TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Rencana Dinner


__ADS_3

Setelah mendapatkan kepastian dari Rizal yang disampaikan oleh Grace, Jaka segera menghubungi Gugun, tetangga di dekat rumahnya yang kemarin menanyakan soal lowongan pekerjaan yang sempat ditanya oleh Gugun. Setelah itu Gugun pun segera memberitahu Ronny untuk menyampaikan kepada Joe soal kabar tersebut.


" Joe, tadi Gugun baru kasih kabar, kalau kau berminat sama pekerjaan yang kemarin dia bilang, besok kau disuruh datang langsung ke sana." Ronny memberitahu Joe, soal pekerjaan yang diminta oleh Joe.


" Alamatnya sudah aku kirim ke HP mu." lanjut Ronny.


Joe menaruh dumbell dari tangannya lalu mengambil ponsel miliknya untuk melihat alamat yang dikirimkan Ronny. Keningnya seketika berkerut melihat alamat yang harus didatangi olehnya untuk mendapatkan pekerjaan itu.


" Ini kantor apa, Ron? RG Special Agent?" Joe merasa aneh dengan nama tempat yang akan didatanginya tersebut.


" Semacam agen penyindik, kayak deketif gitu sepertinya." Ronny pun ikut melihat kembali alamat yang diberi oleh Gugun tadi.


" Detektif?" Kening Joe seketika berkerut menyadari jika Special Agent yang dimaksud dalam alamat itu adalah agen detektif swasta.


" Iya, tapi tugas kamu hanya sebagai supir dan pengawal saja, Joe, Bukan sebagai detektif." sahut Ronny dengan terkekeh.


Joe terlihat ragu untuk menerima tawaran itu karena ternyata alamat yang harus didatangi adalah kantor penyidik. Baginya yang pernah beberapa kali melakukan tindakan kriminal, tentu saja dia merasa khawatir bersinggungan dengan detektif.


" Kalau kau berminat, kau langsung saja datang ke alamat itu sesudah makan siang, Joe." ujar Ronny kemudian.


" Oke, Ron. Thanks." sahut Joe setengah hati, karena dia tidak tahu akan menerima atau menolak pekerjaan tersebut.


***


" Ini data yang Bapak minta." Vito menyerahkan laporan penyelidikan kasus manipulasi data kepemilikan tanah di daerah Tangerang atas permintaan kliennya.


" Taruh saja di meja, Vit." sahut Rizal.


" Baik, Pak." Vito lalu menaruh arsip yang Rizal minta tadi di atas meja bosnya itu.


" Vit, apa yang kamu bicarakan dengan Bella kemarin?" Rizal penasaran dengan hasil percakapan antara Vito dengan Isabella, hingga dia menanyakan kepada Vito.


Vito menarik nafas dalam-dalam, sebenarnya dia merasa kecewa atas penolakan Isabella, namun dia tidak dapat berbuat apa-apa.


" Bella hanya meminta saya untuk tidak mengharapkan dia, Pak." jawab Vito kemudian.


" Saya minta maaf kalau keputusan Bella mengecewakan kamu, Vit. Sejujurnya saya senang jika kamu bersama Bella. Tapi, saya juga tidak ingin memaksakan keinginan saya itu. Saya hanya ingin Bella bahagia dengan pilihannya sendiri." Rizal merasa perlu minta maaf atas penolakan Isabella terhadap Vito. karena Vito adalah anak buahnya.


" Tidak apa-apa, Pak. Saya bisa mengerti, cinta memang tidak dapat dipaksakan." Vito berusaha bersikap bijak.


" Syukurlah kalau kamu bisa menerima keputusan Bella, Vito. Oh ya, nanti selepas makan siang temani saya ke Bogor, Vit. Ada proyek besar di sana." Rizal kembali fokus membicarakan soal pekerjaan kepada Vito.


" Baik, Pak. Saya permisi dulu." jawab Vito kemudian keluar dari ruangan Rizal.


