
Rizal kembali ke kantornya selepas Ashar. Dia merasa ada yang harus dibicarakan serius denga Grace. Dua tindakan Grace yang merupakan kesalahan fatal bagi Rizal dianggapnya tidak dapat ditolerir. Pertama memperlihatkan video kepada Isabella dan yang kedua adalah tindakan kasar Grace yang menampar wajah Isabella di depan umum.
Perbuatan Grace sudah itu sudah sangat menyakiti hati Isabella, putrinya. Dan Rizal tidak bisa tinggal diam dalam masalah ini.
" Mana dia, Vit?" Saat sampai di lantai atas, Rizal langsung menanyakan keberadaan Grace.
" Nona Grace tidak kembali ke kantor, Pak." jawab Vito.
Setalah mendapat jawaban dari Vito, Rizal memutar langkahnya dan turun kembali ke lantai bawah. Dia ingin menemui Grace di rumah wanita itu karena dia tahu, Grace pasti kembali ke rumahnya.
Tak mendapat halangan dari security di rumah Grace, Rizal kemudian langsung masuk ke rumah yang baru beberapa bulan ini dihuni oleh Grace.
" Di mana Grace?" tanya Rizal pada ART di rumah Grace saat dia masuk ke dalam rumah.
" Non Grace ada di kamarnya, Pak." sahut Bi Saonah.
" Di mana kamarnya?" tanya Rizal kembali.
" Di lantai atas, Pak." Bi Saonah lalu mengantar Rizal sampai depan kamar Grace, setelah itu pergi meninggalkan Rizal atas permintaan pria itu.
Tok tok tok
Rizal langsung mengetuk pintu setelah sampai di depan kamar Grace.
" Grace, kita harus bicara! Keluarlah!"
Tak ada respon dari Grace meskipun Rizal sudah mengetuk pintu dan memanggil Grace.
Tok tok tok
" Grace, buka pintunya! Aku mau bicara!" Kembali Rizal meminta Grace membuka pintu.
Baru diketukan ketiga kalinya, Grace merespon dengan membukakan pintu untuk Rizal.
" Ada apa?" tanya Grace santai dengan tubuh bersandar di pintu dan tangan melipat di dada seakan tidak terjadi sesuatu. " Apa anakmu yang manja itu sudah mengadu padamu?" sindir Grace, sepertinya tahu apa yang ingin dibicarakan Rizal padanya.
" Apa maksudmu melakukan ini kepada putriku?!" ketus Rizal dengan kesal. " Kenapa kau menunjukkan video itu kepada Isabella?!" geram Rizal dengan rahang mengeras dan gigi mengerat.
" Oh, itu ... aku hanya kasih tunjuk anak kesayanganmu yang manja itu jika Papih tercintanya itu tidak sebaik yang dia kira! Dia menuduhku mengejarmu, mengatakan ' Papiku itu tidak suka wanita jahat sepertimu '. Buktinya apa?? Dia lihat sendirikan bagaimana Papihnya yang paling sempurna itu menikmati juga ciumanku! Jadi, dia tidak usah menudingku macam-macam!" ketus Grace melakukan pembelaan.
" Itu bukan alasan bagimu untuk bisa melakukan kekerasan kepada Isabella! Kau menampar putriku! Aku, orang tuanya saja, yang membesarkan dia, yang menafkahi dia, tidak pernah sekalipun aku bersikap kasar apalagi main tangan kepada Isabella! Tapi, kau ... kau seenaknya saja mempermalukan putriku dengan menamparnya di hadapan umum! Kau pikir aku bisa menerima kesalahanmu itu?!" Wajah Rizal terlihat memerah. Dengan tangan berkacak pinggang.
" Aku berbuat kasar kepada putrimu?? Apa putrimu manjamu itu cerita juga, jika sebelum aku menampar dia, dia lebih dulu menyiram wajahku dengan orange juice?! Apa kau pikir perbuatan putrimu itu tidak tergolong perbuatan kasar?!" Grace membalas perkataan Rizal yang menuduhnya berbuat kasar kepada Isabella.
