TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Agatha Jilid Dua


__ADS_3

" Assalamuaaikum ...."


Rizal membuka pintu kamar dan mengucapkan salam kepada Grace yang sedang menikmati salad buah sambil menonton acara televisi dari sofa kamar mereka


" Waalaikumsalam ..." Grace menoleh ke arah pintu saat mendengar suara Rizal terdengar dari pintu. " Macet ya, Pih?" tanya Garce tanpa bergerak dari tempatnya dan masih menikmati makanan di tangannya.


" Iya seperti itulah Jakarta." Rizal berjalan menghampiri lalu duduk di sebelah Grace, matanya melirik apa yang sedang dimakan oleh istrinya itu.


" Kamu makan apa?" tanyanya sembari melingkarkan tangan ke pundak sang istri.


" Salad buah." Grace menyodorkan wadah salad di tangannya kepada Rizal. " Papih mau?" Garce menawarkan kepada sang suami.


" Tidak." Rizal mengedikkan bahunya membayangkan rasa asam dari perpaduan mayones dan yogurt.


" Gimana? Urusannya beres?" Grace menanyakan hasil pekerjaan suaminya di luar kota itu.


" Beres semua, Alhamdulillah ..." sahut Rizal.


" Syukurlah kalau beres. Jadi Papih tidak sia-sia pergi jauh-jauh ke sana." Grace kembali menyiapkan potongan buah yang bercampur yogurt, mayones, su su dan keju ke mulutnya.


" Ada Vito di teras sedang berbincang dengan Bella. Apa kamu tahu Vito bertandang ke rumah ini?" Rizal merasa jika istrinya itu tidak mengetahui kedatangan Vito ke rumahnya


" Oh ya?" Seperti dugaan Rizal, Grace sepertinya tidak mengetahui kedatangan Vito ke rumah itu. Sementara Rizal hanya menganggukkan kepala merespon Grace.


" Cepat sekali dia tertindak," celetuk Grace.


Rizal menatap Garce dengan pandangan aneh saat mendengar jawaban istrinya itu.


" Maksudnya?" Rizal menanyakan arti ucapan Grace.


" Tadi siang aku habis bicara dengan Vito, Pih." Grace menaruh wadah salad buah yang telah habis tak tersisa di atas meja.


" Bicara apa?" Rizal makin penasaran apa yang dibicarakan Grace dengan Vito tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


" Soal perasaan Bella pada Vito lah, Pih! Vito itu 'kan berharap sekali mendapatkan kepastian dari Bella soal perasaan cintanya kepada Bella. Sementara Bella sendiri sukanya sama Aldi. Kasihan sama Vito, dong, Pih! Kalau memang tidak dapat membalas rasa cinta, sebaiknya Bella katakan langsung, jangan memberi harapan palsu dan menggantung perasaan seperti itu!" Grace menjelaskan bagaimana seharusnya anak sambungnya itu bersikap pada Vito, agar Vito tidak semakin terluka.


" Kamu yakin sekali kalau Bella itu suka Rivaldi. padahal Bella itu belum tentu suka sama dia. Bisa saja perasaan Bella itu lebih karena dia merasa berhutang budi terhadap Rivaldi. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, Grace! Lagipula aku lebih cocok jika Vito yang akan mendampingi Bella daripada Rivaldi!" Rizal tegas pada sikapnya yang lebih mendukung Vito daripada harus merelakan Isabella kepada Rivaldi.


Grace langsung mendelik tajam ke arah Rizal mendengar penegasan dari sang suami.


" Oh, Papih ingin menjadi seperti Nyonya Agatha jilid dua? Yang memaksakan kehendaknya dengan menjodohkan anaknya dengan pria pilihannya daripada membiarkan anaknya memilih sendiri?" Grace memprotes sikap Rizal, bahkan menyamakan sikap suaminya itu dengan sikap Agatha, karena dianggap Rizal lebih mementingkan prinsipnya sendiri daripada kebahagiaan Isabella.


" Jangan samakan aku dengan Mama, Grace!" Rizal menarik tubuh Grace hingga merapat ke tubuhnya.


" Mama salah menentangmu, karena pria yang menjadi suamimu ini adalah pria baik-baik walaupun sudah berumur." Rizal menyeringai mengatakan dirinya sudah berumur. " Sedangkan aku tidak menyetujui Bella dengan Rivaldi, karena dia bukan pria yang cocok untuk Bella. Kamu saja menolak dijodohkan dengan Rivali, masa sekarang kamu menyuruh aku menerima Rivaldi untuk Isabella?" Rizal tetap berpendapat sosok Rivaldi bukanlah calon menantu ideal baginya.


