
Rizal membiarkan Grace yang memeluknya dan bergelayut manja di dadanya, seolah istrinya itu enggan untuk melepaskan pelukan dari tubuhnya.
" Katanya mau menjemput Bella, ini masih manja-manja gini sama suami?" ledek Rizal membelai kepala Grace.
" Kalau bukan untuk menjemput Bella, aku juga sebenarnya kepingin ikut Papih ke Bogor." Entah mengapa, Grace terasa berat meninggalkan Rizal, tidak seperti biasanya.
" Aku ini mau urus kerjaan, bukan mau berlibur, Grace. Lagipula, tumben sekali kamu kepingin ikut, ada angin apa ini?" Rizal terkekeh kembali meledek istrinya.
" Rasanya tidak ingin jauh-jauh dari Papih," ucap Grace.
" Aku tidak akan menginap, kok! Sore juga sudah akan kembali." Rizal menjelaskan jika dia tidak akan lama meninggalkan Grace. " Biasanya juga kalau habis jemput Bella kamu tidak kembali ke sini, kan? Kamu biasanya juga nunggu aku di rumah." Rizal merasa aneh dengan sikap istrinya saat ini.
" Aku tidak tahu, Pih. Rasanya hari ini berat banget ingin pisah dengan Papih," keluh Grace tidak mengerti yang dia rasakan saat ini.
" Ya sudah, nanti aku usahakan pulang cepat. Kamu mau menjemput Bella, tidak? Atau nanti aku suruh Indra saja yang menjemput?"
" Tidak usah, aku saja, Pih." Grace mengurai pelukannya dari tubuh Rizal. " Aku berangkat, ya, Pih!? Assalamualaikum ..." Walau merasakan berat, Grace akhirnya pergi meninggalkan Rizal dengan memberikan satu sentuhan hangat di bibir sang suami.
" Waalaikumsalam, hati-hati bawa mobilnya! Jangan terlalu ngebut!" balas Rizal mengusap wajah cantik Grace. Sebelum akhirnya Grace meninggalkan Rizal dengan langkah berat.
Sepeninggal Grace, Rizal tidak langsung kembali ke kantornya. Dia memilih bersantai sejenak menyadarkan tubuhnya di sofa kamar milik Grace.
Ddrrtt ddrrtt
" Pak, orang yang mau melamar menjadi driver sudah datang."
Sebuah pesan dari Indra masuk ke dalam ponsel Rizal. Rizal memang sudah berpesan kepada anak buahnya, untuk mengabari dirinya jika orang yang berniat melamar menjadi driver untuk Isabella datang, karena dia dan Vito akan secepatnya pergi ke Bogor.
" Oke, Dra. Thanks." Rizal sempat membalas pesan dari Indra, sebelum akhirnya dia pun bangkit lalu berjalan ke luar dari kamar istrinya untuk kembali ke kantor.
Rizal melihat sebuah sepeda motor terparkir di jalan depan kantornya. Dia tidak tahu sepeda motor itu milik siapa? Dia lalu menanyakan pemilik sepeda motor itu kepada Pak Jun setelah sampai di teras kantornya.
" Motor siapa itu, Jun?" Rizal menunjuk motor di depan gerbang kantornya.
" Sepertinya punya orang yang mau melamar tadi, Pak." jawab Pak Jun.
" Kenapa tidak parkir di dalam saja? Ya sudah, kamu tolong awasi motornya, Jun. Barangkali kena si al ada yang ambil." Rizal menyuruh Pak Jun mengawasi motor itu.
" Baik, Pak." sahut Pak Jun.
Rizal lalu masuk ke dalam kantornya setelah mendengar jawaban dari Pak Jun. Namun saat dia membuka pintu, dia melihat seseorang sedang memu kul wajah Indra, membuat dia terkejut. Ditambah suara Vito yang berteriak.
" Pak, itu Joe!"
__ADS_1
Emosi Rizal langsung tersu lut saat mengetahui pria yang hadir di hadapannya saat ini adalah pria yang selama ini diburunya.
" Ba jingan, kau!" Rizal langsung menarik kemeja Joe. " Berani sekali kau mengantar nyawamu kemari!"
Buugghh
Rizal melayangkan pu kulan dengan sangat emosi kepada Joe, hingga membuat tubuh Joe terhem pas di atas meja.
" Berani sekali kau ingin menodai putriku, si alan!" Rizal tidak dapat mengontrol emosi kembali menye rang Joe. Namun sebelum bo gem mentah mengarah ke wajah Joe, dia merasakan rasa sakit di pinggang bagian kirinya akibat benda tajam yang menu suk bagian pinggangnya itu.
" Aaarrrggghh ...!" Wajah Rizal memerah penuh amarah menahan sakit karena luka tu sukan tadi. Rizal masih sempat mence kik leher Joe dengan tangannya.
