
Diantar oleh supirnya, Agatha segera menuju rumah sakit KASIH SEHAT. Agatha berniat menemani dan mendampingi putrinya itu yang sedang menjaga Rizal yang masih tidak sadarkan diri setelah menjalankan operasi.
Dulu saat papahnya Grace harus mendapatkan perawatan intesif di rumah sakit, Agatha selalu mendampingi sang suami. Sehingga dirinya sangat berpengalaman menjaga orang sakit di rumah sakit.
Agatha mengambil ponsel dari tasnya. Dia terlupa, dia harus memberitahu Rivaldi soal rencana dinner ulang tahun yang rencananya akan diadakan besok lusa terancam batal.
" Halo, Aldi. Maaf Tante mengganggu kamu istirahat." Saat mendengar sambungan teleponnya terangkat oleh Rivaldi, Agatha langsung menyapa pria itu
" Halo,Tan. Tidak kok, Tan. Ada apa, Tante?” sahut Rivaldi. Rivaldi memang selalu menerima telepon masuk dari Agatha dengan ramah kapanpun wanita itu menghubunginya.
" Aldi, Tante minta maaf , rencana dinner lusa terpaksa Tante cancel. Karena terjadi sesuatu dengan suaminya Grace." Agatha menyampaikan permohonan maafnya karena batal mengadakan dinner yang rencananya akan mengundang Rivaldi
" Oh, tidak apa-apa, Tan. Memangnya kenapa dengan suami Rena, Tante?" Rivaldi masih santai menanggapi dan menganggap kalimat terjadi sesuatu dengan suaminya Grace, itu bermaksud Rizal melarang Grace ikut hadir dalam dinner tersebut karena ada dirinya
" Suami Grace diti kam oleh Joe, Aldi." Agatha menjelaskan apa yang terjadi pada Rizal
"Apa, Tante? Rizal diti kam oleh Joe? Di mana kejadiannya, Tan? Lalu bagaiman kondisi Rizal?Apa yang terjadi pada si Joe breng sek itu? Apa berhasil ditangkap?" Rivaldi terperanjat mengetahui apa yang dialami oleh Rizal
" Dia masih koma dan si breng sek Joe berhasil kabur lagi." Agatha mengatakan kondisi Rizal dan nasib Joe yang berhasil kabur
“Si al !Bajingan itu masih saja bisa lolos.”Geram Rivaldi yang masih kesal karena Joe berhasil lolos setelah dia buat babak be lur saat berusaha menodai Isabella.
" Pria itu sangat licik,Aldi. Dia bisa melukai orang tanpa pandang bulu." Agatha menganggap Joe adalah manusia paling berbahaya,
" Bagaimana Rizal bisa bertemu dengan Joe, Tante?" tanya Rivaldi kembali
" Grace bilang dia datang ke kantor Rizal untuk melamar menjadi driver untuk anaknya. Tapi dia malah masuk ke kandang macan, hebatnya dia malah berhasil melukai Rizal dan kabur. Dia benar- benar berbahaya ,Aldi. Semoga saja dia segera tertangkap dan membusuk di penjara. Atau saat kabur dia tertabrak mobil terus mati. Tante masih kesal karena dia sudah memanfaatkan Grace dan mencelakai Grace." Agatha sampai berharap yang buruk menimpa Joe. Karena dia masih merasa dendam saat Joe melukai leher Grace setahun lalu.
" Nanti saya akan kerahkan anak buah saya untuk mencari keberadaan si breng sek itu, Tante." Rivaldi bertekad membantu mencari keberadaan Joe, .karena dia juga merasa penasaran dengan kelicikan Joe.
" Terima kasih, Aldi. Tapi kamu jangan gegabah, Joe itu sangat berbahaya, Aldi." Agatha memperingatkan agar Rivaldi tidak menganggap remeh Joe.
" Dia hanya sedang ditemani keberuntungan saja, hingga bisa lolos berkali-kali, Tante. Tapi aku yakin dia pasti akan tergelincir juga." Rivaldi merasa yakin jika Joe bukanlah sosok hebat. Rivaldi menganggap jika Joe hanya kebetulan sedang dipayungi keberuntungan, bukan tidak mungkin bisa dikalahkan.
