
Isabella tidak sanggup menahan serbuan rona merah di wajahnya, saat Grace menebak jika Rivaldi menyukai dirinya. Dia sendiri tidak tahu apa yang dikatakan Rivaldi pada ibu sambungan itu, sehingga Grace sampai menebak jika Rivaldi menyukai.
" Kak Aldi bicara apa, ya? Kok, Grace sampai ngomong begitu? Tapi, apa benar Kak Aldi suka sama Aku? Sikap Kak Aldi saja kemarin cuek kayak gitu, mana mungkin suka sama aku!" Isabella bahkan menduga-duga di dalam hatinya. Dia tidak yakin jika Rivaldi menyukainya. Dia yakin, ini hanya keisengan Grace saja yang sedang meledeknya untuk membuat dirinya ge-er.
" Kenapa tidak dijawab? Benar, kan? Kamu diam-diam suka sama Bella?" Grace melirik ke arah Isabella seraya menyeringai hingga membuat Isabella mencebikkan bibirnya, karena merasa yakin jika Grace hanya iseng menggodanya saja.
" Jangan terlalu cepat menarik kesimpulan! Aku tidak suka wanita manja!" tepis Rivaldi menyangkal apa yang dituduhkan Grace kepadanya.
" Oh ya? Lalu untuk apa kamu repot-repot menyuruh orang untuk menjaga Bella sampai kayak penguntit begitu mengikuti kami?" sindir Grace kembali, tak percaya jika tidak ada maksud tersembunyi dibalik pertolongan dan kepedulian Rivaldi pada Isabella.
Bola mata Isabella kembali membulat saat Grace mengatakan Rivaldi sengaja menyuruh orang untuk menjaga dirinya. Seketika itu juga dia merasakan ribuan bunga bermekaran di hatinya. Mungkin inilah yang dinamakan jatuh bunga? Isabella tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan kata-kata apa yang sedang dirasakannya saat ini. Yang pasti dia seperti sedang menari-nari bahagia di rimbunnya taman bunga berwarna-warni. Dia tahu, ungkapan kebahagiaannya ini terlalu berlebihan atau mungkin terlalu cepat, karena ini pertama kalinya dia benar-benar merasa suka kepada seorang pria seperti ini.
" Hei, aku ini hanya kasihan terhadap dia, seperti terhadapmu dulu! Apa kamu ingat saat menyamar menjadi Rena, aku juga menyuruh anak buah Jimmy untuk mengawasimu agar kamu tidak diganggu orang!?" Rivaldi masih menampik tudingan Grace kepadanya, dengan membandingkan bahwa apa yang dilakukannya kepada Grace dan kepada Isabella hanya bentuk kepedulian yang wajar tanpa maksud macam-macam.
Grace melirik ke arah Isabella yang sedang menunduk dengan wajah bersemu. Grace lalu keluar dari mobilnya namun masih melakukan panggilan telepon dengan Rivaldi.
Di kantor Rivaldi
Rivaldi masih berbincang di telepon dengan Grace dengan menaikkan kedua kakinya di atas meja dan menyandarkan punggung di sandaran kursi kerjanya. Rivaldi menyangkal dugaan Grace yang menyebut dirinya menyukai Isabella. Bahkan dia menyebutkan pertolongan yang diberikan kepada Isabella kali ini, sama seperti pertolongan yang pernah dilakukannya terhadap Grace saat masih dalam penyamaran.
" Seperti terhadapku? Memang apa yang kau lakukan kepadaku? Kau berkata pada Mamaku kalau kau ingin menikahiku, kan? Apa itu juga akan terjadi pada Bella? Jangan-jangan, sebentar lagi kau akan datang menemuiku dan suamiku untuk meminang Bella untuk menjadi istrimu. Hahahaha ..." Grace justru tertawa meledek Rivaldi.
Rivaldi mengerutkan keningnya mendengar Grace tertawa renyah di telinganya. Bisa-bisanya wanita itu justru meledeknya.
" Si al! Dia malah menertawakanku,!" Rivaldi mengumpat dalam hati.
" Hei, jangan asal bicara! Dia bukan wanita idamanku!" sanggah Rivaldi kesal karena Grace seperti senang meledeknya seperti itu.
