TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Mengusik Kebahagiaan


__ADS_3

Setelah mengantar Isabella ke kampusnya, Grace sengaja membelokkan mobilnya ke arah jalan rumah Agatha. Entah kenapa, sepertinya dia ingin berkunjung ke rumah itu kembali. Grace sempat berkunjung ke rumah Mamanya bersama Rizal saat ingin mengambil dokumen penting untuk pernikahannya dengan Rizal.


Ketika bersama Joe, Grace memang jarang berkunjung ke rumah Mamanya itu, alasannya tentu saja karena dia pasti akan berselisih paham dengan Agatha yang menentang keras hubungannya dengan Joe. Ketika dibutakan cinta dengan Joe, apa pun yang dia lakukan selalu dia anggap benar. Dan siapa pun yang menentangnya, dia anggap salah, meskipun itu adalah Mamanya sendiri.


Sekitar lima puluh menit kemudian, setelah melewati macetnya kota Jakarta, Grace pun sampai ke rumah orang tuanya itu. Sebelumnya dia sempat mengirim pesan kepada Rizal tentang rencana mendadaknya yang tiba-tiba ingin mampir ke rumah Agatha, agar Rizal tidak khawatir saat tidak menemui dirinya di rumahnya saat suaminya itu sampai di kantor.


Meskipun tidak meminta ijin kepada Rizal, dia sebenarnya yakin suaminya itu tidak akan melarang kepergiannya ke rumah Agatha, karena Rizal selalu memintanya untuk dekat kembali dengan Agatha. Itu mungkin hal yang paling spesial dari Rizal, karena pria itu selalu menyuruhnya bersabar dan mengalah kepada Mamanya. Rizal sama sekali tidak memprovikasi dirinya untuk menjauh dengan Agatha, hanya karena Agatha tidak merestui pernikahan mereka. Itulah bedanya Joe dengan Rizal. Rizal lebih dewasa dan tentu saja karena Rizal berniat baik kepadanya, tidak seperti Joe yang mempunyai licik kepadanya.


Grace memarkirkan mobilnya di pekarangan luas milik Agatha. Dia lalu melepas seat belt sebelum akhirnya turun dari mobil dan berjalan ke arah teras rumah mewah milik Mamanya itu


" Non Grace?" Saat memasuki rumah besar milik Agatha, Grace disapa oleh Bi Sulis, salah satu ART di rumah megah Agatha.


" Assalamualaikum, Bi. Mama sudah berangkat?" Grace menoleh ke arah Bi Sulis, dia lalu bertanya ART Mamahnya itu tentang keberadaan Agatha sekarang ini.


" Waalaikumsalam, Non. Ibu ada di kamar, Non." sahut Bi Sulis sedikit terkejut dengan ucapan salam Grace yang mengunakan kata Assalamualaikum. Biasanya Grace terlihat cuek kepadanya apalagi mengucapkan salam.


" Oh, ya sudah. Aku ke kamar Mama dulu, Bi." Grace lalu berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Agatha, sementara Bi Sulis masih menatap punggung Grace yang semakin jauh dari pandangannya.


" Non Grace sekarang terlihat beda. Lebih ceria dan terlihat bahagia dari aura wajahnya. Apa itu karena Non Grace sudah menikah, ya?" guman Bi Sulis.


Saat Grace datang ke rumah itu bersama Rizal. Grace sempat memperkenalkan Rizal sebagai calon suaminya kepada Bi Sulis. Bi Sulis saat itu sempat terkejut dengan pengakuan Grace yang menyebut Rizal sebagai calon suami dan mengatakan. jika anak majikannya itu akan segera menikah.


