TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Jangan Berani Kabur


__ADS_3

Melihat penampilan dan sikap Grace yang terlihat kurang bersahabat, Ibu Henny tidak yakin jika Grace bisa diperbantukan di panti Wreda.


Bekerja di yayasan seperti panti jompo yang ditanganinya memerlukan sosok-sosok orang yang tangguh dan memerlukan kesabaran yang luar biasa. Karena kebanyakan dihuni oleh orang-orang lanjut usia, yang kebanyakan sudah mulai pikun dan kanan bersikap seperti anak kecil. Dan hal itu sama sekali tidak dia lihat pada sosok Grace, wanita yang disebut Rizal akan bekerja di Panti Wreda yang dia kepalai.


" Hmmm, Pak Rizal. Apa saya bisa bicara empat mata lebih dulu dengan Anda, Pak?" Ibu Henny merasa perlu berdiskusi dengan Rizal terlebih dahulu sebelum menyetujui Grace bekerja di panti itu.


" Baik, Bu Henny." Rizal menyetujui apa yang diinginkan oleh Ibu Henny.


" Vito, saya akan bicara dengan Bu Henny. Kau temani Nyonya Agatha dan Nona Grace dulu." Rizal menyuruh Vito untuk mengawasi Grace. Dia masih takut jika Grace berniat kabur dari mereka.


" Baik, Pak." sahut Vito.


Rizal lalu menatap Grace yang sedang menatap ke arahnya. " Tetaplah menjadi sikap Anda di tempat ini, Nona." Sebelum meninggalkan Grace, Rizal sempat memberi peringatan kepada Grace agar tidak memancing keributan, membuat Grace memutar bola matanya.


Setelah Rizal masuk mengikuti langkah Ibu Henny,l masuk ke dalam ruangan dalam panti, mata Grace memperhatikan bagian pekarangan panti yang tidak berpagar tinggi. Sepertinya tidak sulit untuknya bisa kabur dari panti itu jika dia nanti ditempatkan di Panti Wreda tersebut.


" It's Ok." gumam Grace menarik sudut bibirnya, merasa yakin dia tidak perlu berada cukup lama di tempat itu. Jika nanti kedua pria yang menggagalkan pergi dan luka di lehernya sudah mulai mengering, dia bertekad akan pergi dari tempat itu.


" Sebaiknya Anda jangan berpikiran untuk kabu dari sini, Nona Grace. Anda senang dalam pengawasan kamu." Vito yang sejak tadi memperhatikan memperhatikan gerak-gerik Grace langsung memperingatkan Grace.


" Si al!" umpat Grace karena Vito dapat menebak apa yang ada di dalam otak liciknya.


" Grace, Mama harap kamu jangan mempunyai pikiran untuk kabur!" Mendengar apa yang diucapkan Vito kepada anaknya, Agatha pun berharap putrinya itu tidak bertindak nekat.


" Mam, kenapa Mama mendengar dia? Mama lebih percaya orang lain yang baru Mama kenal daripada anak Mama sendiri??" Grace masih menyangkal dan menganggap Vito hanya memfitnahnya saja.


" Mama bukannya tidak percaya padamu, Grace. Tapi sikap kamu yang membuat Mama khawatir," ungkap Agatha membuat Grace berdecak.


Sementara itu di dalam panti ....

__ADS_1


" Silahkan, Pak Rizal." Ibu Henny mempersilahkan Rizal masuk ke dalam ruangan kerjanya. " Silahkan duduk ...!" lanjutnya setelah Rizal masuk ke dalam.


" Bagaimana, Bu Henny?" tanya Rizal. Sebenarnya dia tahu akan ke mana arah pembicaraan Ibu Henny.


" Hmmm, begini, Pak Rizal. Mengenai orang yang Pak Rizal bawa tadi untuk bekerja di sini. Apa Pak Rizal yakin Mbak tadi bisa bekerja di sini?" tanya Ibu Henny ragu.


" Sebenarnya saya juga tidak yakin, Bu Henny. Tapi, saya berharap bantuan Ibu Henny, untuk bisa melatih Nona Grace agar menjadi pribadi yang lebih baik, berpikiran dewasa dan bisa peka terhadap sekitar dan menghormati orang yang lebih tua darinya. Saya rasa hal ini baik untuk melatih kesabaran Nona Grace, Bu Henny." Rizal sendiri tahu, terlalu beresiko menempatkan Grace di panti itu. Dia seperti berjudi dengan usul yang dia ajukan kepada David Richard.


