TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Melupakan Masa Lalu


__ADS_3

Grace dan Rizal sampai di hotel sekitar pukul empat sore. Setelah melaksanakan sholat Ashar berjamaah, Grace langsung menceburkan dirinya ke kolam renang yang ada di kamar hotel yang mereka pesan.



" Pih, cepat ke sini!" Grace menyuruh Rizal untuk ikut turun ke dalam air dan ikut berenang ?dengannya.


Rizal segera meloloskan kaos dari leher hingga membuat dada bidang pria itu terlihat jelas. Dia juga melepas celana panjangnya hingga hanya menyisahkan dalaman yang menutupi alat tempur pria bertubuh atletis itu.


Rizal meloncat ke dalam kolam dan berenang mendekati Grace. Grace pun langsung melingkarkan tangannya di leher Rizal


" Pernah bercinta di kolam tidak, Pih?" tanya nakal Grace kepada Rizal.


Rizal mengerutkan keningnya seraya menarik senyuman di bibirnya. Dia tahu arah pertanyaan istrinya itu akan ke mana.


" Apa kamu ingin melakukannya di sini?" Rizal menbelai rambut basah Grace lalu menyatukan bibir mereka, mulai melakukan pemanasan untuk percintaan mereka. Mereka berdua ingin merasakan sensasi lain bercinta dalam kolam di area terbuka.


" Apa akan ada yang mengintip kita nanti?" Rizal menyampaikan sebuah pertanyaan konyol pada Grace.


" Paling hanya burung dan kupu-kupu yang melintas ke sini, Pih." Grace terkekeh menjawab pertanyaan suaminya tadi.


Rizal memperhatikan wajah istrinya yang semakin terlihat cantik saat tertawa. " Kau pernah melakukan ini sebelumnya?" Melihat banyak ide yang dimiliki oleh Garce dalam gaya bercinta, Rizal menduga jika istrinya itu pernah melakukan hal tersebut sebelumnya.


" Aku ingin melakukannya dengan Papih." Grace tidak menepis dugaan Rizal, Grace justru mengatakan jika dia ingin melakukan kein timan itu dengan Rizal.


" Kamu benar-benar ketagihan dengan sentuhan pria tua ini rupanya, hmm?" Rizal menatap manik mata sang istri.


" Bukankah Papih juga ketagihan menyentuhku?" bisik Grace manja membuat ga irah Rizal seketika bangkit.


Tak menjawab pertanyaan Grace, Rizal justru langsung mengangkat kedua paha Grace hingga kini membelit pinggangnya. Tangan Grace sendiri masih melingkar di leher Rizal, mereka kembali melakukan pagutan bibir mereka. Memperdalam kehangatan yang mengalir hingga terus menimbulkan ga irah yang menggelora sampai akhirnya mereka berdua siap melakukan penyatuan sebagai bentuk rasa cinta mereka kepada pasangannya.


Malam harinya mereka keluar hotel untuk menikmati makan malam. Mereka layaknya pasangan pengantin baru lainnya. Berpelukan dan kadang berci uman tanpa memperdulikan jika mereka berada di tempat umum.


" Pih, orang pasti mengira kalau aku ini simpanannya Papih, ya?" Grace merasakan pengunjung cafe di meja depannya yang terdiri dari tiga orang wanita muda seusianya sedang memperhatikan dirinya yang sangat in tim dengan Rizal.


" Mana?" Rizal mencari orang yang dimaksud oleh Grace.


" Depan meja kita," sahut Grace.


" Apa kamu merasa terganggu?" tanya Rizal kemudian.


" Aku justru takut mereka yang akan mengganggu Papih. Karena mereka mengira jika Papih itu sugar Daddy. Pasti uangnya banyak, banyak hartanya, banyak tabungannya, banyak selingkuhannya." Grace terkekeh mengakhiri kalimatnya.


" Kamu menyindirku?" Rizal mendelik saat mendengar kalimat Grace yang seakan menyindirnya karena dia bukanlah pria yang punya banyak harta.


" Tidak juga!" Grace mengedikkan bahunya. menepis anggapan jika dia menyindir suaminya. Dia kembali menoleh ke arah meja di depannya, di mana wanita-wanita itu masih memperhatikannya. Dia merasa risih diperhatikan oleh mereka-mereka itu.


" Kita pergi dari sini saja yuk, Pih!?" Grace mengajak suaminya itu untuk pergi meninggalkan tempat itu.