" Ya sudah, kamu dan anak buahmu harus selalu hati-hati, Aldi." Agatha tetap mencemaskan jika sampai Rivaldi dan anak buahnya menjadi korban Joe selanjutnya.
" Iya, Tante. Tante tenang saja." Rivaldi berusaha meyakinkan Agatha kalau dia dan anak buahnya tidak akan menjadi korban Joe selanjutnya.
* Ya sudah, kalau begitu Tante tutup dulu teleponnya. Tante sudah sampai di rumah sakit. Tante harus menemani Grace. Kasihan dia pasti sangat terpukul dengan apa yang dilakukan oleh Joe pada suaminya." Agatha berniat mengakhiri sambungan teleponnya dengan Rivaldi.
" Oh ya, di rumah sakit mana sekarang Rizal dirawat, Tante?" tanya Rivaldi, karena Agatha belum menyebutkan nama rumah sakit tempat Rizal dirawat.
" Rumah Sakit Kasih Sehat, Aldi." jawab Agatha.
" Ya sudah, besok saya ke sana untuk membesuk, Tante." sahut Rivaldi.
" Terima kasih, Aldi. Bye ..." Agatha segera mematikan sambungan teleponnya saat mobil yang membawanya dari rumah sampai di rumah sakit Kasih Sehat.
***
" Bi, sebaiknya Bibi pulang saja." Setelah menutup telepon dari Agatha, tadi. Grace menyuruh Surti untuk meninggalkannya karena Agatha berjanji untuk datang dan menemaninya di rumah sakit. Walaupun Mamanya itu tidak merestui pernikahannya dengan Rizal. Namun dia yakin, jika Mamanya juga tidak merasa senang atas musibah yang menimpa Rizal.
Mamanya itu sangat berpengalaman saat mengurus Papanya, saat Papanya itu harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit di Jerman ketika usia Grace menjelang remaja.
__ADS_1
" Lho, Bibi disuruh menemani Non di sini sama Mas Vito, Non." Surti menyebutkan jika dirinya diperintah Vito untuk menemani Grace di rumah sakit.
" Mama aku nanti yang menemaniku di sini, Bi. Sebaiknya bibi pulang saja, mumpung belum terlalu malam. Biar besok pagi bisa ke sini lagi." Grace menyuruh Surti untuk pulang agar besok pagi Surti bisa bergantian jaga dengan Mamanya. Karena Mamanya besok pagi pasti akan ke kantornya. Sementara dirinya tetap akan menunggu di rumah sakit memdampigi suaminya.
" Nanti aku pesankan mobilnya untuk pulang ke rumah," lanjut Grace langsung memesankan ojek online untuk Surti.
" Oh ya sudah, Non. Kalau begitu Surti pulang dulu, ya Non!”Surti segera mengambil tasnya dan berpamitan pulang meninggalkan Grace.
" Iyaz ,Bi. Mobilnya sudah aku pesankan. Bibi tunggu saja di lobby. Nomer mobilnya sudah aku chat di hp Bibi." Grace menunjukkan hasil screen shot pemesanan ojek online untuk mengantar Surti pulang ke rumah.
" Iya, Non. Makasih. Surti pamit ya, Non. Semoga Pak Rizal cepat sembuh. Assalamualaikum." pamit Surti.
“Waalaikumsalam. Aamiin, Bi. Di rumah bantu doain biar Papih cepat sadar, ya, Bi!?" Grace meminta ART di rumah suaminya itu ikut mendoakan demi kesembuhan Rizal.
" Pasti, Non." jawab Surti. " Surti pulang, Non."
Setelah Surti pergi meninggalkannya, Grace kembali masuk ke dalam ruang ICU. Di ingin menemani sang suami yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Grace menggenggam satu tangan Rizal dengan kedua tangannya. Hatinya merasa tercubit melihat sang suami mengalami kondisi seperti ini.
" Pih, Papih itu sosok laki-laki yang kuat. Aku yakin Papih akan cepat sadar dan sembuh. Papih akan kembali beraktifitas lagi seperti biasa." Grace mencoba menegarkan diri sendiri meskipun sebenarnya dia merasa takut Rizal akan lama tersadar pasca operasi. Dia merasakan ketakutan yang sama saat dia harus kehilangan Papanya beberapa tahun silam.