Tentu saja perbedaan usia Grace dan Rizal yang sangat mencolok sempat membuat Bi Sulis sempat berpikir, ' Kenapa Non Grace memilih pria yang jauh lebih tua?' Apa tidak ada laki-laki muda lagi di dunia ini sehingga harus memilih pria yang lebih pantas menjadi Papa dari Non Grace?' Namun, saat melihat Grace yang berbeda dari sebelumnya, sejak kedatangan Grace bersama Rizal kala itu dan kemunculan kembali Grace saat ini, Bi Sulis mulai memahami, mungkin pernikahan dengan Rizal lah yang membuat Grace berubah. Bahkan dari cara bicara Grace saja sudah sangat berbeda. Terdengar lebih sopan dan lebih halus.


Sementara itu, sesampainya di depan kamar Agatha. Grace mengetuk pintu kamar terlebih dahulu sebelum membuka pintu kamar Mamanya itu. Kini pemikiran Grace semakin dewasa. Kamar adalah area privacy meskipun itu kamar Mamanya sendiri.

__ADS_1


" Mam ..." sapa Grace saat melihat Agatha sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dengan menghadap ke arah cermin.


" Grace??" Agatha terperanjat saat melihat kehadiran Grace di kamarnya. Dia pun sampai mematikan dan menaruh hair dryer di tangannya di meja rias lalu memutar tubuhnya menghadap Grace.


" Ada apa kamu kemari?" Agatha tidak menyangka akan kedatangan putrinya di rumahnya itu. Dia sampai menanyakan hal yang konyol kepada Grace dengan menanyakan tujuan Grace datang ke rumahnya. Padahal adalah hal yang wajar seorang anak datang ke rumah orang tuanya.


" Kenapa? Memangnya Mama tidak suka aku datang kemari?" tanya Grace menanggapi pertanyaan Mamanya tadi. Bukankah suatu hal lumrah seorang anak datang mengunjungi orang tuanya? Bukankah seorang Mama seharusnya senang dikunjungi oleh anak perempuannya? Lalu, kenapa harus ada pertanyaan ' Ada apa kamu kemari?' Pertanyaan itu seolah-olah dia tidak berhak lagi menginjakkan kaki lagi di rumah Mamanya itu.


" Apa aku sudah tidak boleh datang ke rumah ini lagi, Mam?" Grace bahkan berpikir, mungkin Mamanya sudah mencoret namanya dari daftar pewaris kekayaan Mamanya itu. Meskipun sebenarnya dia juga bukan orang yang gi la akan harta. Dia pun bukan wanita yang berambisi menguasai semua harta warisan orang tuanya.


" Hmmm, t-tidak seperti itu, Grace. Tentu saja kamu boleh datang ke rumah ini. Ini rumah Mama, rumah kamu juga." Menyadari jika dia salah memilih kata, Agatha segera memberi penjelasan jika dia tidak bermaksud seperti yang dipikirkan oleh Grace tadi. Agatha merasa jika dia tidak segera memberikan klarifikasi dia yakin jika anaknya itu akan merajuk dan menganggapnya sebagai seorang Mama yang kejam, padahal dia sangat menyayangi Grace.


" Hmmm, kamu dari mana pagi-pagi sudah mampir ke sini, Grace?" Agatha berbasa-basi agar Grace tidak marah dengan pertanyaannya tadi.


" Bella?" Agatha mengerutkan keningnya, Agatha memang belum terlalu memahami nama Isabella. Dan dia juga tidak terpikirkan jika orang yang disebutkan oleh Grace adalah anak dari Rizal.


" Anak suamiku," jawab Grace menjelaskan orang yang dia maksud.


" Kamu mengantar anak Pak Rizal ke kampus?" Agatha terkejut karena Grace berkata pulang mengantar anak Rizal ke kampus, seperti supir yang mengantar anak majikannya.


" Grace, kamu ini bukan supir pribadi! Kamu itu pewaris harta Papa dan Mama! Kalau kamu berminat kamu itu sudah menjadi CEO di perusahaan Papa. Kenapa kamu justru mau menjadi supir anak Rizal!?" Agatha geram karena Grace justru rela menjadi supir untuk mengantar jemput anak Rizal.


