TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Duda Ketemu Janda


__ADS_3

Netra Rizal mengikuti arah langkah Grace yang masuk ke ruang kerja lalu berdiri tepat di depan mejanya. Masih dengan wajah angkuh seperti biasa jika sedang berhadapan dengannya.


Rizal memperhatikan gaya berbusana Grace yang terkesan cuek dengan make up tipis. Namun, tidak menutupi kecantikan wajah wanita itu.


" Ada apa lagi aku di panggil kemari?" Dengan melipat tangan di dadanya, Grace bertanya seolah menantang Rizal.


" Kamu tahu jam kerja di kantor ini jam berapa?" tanya Rizal dengan mengetuk-ngetuk pena di mejanya.


Grace memutar bola matanya sebelum menjawab, " Jam delapan sampai jam empat."


" Kamu tahu sekarang jam berapa?" tanyanya kembali.


Grace melirik jam dinding di ruangan Rizal. Namun, dia tidak menjawab pertanyaan Rizal.


" Rumahmu dekat dari kantor ini. Tinggal menyebrang saja tanpa perlu bermacet-macetan. Tapi, kenapa kamu selalu terlambat datang ke kantor ini?! Jangan mengajarkan hal buruk kepada pegawai saya!" Rizal menempatkan posisinya sebagai bos yang memarahi anak buahnya.


" Aturan itu hanya berlaku untuk anak buahmu! Dan aku bukan anak buahmu! Jadi aku tidak perlu mengikuti aturan itu!" tegas Grace tak ingin diintimidasi oleh ucapan Rizal hanya karena Rizal adalah pimpinan di kantor itu. " Lagipula di sini saya tidak dibayar, jadi untuk apa patuh dengan aturan di sini?!" sambungnya.


" Walaupun kau bukan anak buah saya, tapi kau harus mengikuti aturan di sini selama kamu masih menjalankan hukumanmu!" Merasa Grace tidak menggubris tegurannya, Rizal semakin dibuat gemas dengan sikap keras kepala Grace.


" Kau saya pekerjaan di sini untuk diperbantukan melakukan pekerjaan di tempat ini, bukan untuk mengganggu pekerjaan anak buah saya dengan mengajak mereka mengobrol dan bergosip!" Kini Rizal menggunakan alasan lainnya untuk menegur Grace.


" Aku tidak mengganggu mereka! Mereka itu manusia, bukan robot yang harus fokus dengan pekerjaannya dan dilarang bercanda ringan dengan rekan lainnya! Lagipula, aku hanya mengajak berbicara sebentar, kok! Tidak pengaruh juga dengan pekerjaan mereka!" sahut Grace enteng.


" Sebentar atau lama, tetap saja mengganggu!!" Rizal bangkit dari kursinya karena Grace terus saja menyangkal apa yang dikatakan Rizal. Dia berpikir dengan menegur dan memberi peringatan kepada Grace, maka wanita itu akan patuh kepadanya. Dia tidak menyadari, jika semakin dia berkata dengan nada tinggi, maka Grace akan semakin menentangnya.


" Kenapa kau baru menegurku sekarang? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin? Kau jangan cari alasan untuk memarahiku hanya karena anakmu yang manja itu!" Grace merasa jika Rizal sedang mencari-cari alasan untuk memarahinya, hanya karena kemarin dia bertengkar dengan Isabella.


Rizal terdiam, perkataan Grace membuat dia tidak dapat menemukan kalimat yang tepat untuk menyanggahnya. Karena sebenarnya dia sendiri tidak tahu alasan yang tepat dia memanggil Grace ke ruangannya. Dia sudah tahu sejak awal jika Grace sering datang terlambat. Dia juga tahu, pegawai saling berbincang ringan dalam tempat kerja adalah hal yang wajar. Justru dirinya lah yang terlalu membesar-besarkan permasalahan sepele itu.


" Mulai sekarang kau akan bertugas di ruangan ini! Semua tugasmu, akan dikerjakan di ruangan ini, agar saya bisa memantau pekerjaan kamu!" ucap Rizal kemudian.


Grace membelalakkan matanya mendengar perkataan Rizal.


" Aku tidak punya banyak pekerjaan di sini, Untuk apa aku di ruangan ini?!" Grace menentang keputusan Rizal.


" Ini keputusan, bukan pilihan!" tegas Rizal.


" Kau tidak bisa memaksaku, Pak tua!" Grace bersikeras menolak keputusan Rizal.


