TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Tidak Ada Paksaan Di Antara Kita


__ADS_3

Rizal menatap tak kalah tajam ke arah Rivaldi. Tentu saja karena Rivaldi adalah saingan terberatnya untuk mengalahkan Grace saat ini. Walaupun dia yakin jika pilihan Grace sudah pasti akan memilihnya. Namun, dia tidak bisa begitu saja mengabaikan sikap licik Rivaldi. Bisa saja Rivaldi mempunyai rencana jahat pada Grace karena Rivaldi sudah tahu dia dan Grace selama ini telah menipunya.


Rizal lalu melirik ke arah Grace yang juga menatapnya. Sementara Sam yang selama ini mendapat tugas mengawasi Rivaldi tentu saja ikut kaget saat melihat sosok yang ada di samping Agatha saat ini. Sam pun menoleh ke arah Vito hingga mereka saling pandang seakan berbicara lewat ekspresi wajah.


" Selamat malam, Pak Rivaldi Nugraha. Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda kembali." Rizal berusaha untuk bersikap tenang menghadapi pria licik seperti Rivaldi.


" Pak Rizal sudah mengenal Aldi rupanya, ya?" Agatha berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi dengan Rizal dan Rivaldi.


" Tentu saja, Tante. Pak Rizal ini dan Rena sempat berkunjung ke kantor saya beberapa hari terakhir ini. Bukan begitu, Pak Rizal?" sindiran masih terus dilancarkan oleh Rivaldi kepada Rizal. Sepertinya Rivaldi sengaja ingin menjatuhkan Rizal di hadapan Agatha. Mengetahui Rizal ternyata menyukai Grace, sudah pasti perbuatan Rizal yang sudah menjebaknya membuat Rivaldi ingin membalas apa yang sudah dilakukan Rizal dengan memperdayanya dengan menyamar sebagai utusan dari perusahaan besar milik Satria.


" Syukurlah jika kalian sudah saling mengenal. Oh ya, kalian kumpul di sini dalam acara apa? Pasti acara makan-makan perpisahan kalian dengan Grace, ya? Apa saya dan Aldi bisa ikut bergabung dengan kalian di sini?" tanya Agatha, membuat anak buah Rizal saling berpandangan karena Agatha mengatakan jika makan siang bersama ini adalah acara perpisahan mereka dengan Grace yang sebentar lagi akan mengakhiri masa hukumannya.


" Mejanya sudah penuh, Mam!"


" Silahkan saja, Nyonya!"


Grace dan Rizal memberi jawaban yang berbeda pada Agatha. Membuat kedua orang itu saling berpandangan. Grace tidak senang Mamanya dan Rivaldi ikut bergabung bersama mereka. Karena dia yakin Mamanya akan mengacaukan rencana makan bersama mereka. Sementara Rizal sendiri, tentu tidak enak jika dia harus menolak permintaan Agatha, secara wanita itu adalah calon Mama mertuanya. Rizal tentu ingin menunjukkan sikap yang baik demi mendapatkan restu dari Agatha.


" Vito, Sam, tolong beri tempat duduk kalian untuk Nyonya Agatha dan Pak Rivaldi." Rizal menyuruh kedua anak buahnya untuk memberi tempat meraka kepada Agatha dan Rivaldi. Dan menyuruh mereka mencari tempat yang lain.


" Nyonya ingin pesan apa?" tanya Rizal kepada Agatha.


" Tidak usah, Pak Rizal. Kebetulan saya dan Aldi baru saja makan siang tadi." Agatha menolak tawaran Rizal.


" Kalau Mama sudah makan, kenapa malah ikut bergabung di sini?" tanya Grace ketus. Grace sudah mengendus niat Mamanya yang akan mengacaukan acaranya kali ini.


Rizal menyentuh tangan Grace, berusaha menenangkan Grace agar dapat menahan emosinya.