" Ya sudah." Rizal lalu bangkit seraya mengulurkan tangannya pada Grace, membantu istrinya itu bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan restoran itu.


Mereka kemudian menuju hotel mereka menginap untuk beristirahat.


" Grace! Hai, Grace ...!" Grace dan Rizal yang baru memasuki lobby hotel menoleh ke arah seseorang yang memanggil nama Grace.


" Sharon?" Grace terbelalak melihat orang yang memanggilnya ternyata adalah Sharon. Temannya dan Joe saat di Jepang.


" Apa kabarmu, Grace? Lama tidak mendengar kabar darimu." Sharon memeluk Grace yang masih terkejut dengan kemunculan Sharon di hadapannya.


" Kau ada di sini, Sharon? Dengan siapa?" tanya Grace melirik seorang pria bule di samping Sharon.


" Oh, kenalkan, Grace. Ini pacar aku. namanya Andy ." Sharon memperkenalkan pacar bulenya kepada Grace.

__ADS_1


" Kami sedang berlibur di sini, Grace." Sharon lalu melirik Rizal yang sedang melingkarkan tangannya di pinggang Grace. " Ini pacar barumu juga, Grace?" tebak Sharon kemudian. Tentu saja dari bahasa tubuh yang dilakukan antara Grace dan Rizal, Sharon bisa menebak jika Grace mempunyai hubungan spesial dengan Rizal .


" Memangnya kamu sudah tidak sama Joe lagi, Grace? Kamu masih belum menemukan di mana dia sekarang?" Dulu Sharon sempat dihubungi Grace, saat Grace masih mencari keberadaan Joe yang saat itu bak bilang ditelan bumi.


" Aku sudah tidak perduli dia lagi!" Grace yang merasa kesal dengan perbuatan Joe yang kabur meninggalkannya kala itu, memang sudah tidak pernah memikirkan soal pria itu lagi. Apalagi saat ini sudah ada Rizal, sosok pria yang lebih mencintainya dan sudah menjadi suaminya.


" Karena kamu sudah dapat pacar baru ini, kan?" Sharon kembali melirik ke arah Rizal karena Grace masih belum memperkenalkan pria dewasa yang bersama Grace saat ini.


" Apa kau begitu frustasinya terhadap Joe sampai kau berpacaran dengan Om-Om, Grace?" sindir Sharon yang menduga jarak usia Grace dan Rizal terlihat sangat jauh.


" Dia suamiku!" jawab Grace lantang memperkenalkan Rizal sebagai suaminya.


" What??" Sharon terkesiap saat Grace memperkenalkan Rizal sebagai suaminya. " Kau sudah menikah? Secepat itu?? Bukankah kau sangat mencintai Joe, Grace?" Tanpa merasa tidak enak pada Rizal, Sharon justru bertanya perasaan cinta Grace pada Joe


" Aku justru berpikir jika kalian berdua tidak bisa dipisahkan." Melihat kebucinan Grace kepada Joe selama ini sampai rela membelikan Joe apartemen dan membiayai gaya hidup Joe, Sharon merasa aneh melihat Grace bisa secepat itu berubah sikap.


" Saat ini Joe tidaklah penting untukku, Shar! Dia itu hanya pria licik yang hanya ingin memanfaatkanku saja! Untung saja Tuhan menyelamatkan aku dari pengecut macam Joe itu!" Nada bicara Grace penuh dengan kekesalan dan amarah karena dia sudah merasa dibo dohi oleh Joe.


" Memang sebenarnya apa yang Joe lakukan sampai kau sebenci itu pada Joe, Grace?" Mesti pernah dihubungi Grace saat mencari keberadaan Joe. Namun, Sharon tidak pernah diberitahu masalah yang sebenarnya terjadi. Sharon hanya diberitahu jika Joe kabur meninggalkan Grace.


" Aku tidak ingin membahas itu, Shar! Buat aku Joe itu hanya masa lalu yang harus aku buang dari pikiran dan hatiku!" tegas Grace tak suka disinggung soal Joe kembali.


" Okelah kalau begitu." Sharon lalu mengulurkan tangannya kepada Rizal dan memperkenalkan dirinya kepada Rizal.


" Hai, aku Sharon. Aku teman Grace," ucapnya kemudian. " Selamat atas pernikahan kalian." Sharon pun mengucapkan selamat atas pernikahan Grace dan Rizal.


" Rizal .. ." Rizal pun menerima ukuran tangan Sharon padanya. " Terima kasih." Rizal juga menyampaikan ucapan terima kasih atas ucapan selamat yang disampaikan Sharon.