" Bukan idamanmu? Tapi sayangnya wanita idamanmu itu sudah mempunyai suami, kan? Memangnya kamu berminat menjadi pebinor, ingin merebut istri orang? Cih, kau ini seperti pria tidak laku saja, Aldi! Masih saja mengharapkan istri orang! Move on, dong! Masa seorang Rivaldi Nugraha tidak bisa mendapatkan wanita yang masih single!?Memangnya kau mau menunggu wanita idamanmu itu menjanda? Oh ya, apa kau lupa jika wanita idamanmu itu ternyata adik tirimu, Aldi? Anak dari Tante Arina. Menyedihkan sekali hidupmu itu!" Cibiran terus saja dilontarkan oleh Grace kepada Rivaldi hingga membuat telinga pria itu memanas.
" Sudahlah, jangan banyak bicara! Kamu ini cerewet sekali!" umpat Rivaldi yang terpancing emosi dengan kata-kata Grace.
" Apa orang suruhan Jimmy masih ada di sana?" Merasa kalah terus bedebat dengan Grace, Rivaldi memilih mengganti topik pembicaraan. Dia sengaja menanyakan soal orang yang mengawasi Isabella.
" Sudah aku suruh pergi. Kasihan dia tadi aku ten dang perutnya dan pintu mobilnya sampai penyok." Grace dengan santai mengatakan apa yang sudah dia lakukan pada penguntitnya itu, termasuk tindakan kekerasan yang sudah dia lakukan pada orang yang mengikutinya.
Rivaldi membelalakkan matanya mendengar pengakuan jujur yang diucapkan oleh Grace soal aksi kekerasan yang dilakukan oleh Rivaldi pada orang suruhan Jimmy. Dia sungguh tidak percaya jika Grace benar-benar sangat bar-bar.
Harus dia akui, Grace memang jauh dari kriteria wanita idamannya, namun entah mengapa wanita itu membuat dirinya tertarik. Mungkin karena Grace memang acuh dan tidak menyukainya sehingga membuatnya merasa penasaran dengan sosok Grace.
" Kamu menen dang orang suruhan Jimmy?" Rivaldi menggelengkan kepala menanggapi cerita Grace soal perbuatannya sendiri.
" Salah sendiri dia tidak mau cepat mengatakan siapa yang menyuruhnya!" jawab Grace santai seakan tidak bersalah atas tindakannya. " Makanya jangan main-main dengan aku!" ancam Grace memperingatkan.
" Kamu benar-benar gi la, Rena." Tak habis pikir Rivaldi menghadapi sikap Grace yang sungguh di luar dugaannya.
" Oh, ya. Kau tidak perlu repot-repot mengirim orang untuk menjaga Bella, Aldi. Kecuali ...."
" Kecuali apa?" Rivaldi bertanya penasaran.
__ADS_1
" Kecuali kalau kamu benar menyukai Bella," sahut Grace masih menebak Rivaldi suka pada Isabella.
" Sudahlah, sebaiknya aku tutup teleponnya. Aku masih banyak pekerjaan." Rivaldi segera mengakhiri panggilan teleponnya dengan Grace, karena jika berlanjut, wanita itu pasti akan terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Isabella.
Rivaldi memejamkan mata seraya menengadahkan kepalanya. Dia menghela nafas panjang mengingat perkataan Grace tadi yang menyebut dirinya seperti pria tidak laku karena mengejar istri orang.
Memang benar, wanita yang menarik perhatiannya kini sudah menjadi milik pria lain Pertama Kayra, yang kini sudah terlihat bahagia dengan Erlangga. Selanjutnya Grace, yang terlihat bangga menjadi istri seorang pria dewasa. Sementara dirinya masih tetap setia dengan kesendiriannya.
***
" Gimana, Pih? Enak?" Grace bertanya pada sang suami tentang pijatan yang dia lakukan pada punggung Rizal. Menjelang tidur, Rizal mengeluhkan punggungnya yang terasa pegal, hingga membuat Grace memberikan pijatan kepada suaminya itu.
" Kurang keras, Sayang. Agak kencang dikit tenaganya." Rizal memyuruh Grace untuk menambah tenaganya
" Astaga, Pih! Ini sudah aku kerahkan seluruh tenaga beserta jiwa dan raga lho, pijatnya." Grace berkelakar dan dengan tawa renyahnya.
" Tapi ini memang tidak terasa di punggungku, Sayang." Rizal yang tidur dengan posisi telungkup langsung memutar tubuhnya. Dia lalu menepuk sisi tempat tidurnya dan berucap, " Sini, aku kasih contoh pijat yang enak ke kamu." Rizal menyuruh Grace untuk berbaring karena dia akan memberi contoh cara memijat yang benar dan bertenaga.