" Memangnya kenapa Mama tidak boleh bergabung, Grace? Kamu ini 'kan anak Mama. Jadi tidak masalah 'kan? Kalau Mama ikut bergabung di sini?" tanya Agatha tak memperdulikan keberatan Grace akan kehadirannya di tengah-tengah rombongan Grace dan Rizal.


" Oh ya, kebetulan sekali ada kamu, ada Pak Rizal dan rekan-rekan kamu ditempatnya Pak Rizal. Jadi Mama bisa sekalian mengumumkan kepada semua yang hadir di sini." Agatha lalu menoleh ke arah Rizal.


" Pak Rizal, sebentar lagi Grace itu 'kan akan menyelesaikan masa hukumannya di tempat Pak Rizal. Artinya Grace sudah bebas melakukan apapun yang dia inginkan, bukan?" tanya Agatha kepada Rizal.


" Benar, Nyonya." jawab Rizal lugas.


" Pas sekali kalau begitu. Mumpung kalian berkumpul, karena Tante ingin mengenalkan calon tunangan Grace kepada kalian semua. Setelah keluar dari kantor Pak Rizal, Tante berencana akan mengadakan acara pertunangan antara Grace dengan Aldi ini." Agatha memperkenalkan Rivaldi sebagai calon tunangan Grace.


Tentu saja apa yang dikatakan oleh Agatha membuat Grace, Rizal dan anak buahnya terkesiap. Terlebih anak buah Rizal yang justru datang ke restoran itu karena minta ditraktir sebagai peresmian hubungan asmara antara Grace dan bos mereka. Tapi, kenapa Agatha justru memperkenalkan Rivaldi sebagai calon tunangan Grace.


" Mam, Mama ini apa-apaan, sih!?" Garce berbicara dengan nada menyentak pada Mamanya, Dia lalu menatap tajam ke arah Rivaldi yang dia duga sudah mempengaruhi Mamanya. Pria itu terlihat hanya tersenyum samar dengan menatap ke arah Grace.


Sedangkan Rizal seketika mengepalkan tangannya. Dia merasa kecewa karena Agatha yang mengenalkan Rivaldi sebagai calon tunangan Grace, padahal kemarin dia sudah meminta Agatha untuk memberikan kesempatan kepadanya. Agatha sendiri berkata ingin berdiskusi terlebih dahulu dengan Grace dan Om nya. Ternyata Agatha tidak melaksanakan janjinya itu. Rizal yakin jika Agatha tidak berdiskusi pada Grace manupun Om Daniel. Agatha sudah langsung mengetuk palu dan memilih Rivaldi sebagai calon tunangan Grace. Rizal merasakan sebuah tam paran atas sikap yang ditunjukkan oleh Agatha kepadanya.


" Grace, Mama ini sedang memikirkan masa depan kamu! Mama tidak ingin kamu terjebak ke dalam pergaulan yang salah lagi! Karena itu Mama ingin menerima lamaran Aldi yang ingin menjadikanmu istrinya." Agatha merasa apa yang dirinya lakukan sudah benar dengan menyelamatkan Grace dan menjodohkannya dengan pria yang tepat seperti Rivaldi.


Grace dan Rizal menatap Rivaldi yang tersenyum licik sambil menatap mereka berdua bergantian.


" Hmmm, maaf, Tante. Kok Mbak Grace mau dijodohkan sama Mas Aldi itu Bukannya Mbak Grace baru saja jadian sama Pak Rizal, ya? Ini kita kumpul di sini juga untuk merayakan jadiannya Pak Rizal dan Mbak Grace lho, Tan." Di saat karyawan lain menunjukkan wajah dan sikap tegang karena perdebatan antara Grace dan Agatha, Indra malah dengan konyolnya bertanya. Namun, tak lama Indra meringis, karena Yuanita yang duduk di samping Indra mencubit paha Indra meminta Indra tidak banyak bicara.


