
" Assalamualaikum, Bi Tinah . Bella ada di mana, Bi?" tanya Fauziah saat pintu rumah Rizal di buka oleh Bi Tinah. Fauziah memang sengaja diminta oleh Rizal untuk datang ke rumahnya untuk menemani Isabella. Selama ini Isabella sangat dekat dengan Fauziah, Rizal pikir, akan mudah bagi Isabella curhat kepada sahabatnya. Karena itulah, Rizal meminta Fauziah mampir ke rumah setelah pulang kuliah nanti.
" Waalaikumsalam, eh, ada Non Zie. Non Bella ada di kamar, Non. Masuk saja, Non."; sahut Bi Tinah, mempersilahkan Fauziah untuk menemui Isabella di kamarnya.
" Oh, ya sudah. Aku ke atas ya, Bi!?” Karena Fauziah sudah terbiasa berkunjung ke rumah Rizal, sehingga dia pun tidak canggung nasio ke dalam kamar Isabella.
" Iya, Non." jawab Bi Tinah sembari menutup pintu dan kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya.
Ketika menaiki anak tangga, Fauziah berpapasan dengan Grace yang baru saja keluar dari kamarnya dan ingin turun ke dapur.
" Mbak …" Fauziah menyapa Grace yang berjalan berlawanan arah dengannya.
" Oh hai, Zie …" Grace membalas sapaan Fauziah dengan santai. Dia dan Fauziah tidak merasa punya masalah, jadi dia biasa menyapa Grace dengan enjoy.
" Aku mau ke kamarnya Bella, Mbak.," Walau sudah terbiasa keluar masuk ke kamar Isabella, Namun Fauziah merasa tidak enak ketahuan Grace, karena takut dianggap oleh Grace tidak sopan.
" Oh, Bella ada di kamarnya, Zie " sahut Grace menoleh ke arah kamar Isabella. " Masuk saja, Zie!" sambungnya..
" Bella sakit apa memangnya, Mbak?" Sebelum melanjutkan langkahnya. Fauziah berbasa- basi menanyakan kondisi Isabella. Tentu Fauziah ingin bisa lebih akrab dengan Grace, tidak bermusuhan seperti Isabella. Karena dia selama ini tidak mempunyai masalah dengan Grace, jadi tidak mungkin dia juga ikut membenci Grace seperi Isabella yang belum dapat menerima Grace.
" Hmm, Bella tidak enak badan, Zie. Coba saja kamu lihat langsung!" Grace ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Isabella. Namun dia tidak ingin menceritakannya langsung kepada Fauziah tanpa seijin Rizal atau Isabella sendiri. Atau mungkin justru nanti Fauziah akan mendengar sendiri dari mulut Isabella, karena mereka berdua sangatlah dekat.
" Ya sudah, aku ke kamar Bella dulu, Mbak." Fauziah berpamitan kepada Grace, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar Isabella. Sementara Grace sendiri meneruskan menuruni anak tangga menuju arah dapur.
" Assalamualaikum, Bel." Saat membuka pintu kamar Isabella, Fauziah melihat Isabella sedang berbaring di atas tempat tidurnya dengan mata menatap kea rah layar televisi.
Isabella menolehkan wajahnya saat mendengar suara Fauziah dari pintu kamarnya.
" Zie …" Isabella menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangkit dan terduduk. Dia senang dengan kehadiran sahabatnya itu. Setidaknya ada orang yang dapat dia ajak bicara dan dijadikan tempat curhat olehnya.
" Kamu sakit apa, sih, Bel? Pantas dari kemarin siang pesan aku tidak kamu balas. " Fauziah berjalan mendekat ke arah Isabella. Fauziah masih belum tahu kejadian yang sebenarnya menimpa Isabella sehingga dia masih santai menanggapinya.
* Zie ..." Fauziah merentangkan tangannya dan memeluk Fauziah saat sahabatnya itu mendekat. Isabella pun langsung terisak
dalam pelukan Fauziah.
Fauziah terkejut saat Isabella tiba-tiba memeluk dan menangis di dalam pelukannya. Dia menduga sesuatu telah terjadi dengan Isabella dan tidak dia ketahui.