" Grace?" Suara Agatha yang terdengar dari pintu masuk kamar ICU Rizal, membuat Grace menoleh ke arah suara tady berasal.
" Mam ..." lirih Grace
Agatha melihat wajah sendu putrinya, sama persis saat Grace harus kehilangan Papanya. Dengan cepat Agatha merangkulkan tangannya dan memeluk tubuh Grace hingga membuat Grace terisak di dalam pelukannya.
Agatha menoleh ke arah Rizal yang berbaring di atas brankar. Wajah Rizal terlihat pucat tak heran jika Grace merasakan ketakutan itu
"'Kamu jangan punya pikiran buruk seperti itu. Grace. Kamu harus yakin, suami kamu akan sembuh." Agatha mengusap punggung Grace seakan memberi kekuatan agar Grace lebih tegar menghadapi kondisi Rizal saat ini
" Kita bicara diluar saja, Grace!”Agatha membawa Grace ke luar kamar ICU Rizal.
" Sebenarnya bagaimana Joe bisa sampai datang ke kantor suami kamu, Grace? Apa suamimu itu membuka lowongan dipublik untuk mencari supir untuk anaknya?" tanya Agatha penasaran bagaimana Joe bisa sampai di kantor Rizal
" Dari Jaka, Mam. Teman Jaka yang menanyakan ada lowongan kerja. Temannya itu butuh pekerjaan untuk kenalan temannya lagi dan orang itu ternyata Joe." Grace menjelaskan pada Agatha. " Saat Joe sampai kantor, Vito mengenali Joe dan mengejar Joe yang hendak kabur. Papih yang menghalangi Joe langsung memberikan Joe pu kulan hingga Joe terjatuh di meja. Waktu Papih ingin memu kul Joe lagi. Joe langsung mengambil gunting di meja dan meni kam Papih dengan gunting itu, Mam." Dengan air mata yang kembai jatuh dipipinya. Grace menceritakan kronologi peristiwa penu sukan Rizal secara rinci.
" Laki-laki itu memang jahat sekali! Untung saja kamu bisa lepas dari dia, Grace! Mama tidak dapat membayangkan jika kamu masih bersama dia." Agatha pasti tidak akan hidup tenang jika Grace masih berada di tangan Joe
" Tapi sekarang suamiku yang terluka, Mam." lirih Grace sedih.
" Kamu harus sabar, Grace. Kamu tidak boleh lemah. Kamu harus menyemangati suami kamu agar cepat tersadar." Agatha menjalankan perannya sebagai seorang Mama dengan menyemangati Grace yang sedang bersedih karena musibah yang menimpa Rizal.
***
Malam sudah berlalu, sampai berganti pagi. Rizal belum juga tersadar, walaupun dokter mengatakan kondisi Rizal sudah melewati masa kritis.
Grace masih setia menemani dan masih didamping oleh Agatha yang menjaga putrinya itu. Agatha sendiri seperti merasa dejavu saat bersama Grace menginap di rumah sakit untuk menjaga pasien yang dirawat. Dulu saat dia menemani Papa dari Grace, Grace kadang ikut menemaninya di rumah sakit. Grace sangat menyayangi Papanya. Tidak heran jika putrinya itu tidak ingin jauh dari Papanya.
" Kalau Mama mau ke kantor, Mama pulang saja, Ma. Biar aku nanti ditemani Bibi yang sedang kemari." Grace tidak ingin mengganggu pekerjaan Agatha karena harus menemaninya di rumah sakit.
" Kamu yang semestinya istirahat, Grace! Kamu semalaman tidak tidur. Nanti kamu sakit. Sebaiknya kamu istirahat pulang dulu. Biar nanti Mama sama Bibi yang menjaga suamimu. Lagipula di sini ada suster yang menjaga. Nanti sore kamu bisa kembali lagi ke sini." Agatha merasa kasihan pada putrinya yang semalaman terjaga menemani Rizal di samping brankar Rizal.
__ADS_1
" Tidak, Mam. Aku ingin tetap di sini menemani Papih." Grace menolak disuruh pulang oleh Agatha karena dia tidak ingin jauh dari suaminya.
Agatha tidak dapat memaksa Grace, karena anaknya itu memang selalu kukuh dengan pendiriannya dan tidak ingin ditentang.