Rizal terkesiap saat mendengar jika Isabella menyiram wajah Grace dengan minuman. Selama ini dia tahu putrinya itu adalah anak yang baik, tidak mungkin sampai berbuat sejahat itu.
" Asal kau tau, ya! Almarhum Papaku juga tidak pernah berbuat kasar terhadapku, tidak juga menyiram wajahku dengan minuman! Sudah bagus anakmu itu hanya aku tampar, tidak aku ton jok mukanya sampai babak belur!" Grace merasa apa yang dia lakukan sebagai perlawanan terhadap perbuatan Isabella sebelumnya kepada dirinya.
" Bella tidak mungkin berbuat sekasar itu!" Rizal tak mempercayai ucapan Grace. Rizal tidak bisa menerima kenyataan jika putrinya telah berbuat kasar.
" Kalau kau tak percaya, silahkan kau cek sendiri, tanyakan sendiri pegawai kafe itu. Apa yang sudah dilakukan putri manjamu itu?! Kalau perlu lihat rekaman cctv di sana!" Grace kesal karena Rizal menganggap putrinya tidak bersalah.
" Seandainya dia sampai melakukan hal itu, pasti ada pemicunya. Kau pasti sudah berkata-kata yang menyinggung hatinya!" Rizal masih berusaha membela putrinya. " Aku tahu orang seperti apa dirimu, yang tidak pernah pernah perduli pada orang lain atas setiap ucapanmu yang selalu menyakitkan! Bella pasti melakukannya karena kau sudah berkata buruk terhadapnya!" Sudah pasti Rizal akan membela Isabella.
__ADS_1
" Terus saja kau membela anakmu itu! Kau selalu menyalahkan aku dan membenarkan sikap anakmu! Memangnya selama ini yang mulai ribut itu siapa?? Bukankah dari pertama juga anakmu yang selalu mencari perkara denganku!? Bukankah dari awal anakmu itu yang tidak bersikap baik kepadaku!?" Terus dituding dan disalahkan oleh Rizal, Grace tak terima dan terus membela dirinya.
" Kau ini seorang detektif, harusnya bisa lebih profesional dalam menilai suatu masalah! Seharusnya kau bisa menilai secara objektif bukan dari sudut pandang subjektif hanya karena dia itu putrimu!" sindir Grace.
" Kau tahu sendiri bagaimana putri manjamu itu membenciku, jadi mulai detik ini jangan dekati aku dan jangan memaksaku mengikuti aturanmu!" pungkas Grace kemudian menutup pintu dengan sangat kencang.
Braaakkk
Rizal tersentak mendengar suara pintu kamar Grace yang ditutup dengan sangat kencang. Dia mendengus kasar sebelum akhirnya meninggalkan rumah Grace kembali ke kantornya.
Kembali ke kantornya, Rizal berjalan dengan langkah lebar, berlari menaiki anak tangga dan langsung masuk ke dalam ruangannya dengan menutup pintu dengan cukup kasar.
Melihat sikap bosnya, Vito menduga jika bosnya itu sedang marah besar.
" Akan ada drama apalagi setelah ini?" gumam Vito.
Sementara di dalam kamarnya, Grace langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur setelah menutup kencang pintu kamarnya.
Dia menghempas nafas cukup keras karena kesal disalahkan oleh Rizal, padahal jelas-jelas Isabella lah yang memulai keributan itu. Dia ingat dari awal bertemu, Isabella sudah menunjukkan rasa tak suka terhadapnya. Namun, Rizal selalu membela Isabella meskipun jelas-jelas Isabella yang salah.
***
" Pih, apa Papih sudah mengusir wanita itu?" Saat makan malam, Isabella menanyakan soal nasib Grace kepada Rizal.
Rizal berhenti mengunyah nasi di dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan Isabella. Tak lama dia kembali mengunyah dan menelan makanannya. Dia pun menaruh sendok di atas piring, lalu meneguk air minum dari gelas di depannya.
" Papih minta Bella jujur sama Papih. Apa benar sebelum Grace menampar kamu, kamu menyiram wajah Grace dengan air minuman?" tanya Rizal menyelidik.