" Bel, kamu kenapa?” Melihat Isabella terisak Fauziah dibuat keheranan
" Bel?* Fauziah mengusap punggung Isabella,
karena Isabella tidak segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, namun justru masih terisak. Fauziah memberi waktu bagi Isabella untuk menenangkan pikirannya sebelum menceritakan yang sesungguhnya terjadi dengan sahabatnya itu.
" Zie, kemarin aku mengalami hal yang mengerikan," Masih menangis tersedu, Isabella mulai berkata-kata. Sepertinya Isabella bersiap untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya kepada Fauzia
" Peristiwa apa, Bel !?" tanya Fauziah penasaran. Dia ingin tahu, hal mengerikan apa yang dimaksud oleh Isabella sampai membuat Isabella menangis tersedu seperti saat ini. Yang pasti Fauziah yakin, apa yang dialami oleh Isabella pastilah sangat menyakitkan.
" Aku … aku hampir diper kosa orang, Zie." Dengan bibir bergetar Isabella menceritakan hal yang baru saja dialaminya.
" Astagfirullahal adzim! Kapan kejadiannya, Bel? Dimana? Siapa orang yang tega melakukan hal itu ke kamu?" Fauziah tersentak kaget mengetahui hal mengerikan yang dialami Isabella. Bukan hanya mengerikan saja, tapi itu hal paling buruk jika sampai dialami kaum wanita.
" Orang itu … orang itu bodyguard Mommy nya Cantika, Zie. Aku juga tidak tahu kenapa dia tega melakukan hal itu!? Dia menjemput aku ke tempat Bimbel. Dia bilang ingin menjemput aku dengan beralasan Cantika berada di apartemen tantenya, Tapi ternyata dia punya niat jahat ingin memperko saku, Zie." Mungkin Zie adalah orang terakhir yang dia beritahu soal kejadian itu. Terlalu menyeramkan jika harus mengingat dan mengulang cerita itu baginya.
" Ya, Allah ... Jahat banget dia itu, Bel!" Fauziah tidak menyangka jika ada orang yang tega kepada sahabatnya. " Lalu bagaimana kejadian selanjutnya?" Fauziah semakin penasaran. " Kamu tidak apa-apa, kan? Orang itu tidak sampai berhasil melakukannya, kan? Fauziah Khawatir jika sampai Isabella berhasil dicelakai orang jahat itu.
" Tidak, Zie! Karena ada orang menolong aku dan menyelamatkan aku dari peristiwa itu." Seketika Isabella membayangkan sosok Rivaldi yang saat itu muncul di lokasi.
" Alhamdulilah, Allah masih melindungi kamu, Bel." Fauziah menarik nafas lega. " Siapa orang yang menolong kamu itu, Bel?" Fauziah penasaran akan sosok orang yang sudah menolong Isabella.
" Orang yang menolong aku itu Kak Aldi, Zie." Isabella menyebutkan orang yang telah melepaskan dirinya dari bahaya besar itu.
" Kak Aldi? Kak Aldi yang itu?” Fauziah menanyakan, apakah Kak Aldi yang dimaksud oleh Isabella itu adalah Rivaldi atau orang yang berbeda.
" Iya, Kak Aldi yang itu, Zie." jawab Isabella seraya menganggukkan kepalanya.
" Kok, Kak Aldi bisa ada di sana, Bel? Apa jangan-jangan semua ini rencananya kak Aldi?" Seketika kecurigaan langsung terbersit dipikiran Fauziah, jika peristiwa yang terjadi pada Isabell adalah akal-akalan Rivaldi, agar Isabella merasa berhutang budi kepada Rivaldi, dan hal ini bisa dimanfaatkan Rivaldi untuk mendekati Isabella kembali dan melakukan pembalasan kepada Rizal dan Grace.
" Tidak, Zie ! Aku rasa kak Aldi tidak terlibat dalam rencana jahat orang itu. Sebenarnya dari awal aku mengajar, aku sudah merasakan hal yang aneh dengan orang itu. Aku selalu takut jika dia menatapku setiap aku mengajar les di tempat Cantika." Isabella melakukan pembelaan terhadap Rivaldi dengan menampik dugaan Fauziah. Karena dia merasa Rivaldi tidak seburuk yang Fauziah tuduhkan.
__ADS_1
" Ya syukurlah, jika benar kak Aldi tidak terlibat dalam hal ini. Lalu, setelah ditolong Kak Aldi, dia bawa kamu ke rumah ini?" Fauziah menuntut cerita lebih lengkap dari Isabella.