"'Ya sudah kalu begitu Mama pulang dulu, ya!? Kalau sudah ada kabar soal kondisi suamimu, segera kabari Mama, ya!?" Agatha berpamitan akan meninggalkan Grace
" Iya, Mam. Terimakasih Mama sudah menemani aku semalam." Grace merasa bahagia karena Mamanya mau menemani dirinya menunggui Rizal
Agatha tersenyum seraya menganggukkan kepala lalu memeluk Grace. Setelah sekian lama bersengketa dengan putrinya itu , baru kali ini dia merasakan kehangatan hubungan bersama putrinya kmbali.
***
Grace terus setia menemani Rizal. Dia ingin ada di dekat suaminya saat suaminya itu tersadar nanti. Dia tak menghiraukan rasa lelah dan kantuk yang menderanya, asalkan dia bisa tetap menemani sang suami.
" Non, ada tamu di luar ingin membesuk Bapak." Suara Surti yang memberitahu ada yang ingin membesuk suaminya membuat Grace menoleh ke arah pintu yang terbuat dari kaca.
" Siapa, Bi?" tanya Grace tidak melihat orang yang dimaksud oleh Surti.
" Namanya Pak Bondan katanya, Non." Surti menyebutkan jika Bondan lah yang datang.
" Suruh masuk saja, Bi." ujar Grace, saat mengetahui yang datang adalah sahabat suaminya itu.
" Baik, Non." Surti kembali keluar untuk mempersilahkan Bondan masuk.
" Grace ..." Tak lama setelah Surti keluar, suara Bondan terdengar di kamar ICU Rizal.
" Pak Bondan ...."
" Bagiamana kondisi Rizal?" tanya Bondan menatap tubuh sahabatnya yang tak sadarkan diri.
" Dokter bilang sudah melewati masa kritis, tapi masih belum sadar sejak keluar dari kamar operasi, Pak Bondan." lirih Grace menjelaskan bagaimana kondisi suaminya.
Bondan kini menatap Grace. Dia melihat kesedihan pada wajah Grace. Dia dapat melihat ketulusan cinta Grace kepada sahabatnya itu. Dia tidak menyangka jika wanita yang setahun lalu dia jumpai terlihat liar dan cuek, kini terlihat sangat down atas musibah yang menimpa Rizal. Bondan juga tidak menyangka jika sahabatnya itu berhasil menaklukan seorang wanita muda dan cantik seperti Grace yang terlihat begitu mencintai Rizal.
" Pak Bondan tahu dari mana suamiku dirawat?"
Bondan yang sedang termenung menatap Grace, seketika terkesiap mendengar suara wanita itu bertanya kepadanya.
" Dari Vito, Grace. Vito mengabariku jika Rizal terkena luka tu sukan oleh pria yang hampir menodai putrinya. Ya Tuhan, kenapa Rizal tidak cerita padaku jika ada orang yang berbuat jahat terhadap putrinya. Kalau aku tahu, aku pasti akan bantu memburu ba jingan itu!" Sepertinya Bondan pun merasa emosi dengan perilaku Joe.
" Papih pasti tidak enak meminta bantuan Pak Bondan, karena Pak Bondan bekerja pada Pak Erlangga." Grace menyebutkan kemungkinan yang membuat suaminya tidak minta bantuan Bondan.
" Rizal itu sahabatku, Grace. Meskipun aku bekerja pada Tuan Erlangga, bukan berarti aku tidak akan membantu Rizal. Lagipula jika aku bilang pada Tuan Erlangga, aku ijin ingin membantu Rizal pun, aku yakin Tuan Erlangga akan setuju. Karena kalian berdua sudah berjasa mengungkap siapa sebenarnya Nyonya Kayra, dan mempertemukan Nyonya Kayra dengan orang tua kandungnya." Bondan menyesali Rizal yang tidak terbuka kepadanya.
" Hei, apa kau tidak menganggapku sahabat, Zal!?" Bondan berbicara pada Rizal, seolah Rizal tersadar dan dapat mendengar ucapannya. " Kau harus bangun, Zal! Kau harus memberi penjelasan, kenapa kau tidak menganggapku!?" Kembali Bondan memprotes Rizal seakan merang sang Rizal agar cepat merespon dan cepat terbangun dari tidurnya.
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1