
Hampir dua Minggu ini Rizal kembali ke rumah Grace, namun belum juga ada tanda-tanda Rizal akan tersadar, walaupun semua keluarga Rizal bahkan karyawan Rizal sering mencoba berinteraksi dengan Rizal, pria itu tetap saja lebih merasa nyaman dengan tidurnya. Itu artinya sudah sekitar tiga minggu Rizal tak sadarkan diri akibat peni kaman yang telah dilakukan oleh Joe.
Rivaldi sendiri sering berkunjung untuk mengetahui perkembangan kondisi Rizal. Namun, setiap berkunjung, Grace selalu meminta Rivaldi untuk banyak berinteraksi dengan Isabella, agar anak tirinya itu tidak selalu berpikiran buruk tentang dirinya. Grace juga sebenarnya ingin Rivaldi membuka hati untuk Isabella dan ingin agar mereka bisa saling dekat satu sama lain.
" Bu, ada klien yang ingin memakai jasa kita. Tapi, dia ingin bertransaksi langsung dengan Pak Rizal. Dan saat saya beritahu jika Pak Rizal masih sakit, orang itu membatalkan niatnya itu." Saat Grace mampir ke kantor Rizal, karena hari ini kantor harus memberi gaji kepada karyawan, Vito melaporkan soal klien yang ingin mengcancel rencana memakai jasa dari kantor Rizal untuk menyelidik kasus yang sedang dihadapi oleh klien itu.
" Memangnya kenapa harus dengan suamiku? Apa tidak dapat diwakilkan olehmu atau Sam?" tanya Grace heran, karena dalam hal penyelidikan, tetap pegawai suaminya lah yang bergerak.
" Karena Pak Rizal yang selalu mengatur rencana dan strategi. Mungkin mereka kurang yakin jika bukan Pak Rizal sendiri yang mengatur strategi." Vito menjelaskan kemungkinan calon kliennya itu mengurungkan niatnya memakai bantuan mereka.
" Lalu kita harus bagaimana? Kenyataannya suamiku masih belum sadar, kan?"
" Apa sebaiknya Ibu bertemu dan klien itu untuk melakukan kesepakatan? Saya takutnya akan ada klien lain yang melakukan hal yang sama membatalkan mengunakan jasa kita. Ini akan mempengaruhi kelangsungan usaha Pak Rizal ini, Bu." Vito menyampaikan kekhawatirannya soal kemungkinan akan ada klien yang akan melakukan hal yang sama, enggan memakai jasa mereka, karena tidak ada campur tangan Rizal dalam penyelidikan.
" Apa yang harus kita lakukan, Vit?" tanya Grace.
" Nanti saya akan coba hubungi orang itu, coba mengajak bertemu dan membicarakan apa yang dia butuhkan dari bantuan kita. Nanti saya akan mengatakan jika Ibu yang akan menggantikan Pak Rizal bertemu dengan mereka." Vito menyebutkan rencananya untuk kelangsungan usaha milik Pak Rizal itu.
" Oke, Vit. Bagaimana baiknya saja, deh! Kalau memang aku harus turun tangan, ya sudah, lakukan saja." Grace harus memikirkan nasib pegawai Rizal jika sampai tidak ada klien yang memakai jasa usaha suaminya. Lagipula usaha jasa penyidik adalah pekerjaan yang sangat dicintai oleh suaminya, dia tidak ingin usaha itu sampai bangkrut dan tutup karena tidak ada klien yang mempercayakan mereka menangani masalah para klien.
***
" Pih, hari ini aku akan bertemu dengan klien. Papih bantu doa semoga calon klien kita itu jadi menggunakan jasa kita. Makanya Papih cepat bangun, dong! Nanti klien Papih pada lari kalau Papih tidak juga bangun." Saat hendak menemui klien bersama Vito, Grace berpamitan kepada Rizal terlebih dahulu. Berharap dengan ucapannya itu akan mempengaruhi respon sang suami.
Tok tok tok
" Non, Mas Vito sudah menunggu di depan." Bi Saonah masuk ke dalam kamar memberitahu jika Vito sudah menunggu di ruang tamu.
" Iya, sebentar, Bi." Grace lalu mencium pipi suaminya. " Aku berangkat dulu, ya, Pih." pamit Grace kemudian mengambil sling bag nya kemudian keluar dari kamar.
" Kita berangkat sekarang, Vit?" tanya Grace menuruni anak tangga.
" Iya, Bu. Kita sudah mengatur janji makan siang ini bertemu dengan mereka," jawab Vito.