" Aku tidak terlalu fokus dengan yang terjadi saat itu, karena aku terlalu takut, Zie Aku baru menyadari Grace dan Bi Tinah membawaku pulang ke rumah. Tapi menurut cerita Bi Tinah, Bi Tinah di ajak Grace untuk menjemput aku dari kak Aldi," tutur Isabella menceritakan.
" Kalau benar begitu, berarti Kak aldi itu tidak jahat seperti yang diduga sama Papihmu, dong Bell?" Fauziah sendiri belum pernah bertemu langsung dengan Rivaldi, dia belum dapat menilai karakter Rivaldi itu seperti apa.
" Sejujurnya aku bingung, Zie. Papih selalu bilang kak Aldi itu licik dan ingin memanfaatkan aku demi membalaskan perbuatan Papih dan Grace yang pernah menipunya. Tapi kalau aku ingat-ingat, kak Aldi itu tidak pernah sekalipun menunjukjan sikap buruk ke aku, Zie. Apalagi kemarin Kak Aldi baru menyelamatkan aku. Entah aku akan jadi apa kalau tidak ada Kak Aldi kemarin." Terlalu sakit kalau sampai membayangkan tidak ada Rivaldi yang menolongnya.
" Wah, awas lho, Bel! Bisa-bisa kamu nanti jatuh cinta sama Kak Aldi." Fauziah terkikik meledek Isabella. Karena dulu Isabella sempat bercerita kepadanya soal Rivaldi, dan mata Isabella selalu berbinar jika menceritakan soal Rivaldi.
" Apaan, sih, Zie!?" Pipi Isabella seketika membiaskan rona merah menahan malu karena. Fauziah justru meledeknya.
" Apa pun itu, aku bersyukur kamu baik-baik saja, Bel." Fauziah kembali memeluk tubuh Isabella. Sebagai seorang sahabat tentu dia ikut senang karena Isabella terselamatkan dari bahaya.
" Iya, Zie. Aku juga bersyukur Kak Aldi datang tepat waktu, jadi pria itu tidak sampai memper kosa aku. Aku tidak tahu jika Kak Aldi tidak menolongku ..." lirih Isabella.
" Berarti kamu harus banyak-banyak bersyukur karena kamu dijauhkan dari musibah, Bel." ucap Fauziah menasehati sahabatnya.
***
Grace menikmati sup buah yang dibelikan oleh Surti atas permintaan Grace. Grace menyesap kuah sup buah sambil membuka berita seputaran informasi yang sedang hangat di bicarakan publik.
" Mbak, aku pamit dulu, ya!?” Fauziah yang sudah selesai bebincang dengan Isabella berpamitan kepada Grace yang berada di ruangan makan.
" Sudah selesai mengobrolnya, Zie?" Grace menoleh ke arah Fauziah.
" Iya, Mbak." sahut Fauziah.
" Duduk dulu, deh, Zie!" Grace meminta Fauziah untuk duduk, karena dia ingin berbincang dengan sahabat Isabella itu.
" Bella cerita apa, Zie?” Grace menjauhkan mangkuk sup buah dari hadapannya.
" Bella cerita apa yang dia alami kemarin, Mbak." Setelah menarik kursi makan dan mendudukinya, Fauziah mengatakan apa yang diceritakan Isabella padanya.
Grace menghela nafas dalam-dalam lalu berucap, " Iya, aku juga tidak menyangka Bella akan mendapat musibah seperti itu. Tapi untung saja bisa dihindari dan Bella terselamatkan."
" Iya, Mbak. Bella bilang kalau orang yang menolong itu adalah Kak Aldi," Fauziah sengaja menyebut nama Rivaldi, karena dia ingin tahu reaksi Grace soal itu.
" Maaf ya, Mbak. Menurut Mba Grace, apa Kak Aldi itu benar serius menolong Bella? Soalnya aneh saja tiba-tiba Kak Aldi bisa ada di sana." Fauziah masih khawatir dengan niat Rivaldi.
" Aku rasa dia memang benar menolong Bella dari kasus kemarin. Tapi, aku juga tidak tahu selanjutnya Aldi punya niat apa kepada Bella? Aku belum bisa memastikan, Zie.