" Senang bisa berkenalan denganmu, Rizal." ujar Sharon kembali. " Oh ya, kalian menginap di sini?" tanya Sharon kemudian.


" Iya, kami sedang honeymoon di sini." Tanpa ragu-ragu Grace menyebutkan alasan dia dan Rizal ada di hotel itu.


" Aku juga kebetulan menginap selama tiga hari di sini," ungkap Sharon. " Kau sendiri sampai kapan ada di sini, Grace?" tanya Sharon.


" Wah, kalau begitu kita bisa menghabiskan waktu bersama. Bagaimana kalau kita Double date, Grace?" Sharon mengusulkan mereka untuk bisa mengadakan double date karena mereka berada di waktu dan tempat yang sama.


" Hmmm, sorry, Sher! Kami ini sedang honeymoon, jadi aku ingin menikmati moment ini hanya berdua saja dengan suamiku." Dengan tegas Grace menolak ajakan Sharon yang ingin mengajaknya untuk menikmati kencan bersama pasangan masing-masing bersamaan di tempat yang sama.


" Kita ke kamar sekarang, Pih?" Grace menoleh ke arah Rizal dan ingin mengajak Rizal secepatnya meninggalkan Sharon dan kekasihnya Sharon.


" Aku duluan ya, Shar!?" Grace menarik lengan Rizal untuk segera kembali ke kamar mereka.


" Oke, Grace." Grace masih sempat mendengar Sharon menjawab ucapannya.


" Kenapa kamu bersikap seperti itu pada temanmu itu, Grace?" Rizal mempertanyakan sikap ketus Grace pada Sharon saat mereka memasuki kamar mereka.


" Aku 'kan sudah katakan kalau aku ingin menikmati moment ini berdua dengan Papih saja." Grace menyebutkan alasan yang sama seperti yang dia katakan kepada Sharon.


" Hanya itu? Dia temanmu, dan sudah lama tidak bertemu, kan?" Rizal merasakan ada alasan lain yang mendasari Grace mengabaikan Sharon.


" Aku ingin melupakan masa laluku dengan Joe, termasuk orang-orang yang masuk dalam circle nya, Pih. Aku kenal Sharon dari Joe. Sharon itu teman Joe. Jadi sebaiknya aku menjauhi dia."


" Lagipula, Papih dengar dan lihat sendiri kalau sharon menginap di sini dengan pacarnya bukan suaminya. Aku yakin dia masih menganut pergaulan bebas sepertiku dulu. Pasti apa yang dia lakukan dengan pacarnya itu sama dengan yang kita lakukan di sini."


" Aku ingin menjadi orang yang baik. Pribadi yang baik. Karena itu aku harus mulai menghindari orang-orang yang hanya akan membawa pengaruh buruk kepadaku, Pih!" Grace menjelaskan alasannya menolak tawaran Sharon yang ingin mengajaknya menikmati kencan bersama dengan pasangan masing-masing.


Rizal tersenyum mendengar alasan yang disampaikan Grace kepadanya. Dia senang, cara berpikir Grace mulai berubah menjadi lebih baik secara perlahan.


" Tidak salah aku memilihmu untuk menjadi istriku, Grace." Rizal melingkarkan tangannya di pinggang Grace.


" Tentu saja tidak salah! Aku ini masih muda, cantik, pewaris tunggal harta Papa Mamaku. Apa lagi yang kurang?" Grace menaikkan dagunya seraya membanggakan dirinya.

__ADS_1


" Hmmm, kalau begitu, pantas saja mantanmu itu mendekati dan memanfaatkanmu, Sayang." sindir Rizal mengakhiri kalimatnya dengan tertawa lebar, membuat Grace mencebikkan bibirnya dan memukul lemah tubuh Rizal.


***


Isabella bersama Fauziah sedang menikmati makan siang sepulang kuliah. Sebelumnya Isabella sudah menyuruh Vito untuk tidak menjemputnya, karena Fauziah ingin mentraktirnya makan siang.


" Jadi Papih sama Mamih barumu itu sekarang sedang pergi honeymoon ke Bali, Bel?" Fauziah sengaja meledek Isabella dengan menyebut Grace dengan sebutan Mamih baru.


" Ck, jangan sebut dia Mamihku!" sergah Isabella keberatan Fauziah menyebut Grace sebagai Mamih baginya.