" Papih ingin sikap Bella ke Papih, sama seperti sikap aku ke Mana?" Grace seakan mengancam Rizal jika Isabella akan bersikap sama seperti sikap dirinya kepada Agatha karena Agatha menentang pilihan pendamping hidupnya


" Kamu jangan mendoakan yang buruk, dong, Grace!" protes Rizal karena menganggap istrinya itu mendoakan putrinya akan menentang dirinya.


" Aku bukannya mendoakan, Pih. Aku justru mengingatkan Papih akan kemungkinan terburuk yang mungkin saja bisa terjadi." Grace menepis anggapan Rizal yang mengatakan dirinya mendoakan suatu hal yang buruk.


" Tidak enak rasanya tidak dapat dukungan dari keluarga sendiri, Pih. Kita seperti tidak punya keluarga dan hidup sebatang kara." Grace seakan mengungkapkan keluhan apa yang dia rasakan, mungkin yang selama ini tidak pernah terucapkan secara langsung dari mulutnya.


" Maafkan aku karena membuat hubungan kamu dengan Mama semakin renggang." Rizal merengkuh tubuh Grace semakin dalam.


" Apa kamu menyesal menikah dengankuz Grace?" tanyanya pada sang istri.


" Aku tidak menyesali, Pih! Aku justru bahagia dengan pernikahan kita. Aku bahagia dengan pilihanku sendiri. Dan seharusnya Papih juga bisa memberi kesempatan pada Bella untuk mengapai kebahagiaannya sendiri, Pih. Lagipula Aldi itu sudah berbuat baik terhadap Bella. Dia masih mau menolong Bella meskipun tahu Bella adalah anak Papih." Dengan cerdik, Grace menyelipkan kalimat agar Rizal terpengaruh.


" Sudahlah, kita jangan bahas itu lagi, ya!?" Rizal lalu bangkit dari duduk. " Aku mau mandi dulu, kau mau ikut menemani?" tanya Rizal dengan mengedipkan matanya.


Grace melirik ke arah jam dinding yang hampir menunjukkan pu kul enam petang.


" Sebentar lagi Maghrib, Pih! Takut ada yang ikut gabung Maghrib-Maghrib berduaan di kamar mandi." Grace berkelakar ikut bangkit dari sofa untuk mengambilkan pakaian untuk suaminya.


" Oh ya, Pih. Jaka sudah hubungi Papih belum?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


" Menghubungi kenapa?" tanya Rizal seraya melepas satu persatu kancing kemejanya.


" Tadi siang Jaka tanya soal lowongan untuk jadi pengawal Bella. Katanya ada kerabat temannya yang berminat melamar posisi itu." Grace menerangkan apa yang dikatakan oleh Jaka kepadanya.


" Oh ya?"


" Sudah ada yang melamar belum?" tanya Grace kembali.


" Ada beberapa, tapi aku harus selektif pilihnya, karena ini menyangkut keselamatan Bella," jawab Rizal yang telah berhasil meloloskan pakaian atasnya hingga kini bertelan jang dada.


Grace menatap tubuh maskulin suaminya yang sangat menggoda itu. Tubuh tegap yang sanggup menguasai tubuhnya.


" Coba kamu hubungi Jaka, suruh datang saja besok orang yang mau melamar ke kantor, Grace!" ujar Rizal seraya berjalan memasuki kamar mandi.


" Iya, Pih." Grace lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Jaka.


" Sore, Bu bos. Ada apa, Bu?" Suara Jaka terdengar saat panggilan teleponnya tersambung dengan anak buah suaminya itu.


" Jak, besok orang yang mau melamar suruh datang saja ke kantor dan ketemu langsung dengan suamiku." Grace langsung menyampaikan pesan sang suami kepada Jaka.


" Baik, Bu. Jam berapa bisa bertemu Pak Rizal, Bu?" tanya Jaka kemudian.


" Selepas makan siang saja, Jak." Grace menyebutkan waktu untuk orang yang berminat melamar posisi sebagai supir Isabella itu datang menemui Rizal.


" Baik, Bu. Nanti saya sampaikan ke teman saya" sahut Jaka.


" Ya sudah, aku cuma mau menyampaikan hal itu saja." Setelah selesai menyampaikan informasi dari Rizal, Grace lalu mengakhiri panggilan telepon tersebut dengan Jaka.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2