... bisa-bisa malah Papih yang aku cuekin!" Grace melanjutkan kalimatnya dengan menggoda sang suami. Grace merasa jika Isabella merasa tidak nyaman karena semua orang seolah menyuruh berdamai dengannya.


" Coba saja kalau kamu berani mengacuhkan suamimu ini, Grace!" Rizal langsung melotot mendengar ucapan Grace, membuat Grace dan Bi Tinah terkekeh, sementara Isabella hanya tersenyum dalam hati melihat interaksi hangat antara Papihnya dengan Grace.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2