Isabella mende sah. Dia tentu sudah menduga jika Papihnya akan menegurnya karena perbuatannya tadi.
" Papih tidak terpengaruh karena Grace! Papih hanya bertanya, apa benar kalau Bella menyiram wajah Grace? Kenapa Bella bersikap kasar seperti itu? Papih tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu kepada Bella, kan?!" Rizal menyesalkan sikap kasar Isabella kepada Grace.
Isabella seketika menundukkan wajahnya, karena dia merasa Papihnya itu lebih membela Grace daripada dirinya.
" Bella melakukan hal itu karena membela harga diri keluarga kita, Pih. Bella melakukan itu karena Bella tidak ingin dia terus menghina Papih! Berapa kali Bella katakan sama Papih? Jika dia itu tidak menghormati Papih sebagai orang yang lebih tua. Jika dia itu orang baik, dan bersikap santun, tidak mungkin Bella juga berbuat sekasar itu terhadapnya, Pih." Bertamengkan menjaga kehormatan keluarga, Isabella memberikan alasan kenapa dia nekat melakukan hal itu pada Grace.
" Maafkan Papih, karena Papihlah yang membawa kamu pada situasi seperti ini." Rizal menyadari jika dia lah yang membuat situasi menjadi kacau seperti saat ini.
" Pih, asalkan Papih menjauhkan wanita itu dari lingkungan Papih, Bella yakin Papih akan aman." Kembali Isabella menekankan agar Rizal segera menyingkirkan Grace dari kantor Papihnya itu.
" Papih tidak tahu harus menempatkan dia di mana lagi, Sayang. Masa hukuman dia juga tidak akan lama lagi. Tapi Papih janji, Papih tidak akan melakukan hal yang tidak sepantasnya Papih lakukan. Papih juga minta kamu jangan lagi berinteraksi dengan dia agar tidak terjadi lagi hal seperti siang tadi di kafe intu." Rizal berjanji tidak akan melakukan interaksi yang berlebihan dengan Grace lagi. Dia juga meminta agar Isabella pun tidak berurusan dengan Grace kembali.
" Berapa kali Papih bilang jika Papih tidak akan tergoda dengan wanita itu? Nyatanya, Papih justru melakukan hal yang benar-benar tidak Bella duga." Isabella tidak begitu saja mempercayai Rizal. Padahal selama ini dia selalu menanamkan kepercayaan penuh kepada Rizal. Tapi saat ini, rasa percaya itu seperti memudar perlahan.
" Selama wanita itu ada di dekat Papih, Bella tidak yakin Papih tidak akan tergoda kembali dengan segala niat busuknya!" Isabella juga tidak bisa percaya dengan Grace. Karena dia menganggap Grace adalah seperti ular berbisa yang kapan saja bisa menjebak Papihnya.
" Papih minta kamu percaya sama Papih. Papih janji, Papih tidak akan mengecewakan kamu lagi, Sayang." janji Rizal.
Isabella mende sah, dia tidak bisa menolak dan hanya bisa menerima janji Papihnya, dengan harapan Papihnya itu akan benar-benar bisa memenuhi janjinya tersebut.
***
Seperti biasa, setiap kali terjadi pertengkaran antara Grace dan Rizal, setelahnya mereka berdua saling menghindar dan tidak banyak saling berinteraksi. Dan untuk Grace sendiri, hal itu bukanlah suatu masalah, karena itulah yang diharapkan oleh dirinya.
__ADS_1
" Grace, belakangan ini aku lihat kamu sama Pak Rizal kok tidak pernah pergi bersama? Bukannya waktu itu Pak Rizal bilang kalau jam makan siang kamu itu adalah jatahnya ya??" tanya Yuanita. Kebetulan selepas jam kerja, dia bersama Jamal dan Indra mampir ke rumah Grace terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah mereka masing-masing.
" Tidak usah diambil pusing, deh! Aku malah bersyukur dia tidak menguasai jam makan siangku!" sahut Grace.
