TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Mengobati Luka


__ADS_3

Grace memiringkan tubuhnya menatap Rizal yang sedang mengendarai mobil di sampingnya. Status Rizal yang sekarang duda membuatnya bersemangat untuk menggoda pria yang berhasil menggagalkan misinya melukai Gavin dan membuatnya berpisah dengan kekasihnya, Joe.


Rizal sendiri merasakan jika saat ini Grace memperhatikannya. Membuatnya menoleh ke arah wanita itu yang sedang tersenyum kepadanya.


" Apa ada yang salah dengan wajah saya, Nona?" Merasa tak nyaman diperhatikan terus oleh Grace, Rizal langsung menegur wanita itu.


" Kalau aku perhatikan, wajahmu ternyata tampan juga, Pak tua. Yaaaa, walau terlihat sedikit tua ..." ucap Grace terkekeh. Bahkan kini tangan Grace menyentuh jambang Rizal yang menutupi rahang pria itu.


" Saya sedang mengendarai mobil, Nona! Tolong jangan bertingkah macam-macam!" Rizal menjauhkan wajahnya dari tangan Grace yang sudah berani menyentuh wajahnya.


" Mungkin kalau kau mencukur rambut di rahang dan kumismu itu, kau akan terlihat lebih muda, Pak tua." Tak perduli dengan ucapan Rizal, Grace terus saja menggoda Rizal. Membuat Rizal salah tingkah dengan perbuatannya adalah tujuan utama Grace.


Rizal memalingkan wajahnya keluar jendela karena saat ini mobilnya berhenti di traffic light. Tentu saja sikap Rizal yang jengah dengan perbuatan Grace membuat wanita itu tersenyum senang.


" Ini 'kan jalan ke apartemenku?" tanya Grace saat mobil yang dikendarai Rizal mengambil arah ke jalan menunju apartemen Grace.


" Selama Nona belum mendapatkan tempat tinggal, Nona bisa tinggal di apartemen Nona," sahut Rizal.


" Benarkah?" Grace terlihat senang mengetahui jika dia diperbolehkan kembali ke apartemennya walau sementara. " Ow, terima kasih, Pak tua." Grace merentangkan tangannya memeluk tubuh Rizal dari samping dan menyandarkan kepalanya di lengan kokoh pria itu.


" Hei, hati-hati sikap Anda, Nona!" Rizal kembali dibuat kaget oleh aksi Grace yang memeluknya secara tiba-tiba. Dia semakin jengah dengan tingkah laku Grace yang dirasanya sangat mengganggu.


" Aku 'kan hanya mengucapkan terima kasih, memangnya salah?" Grace santai mengucapkannya.


" Jika Nona ingin berterima kasih cukup katakan saja! Tidak perlu bersikap berlebihan seperti tadi!" ucap Rizal merasa risih dengan sikap Grace.


" Dasar pria tua aneh! Aku bersikap kasar, kau protes, aku bersikap manis, diprotes juga!" Grace memutar bola matanya mendengar perkataan Rizal tadi.


Sekitar lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Rizal sudah sampai di basement apartemen di mana Grace tinggal. Mereka berdua turun dan berjalan ke arah lift menuju lantai apartemen Grace berada.


" Apa kau akan menginap di apartemenku juga, Pak tua?" tanya Grace dengan menyeringai.

__ADS_1


" Tidak, berikan saja access card Anda, Nona. Agar Anda tidak bisa kabur dari apartemen Anda ini. Saya akan tidur di mobil." Rizal tentu tidak ingin terjebak oleh permainan Grace, sehingga dia meminta kunci kamar apartemen Grace juga duplikatnya, agar Grace tidak kabur dari pengawasannya.


" Kau ingin mengurungku di apartemenku sendiri?" Grace tersentak mendengar permintaan Rizal.


" Saya tidak ingin mengambil resiko, Nona!" Seringai tipis terbentuk di sudut bibir Rizal, merasa Grace tidak akan berkutik jika dia kurung di apartemen wanita itu.


" Aku tidak mau!" tegas Grace lalu bergegas masuk dan mendorong pintu apartemennya agar Rizal tak ikut masuk ke dalam apartemennya itu.


" Tidak ada pilihan untuk Anda, Nona!" Dengan dorongan satu lengannya saja, Rizal mampu melawan tenaga Grace hingga pintu itu terbuka dan membuat tubuh Grace terdorong ke belakang.