Joe yang merasa terdesak kembali menu sukan gunting itu di perut Rizal untuk yang kedua kalinya membuat Rizal melepas tangannya di leher Joe dan menjauhkan tubuhnya dari Joe sambil memegangi bagian perutnya.
" Astaghfirullahal adzim!"
" Ya Allah ...!"
" Pak Rizal!"
Vito, Indra dlan Yuanita segera menghampiri Rizal yang banyak mengeluarkan darah dari perutnya.
Melihat Rizal bertekuk lutut seraya memegangi perutnya dan karyawan Rizal fokus menghampiri Rizal, Joe memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari kantor Rizal.
Pak Jun yang tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam kantor tidak menghalangi saat Joe lari dengan terburu-buru ke luar kantor Rizal.
" Berhenti kau, ba jingan!!" Vito mengejar Joe yang meninggalkan motor milik Ronny di depan kantor Rizal, karena Joe terlalu panik dan takut tertangkap oleh Vito.
" Ada apa ini?" Pak Jun kebingungan melihat Vito terlihat marah mengejar Joe, hingga akhirnya dia masuk ke dalam kantor.
" Astaghfirullah adzim! Pak Rizal kenapa, Dra?" Pak Jun terperanjat melihat Rizal yang terjatuh di lantai dengan gunting masih tertan cap di dekat pinggang bosnya itu.
" Vito mana, Pak Jun?" Indra nampak senewen melihat bosnya terluka.
" Mas Vito mengejar orang itu, Dra." jawab Pak Jun.
" Cepat panggil Vito, Dra! Kita harus selamatkan Pak Rizal. Darahnya banyak sekali keluar!" Yuanita menyuruh Indra segera memanggil Vito dan mengutamakan keselamatan nyawa bosnya itu.
" Biar saya saja yang menyusul Mas Vito!" Pak Jun kembali keluar dari kantor untuk memanggil Vito.
***
Meoonngg
__ADS_1
Grace terkesiap saat dia mendengar suara kucing yang mengeong cukup kencang dan seperti kesakitan. Grace melirik ke arah spion untuk melihat apa yang terjadi di belakang.
Grace membulatkan matanya karena dia seperti melihat kucing tergeletak di jalan. Dia pun melihat seseorang melambaikan tangan ke arah mobilnya. Hal tersebut membuat Grace menghentikan laju mobilnya. Dia lalu menjalankan mundur mobilnya kembali untuk mendekati orang itu.
Grace segera keluar dari mobil untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Seketika itu juga perutnya merasa mual melihat darah dari kucing yang terkapar tak bernyawa di jalan yang tadi dilewatinya.
" Astaghfirullahal adzim!" Grace memalingkan wajah dan menutup mulutnya, karena perutnya yang tiba bergolak.
" Mbak tadi menabrak kucing ini." Orang yang melambaikan tangan tadi menjelaskan apa yang baru saja terjadi dengan kucing yang ditabrak oleh Grace.
" Saya tidak tahu ada kucing tadi, Pak." Grace mengatakan jika dia tidak sengaja menabrak kucing itu.
" Tidak masalah kalau memang tidak sengaja. Tapi Mbak harus menguburkan batang kucing ini dengan layak, Mbak. Agar Mbak tidak terkena si al." Orang itu memaparkan apa yang harus dilakukan oleh Grace terhadap kucing yang mati itu.
" Ya sudah, Bapak bisa tolong saya menguburkan kucing itu?" Grace lalu mengambil .dompet di Sling bag nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar Soekarno - Hatta dan menyodorkan kepada orang itu agar mau membantu mengurus mengubur batang kucing yang telah ditabraknya.
" Boleh, Mbak. Tapi kucing ini harus dikubur dengan baju yang Mbak pakai." Orang itu menyebutkan syarat yang harus dipenuhi oleh Grace.
" Baju saya?" Grace terkesiap mendengar syarat yang harus dia penuhi.
" Pakai sweater yang Mbak pakai juga tidak apa-apa." Orang itu menunjuk cardigan rajut yang dikenakan oleh Grace.
" Oh, iya, Pak." Garce segera melepas cardigannya itu dan menyerahkan kepada orang itu.
Setelah beberapa menit, penguburan kucing itu selesai, Grace segera berpamitan kepada orang yang menolongnya tadi.
" Terima kasih atas bantuannya, Pak. Saya permisi dulu kalau begitu."
" Iya, Mbak. Hati-hati berkendaraannya," sahut orang itu.
Grace kembali ke dalam mobilnya. Sementara jantungnya masih berdetak sangat kencang. Hatinya pun merasa tidak tenang, padahal dia sudah selesai mengurus penguburan kucing yang dia tabrak tadi.
" Ya Allah, kenapa perasaanku rasanya tidak enak sekali, ya?" Grace menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya dari perasaan-perasaan aneh yang dia rasakan sejak ingin meninggalkan suaminya tadi.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1