
Grace memarkirkan mobil yang dikendarainya di basement apartemen. Dia mendapatkan kabar dari Sam yang ditugasi Rizal untuk mengikuti gerak-gerik Rivaldi. Menurut kabar yang diperoleh dari Sam, Rivaldi sedang meluncur ke apartemen milik Angkasa Raya yang dipinjam Rizal untuk melaksanakan aksinya. Tepat seperti prediki Rizal jika Rivaldi pasti akan menemui Grace untuk mengetahui kabar tentang Grace.
Grace berlari menuju pintu lift. Dia harus mengejar waktu, jangan sampai Rivaldi pergi terlebih dahulu. Dia menekan nomer tombol lantai yang akan dituju dan segera masuk ke dalam saat pintu lift terbuka. Dan saat sampai di lantai yang dia tuju, Grace mendapati Rivaldi sudah berdiri di pintu lift. Sepertinya pria itu ingin turun ke bawah.
" Rena? Kamu kenapa?" Rivaldi terkejut saat melihat wajah Grace yang terlihat lebam di pipi sebelah kiri.
" Kamu?" Grace pun berpura-pura terkejut melihat Rivaldi.
" Wajah kamu kenapa, Rena?" Penasaran dengan wajah lebam Grace, Rivaldi kembali bertanya.
" T-tidak apa-apa ..." Grace berjalan cepat meninggalkan Rivaldi.
" Rena tunggu!!" Rivaldi menahan lengan Grace agar wanita itu tidak menjauh darinya.
" Aaakkkhhh ...!!" Grace memekik saat Rivaldi memegang lengannya.
" Sorry, Rena. Kamu kenapa? Kenapa wajah dan tangan kamu?" Rivaldi sontak melepaskan tangannya dari lengan Grace.
" Aku sudah bilang, aku tidak apa-apa!" Grace meninggalkan Rivaldi menuju apartemennya.
" Rena ...!!" Rivaldi berlari menyusul Grace karena dia sangat khawatir melihat kondisi Grace saat ini. " Rena, Pak Firman siang tadi ke kantorku. Dia bilang kamu sukar untuk dihubungi, dan sekarang wajah dan tubuhmu banyak memar begini. Apa yang sebenarnya terjadi, Rena? Siapa yang melakukan ini kepadamu?"
Grace dapat melihat kecemasan Rivaldi ketika mengetahui kondisi dirinya saat ini.
" Kamu tidak usah ikut campur urusanku, Aldi! Siapapun yang melakukan ini terhadapku, itu bukan urusanmu! Sebaiknya kamu pergi saja dari sini!" Grace membuka pintu apartemennya dan meminta Rivaldi untuk tidak mengganggunya.
" Tidak bisa, Rena! Kalau ada yang melakukan kekerasan terhadapmu, setidaknya aku bisa beritahu Pak Firman agar dia bisa memberitahu Papamu." Rivaldi menolak diusir oleh Grace.
" Aku tidak ingin Papaku tahu! Jadi pergilah dari sini!!" Grace masuk ke dalam apartemennya dan ingin menutup pintu. Namun, Rivaldi menahan daun pintu dengan tangannya.
" Rena, biarkan aku masuk. Kamu cerita padaku kenapa kamu bisa mengalami luka-luka itu? Siapa yang bersikap kasar terhadapmu, Rena?"
" Hiks ... pergilah, Aldi! Biarkan aku sendiri ..." Grace harus berakting menangis agar Rivaldi semakin yakin jika saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja.
" Rena, ijinkan aku masuk. Kau bisa cerita padaku tentang masalahmu, Rena." Melihat Grace terisak, Rivaldi semakin cemas dengan masalah sedang menimpa Grace.
" Aku ingin sendiri, tolong pergilah ...!" Grace memohon.
" Baiklah, tapi nanti aku akan kembali ke sini jika kamu sudah tenang." Rivaldi menjauhkan tangannya pintu apartemen Grace.
Brraakk
Grace menutup kasar pintu apartemen lalu menguncinya. Dia lalu menyeka air mata yang menghiasi dramanya tadi.
" Tahun ini, semestinya aku yang memenangkan piala Oscar." Grace melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.
***
Grace menoleh ponsel di sampingnya saat dia mendengar benda pipih itu berbunyi. Dia melihat nama mamanya yang menghubungi saat ini. Grace tahu, Mamanya pasti akan menanyakan soal kedekatannya dengan Rizal.