" Aku tidak capek, Pih! Buat apa dipijat?" Grace tahu jika Rizal punya niat terselubung selain memijat dirinya. Kebersamaannya dengan Rizal membuatnya memahami sikap sang suami.
" Aku hanya memberi contoh, Grace. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh." Menyadari sang istri mengetahui triknya, Rizal langsung menepis apa yang sedang dipikirkan oleh sang istri. Pasangan suami istri itu seperti sudah dapat menebak apa yang ada di pikiran pasangannya masing-masing.
" Ayo, cepat! Aku kasih contoh pijat yang enak itu yang seperti apa!?" Rizal tak pantang menyerah meminta. istrinya untuk berbaring.
" Tidak, ah!" Grace mengedikkan bahunya, tetap menolak apa yang diminta oleh suaminya.
" Kamu lupa? Kalau diperintah suami itu harus menurut?" Rizal menjatuhkan tubuh Grace hingga istrinya itu berbaring telungkup.
" Tapi kamu menikmatinya, kan?" Rizal mulai memposisikan tubuhnya di atas Grace dengan dengan lutut dan kaki menopang tubuhnya, Rizal mulai melakukan gerakan pijatan ke punggung Grace.
" Pijat saja ya, Pih! Tidak pakai plus dan plus!" sindir Grace yang tahu layanan pijatan suaminya itu akan berakhir di mana.
" Sudah jangan rewel! Nikmati saja! Nanti kalau sudah selesai akan ditagih bayarannya." Rizal menyahuti protes sang istri.
" Nah, kan!? Aku bilang juga apa? Pasti minta bayaran plus plus ..." komentar Grace kembali, dia sebenarnya tanpa sadar memancing sang suami untuk membicarakan soal urusan kebutuhan biologis.
Rizal tidak menjawab ucapan sang istri, namun gerakan tangannya yang sudah menyusup ke dalam baju yang dipakai oleh Grace membuat Grace terkikik geli.
" Kenapa malah tertawa? Katanya KDRT?" Rizal masih melakukan pijatan di kulit mulus punggung Grace membuat wanita itu terus tertawa kecil akibat ulah sang suami.
" Pih ...."
* Apa? Mau minta yang plus plus?" sindir Rizal.
" Mamihnya Bella cantik, ya?" Saking senewen dengan peristiwa yang menimpa Isabella beberapa waktu lalu, Grace sampai lupa ingin membahas soal foto mantan istri Rizal yang dia lihat di kamar Isabella.
Rizal menghentikan gerakan memijatnya saat Grace menyinggung soal mantan istrinya dulu. Dia menduga jika Grace sudah melihat foto dirinya bersama Sonia di kamar Isabella.
" Tentu saja, istriku pasti cantik-cantik," sahut Rizal, tidak ingin membahas soal masa lalu bersama mantan istrinya terlalu dalam dengan Grace. " Istri tua cantik, istri muda apalagi, tidak hanya cantik, tapi galak, cerewet, kaya raya pula. Hahaha ..." Rizal tertawa lebar menanggapi dengan bercanda.
__ADS_1
" Mamihnya Bella cantik, pantas Papih susah move on dulu ..." Grace masih penasaran dengan sosok Sonia, mantan istri pertama suaminya.
" Berarti kamu hebat, kan? Bisa buat aku move on?" Rizal kini merebahkan tubuhnya di samping Grace dengan posisi miring menghadap Grace yang masih telungkup.
" Kita jangan berbicara masa lalu, ya? Kita bicarakan saja masa depan kita. Mamihya nya Bella sudah tenang di sana. Kita bicarakan saja rencana kita ke depan." Rizal merasa akan menjadi sentimentil jika mengingat Sonia. Dan dia tidak ingin membuat Grace tidak nyaman karena hal tersebut.
Walaupun sebenarnya Grace ingin banyak tahu, namun dia tidak bisa memaksa Rizal untuk cerita soal mantan istri pertama Rizal itu.
" Oh ya, Pih. Tadi waktu pulang makan siang di mall ada yang mengikuti mobil aku, lho!" Grace teringat soal penguntitnya siang tadi.
" Ada yang mengikuti kalian? Siapa? Apa orang itu berbuat macam-macam? Kenapa kamu tidak hubungi aku?" Rizal langsung cemas saat Grace menceritakan soal penguntitnya tadi.
" Kami tidak apa-apa, sih! Dia itu anak buahnya Jimmy. Papih ingat Jimmy tidak? Orang suruhannya Aldi." Grace menceritakan siapa penguntitnya itu.