" Nanti anak buah saya akan mengawasi di sini, Bu Henny. Ibu tidak perlu merasa khawatir Nona Grace akan membuat keributan." Rizal berusaha meyakinkan Ibu Henny agar tetap mau menerima Grace dan mendidik Grace dengan menjadikan Grace pekerja sukarela di panti itu.


" Baiklah jika Pak Rizal bisa menjamin Grace tidak akan berbuat kacau di sini, saya akan berusaha melatih dia seperti yang Pak Rizal inginkan." Mau tidak mau Ibu Henny menyetujui permintaan Rizal, karena pantinya baru saja mendapatkan sumbangan dari David Richard sebesar seratus juta rupiah. Sejumlah nilai rupiah yang kecil menurut David, namun cukup besar untuk kelangsungan Panti Wreda tersebut.


***


" Berikan ponsel Nona!" Saat hendak meninggalkan panti, Rizal meminta Grace menyerahkan ponselnya.


" Untuk apa kau minta HP ku?!" ketus Grace curiga.


" Aku tidak mau!" tolak Grace.


" Anda tidak punya pilihan, Nona. Serahkan ponsel Nona dan ambillah ponsel ini." Rizal memaksa Grace untuk menyerahkan ponselnya.


Grace menatap Rizal penuh kebencian. Rasa kesalnya pada pria itu sudah berlipat-lipat besarnya.


" Bukankah tahanan itu tidak diperbolehkan membawa selular?" sindir Rizal karena Grace tidak juga memberikan ponselnya.


" Di ponselku ini ada banyak data perbankan, apa kau ingin mencuri uang di rekeningku?!" tuding Grace.


" Kami sudah katakan jika kami orang yang taat hukum, jadi jangan samakan kami dengan Nona yang dengan mudah melakukan tindakan kriminal," sindir Rizal. " Lagipula ponsel Nona ini, Mama Nona sendiri yang akan memegangnya," lanjut Rizal menjelaskan

__ADS_1


Grace melirik Agatha, Mamanya itu menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diminta oleh Rizal.


" Handphone kamu, Mama yang akan pegang, Grace." ujar Agatha.


Mendengar perkataan Agatha, walaupun ragu akhirnya Grace menyerahkan ponsel miliknya kepada Rizal dan menerima ponsel dengan nomer SIM card baru.


Sebenarnya mengganti ponsel baru atas permintaan Agatha agar Joe tidak lagi berhubungan dengan putrinya. Namun, Rizal juga memanfaatkannya untuk melacak aktivitas Grace yang berhubungan dengan ponselnya termasuk keberadaan Grace jika Grace sampai kabur dari mereka.


" Grace, Mama pulang dulu. Mama mohon, kamu jangan bertingkah macam-macam di sini." Agatha kembali memperingatkan putrinya agar tidak berbuat nekat dengan kabur dari panti itu.


" Mam, apa Mama tidak bisa menyogok kedua orang itu untuk membelot ke kita? Aku yakin Mama juga bisa membayar mereka lebih yang dari yang mereka terima dari si Gavin itu!" bisik Grace saat Agatha memeluknya untuk berpamitan.


" Ini bukan masalah uang, Grace. Mereka detective handal, tidak mungkin mau disuap seperti itu!" Agatha menolak ide Grace yang ingin dirinya memberi uang kepada Rizal dan Vito agar berpihak kepadanya.


" Kenapa Mama tidak mencoba menggoda Pak Tua itu saja, Mam? Aku rasa dia tidak terlalu jauh usianya dengan Mama. Jadi aku bisa bebas!" Grace semakin meracau dengan meminta Agatha menggoda Rizal yang dia anggap lebih cocok usianya dengan Agatha, walau tetap masih lebih tua Agatha.


" Grace! Jangan gi la, kamu!" Agatha melotot mendengar permintaan putrinya tadi. " Mama pulang dulu, Grace. Ingat pesan Mama tadi." Setelah berpamitan Agatha pun meninggalkan Grace di panti itu.


Setelah Rizal memberikan pengarahan kepada Vito untuk menunggu orang yang akan menggantikan Vito menjaga Garce, duda beranak satu itupun berjalan ke arah Grace.


" Vito dan anak buah saya akan memantaumu, jadi pikirkan baik-baik jika kau berniat kabur dari sini!" ancam Rizal saat dia berjalan melewati Grace dan melangkah menuju mobilnya untuk segera meninggalkan panti.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading,❤️


__ADS_2