***


Fauziah memperhatikan Isabella yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk siomay dalam piring di hadapannya dengan satu tangan lainnya bertopang dagu. Terlihat sahabatnya itu sedang menghayati lamunannya, entah apa yang apa yang ada di pikiran sahabatnya saat ini.


" Lagi mikirin apa sih, Bel?" Penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Isabella, akhirnya Fauziah pun bertanya.


Isabella mendenguskan nafasnya secara kasar lalu menaruh garpu di atas piring siomay yang dipesannya tadi.


" Kamu ada masalah, Bel? Bertengkar dengan Grace?"' Fauziah sibuk menerka-nerka apa yang sedang menjadi beban pikiran Isabella.


" Kemarin sore Kak Vito datang ke rumah, Zie." Akhirnya Isabella mengatakan apa yang sedang dipikirkan olehnya.

__ADS_1


" Bukannya Kak Vito itu orang kepercayaan Papihmu, Bel? Tidak aneh kalau dia ke rumah kamu 'kan, Zie!?" Fauziah merasa tidak ada keanehan dengan kedatangan Vito ke rumah Isabella.


" Tapi Kak Vito itu datang bukan karena ada urusan dengan Papih, Zie! Kak Vito datang ke rumah karena menuntut jawaban dariku." Isabella menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


" Lalu? Kamu kasih jawaban apa?" tanya Fauziah penasaran.


" Aku tidak bisa menggantung perasaan Kak Vito terus menerus, Zie. Sementara aku tidak bisa membalas perasaan Kak Vito." Isabella mengungkapkan bagaimana perasaanya terhadap Vito.


" Kamu menolak Kak Vito?" Fauziah membulatkan bola matanya menyimpulkan apa yang diucapkan oleh Isabella.


" Apa boleh buat, Zie. Mungkin akan wanita di luar sana yang lebih pantas untuk Kak Vito daripada aku." Isabella merasa tidak adil jika Vito harus terpaku mengharapkan dirinya tanpa ada kepastian.


" Seperti aku misalnya?" Fauziah menyeringai menyebut jika dirinya adalah wanita di luar sana yang dimaksud oleh Isabella.


Isabella menatap Fauziah dengan kening berkerut. Dia ingat jika sahabatnya itu sempat menganggumi Vito dan mungkin saja benar-benar menyimpan ketertarikan kepada Vito.


" Kamu suka sama Kak Vito 'kan, Zie?" tanya Isabella tiba-tiba.


Fauziah terkekeh menyadari jika Isabella menanggapi serius ucapannya itu.


" Yaaaa, siapa yang tidak akan suka melihat Kak Vito ganteng kayak gitu!? Kalau dikasih, aku juga tidak akan menolak, Bel." Fauziah masih terkikik sambil menutup mulutnya.


" Tapi, kenapa kamu menolak Kak Vito, sih, Bel? Tidak sayang menolak pria baik dan ganteng seperti Kak Vito?" Fauziah masih merasa heran karena Isabella menolak pria baik hati seperti Vito, apalagi Rizal sendiri sudah mengenal bagaimana sosok Vito.


" Aku mau menjelaskan bagaimana sih, Zie!? Kalau memang tidak cinta, mau gimana lagi? Rasa suka atau cinta kepada seseorang itu tidak bisa dipaksakan, Zie!" Isabella meminta Fauziah mengerti, jika dia tidak mungkin berpura-pura mencintai Vito padahal tidak.


" Bel, apa karena kamu menyukai pria lain lalu kamu menolak Kak Vito?" Fauziah merasa curiga jika penolakan Isabella terkait dengan Rivaldi. Karena saat ini tidak ada pria lain yang bersinggungan dengan Isabella selain Vito dan Rivaldi, apalagi Isabella baru saja diselamatkan oleh pria itu dari niat jahat Joe.


" Kenapa kamu mikir ke sana, sih, Zie? Menolak pria itu bukan selalu karena ada pria lain yang disukai kan?" Isabella masih menepis getaran-getaran yang dia rasakan pada Rivaldi kepada Fauziah. Sepertinya dia masih malu mengakui hal tersebut pada sahabatnya sendiri.