" Halo?" ucap Grace saat mengangkat panggilan telepon dari Agatha.
" Grace kamu di mana sekarang? Mama ke rumahmu, Bi Saonah bilang kamu menginap di apartemen. Tapi, Mama cek ke apartemen kamu, kamu tidak ada di sana!" Agatha menanyakan keberadaan Grace saat ini.
" Aku memang tidak di apartemenku, Mam. Aku sedang menjalankan misi dan aku harus menginap di apartemen mewah milik perusahaan Angkasa Raya," ucap Grace menjelaskan kenapa dia tidak ada di rumah ataupun di apartemennya.
" Apartemen mewah milik Angkasa Raya? Kamu sedang menjalani misi apa memangnya, Grace?" tanya Agatha bingung.
" Mama tidak usah tahu, deh! Daripada bikin Mama pusing." Grace meminta Agatha untuk tidak banyak bertanya soal misinya.
" Grace, kamu tidak melakukan kejahatan kembali, kan!?" tanya Agatha cemas.
" Memangnya Mama pikir Pak tua itu akan membiarkan aku melakukan tindakan kriminal lagi?" sahut Grace memutar bola matanya.
" Grace, Mama serius bertanya. Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Pak Rizal? Jangan bilang jika tidak ada sesuatu di antara kalian. Kalian pergi dinner di restoran mewah, kamu berdandan cantik dan terlihat feminim. Dan Mama melihat tangan Pak Rizal sedang menggenggam tangan kamu. Apa artinya semua itu?" tanya Agatha penuh selidik.
__ADS_1
" Memangnya apa yang Mama pikirkan?" Tak memberi jawaban yang jelas, Grace justru bertanya kepada Agatha. Dia tahu jika Mamanya itu akan berpikiran ke arah mana.
" Grace, jangan bilang kalau kalian menjalin hubungan asmara." Kalimat yang diucapkan Agatha bernada cemas jika dugaannya itu ternyata benar.
" Pak tua itu menyukaiku dan ingin menjadikan aku sebagai istrinya," ucap Grace jujur. Dia yakin jika Agatha akan menentang hal tersebut.
" Mama tidak setuju kamu menikah dengan dia, Grace!" Benar seperti dugaan Grace, Agatha menentang hubungannya dengan Rizal.
" Memangnya kenapa?" tanya Grace.
" Kamu masih muda, Grace! Dan Pak Rizal itu usianya jauh di atas kamu!" Agatha menyampaikan alasan penolakannya terhadap Rizal yang berkeinginan memperistri Grace.
" Apa Mama juga berpikir seperti itu saat ingin menikah dengan Gavin? Usia dia juga jauh di bawah Mama, kan?" Grace membalikkan dengan keputusan Agatha saat menikah dengan Gavin.
" Iya, tapi ... kamu lihat sendiri, kan? Rumah tangga kami tidak bertahan lama? Mama tidak ingin kamu mengalami seperti itu!" Agatha coba membandingkan dengan nasib pernikahannya dengan Gavin yang kandas.
" Grace, Mama tahu Pak Rizal itu orang baik. Tapi, Mama ingin kamu mendapatkan pendamping yang tepat untuk kamu." Sebagai orang tua, tentu Agatha ingin Garce dapat menemukan sosok pendamping yang tepat untuk Grace.
" Memangnya pendamping yang tepat untukku itu yang seperti apa, Mam?"
" Kalau bisa yang usianya tidak terlalu jauh denganmu. Oh ya, Tante Susan sudah memberikan nomer telepon Erick sama Mama. Nanti kamu komunikasilah sama Erick. Siapa tahu kalian berdua bisa cocok." Agatha berencana menyetujui usulan Susan yang ingin menjodohkan Grace dengan Erick.
" Mam, ini jaman sudah modern, ya! Aku tidak mau dijodoh-jodohkan!" Walaupun Grace senang menjodoh-jodohkan Rizal dengan Agatha dan klien dari Rizal. Kenyataannya dia sendiri tidak mau jika dirinya dijodohkan oleh Agatha.
" Tidak ada salahnya kamu berkomunikasi lagi dengan Erick. Mama kenal keluarganya, sudah pasti Erick tidak akan jahat terhadapmu seperti mantan kekasihmu dulu." Agatha menasehati Grace agar Grace menjalin komunikasi kembali dengan teman kecil Grace dulu.
