TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Tahanan


__ADS_3

Kehadiran Grace di ruangan Erik membuat pria itu mengerutkan keningnya. Dari penampilannya, jika dilihat dari barang-barang branded yang dipakainya


wanita yang dibawa oleh Rizal terlihat bukanlah wanita biasa .


" Dia tawananku, Rik. Aku inginmenitipkan dia di sini," ucap Rizal.


" Tawanan?" Erik menautkan alisnya mendengar penjelasan Rizal soal Grace. " Memang kesalahan apa yang sudah dia lakukan, Zal?" tanyanya penasaran. Karena dari penampilan Grace sangat sulit dipercaya jika wanita itu adalah tawanan.


Rizal melirik ke arah Grace yang masih memasang wajah memberengut dan memalingkan wajah.


" Dia mengusik ketenangan keluarga kerabat dekatku, Rik. Keluarga kerabatku itu ingin menghukumnya supaya dia merasa jera dan tidak terus mengusik keluarganya dengan mempekerjakan dia bekerja sosial di Panti Wreda. Namun, dia membuat ulah di sana. Jadi aku terpaksa membawa dia kemari. Mungkin jika dititipkan sini, dia bisa merasakan efek jera itu," ungkap Rizal menjelaskan maksud dari kedatangannya membawa Grace..


" Aku ingin meminta bantuanmu, Rik. Terserah kau ingin apakan dia selama di sini." Rizal sengaja menakut-nakuti Grace, wanita yang seakan tidak punya rasa takut sama sekali itu.


Erik terkekeh mendengar ucapan Rizal lalu kembali memperhatikan Grace.


" Apa kau yakin boleh aku apakan saja dia, Zal?" Seringai tipis terlihat dari sudut bibir Erik dan itu membuat Grace mengedikkan bahunya.


" Tentu saja, aku serahkan dia untuk diproses hukum agar dia mendapatkan ganjaran atas perbuatannya." Perkataan Rizal semakin membuat Grace merinding. Dia tidak pernah membayangkan harus berurusan dengan polisi apalagi harus mendekam di dalam tahanan.


" Baiklah, aku akan masukan dia dalam tahanan. Kau bisa buat laporannya nanti di depan," ujar Erik menjelaskan prosesnya.


" Aku tidak mau tinggal di sini, Pak tua si alan!" Menanggapi ancaman ke dua pria di hadapannya Grace berkata dengan nada cukup kencang. Bagi Rizal, sikap Grace seperti ini adalah hal yang biasa, berbeda dengan Erik yang terkejut dengan keberanian Grace menyentak dengan kalimat yang kasar pada Rizal.


" Wah, galak juga gadis ini, Zal. Ckckck ..." Erik menggeleng-gelengkan kepadanya.


" Ya, seperti itulah, Rik. Karena itu aku datang kemari, karena sepertinya tempat ini adalah pilihan yang tepat agar dia menyesali perbuatannya," ucap Rizal tidak terpengaruh dengan bentakan Grace tadi. Sepertinya kata-kata kasar Grace sudah jadi makanan sehari-hari untuk Rizal.


" Lepaskan benda si alan ini dari tanganku! Aku ingin menghubungi pengacaraku!" hardik Grace kembali, karena sepertinya Rizal serius ingin membuat laporan atas penyerangan yang dilakukannya terhadap Gavin.


" Mbak, ini kantor polisi. Sebaiknya Anda bersikap yang sopan di sini. Jika Anda masih bersikap seperti ini, saya akan menyuruh anak buah saya untuk memasukkan Mbak ke dalam tahanan sementara ini!" Erik memberikan ancaman karena Grace tidak dapat bersikap tenang dan dianggap berbuat keributan.


" Dasar pria tua sialan!!" Grace memukuli tubuh Rizal dengan kedua tangannya yang dipasang borgol. Tidak hanya memukul, Grace pun menendangi kaki Rizal.


Melihat Grace memukul dan menendang Rizal, Erik mencoba menghentikan aksi Grace dengan menarik tubuh Grace yang terus menerus menyerang Rizal.


" Lepaskan! Jangan sentuh aku!!" Grace bahkan berani menepis kasar tangan Erik yang menarik badannya.


" Anda harus berikap sopan, Nona. Sekarang ini Anda sedang berhadapan dengan aparat hukum!" Rizal memperingatkan agar Grace tidak bersikap kasar terhadap Erik, apalagi saat ini mereka berada di kantor polisi.


