TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Singa Tua Versus Singa Betina


__ADS_3

Rizal memfokuskan pandangannya pada layar cctv yang berada di ruangan dekat tempat Grace duduk, setelah wanita itu keluar dari ruangannya. Netranya terus memperhatikan apa yang dilakukan Grace setelah keluar dari ruangannya.


Mata elangnya memperhatikan saat Grace dan kedua anggota timnya berbincang. Entah apa yang diperbincangkan, tidak terlalu jelas terdengar olehnya. Namun, yang menarik perhatiannya adalah saat Grace tertawa bersama Indra dan Jamal.


Selama mengenal dan bersama wanita itu, baru kali ini Rizal melihat Grace bisa tertawa lepas. Hal itu membuat keningnya mengeryit. Bukan penasaran pada apa yang dibicarakan oleh mereka. Tapi, rasa aneh karena Grace terlihat akrab dan menikmati obrolannya bersama Indra dan Jamal. Berbeda jauh saat berhadapan dengannya, wanita itu selalu tidak bersahabat jika berbicara dengannya.


" Sudah kuduga, dia pasti hanya mengganggu anak buahku saja!" Entah mengapa? Melihat keakraban Grace dengan anak buahnya, Rizal seakan tidak suka.


" Aku menyuruhnya bekerja! Bukan untuk merumpi!" umpat Rizal kesal seraya bangkit dari kursi dan melangkah ke arah pintu ruangannya.


" Vito, suruh Jamal dan Indra menghadapku sekarang!" Bahkan Rizal menyuruh Vito memanggil kedua orang yang berbincang dengan Grace untuk segera menghadapnya.


" Baik, Pak."


Setelah mendapatkan balasan dari Vito, Rizal kembali masuk dan duduk kembali di kursinya.


Tak sampai lima menit bagi Rizal untuk menunggu, kini kedua anak buahnya itu sudah berada di hadapannya saat ini.


" Ada apa Pak Rizal memanggil kami?" tanya Jamal yang mengira jika Rizal akan menugaskan dirinya dan Indra untuk menanggani kasus.


" Sudah berapa lama kalian bekerja dengan saya?" Rizal menatap kedua anggota timnya dengan tajam. Bahkan pertanyaan yang keluar dari mulut Rizal pun terdengar serius dan dingin.


" Saya lima tahun, Pak." jawab Indra


" Saya enam tahun lebih, Pak." sahut Jamal.


" Kalian berdua sudah lama di sini. Kalian tahu tugas kalian di sini itu untuk bekerja, kan? Bukan untuk mengonbrol apalagi bergosip seperti di tempat tongkrongan?!" Ketus Rizal mulai menampakkan kemarahannya.


Seketika Jamal dan Indra saling berpandangan. Mereka langsung berpikir jika Rizal mengetahui mereka sedang berbincang-bincang dengan Grace di bawah tadi. Selama bekerja dengan Rizal, mereka sama sekali tidak pernah terkena tegur seperti sekarang ini, apalagi untuk hal yang mereka anggap tidaklah penting.


Di sela aktivitas mereka, mereka sering berbincang dan bercanda seperti tadi dan tidak pernah ada masalah selama pekerjaan yang mereka kerjakan diselesaikan dengan baik dan benar. Lalu, kenapa sekarang ini dipermasalahkan? Apa jangan-jangan Rizal mendengar isi percakapan mereka dengan Grace? Itu pikiran yang terlintas di benak Indra dan Jamal.


" Hmmm, kami minta maaf jika kami melakukan kesalahan, Pak." Jamal menyampaikan permohonan maafnya.


" Iya benar, Pak. Kami minta maaf." sambung Indra menimpali.


" Apa yang kalian bertiga bicarakan tadi? Kalian membicarakan saya? Kalian menertawakan saya,?!"


Jamal dan Indra kembali saling berpandangan dengan bola mata melebar. Mereka dan Grace memang membicarakan Rizal. Tapi, tidak mungkin mereka menjawab jujur jika mereka memang membicarakan bosnya itu.


" Hmmm, kami ... kami hanya ingin tahu apa yang terjadi setelah Mbak Grace dipanggil Pak Rizal. Itu saja kok, Pak." jawab Jamal.


" Jamal benar, Pak. Soalnya kami merasa kasihan kalau Mbak Grace kena marah Pak Rizal. Sebab tadi yang pertama kali memulai pertengkaran itu Isabella, Pak. Isabella yang mulanya mendekati Mbak Grace terus berkata kasar kepada Mbak Grace, Pak." Indra terkesan membela Grace.


" Jadi kamu menganggap anak saya yang salah?" Walaupun Rizal tadi tidak menyalahkan Grace. Namun, dia tidak suka Indra terang-terangan membela Grace.


" Apa kamu diam-diam suka terhadap wanita itu lalu kamu menyalahkan anak saya?!" Rizal justru menuduh Indra menaruh hati pada Grace hingga melakukan pembelaan kepada Grace.


" Oh, tidak, tidak, Pak. Bukan begitu maksud saya." Indra serba salah menjelaskan alasannya kepada Rizal. " Saya hanya ....,"


" Sudahlah, sekarang kalian kembali ke meja kalian! Fokus pada pekerjaan kalian! Bukan untuk mengobrol apalagi untuk bergosip!" Rizal seakan tidak ingin mendengarkan pembelaan dari Indra dan justru menyuruh kedua anak buahnya itu segera pergi meninggalkan ruangannya.