" Itu aku lakukan atas kemauanku sendiri, Mam! Bukan Papih yang suruh!" Sebelum Agatha menuduhnya diperalat Rizal, seperti yang dituduhkan oleh Rivaldi, Grace segera memberi mengklarifikasi. Dia tidak ingin Mamanya itu beranggapan buruk terhadap Rizal padahal Rizal selalu berupaya mendekatkan dirinya dengan Mamanya kembali.


" Kamu sudah diperbu dak oleh cinta, Grace!" Agatha kembali mengomentari sikap Grace yang dianggapnya rela berkorban demi Rizal hingga mau saja mengantar Isabella ke kampus.

__ADS_1


" Mam, aku sudah bilang, suamiku itu tidak menyuruh aku! Papih justru melarang aku . Tapi akunya yang memaksa untuk mengantar Bella sementara ini, sampai kami menemukan pengawal yang tepat untuk Bella!" Grace mencoba memberi pengertian kepada Agatha agar tidak berpikiran buruk terhadap Rizal.


" Nah, ini ... kamu itu tidak sadar, kalau kamu sudah diperbu dak oleh rasa cinta kamu, sehingga kamu rela melakukan apapun yang berhubungan dengan dia, walaupun bukan atas permintaan dia secara langsung, tapi kamu rela melakukannya tanpa adanya paksaan sama sekali Grace! Kamu seolah mengabdikan diri kepadanya." Agatha masih bersikukuh dengan pendapatnya. Agatha curiga, jika luluhnya sikap Grace kepada Rizal karena Rizal ingin memanfaatkan Grace.


" Mam, kenapa Mama selalu berpikiran negatif ke Papih? Kenapa Mama selalu berkata buruk tentang Papih?" Grace menggelengkan kepala tak percaya dengan sikap Agatha karena Mamanya itu selalu memandang negatif terhadap Rizal.


" Asal Mama tahu! Papih itu tidak pernah sekalipun berkata buruk tentang Mama. Papih selalu menyuruh aku untuk mengalah pada Mama. Selalu hormat sama .Mama! Papih selalu menyuruh aku bersikap baik terhadap Mama. Mengajak aku untuk selalu mengunjungi Mama, bahkan mengajak aku datang di acara Mama kemarin di Bandung sebagai bentuk support anak kepada orang tuanya. Tapi aku menolak! Karena aku tahu Mama tidak akan suka melihat kedatanganku di sana bersama Papih." Grace ingin menunjukkan kepada Agatha, jika penilaian Agatha terhadap Rizal itu salah.


" Papih tidak pernah menyuruh aku untuk membenci Mama, tapi justru sebaliknya. Papih tidak pernah menyuruh aku menjauhi Mama, tapi justru menyuruh aku untuk memperbaiki hubungan kita yang selama ini renggang. Tapi, Mama selalu saja menganggap Papih itu adalah pihak yang bersalah hanya karena Papih menikahiku!" Grace terlalu emosional membela suaminya agar tidak terus dianggap buruk oleh Agatha.


" Kadang aku heran sama Mama! Sebenarnya Mama itu sayang atau tidak sama aku!?" Gcace mempertanyakan rasa sayang Agatha terhadapnya. Karena Agatha sama sekali tidak mendukung pernikahannya dengan pria pilihan yang sangat dicintai olehnya.


" Pertanyaan Bo doh apa itu, Grace!? Tentu saja Mama sayang sama kamu, karena kamu anak Mama satu-satunya." Agatha menjawab keraguan Grace akan rasa sayang dirinya pada putri semata wayangnya itu.


" Kalau Mama sayang sama aku, kenapa Mama tidak senang melihat aku bahagia? Kenapa Mama selalu berusaha mengusik kebahagiaan aku, Mam!? Kebahagiaanku saat adalah menikah dengan suamiku, menjadi istri yang baik untuk suamiku dan menjalani rumah tangga bersama suamiku! Itulah kebahagiaan yang saat ini aku rasakan, Mam! Seharusnya Mama bisa melihat itu!" Grace berusaha membuka mata hati Mamanya, agar mau mengerti dan menerima keputusannya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy reading ,❤️

__ADS_1


__ADS_2