" Ya sudah," sahut Grace. " Kau yang bawa mobil." Grace menyodorkan kunci mobilnya kepada Vito.
" Kita memakai mobil Pak Rizal saja, Bu." Vito memilih menggunakan mobil milik Rizal yang sudah sering dia bawa.
" Pakai mobil sajalah, Vit!" Grace tetap menginginkan memakai mobilnya.
" Baik, Bu." sahut Vito, lalu mereka berdua berjalan ke arah mobil Grace.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, saat pintu gerbang dibuka, dari arah luar, mobil milik Rivaldi tiba dan masuk ke dalam pekarangan rumah Grace. Sekejap kemudian, Isabella keluar dari mobil Rivaldi.
Vito menatap kehadiran Rivaldi yang datang bersamaan dengan Isabella dengan tatapan tidak suka. Tidak dapat dipungkiri juga rasa cemburunya pada pria itu masih tetap ada di hatinya karena Rivaldi saat ini terlihat mulai dekat dengan Isabella.
" Kalian mau ke mana?" tanya Isabella melihat Grace hendak pergi dengan Vito.
" Aku ingin bertemu klien. Dia ingin bertemu langsung dengan Papih, aku akan mewakili untuk meyakinkan agar dia mau memakai jasa dari kantor Papih." Grace menjelaskan ke mana dia dan Vito akan pergi.
" Oh, ya sudah, semoga sukses," sahut Isabella.
" Jaga dia baik-baik." Saat berjalan melewati Vito, Rivaldi menepuk pundak Vito menitipkan Grace yang akan pergi dengan Vito.
" Vit, ayo berangkat!" Menyadari akan suasana hati Vito yang panas dengan kehadiran Rivaldi, dia meminta Vito segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah miliknya itu.
***
" Bapak 'kok masih belum sadar juga, ya, Non?" tanya Bi Tinah sambil memijat kaki Grace yang merasa pegal. Selama Rizal berada di rumahnya, kedua ART Rizal, Bi Tinah dan Surti ikut diboyong juga ke rumah Grace, agar suasana di rumah itu menjadi ramai. Bi Tinah dan Surti akan pulang ke rumah Rizal seminggu dua kali hanya untuk membersihkan rumah. Jika pekerjaan mereka sudah selesai, mereka akan kembali ke tempat Grace.
" Iya, Bi." Grace menghempas nafas kasar seraya menoleh ke arah suaminya yang tidur di brankar yang berada di sisi sebelah kanan sring bed nya
" Padahal dokter bilang kalau dari segi kesehatan, kondisi Papih sudah tidak ada masalah, semuanya normal." Grace juga tidak mengerti, kenapa suaminya itu masih betah dalam tidurnya. Apakah di alam bawah sadarnya suaminya itu begitu nyaman berada dalam pelukan Sonia. Itulah yang selalu menjadi pikiran Grace.
" Non harus sabar dan terus berdoa, agar Allah SWT cepat memberikan kesembuhan kepada Bapak dan Bapak cepat sadar," harap Bi Tinah sambil menasehati Grace.
" Kasihan baby ini, tidak pernah dilihat sama Papihnya." Grace menatap perutnya yang tertutup bahan pakaian yang dia kenakan.
" Ppfftt ...!" Bi Tinah menahan tawanya mendengar ucapan Grace yang mengatakan 'belum dilihat oleh Papihnya'. Sebagai wanita dewasa dan juga sudah berumah tangga, tentu saja pikiran Bi Tinah langsung mengarah pada hal yang berbau sensitif.
Grace melirik ke arah Bu Tinah saat mendengar suara tawa teredam Bi Tinah tadi.
" Kenapa ketawa, Bi?" tanyanya kemudian.
" Non sudah kangen sama Bapak, ya?" Bi Tinah bertanya dengan tersenyum.
Senyum Bi Tinah seakan tertular pada Grace, sehingga wanita cantik itu pun kini melebarkan senyumannya.
" Pastilah, Bi. Sudah hampir satu bulan aku tidak disentuh Papih. Biasanya dalam satu minggu tidak pernah absen kalau aku tidak halangan," ungkap Grace jujur.
" Memang biasanya Non sama Bapak kalau begituan berapa kali dalam seminggu, Non?" Bi Tinah iseng bertanya sambil terkekeh. Hubungannya dengan Grace sekarang ini sudah mulai dekat. Bahkan kini dia merasakan nyaman berbincang dengan Grace.