" Ya memang tidak, sih. Tapi, aku tidak yakin jika tidak ada pria lain di hati kamu yang membuat kamu menolak Kak Vito? Kenapa tidak dari awal saja kamu kasih kepastian kepada Kak Vito agar kamu tidak memberi harapan ke Kak Vito?" Fauziah seakan menyayangkan sikap Isabella yang tidak tegas sejak awal, hingga membiarkan Vito melambungkan harapan untuk mendapatkan balasan cinta dari Isabella


" Aku tidak menyalahkan kamu, Bel! Aku hanya kasihan saja dengan Kak Vito." Fauziah merasa jika apa yang didapat Vito dari Isabella tidak sebanding dengan kesabaran Vito mencitai Isabella.


Fauziah lalu menatap Isabella seolah sedang mencari tahu alasan Isabella menolak Vito. Dia masih mencurigai jika hal ini masih berhubungan dengan Rivaldi.


" Kamu suka Kak Aldi, ya, Bel?" tuding Isabella.


" Tidak juga!" Isabella dengan cepat menepis tudingan Fauziah tadi seraya memalingkan wajahnya.


" Bel, jujur sama aku, deh!" Tangan Fauziah menangkup wajah Isabella hingga berhadapan dengannya. " Kamu suja dengan Kak Aldi, kan?" selidik Fauziah.


Pertanyaan Fauziah hanya dibalas dengan hembusan nafas Isabella yang terasa sampai menyentuh kulit wajah Fauziah.


Fauziah menjauhkan tangannya dari wajah Isabella. Dari hembusan nafas sahabatnya itu, dia sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tadi.


" Kalau Papih kamu sama Grace tahu kamu suka sama Kak Aldi gimana, Bel? Apa mereka akan setuju?" Fauziah khawatir, penolakan dari Rizal dan Grace akan mempengaruhi Isabella.


" Grace sudah tahu, Zie." Akhirnya secara tidak langsung Isabella mengakui jika dia memang diam-diam menyukai Rivaldi.


" Grace sudah tahu? Lalu tanggapan Grace gimana?" tanya Fauziah penasaran.


" Grace malah ingin menjodohkan aku dengan Kak Aldi. Dia bilang akan membantu aku agar bisa dekat dengan Kak Aldi," ungkap Isabella dengan jujur.


" Hahhh?? Serius?? Grace ingin menjodohkan kamu dengan Kak Aldi? Kok bisa?? Bukannya dulu dia menolak dijodohkan Mamanya karena menganggap Kak Aldi itu pria licik? Kok, sekarang malah menyuruh kamu dekat dengan dia? Aneh tidak sih, Bel?" Fauziah khawatir jika rencana Grace ingin mendekatkan Isabella dengan Rivaldi akan berakibat buruk untuk Isabella.

__ADS_1


***


Agatha mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Rivaldi. Dia ingin mengundang Rivaldi makan malam di acara ulang tahunnya yang ke empat puluh tujuh tahun besok lusa. Tentu saja ada maksud tersembunyi di balik undangannya itu. Sesuai dengan apa yang dia bicarakan dengan Grace, Agatha akhirnya mau mengalah pada putrinya itu dan akan bersedia membatu mendekatkan Rivaldi dengan Isabella.


" Halo, ada apa, Tante?" Suara Rivaldi terdengar saat panggilan teleponnya tersambung dengan anak pengusaha Garment dari Bandung itu.


" Aldi, apa Tante mengganggu kamu?" Sebelum menyampaikan undangannya, Agatha menanyakan apakah Rivaldi sedang sibuk dengan pekerjaan atau tidak. Karena dia takut mengganggu waktu Rivaldi.


" Tidak, Tante. Ada apa memangnya, Tante?" tanya Rivaldi.