Yaaa… semoga saja dia benar-benar tulus menolong Bella, tanpa ada embel-embel di belakangnya." Grace berharap tidak ada niat jahat di balik pertolongan Rivaldi pada Isabella.
" Aku juga berharap seperti itu, Mbak." Fauziah menginginkan hal yang sama dengan Grace.
" Sebagai sahabat Bella, aku mengucapkan terima kasih, karena Mbak sudah membantu Bella kemarin, walaupun sikap Bella terhadap Mbak Grace masih kurang baik." Fauziah menyadari sikap keras Isabella yang belum sepenuhnya menerima Grace. Meskipun Grace mencoba bersikap baik pada Isabella.
" Tidak usah seperti itu, Zie. Aku ini istrinya Papihnya Bella sekarang, sudah pasti aku akan menolong Bella."
" Aku harap setelah kejadian ini, Bella bisa merubah sikap dan bisa merima Mbak Grace. dan hubungan Mbak dengan Bella bisa membaik," harap Fauziah.
" Aku kepingin kita bisa jalan bertiga bareng, lho, Mbak!” Fauziah terkikik seraya berseloroh.
"Semoga saja, Zie. Aku juga berharap seperti itu," sahut Grace sambil tersenyum.
“Aku jadi ingat saat pertemuan kita pertama kali lho, Mbak!" Masih dengan tawa kecil, Fauziah mengingat kisah masa lalu saat dia dan Isabella bertemu dengan Grace.
" Hahaha … waktu aku bilang, aku ini sugar baby Papihnya Bella, kan?" Grace mengingat kegilaan dirinya kala itu.
" He-eh, waktu Mbak sama Om Rizal sarapan di warung nasi uduk itu, Lho! Mbak sempat mengira kalau Bella itu sugar baby nya Om Rizal, kan? Jadi Bella marah, deh! Ditambah Mbak pakai peluk-peluk Om Rizal di depan umum. Gimana Bella tidak meradang?" Fauziah masih ingat apa saja yang terjadi saat pertama kali dirinya dan Isabella bertemu dengan Grace.
Sementara itu dari balik pintu ruang makan. Isabella terlihat sedang mendengar obrolan santai antara Grace dengan sahabatnya itu. Jujur saja dia merasa cemburu, Grace bisa akrab dengan sahabatnya. Sedangkan dia sendiri masih merasa kaku jika berhadapan dengan Grace.
" Non ...."
Isabella yang sedang mencuri dengar secara tidak sengaja percakapan antara Grace dengan Fauziah seketika terperanjat, saat sebuah sentuhan di pundak dibarengi suara Bi Tinah terdengar di telinganya.
" Non Bella sedang apa?" Bi Tinah menengok ke arah ruangan makan, di mana dia melihat Grace dengan Fauziah terlihat sedang berbincang ringan.
__ADS_1
" Sssttt ..." Isabella menempelkan ibu jari di bibirnya.
" Non, sedang apa?" Bi Tinah mengulang pertanyaannya dengan mengerakkan mulutnya tanpa menimbulkan suara.
" Hmmm, aku tidak sedang apa-apa, kok, Bi!" Isabella menampik jika dirinya sejak tadi mendengarkan obrolan antara sahabatnya dengan Grace.
" Non Bella sudah mendingan?" Sejak kepulangannya ke rumah, ini adalah pertama kalinya, Isabella keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.
" Sudah, Bi." Isabella kemudian memutar langkahnya kembali ingin menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Lho, tadi Non Bella mau apa ke dapur?" Bi Tinah terkekeh melihat Isabella yang salah tingkah, kemudian beranjak ke ruang makan karena Isabella tak merespon pertanyaannya.
" Ada apa, Bi?" tanya Grace karena tadi mendengar suara Bi Tinah seperti sedang berbincang dengan seseorang.
" Oh, itu, Non. Tadi Bibi tanya, kenapa Non Bella berdiri saja di depan pintu itu!" Bi Tinah menunjuk ke arah pintu masuk ruangan makan.
" Bella?" Grace dan Fauziah berebut bicara.
" Iya, Non. Tadi Non Bella berdiri sambil melihat ke arah sini. Kayaknya, Non Bella sedang menguping obrolan Non Grace sama Non Zie, deh!" Bi Tinah benar-benar tidak dapat menyimpan rahasia, justru menceritakan apa yang disembunyikan Isabella.