Rizal menarik sudut bibirnya ke atas. Akhirnya setelah sekian lama kata Pak tua itu kembali dia dengar di telinganya dari bibir Grace.


" Selama menjalani hukuman, kau wajib mengikuti perintahku!" Rizal masih bertameng pada posisi Grace yang sedang menjalani hukuman.


" Bilang saja, kau ini sebenarnya ingin dekat denganku!" sindir Grace melirik ke arah Rizal.


Kembali sudut bibir Rizal terangkat. Sepertinya dia senang bisa kembali berdebat dan saling sindir dengan Grace seperti saat ini.


" Kembali ke mejamu!" Tak ingin Grace mengetahui jika dia memang sebenarnya merindukan berinteraksi dengan wanita itu, Rizal segera menyuruh Grace keluar dari ruang kerjanya.


Dengan mendengus kasar Grace keluar dari ruangan Rizal. Entah apa tujuan Rizal, Grace pun tak tahu. Kemarin dia disuruh pindah ke atas, sekarang disuruh pindah ke ruangan Rizal. Besok, dia akan dipindahkan ke mana lagi dengan Rizal.


***


" Hei, apa kau tidak punya kenalan teman wanita?" tanya Grace pada Vito yang sedang mengerjakan pekerjaan di mejanya.


" Teman wanita untuk apa, Nona?" tanya Vito dengan menautkan kedua alisnya.


" Untuk dijodohkan dengan bosmu itu! Kasihan dia kesepian, makanya senang mengusik orang lain!" Merasa kesal karena terganggu dengan sikap Rizal, Grace menyuruh Vito mencarikan jodoh untuk Rizal.


" Hmmpptt ..." Vito menahan tawanya mendengar ucapan Grace.


" Saya tidak berani menjodoh-jodohkan teman saya dengan Pak Rizal, Nona. Belum tentu teman saya itu memenuhi kriteria wanita idaman Pak Rizal." Vito lalu membalas pertanyaan Grace.


" Memangnya Pak Rizal marah kenapa, Nona?" tanya Vito kemudian. Dia sendiri tidak tahu kenapa bosnya itu uring-uringan beberapa hari ini.

__ADS_1


" Sejak dia kehilangan job waktu itu, aku tidak pernah cari perkara sama dia. Aku juga pindah ke bawah agar menghindari berdebat dengannya. Eh, sekarang malah dia yang mengajak ribut." Grace seolah mengadu pada Vito.


" Ini pasti pengaruh anaknya yang manja itu! Dia tidak tahu, kan? Kalau sebenarnya yang mulai bikin masalah itu anaknya?!" Grace terus mengadu, tidak perduli Vito akan mendengar atau tidak ocehannya itu.


" Pak Rizal sangat menyayangi Bella, Nona." Vito mencoba menjelaskan kenapa Rizal bersikap seperti itu.


" Sayang sih, sayang ... tapi tidak usah menyalahkan orang lain juga, kan?!" Grace tetap beranggapan dirinya benar.


" Nona harap bersabar saja, dan jangan emosi juga menghadapi Pak Rizal." Vito berusaha menasehati Grace, meskipun tahu nasehatnya itu tidak akan didengar oleh Grace.


" Dia itu bosmu, tentu saja kau membelanya!* Grace memutar bola matanya, karena merasa Vito tidak menyalahkan Rizal.


***


" Kamu, ganti pakaianmu yang lebih sopan! Ikut saya menemui klien!" Rizal keluar dari ruangannya lalu berkata kepada Grace.


" Kau bicara denganku?" tanya Grace menyahuti.


Rizal melirik ke arah meja Vito yang kosong. " Memangnya di sini ada siapa lagi selain kamu?!"


" Biasa saja bicaranya! Tidak usah ketus seperti itu!" Grace bangkit. " Memangnya kau tidak takut mengajakku bertemu klienmu itu? Kamu tidak takut aku akan berbuat kacau lagi?" tanya Grace mengingat Rizal saat itu marah karena perbuatan Grace yang bersikap kasar pada klien Rizal, dan membuat Rizal tidak pernah lagi menyuruhnya ikut menangani kasus.


" Cepatlah ganti pakaianmu dan jangan banyak bertanya jika diperintah!" Rizal tidak ingin menjawab pertanyaan Grace, karena dia memang tidak dapat menjawab pertanyaan wanita itu.


Rizal mengajak Grace karena dia memang ingin bersama wanita itu. Lagipula klien yang akan dia temui adalah seorang wanita, sudah pasti kliennya itu tidak akan berani macam-macam dengan Grace.