Sementara Erik langsung mengangkat gagang teleponnya untuk menghubungi seseorang.


" Tom. tolong ke ruangan saya secepatnya!" Erik berbicara pada seseorang di teleponnya itu.


" Sebaiknya dia diamankan dulu di sel selama kau membuat laporan, Zal." ujar Erik kemudian.


" Oke, Rik. Mungkin dia perlu beradaptasi dulu sementara waktu di dalam kamar barunya." Rizal menimpali kata-kata Erik.


" Si alan kau, Pak tua! Lihat saja, aku akan membalasmu!" geram Grace dengan nafas tersengal menahan emosi.


Tok tok tok


" Permisi, Pak. Ada apa, Pak Erik?" tanya Tommy, anak buah Erik yang masuk ke dalam ruangan itu.


" Tom, cepat bawa wanita ini ke sel tahanan. Hati-hati, dia cukup galak!" Erik segera memberikan peringatan kepada anak buahnya.


Tommy memperhatikan Grace, dia hampir tidak percaya wanita secantik bidadari di hadapannya itu harus ditahan dalam sel.


" Baik, Pak. Mari, silahkan ..." ucap Tommy kemudian membawa Grace dengan memegangi lengan Grace.


" Lepaskan tanganmu dari lenganku!" bentak Grace saat Tommy menyentuh punggungnya.


" Oh, maaf." ucap Tommy saat Grace marah dia sentuh lengannya.


" Mari ikut saya." Tommy kembali meminta Grace untuk mengikutinya.

__ADS_1


" Aku tidak mau!" tolak Grace.


" Sebaiknya Anda jangan banyak menentang, Nona cantik!" Melihat Grace melawannya, Erik memberikan Grace peringatan.


" Aku ingin bicara dengan Mamaku! Aku ingin menghubungi pengacaraku! Anda tidak bisa menahan orang seenaknya saja ya, Pak!?" Kembali Grace menentang kata-kata Erik.


" Jika kamu tidak bisa bersikap sopan terhadap aparat hukum di sini. Anda bisa dituduh berbuat onar dan mengganggu ketentraman di kantor ini!" tegas Erik.


" Sudahlah, Rik. Percuma bicara halus kepadanya. Tunjukan saja di mana selnya, biar aku yang antar dia ke tempat yang nyaman untuknya saat ini." Rizal membungkukkan tubuhnya. Dia lalu melingkarkan tangannya di paha Grace dan mengangkat tubuh Grace hingga tubuh Grace kini berada di pundak pria bertubuh tinggi besar itu.


" Aaakkhh ...!! Lepaskan aku, si alan!! Kau mau bawa aku ke mana?!" Grace meronta dengan memukuli punggung Rizal karena saat ini Rizal mengangkat tubuhnya seperti memanggul karung beras.


" Tunjukan di mana selnya, Pak?" tanya Rizal kepada Tommy.


" Oh, mari ikut saya, Pak!" Tommy sebenarnya kaget dengan tindakan Rizal, dia lalu berjalan di depan Rizal untuk mengarahkan Rizal ke sel yang akan dihuni oleh Grace.


" Gi la kau, Zal." Sementara Erik justru terkekeh melihat tindakan yang diambil oleh sahabatnya itu.


" Lepaskan aku, pria tua breng sek!!" Grace terus meronta dan berteriak sehingga membuat petugas dan orang yang ada di kantor polisi itu memperhatikannya.


" Aaakkhh ...!! Leherku sakit!!" Grace merasakan sayatan di lehernya seperti terbuka kembali hingga darah mulai merembes ke balutan perban yang masih dia pakai.


" Jangan beralasan dengan lehermu, Nona." Karena wajah Grace berada di punggungnya sehingga Rizal tidak mengetahui jika luka di leher Grace kembali terbuka.


" Ini ruangannya, Pak." Sesampainya di depan ruangan berjeruji besi, Tommy berhenti lalu membuka gembok pintu sel itu.


Rizal berjalan masuk ke dalam ruangan ketika pintu dibuka oleh Tommy, lalu dia menurunkan tubuh Grace di bawah lantai ruangan itu.


" Semoga Anda betah dan tidak tereliminasi dari sini, Nona." Rizal masih memberikan sindiran. Sementara Grace menahan sakit karena cedera di lehernya kembali terasa nyeri.


" Leher Anda berdarah, Nona?" Menyadari warna merah di perban yang menutupi luka di leher Grace, secara reflek Rizal menyentuh perban itu.


