
Rizal mengerjapkan mata seraya menggelengkan kepala berharap pemandangan itu menghilang dari hadapannya. Namun, pemandangan indah nan menggoda di depannya saat ini tetap tak berlalu.
Bahkan, seakan terhipnotis dengan godaan di hadapannya, Rizal justru bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar Grace hingga dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar.
" Apa kau sengaja ingin menggodaku?"
Grace yang sedang mengambil pakaian ganti seketika terperanjat mendengar suara Rizal dari arah pintu kamar.
" Hei, apa yang kamu lakukan disitu!?" Grace bergegas menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan pakaian yang baru dia ambil.
" Kau mengintipku!?" Grace kesal karena Rizal sudah semakin bertindak berani terhadapnya.
" Bukankah kau sendiri yang memancing? Kenapa tidak menutup pintu kalau ingin berganti pakaian?" Rizal melipat tangan di dada seakan tak ingin disalahkan. Matanya tetap menatap tubuh Grace yang tertutup pakaian yang belum dipakai oleh Grace.
" Keluar!" Grace mengambil sembarang benda dari meja rias lalu melemparnya ke arah Rizal. Namun, dengan sigap Rizal menangkapnya.
" Cepatlah berpakaian, jangan memancing pria tua ini untuk memangsamu!" Seringai Rizal lalu melempar benda yang tadi dilempar Grace ke tempat tidur kemudian berlalu meninggalkan kamar Grace. Walaupun bisikan-bisikan yang memintanya untuk menghampiri dan menyentuh tubuh Grace begitu kuat. Akan tetapi akal sehat masih bisa mengendalikan dirinya hingga Rizal menjauh dari kamar Grace.
" Ke mana tadi setelah dari pesta? Bukankah kau meninggalkan pesta lebih awal? Kenapa baru sampai jam segini?" tanya Rizal bernada menyelidik ketika Grace sudah berganti pakaian dan keluar dari kamarnya.
" Aku ini bukan Isabella, dan kau ini bukan orang tuaku. Kenapa kau terlalu ingin tahu urusanku?" protes Grace karena menganggap Rizal terlalu ikut campur urusan pribadinya.
" Kau ini sedang menjalankan misi, kau harus ingat itu!" Rizal memperingatkan posisi Grace saat ini. Tentu tidak ingin Grace terpengaruh oleh Rivaldi.
" Rivaldi membawaku ke cafe rooftop apartemen ini," sahut Grace jujur.
" Ke cafe? Untuk apa? Bukankah kalian baru menghadiri wedding party? Untuk apa pergi ke cafe?" selidik Rizal.
" Kami ini 'kan sedang berkencan, Pak tua! Tentu kami mencari tempat yang lebih enak buat berduaan, bisa pegangan tangan, bebas berpelukan. Kalau di pesta itu banyak orang, jadi kurang nyaman buat kencannya." Melihat Rizal yang terlihat seperti cemburu saat mengetahui dirinya pergi berdua dengan Rivaldi ke cafe, Grace sengaja mengatakan hal yang dia anggap akan membuat hati Rizal memanas.
Mata elang Rizal menatap tajam Grace hingga kedua alis pria tampan itu bertautan.
" Kalian berpelukan?" tanya Rizal dengan menahan emosi.
Dengan mengedikkan bahunya, Grace pun menjawab, " Ya, begitulah ...."
" Kalian baru berkenalan dan membiarkan dia memelukmu!? Sebaiknya kau jangan membiarkan orang mudah menyentuhmu! Apalagi orang yang baru kenal, jika tidak dianggap wanita murahan!" Kesal karena Grace mengakui telah berpelukan dengan Rivaldi, membuat Rizal hilang kendali bahkan mengatakan kalimat yang menyakitkan bagi Grace.
" Memangnya siapa kamu berhak melarangku disentuh oleh orang lain!? Dan kau, kau menyuruhku tidak membiarkan orang lain menyentuhku, sedangkan kau sendiri seenaknya saja menciumku! Kau melarang orang lain agar kau saja yang bisa menikmati tubuhku, begitu!?" Grace pun tak kalah galak membalas kata-kata Rizal.
" Ingat ya, Pak tua! Aku hanya menjalani hukuman dan kau tidak berhak mengatur urusan pribadiku termasuk kedekatanku dengan Rivaldi! Aku tidak akan membocorkan misi ini. Tapi, seandainya misi ini selesai dan kami tetap ingin menjalin hubungan serius, kau tidak berhak melarangnya! Rivaldi sepertinya tertarik padaku. Aku rasa dia juga sebenarnya orang baik, tidak ada salahnya kami menjalani hubungan serius." Grace lalu bangkit dan berjalan ke arah pintu meminta Rizal untuk meninggalkan apartemen.