" Ck!" Grace berdecak kemudian bangkit dan berjalan turun dari tangga untuk kembali ke rumahnya dan berganti pakaian.


Setengah jam kemudian Grace sudah kembali menghadap Rizal.


" Bagaimana? Apa ini masih kurang sopan?" tanya Grace saat masuk ke dalam ruangan Rizal. dengan nada menyindir Rizal yang tadi mengomentari pakaiannya yang dianggap tidak sopan.



" Lumayan." Rizal lalu bangkit dan memasukkan ponsel ke wadah ponsel di dekat ikat pinggangnya, kemudian berjalan keluar diikuti oleh Grace.


Kepergian Rizal dan Grace sudah pasti menarik perhatian pegawai Rizal, apalagi Grace sampai berganti pakaian dan berdandan lebih cantik dan rapih. Tidak menandakan jika tadi kedua orang itu saling berdebat.


" Grace sama Pak Rizal seperti anak dan Papanya, ya? Yuanita yang pertama kali berkomentar.


" Seperti sugar baby dan sugar Daddy lebih tepatnya, Nit." Indra menimpali.


" Hahaha, itu lebih cocok, sih!" Jamal ikut berkomentar.


" Apa sebaiknya kita jodohkan saja mereka?" Tiba-tiba Indra mengusulkan ide.


" Menjodohkan mereka? Kamu tidak lihat mereka sering bertengkar?" Yuanita tidak sependapat dengan Indra.


" Justru karena sering bertengkar itu, Nit. Bisa jadi benih-benih cinta itu muncul. Masih ingat video mereka pas kissing kemarin, kan? Aku yakin, tidak mungkin Pak Rizal tidak merasakan apa-apa pada Grace." Indra menyampaikan analisanya.


" Aku setuju sama Indra. Walaupun mereka sering bertengkar, bukan berarti mereka tidak bisa saling cinta. Pak Rizal itu baik. Grace juga baik walaupun keras kepala. Aku malah lebih senang jika Grace sama Pak Rizal daripada Pak Rizal nantinya bertemu dengan wanita lain yang belum tahu sifatnya." Jamal pun sependapat dengan Indra.


" Kalian jangan lupa anaknya Pak Rizal. Kalian sendiri lihat 'kan waktu Isabella dan Grace bertengkar? Anaknya Pak Rizal itu belum tentu mau menerima Grace sebagai orang tua sambungnya." Yuanita mengingat sikap Isabella yang kemarin bertengkar dengan Grace. Sudah pasti Isabella akan menentang keras jika Grace dekat dengan bos mereka.


" Dan ingat, usia Pak Rizal sama Grace itu beda jauh, apalagi Grace sendiri bilang kalau dia itu tidak suka dengan pria seusia Pak Rizal," lanjut Yuanita.


" Itu karena belum terkenah panah asmaranya Pak Rizal, Nit. Siapa tahu kalau sudah kena panah asmaranya, Grace jadi klepek-klepek sama Pak bos." Indra menyeringai.


" Sudah deh, jangan bergosip terus! Ayo, kerja, kerja!" Yuanita ingin menyudahi obrolannya dengan rekan kerjanya dan kembali fokus dengan pekerjaan mereka.


***


Mobil Rizal berhenti di area parkir sebuah coffe shop. Dia berjanji bertemu dengan kliennya di coffe shop itu atas permintaan kliennya yang merupakan pemilik coffe shop yang didatangi Rizal.


" Selamat sore, Pak. Silahkan ..." pegawai coffe shop itu menyapa Rizal dan Grace lalu mempersilahkan Rizal dan Grace untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


" Terima kasih, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Nyonya Monica, saya sudah berjanji dengan Nyonya Monica di sini." Rizal menyampaikan kepada pegawai coffe shop jadwal pertemuannya dengan pemilik kafe itu. Karena Monica sendiri sudah berpesan kepada pegawainya jika dia menunggu tamu bernama Rizal.


" Oh, dengan Pak Rizal, ya? Mari silahkan, Pak." Pegawak kafe mengajak Rizal dan Grace mengikuti langkahnya.


" Silahkan duduk dulu, Pak. Nanti saya akan sampaikan pada Bu Monica soal kedatangan Pak Rizal." Setelah mempersilakan Rizal dan Grace duduk, pegawai kafe itu berpamitan untuk memberitahu bosnya.


" Terima kasih, Mbak." Rizal sempat membalas ucapan pegawai kafe itu kemudian dia duduk di sebelah Grace.


