TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Alam Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah mendapatkan kepastian jika dirinya positif hamil, Grace kembali mengistirahatkan tubuhnya kembali berbaring di samping Rizal. Sementara Agatha sibuk berpikir agar putrinya itu mau menurutinya untuk menjaga kesehatan dan tidak menginap di rumah sakit.


Grace menatap wajah sang suami yang terlihat teduh. Dia tidak tahu jiwa sang suami saat ini berada di mana? Dan apa yang sedang dilakukan Rizal dalam alam bawah sadarnya itu. Kenapa Rizal tidak juga sadar, padahal dokter bilang secara medis kondisi Rizal sudah berangsur pulih dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Grace menyentuh tangan Rizal lalu meletakkan telapak tangan kokoh itubdi atas perutnya yang masih datar. Dia berharap kontak batin ayah dan anak dapat bekerja. Setidaknya Rizal dapat merasakan jika saat ini dirinya sedang hamil, dan itu bisa membantu Rizal terbangun dari komanya.


" Pih, aku hamil, Pih. Apa Papih tidak ingin bangun? Apa Papih tidak ingin mendampingi kehamilan aku? Aku sedih melihat Papih seperti ini." Grace tak kuasa untuk tidak menitikkan air matanya. Dia merasa sedih ketika harus kehilangan Papanya di usia remajanya. Dia tidak ingin bayinya justru tak merasakan kasih sayang Papihnya, bahkan sejak di dalam kandungan sekalipun.


" Pih, apa Papih tidak kasihan dengan anak Papih di perutku ini? Papih bilang ingin menikmati masa tua bersamaku dengan anak dan cucu kita. Papih harus bangun! Jangan menyerah seperti ini, Pih!" Grace terus meminta suaminya untuk cepat tersadar dan bangun. Namum Rizal tetap tak merespon. Pria itu seperti tak perduli apa yang terjadi dan seakan merasa nyaman dengan tidur panjangnya.


Keesokkan paginya, saat Bi Tinah datang untuk bertukar jaga dengan Agatha, Sementara Agatha berniat mengantar Grace periksa ke dokter kandungan terlebih dahulu sebelum dia pulang.


" Bi, tolong jaga Rizal dulu! Saya mau memeriksakan Grace ke dokter kandungan." Agatha menitipkan Rizal kepada Bu Tinah sebelum dia membawa Grace periksa kandungannya setelah mendapat kepastian positif hamil.


" Non Grace hamil, Bu?" Bi Tinah terkesiap saat Agatha menyebut akan membawa Grace ke dokter kandungan. Kini tatapan matanya mengarah kepada perut Grace yang terlihat masih rata kemudian menatap wajah Grace.


" Iya, semalam diperiksa tiga testpack hasilnya positif semua," sahut Agatha membenarkan.


" Alhamdulillah, selamat, Non Grace. Bibi senang mendengarnya. Kalau Pak Rizal tahu Non Grace hamil, pasti Pak Rizal akan senang sekali, Non." Wajah Bi Tinah nampak berbinar mengetahui Grace kini tengah berbadan dua. Dia pun menduga, jangan-jangan saat Grace mengecek urine beberapa hari lalu sebenarnya Grace sudah hamil, namun belum terdeteksi secara jelas.

__ADS_1


Grace melirik ke arah Bi Tinah dengan tatapan mata kesal saat ART Rizal menyinggung nama suaminya.


" Bibi bilangin tuh sama majikannya! Suruh bangun! Jangan enak-enakkan tidur saja! Tidak kasihan apa sama istrinya sekarang lagi hamil hasil perbuatannya dia!?" gerutu Grace kepada Bi Tinah.


Perkataan bernada ketus Grace membuat Bi Tinah menutup mulutnya. Karena menyadari jika ibu hamil muda di hadapannya saat ini sedang dalam kondisi sensitif karena hormon kehamilannya. Bi Tinah sangat memaklumi kondisi Grace sekarang ini. Di saat mengetahui hamil, tapi suaminya tidak juga sadar dari tidur panjangnya.


" Hmmm, maaf, Non. Iya, nanti Bibi suruh Pak Rizal cepetan bangun, Non." Bi Tinah langsung minta maaf tidak ingin melihat Grace semakin marah.


" Ya sudah, kami tinggal dulu, Bi." Agatha langsung merangkul pundak anaknya dan membawanya keluar dari ruang rawat Rizal daripada Grace akan terus mengoceh.


