TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Setipis Kulit Ari


__ADS_3

Setelah beberapa menit, mereka menjeda pagutan mereka karena membutuhkan pasokan oksigen dengan kening mereka saling bersentuhan.


" Bagaimana, Pak tua? Kau menyukainya?" bisik Grace menatap Rizal yang sedang memejamkan matanya. Pria itu sepertinya sedang mencoba menetralisir perasaannya yang bergolak.


" Nona, sebaiknya Anda kembali ke kamar Anda." Tersadar jika apa yang telah mereka perbuat adalah satu kesalahan, Rizal menjauhkan tubuhnya dari Grace.


" Kenapa? Memangnya ciumanku tadi tidak enak rasanya?" tanya Grace melihat Rizal tidak ingin melanjut aktivitas in tim dengannya.


" Tolong turunlah, Nona!" Rizal mati-matian meredam serbuan ga irah yang menyeruak dan mulai mengoyak pertahanannya dari aksi Grace yang terus saja melancarkan godaan kepadanya.


" Apa mau kita lanjut di kamarku?" tanya Grace justru menawarkan berpindah tempat. Grace menyadari jika saat ini Rizal sedang sangat tersiksa dengan perbuatannya kali ini.


" Tidak!" tolak Rizal tegas. " Sebaiknya Nona istirahat saja, saya akan menunggu di mobil." Rizal bangkit hingga membuat Grace terjatuh di sofa, karena wanita itu tidak juga turun dari pangkuannya.


Rizal mengambil jaketnya dan melangkah ke arah pintu apartemen Grace lalu menghilang dari pintu apartemen itu.


Grace bangkit dan berlari mengejar Rizal lalu berteriak, " Hei, Pak tua! Apa kau tidak takut aku kabur?" Grace menyeringai menatap punggung Rizal yang semakin menjauh darinya. Rizal sendiri seakan tidak perduli, karena dia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Meneruskan bersama Grace adalah ancaman bagi dirinya saat ini.


Grace menutup kembali pintu apartemen kemudian menguncinya. Dia melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk melihat hasil rekaman cctv di ruang tamu apartemennya itu.


Grace menatap layar kamera, melihat aksinya saat dia menggoda Rizal sampai akhirnya adegan in tim mereka berciuman itu terjadi. Grace tersenyum lalu mematikan layar monitor yang menampilkan rekaman tadi kemudian berjalan menuju peraduan.


Sedangkan di mobilnya yang terparkir di basement apartemen Grace, Rizal nampak gelisah dan menyesal karena dia terbawa permainan yang dilancarkan wanita cantik itu.


" Ck, kenapa aku bisa serapuh ini menghadapi wanita itu?" sesal Rizal berdecak. Dia merasa imannya setipis kulit ari, hingga akhirnya dia terhanyut dengan sentuhan bibir Grace.


Dengusan nafas kasar Rizal terdengar disambung dengan usapan kasar tangannya di wajah pria tampan itu.


" Si al! Harusnya aku mengikuti saran Vito menyuruh Sam atau Jamal yang mengawasi bocah nakal itu!" Rizal merutuki dirinya sendiri yang terjebak dengan umpan Grace, karena dia tahu jika Grace sengaja menggodanya. Dan itu akan dijadikan senjata bagi wanita itu untuk mengoloknya kelak.


***


Rizal meregangkan otot-ototnya, menggeliat seraya menguap dan melirik arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima pagi.


Rizal memijat kepalanya yang terasa sakit. Semalam dia merasakan sulit untuk memejamkan matanya. Manisnya bibir Grace seakan masih terasa di bibirnya. Dia pun harus berusaha meredakan ga irahnya yang seketika muncul karena bersentuhan dengan Grace. Jika dia tadi tidak dapat mengendalikan, dia yakin mereka tidak hanya melakukan ciuman tapi bisa lebih dari itu. Apalagi dia sudah bertahun-tahun tidak menyalurkan has ratnya sebagai seorang pria dewasa terhadap seorang wanita.

__ADS_1


Rizal meraih ponselnya untuk mengecek beberapa pesan masuk di alat komunikasinya itu. Ada beberapa pesan masuk yang muncul di ponselnya, salah satunya dari sang putri tercintanya.


" Assalamualaikum, Pih. Kata Bi Tinah Papih tidak pulang. Papih menginap di mana? Papih tidak bersama dengan cewek jahat itu 'kan, Pih?"


Pesan dari Isabella itu masuk ke ponselnya sekitar lima belas menit yang lalu. Dia tidak menduga jika putrinya sampai mengecek keberadaannya di rumah. Bukankah seharusnya dirinya yang memantau keberadaan putri semata wayangnya itu saat ini yang sedang pergi ke luar kota?


" Papih menginap di kantor, Sayang." Rizal langsung membalas pesan masuk dari Isabella dengan berbohong mengatakan jika dia bermalam di kantornya. Sebelumnya Rizal memang pernah bermalam di kantornya jadi dia rasa alasan itu dapat diterima oleh Isabella.