" Hahaha, kenyataannya dia 'kan memang Mamih baru kamu, Bel. Kamu panggil Om Rizal dengan panggilan Papih, sedang si Grace itu sudah menjadi istri dari Papihmu, berati Grace itu 'kan Mamihmu, Mamih baru." Fauziah justru terus meledek Isabella, membuat Isabella memuar bola matanya.


" Sudahlah, Bel. Kamu terdamai saja. Terima saja si Grace itu jadi Mamih baru kamu. Kamu kesal-kesal menolak, dia malah enak-enakan bersenang-senang dengan Papihmu menikmati bulan madunya!" Fauziah menyindir Isabella.


" Kalau memang cerita Kak Vito soal Grace itu benar, kalau Grace itu anak orang kaya raya, anak tunggal perusahaan Papa Mamanya, itu untung di kamu juga kali, Bel. Kamu nanti sering diajak jalan-jalan ke luar negeri, keliling Eropa. Nanti 'kan kamu bisa ajak-ajak aku, Bel. Aku juga kepingin lah merasakan jalan-jalan keliling Eropa gratis kayak karyawannya Raffi Ahmad sama Nagita Slavina." Fauziah berkelakar seraya tertawa kecil.


" Kamu pikir aku matre, Zie!?" protes Isabella.


" Bukan matre, Bel! Anggap itu suatu kebetulan dan bonus. Papih kamu juga menikahi Grace bukan karena kekayaan keluarga Grace, kan?"


* Papihku juga bukan pria matre, Zie!" sanggah Isabella cepat.


" Lalu menurutmu, Papihmu itu menikahi Grace karena apa? Bukan karena pelet, kan? Secara Grace bisa mendapatkan pria mana pun yang dia inginkan dengan kekayaannya. Tapi justru dia malah memilih Papihmu yang berstatus duda dan usianya hampir dua kali lipat dari usianya." Fauziah berubaha menasehati Isabella agar dapat berbaikan dan dapat menerima kehadiran Grace sebagai Mama sambungnya.


" Aku rasa Om Rizal dan Grace memutuskan untuk menikah karena mereka sama-sama saling menginginkan dan saling mencintai." Saat hadir dalam acara dinner perayaan pernikahan Rizal dan Grace, Fauziah memang dapat melihat jika mereka berdua saling mencintai.


Isabella menghela nafas panjang mendengar nasehat-nasehat yang disampaikan oleh Fauziah, sementara matanya menatap ke luar restoran hingga akhirnya manik matanya menatap seorang pria tampan memasuki restoran tempat dia menikmati makan siang bersama Fauziah.


Seperti kebanyakan wanita pada umumnya, Isabella pun senang menikmati pemandangan indah jika menemukan pria tampan melintas di hadapannya seperti saat ini.


Pria tampan itu lalu berjalan mencari meja kosong yang kebetulan berada tepat di depan meja Isabella dan Fauziah. Pria itu sempat melirik sepintas ke arah Isabella, sepertinya pria itu merasa jika sedang diperhatikan oleh Isabella.


Isabella langsung menundukkan kepalanya karena ketahuan jika dia tadi memperhatikan pria itu.


" Oh ya, selanjutnya mereka akan tinggal di mana, Bel? Di rumah Papihmu atau di rumah dia?" tanya Fauziah kembali, membuat Isabella yang tadi tertegun kini terkesiap.


" Katanya sih di rumahku," sahut Isabella.


" Nah, kalau begitu kamu harus mengakrabkan diri dengan dia lah, Bel. Masa kamu mau musuhan terus sama dia? Kalau misalnya dari pernikahan Papih kamu sama istrinya itu sampai punya anak, memang kamu mau memusuhi anaknya juga? Dia 'kan adikmu juga, Bel." Fauziah masih saja membahas soal Garce pada Isabella.


" Sudah, deh! Jangan bicarakan dia terus!" Isabella meminta Fauziah menghentikan membahas soal Grace.


Ddrrtt ddrrtt


Suara dering ponsel pria yang tadi diperhatikan Isabella terdengar dari meja Isabella. Tak lama dia pun mendengar pria itu berbicara pada seseorang di teleponnya.


" Memangnya kau bertemu dia di mana?"


" Bali? Kau ada di sana memangnya?"


" Dia sudah menikah? Dengan siapa?"


Itu kalimat-kalimat yang sepintas terdengar di telinga Isabella yang diucapkan oleh pria itu. Terutama pada kalimat terakhir, suara pria itu terdengar terkejut dengan berita yang disampaikan orang yang menghubungi pria itu tadi.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2