Grace dan Fauziah saling berpandangan mendengar cerita dari Bi Tinah. Tak lama kedua wanita beda usia satu tahun itu saling mengulum senyuman.
" Wah, sepertinya ada yang kepo, nih, Mbak." Fauziah tertawa kecil mengomentari sikap Isabella.
" Temanmu, itu ...!" sindir Grace dengan terkekeh.
" Anak tiri, Mbak, dong!" Fauziah membalas ucapan Grace pun dengan tawa.
Sementara Isabella yang baru kembali ke kamarnya masih bingung dan tanya-tanya, kenapa sahabatnya itu bisa mudah akrab dengan Grace.
" Kok, bisa, sih!? Zie akrab banget dengan Grace? Pakai ketawa-ketiwi." Isabella terlihat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
***
Grace memperhatikan suaminya yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. sementara dada berotot dan perut sixpack pria itu dibiarkan terekspos dan dinikmati oleh sang istri.
Grace kemudian berjalan mendekat lalu memeluk tubuh sang suami. Merasa lembabnya kulit tubuh Rizal yang baru selesai mandi.
" Grace, ini belum waktu maghrib. Jangan mancing-mincing, kamu, ya!" Tentu saja sentuhan Grace pada tubuhnya yang berbalut handuk dari pinggang sampai batas lutut menimbulkan percikan ga irah yang seketika muncul.
" Aku cuma meluk, daong, kok, Pih! Tidak punya maksud lain." Meskipun sanggahan yang terucap dari bibir Grace, namun, gerakan tubuh Grace yang sengaja menempelkan pahanya di tengah-tengah di antara dua paha Rizal membuat pria itu mengerang.
Rizal langsung menangkup rahang Grace dengan satu tangannya, dan menaikan dagu istrinya. " Kamu benar- benar nakal, ya!?" Rizal langsung merapatkan bibirnya dengan bibir Grace. Memberikan sentuhan penuh kelembutan beberapa saat. Kini tangannya mulai menarik tengkuk Grace untuk memperdalam ciumannya, hingga sentuhan bibir mereka semakin berhas rat dan menuntut sesuatu yang lebih dari sekedar pertemuan bibir dengan bibir.
" Pih, ini belum maghrib, lho! Memangnya Papih mau mandi lagi?" Saat pagutan mereka terjeda, Grace mendorong tubuh suaminya agar menjauh, padahal dia sendiri yang memancing mereka saling bersentuhan.
" Awas kamu, Grace!” Ancam Rizal saat Grace berhasil kabur dengan terkekeh.
" Oh ya, Pih. Bagaimana hasil penyelidikan soal bosnya Joe? Sudah mendapatkan hasil?" Grace mendudukkan tubuhnya di sofa dengan satu kaki melipat di sofa.
" Benar seperti dugaanku, dia tidak mungkin berada disana," sahut Rizal mulai memakai baju yang sudah disiapkan oleh Grace di tepi tempat tidur.
" Lalu, apa benar jika orang itu adalah orang yang pernah kita temui di restoran beberapa hari lalu?" Rizal sempat menceritakan soal dugaannya terhadap Cyntia tadi pagi sebelum berangkat kepada sang istri.
" Iya, memang dia itu orang yang pernah kita temui bersama anaknya yang les pada Bella." Rizal mengiyakan pertanyaan Grace.
" Si al ! Berarti saat itu kita berada dekat sekali dengan Joe, Pih!" Grace menyayangkan ketika itu tidak bertemu langsung dengan Joe.
" Siapa yang tahu, jika Joe masih berkeliaran di Jakarta? Bahkan di Mall yang sama dengan kita?" sahut Rizal merespon perkataan Grace.
" Rasanya ingin aku ton jok muka orang itu!" geram Grace dengan gigi mengerat. Dengannya pada pria itu kini semakin berlipat, bukan karena Joe dulu pernah kabur dan meninggalkan luka padanya, tapi juga karena Joe berani menyentuh Isabella, anak sambungnya putri tercinta suaminya.
" Secepatnya aku akan menemukan si breng sek itu!" Tak kalah geram dari Grace. Rizal pun sama merasakan dendam di hatinya yang berkobar.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy reading❤️