" Aku kok heran dengan hubungan kalian berdua. Sering berdebat, marahan, ujung-ujungnya malah bibir beradu bibir." Jamal menanggapi hubungan Rizal dan Grace yang aneh di matanya. " Bisa tidak sih, kalau lagi bertengkar ingat pas waktu kissing atau sebaliknya pas lagi kissing ingat waktu saling menyindir gitu?" ledek Jamal kembali.
" Iya lho, aneh juga lihat kalian berdua. Jujur saja deh, Mbak! Sebenarnya sudah ada tumbuh benih-benih cinta belum di hati kalian?" Indra ikut menyampaikan pertanyaan.
" Benar, Grace. Masa sih, sudah beberapa kali bersentuhan fisik, bibir bertemu bibir tapi tidak ada seerrr di hati? Ini yang menimbulkan pertanyaan," ujar Yuanita.
" Kalau aku berciuman dengan wanita secantik Mbak Grace, bisa-bisa langsung mimpi basah deh malamnya." Indra menimpali sambil terkekeh.
" Aku juga kalau dicium pria model Pak Rizal, pasti gelisah tidak akan bisa tidur kali, Grace." Yuanita menyambung ucapan Indra.
" Kalian bertiga heboh banget, deh! Apa tidak bosen aku bilang ke kalian jika aku tidak suka dengan bos kalian itu? Kalau aku sama dia, bisa-bisa orang menganggap aku ini wanita simpanan bos kalian." Grace mengedikkan bahunya membayangkan jika dia benar menjalin hubungan bersama Rizal.
" Ya ampun, susah sekali mau dapetin ibu bos yang bisa mensejahterakan isi kantong anak buahnya." celetuk Indra seraya terkekeh. Karena selama ini Grace memang senang membagi rezeki kepada rekan-rekannya itu. Entah berupa uang tunai ataupun berbentuk makanan.
Dua bulan kemudian ...
Waktu berjalan normal, tak pernah lagi ada huru-hara yang terjadi di antara Grace dan juga Rizal. Situasi di kantor Rizal pun nampak tenang.
Grace sendiri hanya menunggu waktu sekitar tiga bulan lagi untuk menyelesaikan masa hukuman dari David Richard. Dia bahkan sudah menyuruh orang mengurus visa untuk kepergiannya ke Jerman setelah ini.
" Mari silahkan masuk dulu, Nyonya."
Grace yang kebetulan sedang beraktivitas di lantai bawah menoleh ke arah pintu, saat dia mendengar suara Vito berbicara dengan tamu.
Dilihatnya Vito bersama seorang wanita setengah baya, dan Vito mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sofa.
Jika diperhatikan dari penampilannya. Wanita itu bukan wanita sembarangan. Tentu saja Grace dapat melihat dari cara berpakaian dan sepatu juga tas yang dikenakan oleh wanita itu.
" Perkenalkan saya Vito, Nyonya. Saya anak buah Pak Rizal. Ada yang bisa kami bantu kepada Nyonya ... maaf dengan Nyonya siapa ini?" terdengar Vito memperkenalkan dirinya.
" Saya Helen, saya ingin meminta bantuan dari sini untuk menyelidiki orang." Wanita paruh baya yang mengaku nama Helen itu menjelaskan tujuannya datang ke kantor Rizal..
" Baik, Nyonya. Sebentar saya sampaikan ke Pak Rizal." Vito meninggalkan Helen untuk memberitahu Rizal tentang tamu yang ingin bertemu dengan bosnya itu.
" Calon klien besar sepertinya," bisik Yuanita kepada Grace, membuat Garce menoleh ke arah Yuanita.
" Biasanya kalau kliennya seperti ibu itu. Kasusnya pasti seputar pelakor," lanjut Yuanita.
" Mungkin suami ibu itu punya wanita simpanan dan minta kita menyelidikinya. Soalnya aku sering banget dapat tugas itu." Yuanita menduga-duga.
" Mari, Nyonya. Silahkan ikut saya ..." Tak berapa lama Vito pun kembali dan membawa Helen bertemu dengan Rizal.
Setengah jam kemudian, dari arah pintu, Bondan masuk ke dalam kantor Rizal. Sepertinya ada tugas yang harus dijalankan kembali oleh Rizal atas perintah Bos dari Bondan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ....
Happy Reading❤️