" Kenapa duduk di sini?" tanya Grace heran, karena biasanya Rizal duduk berseberangan dengannya.


" Karena di kursi depan itu kursi untuk klien saya." Rizal menjelaskan kenapa dia memilih duduk di sebelah Grace.


" Bilang saja kau ingin dekat-dekat denganku!" sindir Grace dengan melengos.


Rizal tersenyum mendengar ucapan Grace. Apalagi saat ini wajah Grace membelakanginya. Hingga harum rambut wanita itu terhirup ke dalam Indra pemciumannya.


" Hai, Pak Rizal ...* Seorang wanita menyapa Rizal, membuat Rizal yang sedang asyik menikmati aroma wanita rambut Grace terkesiap.


" Oh, selamat sore, Nyonya." Rizal bangkit dan menyalami wanita cantik yang terlihat berusia di atas tiga puluh tahun itu.


" Silahkan duduk, Pak Rizal." Wanita itu terlihat keberatan di panggil Nyonya oleh Rizal. Monica lalu melirik ke arah Grace.


" Ini anak Pak, Rizal?" tanya Monica kepada Rizal.


"' Hmmm, dia anggota tim saya, Nyonya." Rizal menjelaskan siapa Grace kepada Monica.


" Oh, hai, saya Monica ..." Monica mengulurkan tangan mengajak Grace bersalaman.


" Grace," sahut Grace singkat.


" Terima kasih Pak Rizal sudah datang memenuhi undangan saya," ucap Monica kembali.


" Jadi, alasan apa yang membuat Nyonya ingin menyewa jasa kami kembali?" Tak ingin berbasa-basi, Rizal menanyakan tujuan Monica menghubungi kantornya. Ini bukan pertama kalinya dia menanggani masalah yang dihadapi oleh Monica.


" Begini, Pak Rizal. Saya butuh orang yang bisa melindungi saya dari suami saya. Saya ingin menyewa Pak Rizal untuk melindungi saya selama proses perceraian saya dengan suami saya selesai." Monica menjelaskan maksudnya menghubungi Rizal.


" Maksud Nyonya. Nyonya ingin menyewa orang yang bisa menjaga Anda?" tanya Rizal cepat memahami maksud dari Monica.


" Benar, Pak Rizal. Saya ingin mengajukan perceraian dengan suami saya. Tapi, saya takut dia menolak, karena itu saya butuh orang untuk menjaga dan melindungi saya dari rencana dia menggagalkan proses perceraian kami ini. Sebab saya yakin, dia tidak ingin saya mengajukan gugatan perceraian kepadanya," tutur Monica kembali.


" Hmmm, baiklah, Nyonya. Nanti saya akan atur anak buah saya untuk mengawasi Anda." Rizal sepertinya akan menerima job dari Monica.


" Anak buah? Kenapa bukan Pak Rizal saja yang menjaga saya?" Monica ingin Rizal lah yang mengawalnya.


" Saya punya tim, Nyonya. Dan mereka semua bisa diandalkan. Anda jangan khawatir, saya pasti akan memilih anggota tim saya yang terbaik untuk melaksanakan tugas ini." Rizal mencoba meyakinkan Monica agar tidak meragukan anak buahnya.


Perkataan Rizal membuat wajah aura Monica sedikit berubah. Sepertinya dia merasa kecewa karena dia berpikir Rizal lah yang akan menjadi pengawalnya. Dan aura wajah kecewa Monica itu tertanggkap oleh mata Grace.


Grace merasa curiga jika sebenarnya Monica tertarik dengan Rizal. Dari sorot mata dan gesture tubuh wanita itu. Sepertinya Monica menyukai Rizal. Dan tugas yang diserahkan oleh Monica itu hanya alasan saja agar wanita itu bisa dekat dengan Rizal. Seketika terlitas ide Grace untuk mendekatkan Rizal dengan Monica.


" Aku rasa kau lebih cocok menjadi pengawal dia, Pak tua!" ucap Grace kemudian.


Rizal dan Monica sontak menolehkan pandangan kepada Grace saat mendengarkan perkataan Grace.


" Kau ini 'kan Duda, dia sebentar lagi menjadi janda. Duda ketemu janda, siapa tahu berjodoh." Dengan santai Grace berbicara tanpa merasa khawatir Monica akan tersinggung. Karena dia bisa melihat dari sorot mata Monica dan dia tahu maksud dan tujuan Monica meminta Rizal yang menjadi bodyguard wanita itu


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2