" Kita bicara itu lain kali saja, Mam. Aku mengantuk. Bye ..." Grace langsung mengakhiri percakapannya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Agatha.
Teettt
Suara pintu apartemen berbunyi saat Grace mengakhiri komunikasi via telepon dengan Agatha.
Grace mengerutkan keningnya, menerka-nerka siapa yang datang ke apartemen itu.
" Apa Rivaldi datang ke sini lagi?" Grace menduga jika yang datang adalah Rivaldi. Karena dia sempat mendengar Rivaldi mengatakan akan menemuinya lagi saat dirinya sudah tenang karena aktingnya sore tadi.
" Mau apa lagi dia kemari?" keluh Grace saat melihat sosok Rizal lah yang saat ini berdiri di depan pintu apartemennya.
" Mau apa kemari?" tanya Grace ketus saat membuka pintu apartemen. Dia lalu berjalan ke arah sofa dan duduk membelakangi Rizal dengan tangan berlipat di dada.
Rizal masuk lalu menutup pintu apartemen. Dia pun mengikuti langkah Grace kemudian duduk di depan Grace, menatap wajah memberengut Grace.
" Kau marah padaku karena aku tidak mengatakan perasaanku terhadapmu kepada Bella?" Rizal yakin Grace marah kepadanya karena menganggap dirinya tidak berani bersikap tegas menghadapi Isabella.
" Tidak juga! Aku biasa saja!" Grace memutar tubuhnya kembali membelakangi Rizal duduk.
Sikap Grace yang seperti anak kecil membuat Rizal tersenyum. Dia bisa merasakan kekesalan dari kalimat yang diucapkan oleh Grace. Rizal tidak berpindah dari posisinya duduknya, dia justru membelai dan memainkan ujung rambut Grace.
Apa yang dilakukan Rizal sontak membuat Grace menolehkan pandangan ke arah pria itu.
" Jangan pengang-pegang!" Grace menepis tangan Rizal yang memainkan rambutnya.
Rizal terkekeh melihat sikap jutek Grace yang selama membuat dia rindu berdebat dengan wanita yang usianya lebih muda hampir setengah dari usianya itu.
" Kamu menolak aku belai rambutmu. Tapi, kamu tidak menolak jika aku mencium bibirmu. Apa artinya kamu lebih suka aku cium daripada aku belai?" tanya Rizal dengan mengulum senyuman menggoda Grace.
Grace memutar bola matanya kemudian melirik ke arah Rizal saat pria itu menyinggung soal dirinya yang tidak menolak jika Rizal mencium bibirnya.
Grace lalu bangkit dengan tangan kembali melipat di dada.
" Kamu mau apa kemari? Cepat katakan! Aku mau tidur!" Grace menunjukkan sikap jika dia tidak menyukai kehadiran Rizal di apartemen.
" Kalau kamu mau tidurlah aku akan menemani."
Ucapan Rizal membuat Garce membelalakkan matanya.
__ADS_1
" Jangan berpikir me sum dulu!" sanggah Rizal terkekeh. Dia lalu menrebahkan tubuhnya di sofa. " Biar aku tidur di sini." Dia pun melipat tangan di bawah kepalanya seraya tersenyum.
" Kamu jangan aneh-aneh, deh! Sebaiknya kamu cepat pergi!" usir Grace kembali.
Rizal kemudian bangkit dan melangkah mendekat ke arah Grace.
" Aku akan pergi asal kau tidak marah padaku," ucapnya kemudian.
" Bukankah aku sudah biasa seperti ini terhadapmu?" Grace memutar bola matanya. Menganggap Rizal terlalu berlebihan.
Rizal meraih tangan Grace dan menggenggamnya, lalu berucap janji, " Aku pasti akan mengatakan hal ini kepada Bella. Jika tadi aku tidak mengatakan langsung kepada Bella, bukan berarti aku main-main dengan perasaanku ini, Grace. Aku bersungguh-sungguh dengan keinginanku." Rizal kini mengecup jemari Garce, membuat Garce seketika terkesiap dengan sikap romantis yang ditunjukkan Rizal padanya.
" Kenapa kau berpikir aku marah? Aku tidak menganggap itu penting!" Grace melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rizal.