" Mam, Mama jangan seenaknya mengatur aku, ya!" Grace tentu saja menentang keinginan Agatha yang ingin menjodohkan dirinya dengan Rivaldi, karena dia yakin jika Rivaldi tidak sungguh-sungguh mencintainya setelah Rivaldi mengetahui jika dia dan Rizal telah menipu pria itu.

__ADS_1


" Grace, Mama rasa Mama perlu melakukan hal ini agar kamu tidak memilih pria yang salah! Mama ingin kamu menikah dan hidup bahagia dengan pria yang tepat!" Agatha merasa perlu memberi penekanan pada Grace dengan menegaskan jika pria pilihannya adalah yang terbaik untuk Grace.


" Maaf, Nyonya. Apa Nyonya yakin jika pria yang ingin Nyonya jodohkan ini adalah yang terbaik untuk Grace?" Kali ini Rizal ikut bersuara dengan tatapan mengarah kepada Rivaldi yang terus tersenyum tipis seakan menikmati perdebatan Grace dengan Agatha.


" Kenapa Nyonya tidak menyerahkan semua keputusan kepada Grace? Bukankah Grace sendiri yang akan menjalaninya?" lanjut Rizal yang berusaha membela Grace dari rencana perjodohan yang sedang direncanakan oleh Agatha dan mungkin rencana licik yang sedang dijalankan oleh Rivaldi.


" Pak Rizal, Aldi itu seorang pengusaha dan anak seorang pengusaha. Dia juga masih muda, sangat cocok dengan Grace yang masih muda juga, kan?! Dan yang pasti Aldi ini masih single belum pernah menikah dan tidak mempunyai anak. Jadi tidak membebani Grace jika mereka menikah nanti." Secara tidak langsung Agatha menyindir jika Rizal tidaklah sebanding jika harus bersaing dengan Rivaldi untuk mendapatkan Grace dari segi usia dan kemapanan dalam karir juga status.


" Kalau begitu, kenapa bukan Mama saja yang menikah dengan dia?! Bukankah Mama senang mencari pasangan pria yang lebih muda dari usia Mama?!" Sindiran Grace kali ini telak mengena di hati Agatha dan membuat Agatha terperanjat karena tidak menyangka jika Grace berani menyindirnya sekeras itu di hadapan banyak orang.


Sementara Rizal dan anak buahnya yang sejak tadi terlihat tegang menahan senyuman mendengar sindiran keras Grace kepada Mamanya.


" Grace! Kamu jangan bersikap kurang a jar sama Mama!" Agatha geram karena Grace berani menyindirnya di depan banyak orang.


" Mama sendiri yang memancing aku bersikap seperti ini! Asal Mama tahu, ya! Aldi itu tidak mencintai aku! Aku rasa dia punya maksud tersembunyi mendekati Mama! Oh ya, dia itu anak pengusaha di bidang Garment, kan? Apa Mama tidak takut desain-desain yang Mama buat akan dicuri olehnya lalu dipakai di perusahaan milik Papanya? Karena Aldi itu sangat ahli menyusup dalam suatu perusahaan. Mempelajari kelemahan dan mengambil keuntungan lalu mempengaruhi beberapa klien dari perusahaan itu untuk membelot memilih bekerja sama dengannya. Benar begitu 'kan, Aldi?" Kali ini Rivaldi yang terkena sindiran keras Grace.


Seketika Rivaldi memicingkan matanya dengan rahang mengeras mendengar sindiran tajam dari Grace.


" Jangan sembarangan menuduh kamu, Grace!" Agatha sudah pasti akan membela Rivaldi. Walaupun dia sendiri belum mengenal lebih jauh tentang Rivaldi.


" Aku tidak menuduh, Mam! Kalau Mama tidak percaya, tanyakan sendiri pada Aldi, apa tujuan dia menyamar menjadi karyawan di perusahaan Mahadika tanpa sepengetahuan Erlangga? Sementara dia sendiri mempunyai usaha yang bergerak di bidang sama dengan perusahaan milik Erlangga itu? Dia bersaing dengan cara yang tidak sehat. Dia juga ingin merebut istri Erlangga! Apa Mama pikir tindakan yang dia lakukan menunjukkan seorang pria sejati?" Grace sengaja membeberkan tingkah laku Rivaldi agar Mamanya itu terbuka jalan pikirannya dan tidak terus mendesaknya untuk bersama Rivaldi.