" Jadi Rivaldi yang menyuruh orang itu mengikuti kalian? Mau apa dia itu sebenarnya?" Rizal sudah memperlihatkan wajah geram saat tahu Rivaldi lah yang berada di balik orang yang mengikuti istri dan anaknya.
" Pih, aku tadi bilang, kami baik-baik saja, artinya orang itu tidak melakukan apa-apa ke aku atau Bella. Aldi bilang kalau dia sengaja memberi perintah pada Jimmy untuk menyuruh anak buahnya menjaga Bella dari niat jahat orang-orang kayak Joe." Grace menjelaskan kepada Rizal jika tujuan Rivaldi kepada dirinya juga Isabella tidak jahat. Tapi justru ingin melindungi Isabella.
" Aku tidak percaya dengan dia, Grace! Apa kamu lupa kalau dia itu sangatlah licik!" Rizal tidak begitu mudah mempercayai maksud baik Rivaldi. Dia tetap menaruh curiga kepada pria itu.
" Tapi aku yakin Aldi kali ini benar bermaksud baik, deh, Pih! Dia memperhatikan keselamatan Bella, itu 'kan bagus, Pih. Biar gayung bersambut." Secara samar Grace mengungkap tentang perasaan Isabella terhadap Rivaldi.
" Apa maksudnya gayung bersambut? Jangan bilang kalau Bella menyukai Rivaldi?" Dan Rizal pun jeli dengan isyarat yang diungkapkan istrinya tadi.
" Iya, memang putri kesayangan Papih itu suka sama Aldi." Lebih jelas Grace menyebutkan jika yang diduga suaminya itu benar.
" Aku tidak akan biarkan itu terjadi! Aku tidak ingin Bella jatuh pada orang yang salah!" Rizal kembali bangkit dan hendak turun dari tempat tidur. Dia merasa perlu bicara kepada putrinya itu dan menasehati untuk tidak jatuh cinta pada sosok Rivaldi.
" Papih mau ke mana?" Grace segera menghalangi langkah Rizal dengan mencengkram lengan suaminya itu.
" Aku harus memberitahu Bella untuk tidak terbius dengan tipu muslihat Rivaldi itu, Grace! Aku tidak ingin Bella bernasib sepertimu di tangan Joe. Aku tidak rela, Grace!" Rizal menegaskan jika dia tidak ingin putri tercintanya itu tertipu dan terpedaya oleh cinta.
" Pih, aku yakin Aldi tidak akan merusak Bella seperti yang diperbuat Joe terhadapku!" Entah mengapa kali ini Grace seolah berbelot menjadi pendukung Rivaldi.
Rizal memperhatikan istrinya yang sekarang terlihat berubah haluan. Dulu sangat membenci Rivaldi, bahkan menyuruh Vito bicara pada Isabella untuk menjauhi Rivaldi, tapi kali ini istrinya itu justru terlihat seperti mendukung apa yang dilakukan Rivaldi kepada putrinya.
" Kenapa kamu tiba-tiba membela Rivaldi, Grace?" Pertanyaan Rizal penuh selidik mengarah kepada sang istri.
" Aku ... aku tidak bermaksud membela Aldi, Pih. Tapi, aku rasa Aldi memang sungguh-sungguh ingin menjaga Bella dari pria breng sek macam Joe." Grace mengusap lengan sang suami mencoba meredam emosi suaminya karena mengetahui perasaan putrinya yang diam-diam menyukai Rivaldi.
" Aku sudah bilang sama Papih, kalau Aldi itu hanya belum betemu dengan wanita yang tepat untuknya saja. Aldi itu besar dalam lingkungan keluarga baik-baik, aku yakin dia pasti tidak sejahat yang kita kira selama ini, Pih. Dia mungkin dulu licik, tapi bukan berarti dia selamanya jahat, kan? Jika dia sudah bertemu dengan pujaan hatinya dan jatuh cinta pada wanita itu, aku yakin dia bisa menjadi sosok Rivaldi yang baik." Grace mencoba merubah pandangan Rizal tentang Rivaldi.
" Lagipula, untuk wanita seperti Bella, sangat cocok jika mendapat Mama mertua seperti Tante Arina, Pih. Tante Arina itu lemah lembut, baik hati, tidak cerewet dan tidak banyak mengatur, menuntut dan mengintimidasi menantunya, tidak seperti Mama mertuanya Papih." Grace menyeringai menyinggung soal Mamanya sendiri.
*
*
*
__ADS_1
Besambung ...
Happy Reading❤️