" Asal kau tahu, Mamaku menentang aku berhubungan denganmu. Mamaku justru menyetujui rencana Tante Susan untuk menjodohkan aku dengan Erick. Dan Rivaldi, dia terlihat khawatir terhadapku. Bukan hal sulit untukku merebut hatinya. Kau pikir, aku mau menunggumu sampai anakmu menyetujui niatmu itu!?" Grace berkata santai karena dia merasa bisa memilih siapa saja yang dia inginkan.
" Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi milik salah satu dari mereka atau pria manapun!" Rizal mencengkram lengan Grace dan menegaskan jika dia tidak akan membiarkan pria manapun memiliki Grace.
" Kau tidak bisa memaksaku sementara kau sendiri tidak berani mengatakannya pada putrimu!" Grace kembali menyindir sikap Rizal yang seakan tarik ulur terhadapnya.
" Baiklah, aku akan mengatakan pada Bella malam ini juga!" tegas Rizal. Dia kemudian bergegas keluar meninggalkan apartemen Grace membuat Grace tertegun dengan sikap Rizal yang tiba-tiba saja meninggalkannya.
***
Begitu sampai di rumahnya, Rizal langsung bergegas menemui Isabella di kamarnya. Dia harus bertindak cepat, sebelum orang lain merebut hati Grace. Kemunculan Rivaldi saja sudah membuat dirinya meradang, ditambah lagi dengan kehadiran Erick yang masih terlihat seumuran dengan Grace dan sangat tampan.
" Ada apa, Pih?" tanya Isabella saat Rizal mengetuk pintu kamarnya. Apalagi saat melihat Rizal terlihat tersengal seperti habis lari kencang.
" Sayang, Papih ingin bicara denganmu." Rizal kemudian masuk ke dalam kamar Isabella. Ancaman Grace soal dia bisa memilih pria manapun yang wanita itu suka membuat Rizal seketika panik dan harus bergerak cepat.
" Ada apa, Pih?" Isabella melihat wajah tak tenang Papihnya saat ini.
" Sayang, Papih ingin jujur sama kamu. Papih harap kamu juga mengerti dengan keadaan Papih. Dan, Papih minta maaf jika keputusan Papih ini sangat mengecewakan untuk kamu." Rizal masih mencoba mencari kalimat yang pas untuk dia jelaskan kepada putrinya itu.
" Maksud Papih apa?" Isabella semakin dibuat bingung dengan perkataan Rizal yang mengatakan jika Papihnya itu telah mengecewakan dirinya.
" Papih ingin bicara soal, Grace."
Air muka Isabella seketika berubah saat Rizal menyebut nama wanita yang saat ini adalah wanita yang paling dibenci olehnya itu.
" Kenapa memangnya dengan dia?!" tanya Isabella bernada ketus.
" Papih tidak bisa menunaikan janji Papih terhadap kamu, Sayang. Papih tidak bisa membohongi perasaan Papih terus menerus."
" Papih menyukai wanita itu, kan!?" Isabella dapat menebak arah pembicaraan Rizal. Bahkan kini bola matanya sudah mengembun dan dipenuhi cairan air mata yang siap tumpah.
" Maafkan Papih, Sayang." Rizal menyesal karena telah mengecewakan putri semata wayangnya yang paling dia cintai.
" Pantas saja Papih tidak pernah mau melepaskan wanita itu. Karena Papih sudah terjebak oleh permainan wanita jahat itu!" Isabella seketika menangis. Sudah pasti dia merasa kecewa dengan pengakuan Rizal yang mengatakan jika Papihnya itu menyukai Grace.
" Bukan seperti itu, Sayang. Grace tidak seperti yang kamu pikirkan, dan dia tidak menjebak Papih." Rizal mencoba menepis tuduhan Isabella terhadap Rizal.
" Papih membelanya karena Papih sudah dibutakan cinta oleh dia! Bella tidak mau, Pih! Bella tidak rela Papih memilih dia! Kenapa Papih lebih memilih dia daripada Bella, anak Papih sendiri!?" geram Isabella.
" Papih tidak seperti itu, Bella! Papih sangat menyanyangi kamu." Susah payah Rizal memberi penjelasan kepada putri tunggalnya itu.
" Kalau Papih menyanyangi Bella, tinggalkan wanita itu! Papih bisa memilih wanita lain, Pih. Tapi jangan wanita itu! Wanita itu jahat, tidak baik untuk Papih!" Isabella tetap pada pendiriannya menolak Grace sebagai pendamping Rizal.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️