" Bagaimana kamu di sana, Sayang?" Rizal kembali mengetik pesan dan mengirimkannya.


Menunggu sekitar lima menit, tak ada jawaban dari putrinya, Rizal lalu keluar dari mobil untuk mencari toilet dan mushollah karena dia ingin melakukan sholat Shubuh terlebih dahulu.


Waktu sudah hampir mendekati pukul enam pagi. Rizal memilih keluar dari basement untuk mencari sarapan karena perutnya sudah terasa lapar akibat semalam tidak dia isi dengan makanan.


Saat ini Rizal sedang menunggu antrian orang-orang yang membeli nasi kuning di depan apartemen Grace. Terlihat cukup ramai pengunjung yang antri membeli sarapan itu. Karena kebanyakan dari mereka adalah orang tua yang membeli makanan untuk sarapan anak-anaknya sekolah.


" Bu, saya pesan satu porsi, pakai telur bulat." Kini giliran Rizal yang kebagian dilayani oleh penjual nasi kuning itu.


" Pakai sambal tidak, Pak?" tanya Ibu penjual.


" Sarapan, Pak?" tanya seseorang di depan Rizal saat Rizal duduk di kursi panjang terbuat dari kayu.


Rizal menoleh orang yang menyapanya hingga dia mendapati seorang pria setengah baya mengenakan pakaian security.


" Oh, iya, Pak." sahut Rizal, kendatipun dia tidak mengenal siapa orang menyapanya itu.


" Bapak kerja di apartemen itu?" Melihat orang yang menyapanya menggunakan pakaian security, Rizal menduga jika pria itu adalah petugas keamanan yang bekerja di apartemen Grace tinggal.


" Benar, Pak. Kalau tidak salah, Bapak ini yang menolong wanita yang waktu itu lehernya tersayat, kan? Saya waktu itu berjaga di basement, Pak." Penjelasan dari pria itu membuat Rizal akhirnya mengenali orang yang menyapanya tadi.


" Oh, maaf, Pak. Saya tidak ingat karena saat itu terlalu panik." Rizal menyampaikan permohonan maafnya, karena dia tidak mengingat security yang melihatnya membawa Grace.


" Tidak apa-apa, Pak. Saya memaklumi, kok. Pasti saat itu Bapak sedang kalut dan panik melihat istri Bapak yang terluka itu," ucap security itu.


Rizal mengerutkan keningnya mendengar security tadi mengatakan jika Grace adalah istrinya.

__ADS_1


" Silahkan, Pak." Ibu penjual nasi kuning menaruh sepiring nasi dan teh hangat di meja depan Rizal duduk.


" Terima kasih, Bu." Tak ketinggalan Rizal mengucapkan terima kasih kepada Ibu penjual nasi.


" Bagaimana kondisi istri Bapak itu?" Security itu kembali membahas soal Grace. Bahkan Rizal saja belum sempat membantah tentang siapa Grace yang sebenarnya. Lagipula, kenapa security itu menduga jika Grace adalah istrinya? Padahal Grace yang hampir seumuran Isabella lebih pantas menjadi putrinya.


" Dia bukan istri saya, Pak." Tidak ingin security itu salah paham soal hubungannya dengan Grace, Rizal akhirnya mengatakan jika dia dan Grace bukanlah pasangan suami istri.


" Oh, maaf, Pak. Saya kira Istri Bapak. Soalnya. Bapak terlihat kwahatir sekali saat membawa wanita yang terluka itu." Security langsung meminta maaf karena telah salah menduga.


" Tidak apa-apa, Pak." sahut Rizal. " Saya makan dulu, Pak." Rizal meminta ijin untuk menyantap makanannya terlebih dahulu.


" Oh, silahkan, Pak." balas security yang bekerja di tempat apartemen yang di huni Grace.


***


Ddrrtt ddrrtt


Grace meraba sisi tempat tidurnya, mencari ponselnya yang sejak tadi terus berdering. Grace membuka sedikit kelopak matanya untuk melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Deretan nomer yang tidak tersimpan di ponselnya berjejer di layar ponselnya itu. Dia tidak tahu nomer milik siapa? Namun dia yakin jika yang menghubunginya saat ini adalah Rizal.


Dan benar saja, saat dering telepon itu berhenti, Grace melihat sebuah pesan masuk dari nomer yang sama dengan yang melakukan panggilan tadi.


" Saya menunggu Anda di basement, sebaiknya segeralah turun ke bawah!"


Pesan bernada perintah, siapa lagi pengirimnya jika bukan Rizal. Grace melihat waktu di ponselnya yang menunjukkan pukul setengah sembilan.


" Pantas saja Pak tua itu terus saja membangunkanku," gumam Grace yang akhirnya turun dari peraduan menuju ke arah kamar mandi.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2