Sepeninggal Grace dan Agatha, Bi Tinah lalu berjalan mendekat ke arah brankar untuk melihat kondisi majikannya itu. Wajah Rizal saat ini terlihat lebih tenang dan cerah, tidak pucat lagi seperti saat di ruang ICU kemarin. Dia merasa jika itu pertanda baik untuk kesehatan majikannya.


" Oh, iya, Pak. Surti bilang, ada pria tampan yang selalu datang ke sini menjenguk Bapak belakangan ini. Kata Surti orangnya ganteng, baik dan perhatian dengan Non Grace. Hati-hati, lho, Pak! Kalau Pak Rizal tidak juga bangun-bangun, bisa-bisa Non Grace bisa kecan tol sama laki-laki itu, Pak." Seperti halnya Grace, kali ini Bi Tina lh mencoba merang sang reaksi Rizal dengan menceritakan soal hal-hal yang bisa membuat Rizal cemburu.


" Menurut Surti lagi, kalau Non Bella justru suka sama pria itu, Pak. Bapak tidak takut apa? Anak sama istri Bapak rebutan pria yang sama? Bahaya kalau nanti mereka saling ca kar-ca karan, lho, Pak! Bisa-bisa nanti ada sinetron ikan terbang judulnya, Ibu Tiriku Adalah Sainganku, atau ... Ibu Dan Anak Tiri Berebut Cinta Pria Ganteng. Bisa jadi juga Istriku Direbut Pria Yang Dicintai Anakku. Ini juga bisa, Istriku Dibawa Kabur Pria Tampan Ketika Aku Koma. Hmmm ... apalagi, ya?" Bi Tinah berpikir judul-judul yang cocok untuk menggambarkan kehadiran Rivaldi yang menurut cerita Surti yang dia dengar terlihat seperti menyukai Grace.


" Son ... nia ...."


Bi Tinah membulatkan bola matanya saat dia mendengar suara Rizal yang terdengar pelan. Dia lalu melihat mulut Rizal yang kini masih mengatup. Tangan Rizal pun tak terlihat bergerak. Bi Tinah sampai mengucek matanya, untuk meyakinkan jika mulut Rizal masih tak bergerak. Lalu suara siapa tadi? Namun, Bi Tinah yakin jika suara tadi adalah suara majikanya itu. Walaupun terdengar pelan tapi Bi Tinah sangat hapal dengan suara majikannya itu.

__ADS_1


Bi Tinah mengedar pandangan ke setiap sudut ruangan kamar rawat Rizal. Tidak ada siapa-siapa di kamar itu selain dirinya.


" Aku yakin itu tadi suara Pak Rizal, kok!" Bi Tinah sangat yakin akan pendengarannya.


" Pak, tadi Bapak bicara, kan?" Bi Tinah kembali ingin memastikan jika dia tidak salah mendengar.


" Bapak tadi bicara apa? Tadi Bibi dengar, lho! Bapak tadi bilang ... Son ... nia." Bi Tinah terperanjat dengan bila mata membulat saat mengulang kata yang diucapkan Rizal yang sempat dia dengar. Tentu saja dia tahu apa kata yang diucapkan Rizal tadi. Kata yang diucapkan Rizal tadi adalah nama Sonia. Sonia adalah istri pertama Rizal, mantan istri majikannya yang telah meninggal beberapa tahun silam karena sakit. Seketika itu juga Bi Tinah merasakan bulu romanya meremang di sekitar tengkuk dan lengannya.


" Astaghfirullahal adzim, Ya Allah ... Pak, Pak Rizal harus sadar. Di sini ada Non Grace ada Non Bella dan ada calon bayi Bapak juga. Pak Rizal jangan tinggalkan mereka, Pak." Bi Tinah seketika terisak. Dia menebak jika di dalam alam sadar Rizal, Rizal sedang dikunjungi oleh Almarhumah istri pertama Rizal, Sonia.


" Bu, saya tahu Ibu sangat menyanyangi Bapak. Bapak juga sangat menyanyangi Ibu. Tapi, saat ini dunia Ibu dan Bapak sudah berbeda. Jangan ajak Bapak ke alam Ibu. Kasihan Non Bella, Bu. Non Bella masih butuh sosok Papihnya. Non Bella pasti akan sedih jika Ibu membawa Bapak ikut bersama Ibu. Hiks ..." Sambil menangis Bi Tinah berbicara sendiri pada Sonia seakan Sonia ada di hadapannya. Dia juga tidak menyebut nama Grace saat berbicara dengan Sonia. Bi Tinah takut, Rizal akan menyusul Sonia.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2