" Singkirkan tanganmu!" Grace yang sangat marah kepada Rizal menyingkirkan tangan Rizal yang menyentuh lukanya secara kasar.


" Ada, Pak. Mau saya panggilkan ke sini, Pak?" tanya Tommy.


" Boleh, Pak. Kalau tidak sedang sibuk." Rizal mengangguk. Dan Tommy segera memanggil petugas kesehatan di kantor itu.


" Apa obatnya kamu bawa?" tanya Rizal kepada Grace. Namun Grace tidak menyahuti pertanyaannya.


Karena Rizal tidak juga mendapat jawaban dari Grace, dia lalu mengambil tas Grace dan mencari obat luka Grace di tas wanita itu.


" Jangan lancang menyentuh tasku, breng sek!" Meskipun dalam keadaan menahan rasa sakit, namun tidak membuat Grace bersikap lembut. sebaliknya gadis itu masih saja bersikap galak.


" Jangan terus berteriak, Nona. Nanti lukanya semakin parah." Rizal memperingatkan Grace agar menurunkan volume suaranya.


" Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tak berapa lama petugas kesehatan sampai di ruang tahanan.


" Sepertinya luka sayatan di leher Nona ini kembali kambuh, Dok." Rizal bangkit saat melihat petugas kesehatan itu akan memeriksa Grace.


" Mari saya periksa dulu, Mbak." Petugas kesehatan lalu membuka perban yang membalut luka Grace lalu mengobatinya dan mengganti balutan perban yang baru.


" Sebaiknya Mbak jangan banyak bicara dulu apalagi berteriak. Agar lukanya cepat pulih dan mengering, Mbak." Petugas kesehatan menasehati Grace.


" Sudah selesai saya obati. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak, Mbak." Petugas kesehatan itupun lalu berpamitan meninggalkan Grace, Rizal dan Tommy setelah


Rizal menatap ke arah Grace yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian ke arahnya.


" Ini pilihanmu Nona. Saya akan meninggalkan Nona di sini, agar Nona bisa menyadari jika apa yang Nona lakukan itu salah." Rizal berkata kepada Grace lalu memutar tubuhnya melangkah meninggalkan Grace di ruang tahanan.


" Dasar pria breng sek! Awas saja kau nanti!!" Grace memekik dengan memegangi lehernya yang terasa sakit karena dia selalu berteriak.


***


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan wanita itu, Zal?" tanya Erik setelah Rizal kembali ke ruang kerja Rizal.

__ADS_1


" Dia mencoba mencederai anak dari kerabat dekatku, Rik." sahut Rizal menyandarkan punggungnya di sofa yang ada di ruangan Erik.


" Jika tindakannya itu bersifat kriminal, kenapa tidak membuat laporan ke sini dari awal agar bisa diproses secara hukum." Erik justru menyarankan Rizal melaporkan Grace agar diproses sesuai jalur hukum.


" Sebenarnya aku dan kerabatku itu memang menginginkan hal itu, tapi menantu kerabatku itu meminta agar dia dibebaskan saja karena merasa kasihan. Tapi, wanita seperti itu memang tidak pantas untuk dikasihani." Rizal sebenarnya tidak setuju dengan usulan Azzahra yang membebaskan Grace.


" Kalau dia dibebaskan kenapa dia masih menjadi tawananmu?" tanya Erik heran.


" Karena kerabatku itu ingin memberi pelajaran kepada dia agar dia bisa bersikap lebih baik, menghargai orang lain dan mempunyai sopan santun dalam menghadapi orang yang lebih tua." Rizal menyampaikan alasannya kepada Erik.


" Lalu sampai kapan wanita itu kau titipkan di sini?" tanya Erik kembali..


" Aku rasa dia tak akan lama ada di sini, Rik. Aku benar-benar ingin meruntuhkan kesombongannya itu." Atas permintaan David, Rizal memang ditugasi untuk membuat Grace berubah menjadi orang yang baik.


" Dia cantik juga, Zal. Dan kau duda. Apa kau tidak tertarik untuk menaklukan hati wanita itu?" Erik menyeringai seraya memainkan kedua alisnya.


" Maksudmu apa, Rik?" Rizal melirik ke Erik yang tersenyum meledek.


" Kau sudah lama menyendiri, kan? Apa kau tidak ingin menikah lagi? Lumayanlah, kau dapat daun muda." Erik kini tertawa kencang.