" Kau gi la ingin mengurungku di sini?Bagaimana jika terjadi sesuatu di sini?? Bagaimana jika tiba-tiba apartemen ini terbakar??" Grace berandai-andai terjadi sesuatu yang buruk di apartemennya itu.


" Anda jangan terlalu berlebihan, Nona! Saya yakin semua aman-aman saja, kecuali Nona sendiri yang ingin membakar diri Nona." Rizal menyindir Grace yang dianggapnya terlalu berlebihan.


" Aku tidak akan menyerahkan access cardku ini!" Grace langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya itu agar Rizal tidak bisa masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kunci apartemennya itu.


***


Saat ini waktu sudah lewat jam tujuh malam. Sejak masuk ke dalam kamarnya, Grace sama sekali tidak keluar dari kamarnya itu. Dia takut Rizal akan melaksanakan ancamannya dan mengambil paksa kunci apartemennya.


Grace perlahan membuka pintu kamar, menyembulkan kepalanya ke luar untuk mencari keberadaan Rizal. Terlihat sepi dan sunyi di ruangan tamu dan ruangan tengah di depan kamarnya, seolah tidak ada seseorang di sana.


Grace menghela nafas lega. Dia menduga jika Rizal tidak ada di dalam apartemennya itu. Dia lalu keluar dengan berlari menuju arah dapur meskipun dia merasa yakin tidak ada Rizal di sana.


Buugghhh


Grace tersentak saat dia menabrak seseorang ketika sampai di pintu masuk dapur.


" Aaakkkhh ...!" Grace mengibas tangannya karena dia merasakan cipratan air panas mengenai tangannya.


" Nona, Anda tidak apa-apa?" Rizal yang sedang memegang gelas hot caffe yang dia pesan melalui aplikasi ojek online langsung menaruh gelas minumannya itu ke atas meja. makan. Rizal pun kemudian memegang tangan Grace yang terkena air panas dari kopi yang dia minum. Walaupun tangan Rizal sendiri terkena cipratan air kopi juga. Namun, hanya sedikit yang terkena tangannya itu

__ADS_1


Rizal lalu menarik Grace dan mengarahkan tangan Grace yang terkena air panas itu di bawah guyuran air kran di wastafel.


Grace terkejut saat tiba-tiba Rizal menarik tangannya dan menyiram bagian tangannya yang terkena tumpahan air kopi dengan air yang mengalir dari kran.


" Bagian mana saja yang terkena air panas tadi, Nona?" tanya Rizal pada Grace yang masih tertegun dengan sikap tanggap Rizal saat mengobati lukanya.


Ini bukan kali pertama, Rizal mengobati luka Grace. Sebelumnya, saat Joe menyayat leher Grace, Rizal juga bertindak cepat menangani dan membawanya ke rumah sakit.


" Apa masih ada yang terasa sakit, Nona?"


Grace mengerjapkan mata seolah tersadar dari ketertegunannya dengan sikap Rizal yang begitu perduli dengan luka yang dialami olehnya, saat mendengar Rizal kembali bertanya kepadanya.


" Tidak ada! Kau ini kenapa berdiri di pintu, sih?! Menghalangi orang jalan aja!" ketus Grace menyadari jika Rizal lah yang membuatnya celaka.


" Nona sendiri, kenapa berlari seperti itu?" Rizal balik menyalahkan Grace.


" Aku lapar! Mau cari makanan!" Masih dengan nada ketus, Grace menjawab ucapan Rizal.


" Apa Nona punya obat luka bakar?" tanya Rizal setelah dia menyiram air mengalir pada tangan Grace dan mengeringkannya.


" Aku tidak tahu! Cari saja di kotak obat itu!" Grace menunjuk kotak obat di dekat lemari pendingin.


" Duduklah dulu, nanti saya akan cari obatnya." Rizal menarik kursi dan menyuruh Grace duduk. Setelah itu dia mencari obat luka di kotak obat yang ditunjuk oleh Grace.


" Tidak ada obat luka bakar di sini. Nona tunggu lah sebentar. Di mobil saya ada obat luka bakar. Tunggu sebentar!" Rizal bergegas keluar dari apartemen Grace untuk mengambil obat di dalam mobilnya. Rizal yang biasanya selalu berpesan agar Grace tidak kabur, kali ini sama sekali tidak mengingat hal itu. Karena dia merasa mengobati Grace lebih penting dilakukannya saat ini.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2