Agatha terkesiap mendengar penjelasan Grace soal Rivaldi membuatnya spontan menoleh kepada Rivaldi.


" Saya punya alasan kuat melakukan hal itu!" Rivaldi seolah tidak merasa terintimidasi dengan semua ucapan Grace dan tatapan mata Agatha kepadanya.


" Apapun alasanmu, pria licik sepertimu tidak pantas menjadi pasanganku!" tegas Grace.


" Permisi ..." Beberapa pelayan datang membawakan menu makanan yang dipesan oleh Grace.


" Terima kasih, Mbak." ujar Rizal setelah semua makanan sudah disajikan di meja.


" Mama dan Aldi sudah makan, kan? Jadi sebaiknya pergi saja, deh! Jangan mengganggu acara kami!" Grace justru mengusir Agatha dan Rivaldi untuk pergi menjauh dari meja yang dia pesan.


" Kamu ini benar-benar keterlaluan, Grace!" Agatha yang merasa kesal dan malu karena sikap Grace akhirnya memilih bangkit dan meninggalkan meja itu. " Ayo, kita pergi saja, Aldi!"


Rivaldi bangkit ingin menyusul Agatha.


Namun, pria itu sempet berpesan sebelum meninggalkan Grace dan Rizal. "Urusan kita belum selesai, Rena, Pak Rizal!" ucapnya.


" Wah, akan panjang ini urusannya. Tapi kita tetap dukung Pak Rizal dan Mbak Grace, kok!" Indra yang pertama berkomentar setelah kepergian Agatha dan Rivaldi.


" Bagaimana dia bisa menemukan kita, Pak?" tanya Sam.


" Seperti yang kau lihat, Sam. Dia memanfaatkan Nyonya Agatha," sahut Rizal.


" Apa ucapanku tadi tidak membahayakan Erlangga?" Grace seketika khawatir jika Rivaldi akan membalas dendam pada keluarga Erlangga.


" Aku sudah bicara pada Bondan tentang Rivaldi yang sudah mengetahui siapa kamu yang sebenarnya. Aku rasa Bondan dan anak buahnya sudah mengantisipasi. Lagipula ada hal yang akan membuat Rivaldi tidak akan berkutik jika mengetahui suatu rahasia yang sudah didapat oleh Tuan Erlangga." Rizal menenangkan Grace agar tidak terlalu khawatir.


" Ya, sudah kita mulai makan saja." Rizal menyuruh anak buahnya untuk segera makan. Mereka tidak bisa terlalu lama meninggalkan kantor. karena semua karyawan kecuali security ikut pergi makan bersama.

__ADS_1


Sementara di halaman parkir


" Apa benar yang dikatakan Grace tadi, Aldi?" Saat berjalan beriringan menuju perkiraan, Agatha menanyakan kejelasan soal ucapan Grace di depan Rizal dan anak buah Rizal.


" Saya bisa menjelaskan hal itu, Tante. Nanti lain waktu akan saya ceritakan. Tapi, saya melakukan hal tersebut karena saya membela Mama sambung saya yang dulu pernah menderita dan disakiti oleh keluarga besar Mahadika Gautama." Nada kebencian masih tersirat dalam ucapan Rivaldi saat menyebut nama Mahadika Gautama.


" Ya sudah, lain waktu Tante tunggu penjelasan kamu soal hal itu. Sampai jumpa lagi, Aldi," Saat sampai di mobilnya, Agatha berpamitan lebih dulu kepada Rivaldi. " Tante tetap percaya kepadamu!" Agatha menepuk pundak Rivaldi menyatakan dukungannya kepada Rivaldi untuk bisa mendapatkan Grace.