" Apa kau gi la, Rik! Dia seumuran Bella anakku!" sanggah Rizal. " Lagipula kau lihat sendiri dia begitu liar. Mana mungkin aku tertarik dengan wanita itu. Dia bukan tipeku." sanggah Rizal mengibaskan tangannya ke udara menganggap tantangan Erik adalah hal mustahil baginya.


Bukannya tidak berani, tentu saja untuk orang seperti Rizal, tantangan apapun. akan dia hadapi. Tapi, tentu saja dia tidak tertarik untuk menaklukan hati seorang seperti saat Grace.


" Hahaha, bukankah wanita yang liar itu biasanya sangat ahli di atas ranjang, Zal?" Erik tertawa meledek Rizal.


Rizal melirik Erik yang sedang menertawakannya. Mendengar perkataan Erik tadi membuatnya teringat kehidupan bebas Grace yang tinggal satu apartemen dengan Joe. Sudah dapat dibayangkan jika kedua orang itu sering melakukan aktivitas percintaan, apalagi selama ini Grace tinggal di luar negeri hingga kehidupan sek s bebas pasti dianut oleh Grace.


" Oh ya, tipemu itu yang anggun dan kalem seperti Sonia, kan?" Erik menyebut nama Mama dari Isabella.


" Sebaiknya aku pamit, Rik. Ada hal yang mesti aku urus lagi. Titip dia satu malam, mungkin besok dia akan berubah pikiran jika merasakan tidak enaknya berada di jeruji besi." Rizal memilih berpamitan, tak ingin membuang waktu meladeni ucapan-ucapan Erik karena dia harus mengurus kasus-kasus lainnya.


***


Sepeninggal Rizal, Grace langsung menghubungi Agatha. Tentu saja dia ingin minta bantuan Mamanya itu agar cepat melepaskannya.


" Halo, ada apa, Grace?" tanya Agatha saat panggilan telepon terangkat oleh Agatha.


" Mam, Mama harus bantu aku keluarkan aku dari tahanan ini, Mam!" Grace segera menggadu ke mamanya itu.


" Grace, kamu harus sabar, Nak. Ini tidak akan lama, kok. Selama kamu bisa bersikap baik, Tuan David pasti akan melepaskanmu. Sementara ini kau harus mengikuti aturan panti itu dan jangan banyak menentang." Tak tahu jika Grace sudah keluar dari panti, Agatha mencoba menasehati putrinya itu agar tidak banyak bertingkah supaya Grace tidak lama menghadapi hukuman yang harus dijalankan oleh putrinya itu.


" Aku sudah tidak di panti, Mam!"


" Tidak di panti? Lalu kamu di mana sekarang?"


" Aku ada di sel di kantor polisi, Mam. Mama harus cepat panggil pengacara dan bebaskan aku dari sini! Aku tidak mau menginap di sini, Mam!" Grace memohon agar Mamanya segera membantu melepaskan dirinya dari dalam tahanan.


" Apa?? Kamu di kantor polisi? Bagaimana bisa kamu ada di sana?" Agatha terperanjat mengetahui keberadaan putri semata wayangnya saat ini. Berada di dalam sel di kantor polisi adalah hal yang tidak diinginkan oleh Agatha.


" Ini karena pria tua si alan itu, Mam! Please, Mam. keluarkan aku dari sini. Kalau aku sudah keluar dari sini, aku janji aku akan kembali ke Jerman dan tidak akan menginjakkan kaki di Jakarta lagi." Bahkan Grace sampai bersumpah akan mengikuti saran awal dari Agatha yang menyuruhnya pergi dari Indonesia.


" Mama akan bicara dengan Pak Rizal dulu, Grace. Kenapa dia memasukkan kamu ke dalam tahanan padahal Tuan David sudah berjanji tidak akan menuntut kamu ke jalur hukum." Agatha tentu tidak ingin anaknya itu sampai di penjara, karena itulah dia sampai memohon kepada pengusaha kaya raya itu agar melepaskan anaknya, dan rela Grace disuruh menjalani pekerjaan sukarela di Panti Wreda itu.


" Percuma bicara dengan pria tua gi la itu, Mam! Mama cepat suruh pengacara saja ke sini untuk membebaskanku!" Grace terlihat geram karena Mamanya tidak cepat menyuruh pengacara pribadinya datang untuk mengurus kebebasannya. Akan tetapi Agatha memilih ingin menghubungi Rizal lebih dahulu.


*


*


*


Bersambung ...


happy reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2