" Keluarlah! Aku mau istirahat ..." usir Grace pada Rizal.
Rizal bangkit dan mengikuti arah langkah Grace hingga kini berdiri tepat di hadapan wanita itu. Rizal memangkas jarak makin dekat dengan Grace lalu tangannya menangkup wajah po los Grace yang sudah tidak bermake-up.
" Jangan terlalu dalam dengan Rivaldi. Dia itu pria licik. Siapa tahu dia sebenarnya sedang menjebakmu. Dan jangan biarkan dia begitu mudah menyentuhmu! Aku tidak suka itu!" Rizal mengakhiri ucapannya dengan memberikan sentuhan lembut di bibir Grace hingga membuat wanita itu terkesiap dengan tindakan Rizal.
" Tidurlah ..." Rizal lalu membuka pintu kemudian pergi meninggalkan apartemen Grace membuat Grace hanya terdiam mematung.
" Kenapa pria tua itu senang sekali menciumku?" tanyanya lugu seraya menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup oleh Rizal.
Grace mengerjapkan mata seakan ingin menyadarkan dirinya dari ketertegunannya tadi. Kemudian mengunci pintu apartemen lalu masuk kembali ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa penat.
__ADS_1
***
Rizal merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan satu tangan melipat di belakang kepala dan dijadikan bantal olehnya. Rizal membayangkan tindakannya hari ini yang begitu agresif terhadap Grace. Sudut bibirnya terangkat membayangkan saat dia seakan menguasai Grace sebelum Grace pergi ke pesta tadi.
Rizal merasa dirinya bagaikan singa kelaparan yang sudah lama tak menemukan mangsa hingga dia lepas kendali mencum bu Grace begitu berga irah. Ah, sungguh benar-benar gi la, pikir Rizal.
" Astaga, apa aku sudah jatuh cinta pada wanita itu?" Mengingat dia tidak suka kedekatan Grace dengan Rivaldi membuatnya merasa jika dirinya sedang dilanda rasa cemburu.
Rizal juga merasa jika Grace tidak menolak dengan sentuhannya. Wanita itu justru membalas membuat has ratnya menguasai wanita itu semakin bergelora.
" Apa dia juga merasakan hal yang sama denganku? Dia tidak menolak, dia justru membalasku. Tapi, kenapa dia juga membiarkan Rivaldi menyentuhnya?!" Rizal mendengus kasar. Dia membayangkan jika Grace dan Rivaldi akan melakukan hal yang sama dengannya.
" Dasar wanita nakal! Tidak bisa menjaga hatinya hanya pada satu orang saja!" umpat Rizal kesal, seakan dia dan Grace sudah berkomitmen menjalani suatu hubungan.
" Aarrgghh ...! Kenapa aku memikirkan hal itu!?" Rizal mengacak rambutnya, karena dia merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta dan sedang merasakan cemburu.
Tiba-tiba Rizal teringat akan Isabella. Bagaimana reaksi putrinya jika tahu apa yang sudah dia lakukan? Dia yakin putrinya itu pasti akan marah besar. Namun, dia juga ingat saran yang dikatakan oleh Bondan. Jika dia juga butuh seorang pendamping. Dia tidak mudah tertarik terhadap wanita walaupun banyak wanita yang berusaha mendekatinya. Tapi, entah mengapa dia begitu cepat luluh pada Grace. Wanita yang jauh dari kriteria wanita idamannya.
Rizal merasa dia harus memutar otak, mencari alasan yang tepat agar Isabella bisa luluh terhadap Grace. Dan tentu saja itu bukan pekerjaan mudah untuknya.
Keesokkan harinya. Grace baru saja keluar dari kamar mandi ketika suara ponselnya berbunyi. Grace segera meraih benda pipih itu. Kening Grace berkerut melihat nomer Rivaldi yang saat ini menghubunginya.
" Halo?" Grace akhirnya menjawab panggilan telepon dari Rivaldi.
" Hai, sudah bangun?" sahut Rivaldi dari seberang.
" Sepertinya belum," balas Grace tertawa kecil.
" Lalu, siapa yang berbicara denganku sekarang ini?" balas Rivaldi masih belum menghentikan tawanya.
" Hmmm,. mungkin kembarannya," balas Grace asal bicara.
" Hahaha, benar kau punya kembaran? Kenalkan padaku kalau begitu." Rivaldi membalas candaan yang dilontarkan oleh Grace.