" Aldi, Tante mau mengundang kamu dinner untuk merayakan ulang tahun Tante besok lusa. Apa kamu bisa datang?" Agatha menyampaikan niatnya mengundang Rivaldi dalam acara dinner ulang tahunnya.


" Dinner, Tante?" Nada bicara Rivaldi terdengar aneh di telinga Agatha.


" Iya, Aldi. Tante rencananya mau mengundang Grace juga. Kamu bisa datang, kan?" Takut Rivaldi salah paham dengan maksud ucapannya tadi. Agatha segera mengklarifikasi, jika dinner itu juga akan dihadiri oleh Grace.


" Rena juga akan datang?" Kali ini suara Rivaldi terdegar lebih bersemangat saat nama Garce disebut oleh Agatha.


" Iya, kemarin Grace bilang akan datang." Sepertinya mengumpan nama Grace, lebih mudah untuk menarik perhatian Rivaldi. " Kamu bisa datang 'kan, Aldi?" Agatha mengharap kepastian Rivaldi untuk bisa hadir dalam dinner yang akan dia adakan lusa.


" Saya usahakan, ya, Tante." jawab Rivaldi berjanji akan datang dalam perayaan ulang tahun Agatha itu.


" Terima kasih, Aldi. Tante benar-benar berharap kedatangan kamu dalam dinner itu. Karena ... karena Tante sudah menganggap kamu seperti anak laki-laki Tante sendiri, jadi Tante harap kamu bisa datang di sana." Agatha sendiri tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba begitu merasa dekat dengan Rivaldi. Dekat bukan dalam arti dia mempunyai ketertarikan sebagai lawan jenis. Tapi, merasa dekat selayaknya orang tua kepada anaknya.


" Terima kasih Tante sudah menganggap saya seperti itu. Baiklah, Tante. Saya akan usahakan untuk datang." Rivaldi berusaha meyakinkan jika tidak ada halangan mendadak, dia akan usahakan untuk datang ke acara Agatha.


" Ya sudah, kalau begitu. Tante tutup dulu teleponnya, Aldi. Tante tidak enak, barangkali kamu sedang banyak pekerjaan." Agatha berniat mengakhiri percakapannya dengan Rivaldi.


" Baik, Tante."


Setelah berpamitan, Agatha pun memutus sambungan teleponnya dengan Rivaldi. Karena dia ingin mengabari hal ini kepada Grace.


***


" Aldi setuju datang ke acara dinner Mama?" Grace terlihat gembira mengetahui Mamanya berhasil mempengaruhi Rivaldi untuk datang dalam dinner ulang tahun Agatha yang akan diadakan besok lusa.


" Ya tentu saja dia mau datang karena Mama bilang kamu juga datang nanti. Kamu paham artinya, kan? Aldi itu tertarik datang kerena ada kamu." Agatha sepertinya masih belum rela keinginannya menyatukan Rivaldi dengan Grace gagal.


" Mam, sudahlah. Mama sudah janji mau membantu aku, kan?" Grace mencoha mengingatkan Mamanya untuk konsisten dengan janjinya untuk membantu mendekatkan Rivaldi dengan Isabella.


" Grace, apa makanannya sudah matang? Aku lapar sekali rasanya."


" Mam, sudah dulu, ya! Aku mau menemani suamiku makan siang. Bye, Mam." Saat nendengar suara Rizal yang sudah berada di rumahnya, Grace cepat-cepat mengakhiri sambungan telepon dengan Agatha.


" Papih mau makan sekarang?" tanya Grace menghampiri sang suami yang sudah duduk di kursi meja makan.


" Iya, aku lapar sekali. Mau makan sekarang saja. Sebentar lagi orang yang mau melamar pekerjaan datang, kan? Aku sama Vito juga akan ke Bogor seteah makan siang ini." Rizal menyebut alasannya ingin cepat makan siang.


" Ya sudah, aku siapkan dulu lauknya, Pih." Grace pun segera menyiapkan menu makanan yang sudah selesai dia masak untuk suaminya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2