" Terima kasih, Tante. Sampai jumpa lagi ..." Rivaldi mempersilahkan Agatha yang ingin masuk ke dalam mobilnya. Dia menunggu Agatha meninggalkan retoran itu terlebih dahulu.


Rivaldi kembali menoleh ke arah pintu restoran dengan seringai tipis di sudut bibirnya.


" Aku tidak menyangka, seleramu hanya pria tua seperti Rizal itu!" cibirnya kemudian.


Dia memang kaget saat Agatha memberitahu jika Rizal berniat melamar Grace. Dan tadi dia lihat sendiri jika Grace menunjukkan cincin berlian yang melingkar di jari manis wanita itu. Cincin yang sebelumnya tidak pernah dia lihat sebelumnya dipakai oleh Grace saat menyamar sebagian Rena.


" Kita lihat bagaimana akhir dari permainan ini! Dia atau aku yang akan menguasaimu, Rena!" Rivaldi lalu memutuskan untuk ke mobilnya dan segera kembali ke kantornya.


***


Grace mendegus kasar setelah kembali ke kantor Rizal. Pertemuan dengan Mamanya bersama Rivaldi tadi di restoran Jepang sungguh di luar dugaannya. Bahkan Mamanya dengan jelas menentang hubungannya dengan Rizal. Grace yakin hal itu akan membuat Rizal malu karena dikatakan langsung di hadapan anak buah Rizal. Dan pasti juga akan menginjak harga diri Rizal sebagai laki-laki karena Agatha ingkar janji tidak menempati janjinya untuk mendiskusikan lamaran Rizal terlebih dahulu dengan Grace ataupun Om Daniel seperti janji yang diucapkan Agatha kepada Rizal.


" Tidak usah cemas! Tenang saja ..." Melihat Grace sejak tadi terlihat meredam emosi, Rizal mencoba menenangkan Grace agar tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


" Aku kesal sama Mamaku! Saat dia menikah dengan Gavin, dia tidak berpikir jika umur Gavin itu lebih muda delapan belas tahun dari umurnya!? Sekarang enak saja mempermasalahkan usia!" gerutu Grace kesal.


" Mamamu bilang tidak ingin kamu mengalami hal yang sama dengannya dan akhirnya gagal dalam berumah tangga." Rizal menjelaskan alasan Agatha yang pernah disampaikan kepadanya.


" Ya iyalah gagal! Yang kecintaan itu 'kan Mamaku saja, sementara Gavin sama sekali tidak mencintai Mama! Terang saja rumah tangga mereka gagal! Kalau kita 'kan beda!" umpat Grace lagi.


Rizal menaikan kedua alisnya seraya mengulum senyuman mendengar ucapan Grace.


" Kita beda? Kalau kita kenapa? Apa artinya kalau kita saling mencintai?" Di tengah kekesalan Grace, Rizal justru menggoda wanita cantik itu.


" Ya pokoknya beda saja! Katanya Gavin itu terpaksa menikah dengan Mama karena permintaan Mommy nya. Sementara kita 'kan tidak seperti itu! Tidak ada paksaan, kan di antara kita?" Agak sulit Grace mengakui berkata mencintai Rizal, dia justru menyamarkannya dengan kalimat yang berbeda.


" Tentu saja tidak ada paksaan, karena kita sama-sama saling mencintai, kan?" Rizal memeluk pinggang Grace dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Grace.


Grace pun mengikuti apa yang dilakukan Rizal. Dia pun memeluk pinggang Rizal lalu menenggelamkan wajahnya di dada pria tampan itu seraya mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Rizal. Jujur Grace merasakan kehangatan dan kenyamanan saat berada dalam dekapan tubuh kekar Rizal.


Rizal tak butuh lagi ucapan kata cinta dari Grace. Dari sikap yang ditunjukkan Garce padanya saat ini jelas sekali jika Grace tidak hanya mencintainya tapi wanita itu memang sangat membutuhkannya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2