" Untuk apa kau ingin berkenalan dengan kembaranku?" Grace menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Sepertinya berbicara dengan Rivaldi ternyata sangat menyenangkan untuknya.
" Siapa tahu kembaranmu itu lebih mudah aku dekati dan siapa tahu dia lebih tertarik denganku daripada saudaranya." Rivaldi berseloroh.
" Hmmm, nanti aku tanyakan dulu, apa dia mau berkenalan denganmu!? Oh ya, ada apa kau meneleponku pagi-pagi begini?" tanya Grace kemudian.
" Hanya ingin menyapa saja. Apa siang ini kamu ada acara? Bagaimana kalau kita pergi makan siang di luar?" Rivaldi mengajak Grace untuk pergi dengannya siang nanti.
" Hmmm, di mana?" tanya Grace menyahuti tawaran dari Rivaldi.
" Kamu maunya di mana?" Rivaldi menyerahkan pilihan kepada Grace.
Grace merasakan ada suara panggilan lain yang masuk ke dalam ponselnya, hingga dia menjauhkan benda itu dari telinganya. Dia melihat panggilan masuk dari Rizal. Namun, dia mengacuhkan panggilan masuk dari pria itu karena dia masih melakukan sambungan telepon dengan Rivaldi.
" Kamu 'kan yang mengajak. Kamu yang pilihkan tempatnya, dong!" Grace kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan Rivaldi.
" Oke, oke, tidak usah marah-marah seperti itu. Nanti wajah cantiknya hilang, lho." Rivaldi justru menggoda Grace mendengar nada ketus Grace.
" Iiisshh, dasar tukang ngegombal!" cibir Grace menahan senyuman. Sebagai wanita muda tentu saja rayuan dari Rivaldi membuat hatinya senang.
__ADS_1
" Aku tukang ngegombal? Kenapa kamu bilang aku seperti itu? Apa buktinya aku sedang menggombal?" tanya Rivaldi tak terima dikata sedang merayu.
" Sudah, deh! Jangan bicara itu lagi." Grace tak ingin kembali membahas hal tersebut.
" Jadi, kamu mau, kan?"
" Oke, deh. Terpaksa aku terima."
" Terpaksa? Aku tidak memaksa, aku hanya berharap kamu terima," ucap Rivaldi terkekeh.
" Kita bertemu di mana nanti?" tanya Grace.
" Nanti aku jemput kamu di apartemenmu jam sebelas. Bagaimana?"
" Oke, sampai jumpa nanti. Bye ..." Grace ingin mengakhiri percakapan telepon dengan Rivaldi, karena dia merasa terganggu dengan panggilan masuk dari Rizal.
" Oke, bye ..."
Setelah panggilan teleponnya dengan Rivaldi berakhir, dia mengangkat panggilan telepon dari Rizal yang masih saja menghubunginya.
" Ada apa?" tanya Grace datar.
" Bicara dengan siapa tadi? Aku hubungi sibuk terus teleponnya," tanya Rizal yang terdengar kesal karena Grace tidak juga mengangkat panggilan telepon darinya.
" Oh, tadi ada telepon dari Rivaldi," sahut Grace secara jujur mengakui jika dia baru berkomunikasi dengan Rivaldi sehingga membuat panggilan telepon dari Rizal tidak dia angkat.
" Rivaldi? Mau apa dia pagi-pagi telepon kamu!?" tanya Rizal dengan nada tidak suka.
" Mau mengajak kencan siang nanti." Grace sengaja memancing amarah Rizal. Dia yakin Rizal pasti akan kesal jika tahu dia pergi dengan Rivaldi.
" Sebaiknya kau tolak tawarannya itu, Grace! Kau jangan terlalu sering bertemu dengan dia!" Rizal melarang Grace bertemu dengan Rivaldi. Dan menyuruh Grace menolak tawaran Rivaldi.
" Kau ini, orang dia mau mengajak makan, kenapa aku harus tolak? Itu 'kan namanya rezeki, tidak boleh ditampik." Grace sepertinya senang sekali menggoda Rizal.
" Kalau kau ingin diajak makan siang, aku juga bisa melakukan hal itu!" Rizal benar-benar diselimuti api cemburu hingga akal sehatnya tertutupi oleh kecemburuannya.
" Tapi, kalau aku makan siang denganmu, nanti anak kesayanganmu itu marah. Mending aku makan siang dengan Rivaldi saja, dong! Jelas-jelas dia masih single." Grace menahan tawanya.
Klik ... Tut ... Tut ... Tut ....
Grace memandang ponselnya, karena sepertinya Rizal sudah menutup panggilan teleponnya.
" Yaaah, dia marah ..." Grace terkikik
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1