" Waktu baru awal nikah setiap hari dalam seminggu, Bi. Tapi belakangan paling seminggu itu tiga atau dua kali saja, soalnya aku cepat merasa capek belakangan ini kalau berhubungan." Grace mengeluhkan dirinya yang mudah merasa lelah saat berhubungan badan dengan Rizal.
__ADS_1
" Mungkin karena pengaruh kehamilan, Non." Bi Tinah menduga faktor kehamilan Grace yang memengaruhi Grace cepat kelelahan.
" Bisa jadi, Bi." jawab Grace. " Lagipula, Papih itu tidak ada puasnya, Bi. Kepinginnya minta terus," tanpa malu, Grace bercerita seputar urusan ranjang pada Bi Tinah.
" Bibi masih tidak sangka kalau Bapak menikah sama Non yang usianya seumuran dengan Non Bella. Apalagi waktu pertama kali Bibi lihat Non Grace, Non kelihatan galak dan jutek, sampai Bibi dan Surti ketakutan." Bi Tinah jujur mengakui apa yang dulu dia rasakan kepada Grace.
" Lalu sekarang bagaimana, Bi?" tanya Grace penasaran dengan pendapat Bi Tinah tentang dirinya yang sekarang.
" Sekarang malah Bibi bisa mengobrol santai kaya gini sama Non, hehehe ..." Bi Tinah menyeringai.
" Bibi penasaran, deh, Non. Dulu Bapak sama Non bisa ketemu itu di mana?" Tentu saja Bi Tinah merasa penasaran dengan pertemuan pertama majikannya dengan Grace. Dia tahu jika sosok Rizal adalah sosok family man, dan juga menyukai wanita yang lemah lembut seperti Sonia. Melihat tiba-tiba Rizal dekat dengan Grace yang terlihat sangar dan bar-bar membuatnya terkejut.
" Jangan tanya di mana ketemunya, deh, Bi! Aku juga malas menceritakannya." Grace mengibas tangannya ke udara. Dia tidak ingin mengingat masa lalunya yang berhubungan dengan Joe.
" Tapi kalau kenapa Papih bisa jatuh cinta sama aku ... mungkin karena aku suka nakal sama Papih, Bi." Dengan tawa kecil, Grace menceritakan bagaimana dirinya bisa membuat Rizal tergila-gila padanya.
" Nakal gimana, Non?" pancing Bi Tinah.
" Aku suka goda-goda Papih, Bi. Peluk Papih, cium bibir Papih padahal kita tidak pacaran. Awalnya aku ingin membuat Papih marah dan melepaskan aku dari hukuman yang sedang aku jalani, Bi." Grace mulai menceritakan bagaimana dia bisa menaklukan hati Rizal.
" Aku dengar kalau Papih itu sudah beberapa tahun menduda. Dan katanya Papih susah didekati wanita lain, makanya aku iseng saja godain Papih. Tidak menyangka juga malah Papih itu benar-benar jatuh cinta dan nekat ingin menikahi aku walaupun Mamaku tidak merestui." Grace melanjutkan ceritanya.
" Tapi, Ibu Agatha kelihatan baik selama Pak Rizal dirawat, lho, Non! Kalau Ibu Agatha tidak merestui, pasti sudah menyuruh Non meninggalkan Bapak." Selama beberapa kali bertemu dengan Agatha di rumah sakit, Bi Tinah dapat melihat bagaimana perhatian Agatha sebagai ibu mertua kepada suami putrinya itu sangat baik
" Iya, Bi. Mama sekarang sudah mulai bisa menerima kehadiran Papih sebagai suamiku. Sekarang ini hubungan aku dan Mama yang dulunya renggang kini sudah membaik, semua itu karena Papih. Papih yang meminta aku untuk selalu bersikap hormat pada orang tua, yang mengalah pada Mama. Mungkin itu yang membuat Mama bisa membuka mata hatinya untuk menerima pernikahan kami. Apalagi sejak Papih mengalami musibah, Mama benar-benar selalu ada untukku, memberi support kepadaku." Grace memaparkan bagaimana hubungannya saat ini dengan Mamanya yang kini mulai berjalan membaik atas pengaruh besar dari Rizal.
" Itu yang namanya ada hikmah di balik musibah, Non. Semoga saja Bapak cepat siuman agar Non dan Bapak bisa hidup bahagia karena sudah mendapat restu dari Ibu Agatha." Bi Tinah mendoakan kebaikan untuk Grace dan Rizal.
" Aamiin, Bi." sahut Grace.
" Mana dia? Mana laki-laki malas itu?"
Dari arah luar kamar Grace, terdengar suara menggelegar seorang pria menanyakan keberadaan seorang laki-laki malas.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️