Sikap aneh yang ditunjukkan oleh Rizal sontak membuat Jamal dan Indra terheran. Bahkan mereka membahasnya saat mereka berdua pulang bertugas.


Saat ini mereka berdua sedang berbincang di ruangan tamu rumah Grace. Sambil minum kopi dan menyantap makanan ringan yang diorder Grace via online, mereka membahas soal keanehan sikap Rizal terhadap mereka setelah waktu kerja usai.


" Masa Pak Rizal menuduh aku naksir Mbak Grace, hanya karena aku membela Mbak Grace? Aku ini 'kan sadar diri, tidak berani melihat terlalu ke atas." Indra justru terkekeh melihat Rizal mencurigainya.


" Selama enam tahun bekerja dengan Pak Rizal, baru kali ini aku kena tegur beliau. Apalagi ditegurnya bukan hal yang bersangkutan dengan pekerjaan secara langsung." Jamal menimpali.


" Kami itu sudah biasa bercanda setiap hari, Mbak. Tapi baru kali ini apes kena marah Pak Rizal," sambung Jamal.


" Iya, Pak Rizal itu orangnya tegas tapi jarang marah sama karyawannya. Makanya kami itu respek sama beliau karena beliau punya wibawa. Karena itu kita sempat kaget dengan video kemarin." Indra menyeringai. Jika urusan video yang dikirim Grace, dia terlihat sangat bersemangat mengomentari.

__ADS_1


" Tapi, kami maklum, sih. Karena sudah lumayan lama Pak Rizal itu menduda," tambahnya kemudian dibarengi dengan setengah tertawa.


" Nah, itu kalian maklum kalau bos kalian itu sudah lama menduda. Jadi ya dimaklumi saja kalau dia marah-marah. Namanya juga orang sudah tua, tidak ada istri yang mengurus juga, jadinya seperti itu." Grace langsung menanggapi dengan nyinyiran.


" Pak Rizal belum tua-tua banget kok, Mbak! Masih di bawah empat puluh. Masih keren dan ganteng begitu, kok!" Jamal ikut menimpali. " Kita saja yang usianya jauh di bawah Pak Rizal masih kalah kalau bersaing soal penampilan fisik," lanjutnya.


" Tapi, ngomong-ngomong, Mbak Grace tidak ada rasa gitu sama Pak Rizal? Secara Mbak 'kan pernah melakukan sesuatu dengan Pak Rizal." Kembali jiwa kepo Indra meronta-ronta.


" Harus berapa kali aku bilang? Kalau aku itu tidak suka singa tua itu?! Aku bisa mendapatkan pria yang lebih muda daripada harus tertarik sama pria yang lebih pantas jadi Papa aku!" sanggah Grace. Entah sudah berapa kali dia menegaskan jika dia tidak tertarik pada Rizal.


" Wah, tidak ada ketertarikan saja, Mbak Grace terlihat ciamik sekali beradegan in timnya sama Pak Rizal, apalagi kalau beneran ada rasa ya, Mbak? Makin panas, panas, panas pastinya... hahahaha ..." Indra tertawa terbahak merespon jawaban Grace.


***


Keesokan harinya, saat masuk ke dalam bangunan kantornya. Pandangan Rizal langsung berpusat pada tempat duduk yang biasa dihuni Grace selama hampir tiga bulan ini. Namun, tak dijumpai penampakkan wanita itu di tempatnya.


" Pagi, Pak." sapaan para pegawainya seakan menyadarkan Rizal yang terlalu fokus menatap ke arah tempat Grace.


" Pagi ..." jawab Rizal lalu menaiki anak tangga menuju ruangan kerjanya. Dan ternyata di lantai atas pun Rizal tak menjumpai sosok Grace.


" Pagi, Pak." Vito menyapa saat melihat Rizal muncul dari arah tangga.


" Pagi, di mana dia, Vit?" tanya Rizal seraya membalas sapaan Vito.


" Siapa maksud Bapak?" Vito justru balik bertanya heran. Karena dia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Rizal.


" Grace. Saya sudah suruh dia untuk kembali ke atas," jawab Rizal.


" Oh, mungkin Nona Grace belum datang, Pak. Hmmm, bukankah Nona Grace selalu telat jika tiba di kantor, Pak?" Vito sudah mulai hapal dengan jam kerja Grace. Mungkin karena merasa bukanlah pegawai dari kantor Rizal, Grace mempunyai jam kerja sendiri, itu pikiran Vito.


" Jam segini masih belum datang?!" Rizal melirik ke arah arlojinya. " Dia pikir ini kantor nenek moyangnya sampai belum datang juga!?" gerutu Rizal berjalan menuju ke arah ruang kerjanya.


Sementara Vito langsung mengerutkan keningnya. Sebenarnya Rizal sendiri sudah tahu soal kebiasaan wanita itu yang sering datang terlambat dan pulang lebih cepat. Namun, selama ini tidak pernah ada komplain dari Rizal. Baru kali ini saja dia melihat bosnya itu mengomentari keterlambatan kedatangan Grace di kantornya.


Di rumahnya, Grace sendiri baru selesai mandi setelah melakukan olah raga untuk menjaga stamina dan bentuk tubuhnya agar tetap terlihat oke.


Menggunakan kaos berwarna kuning mustard dan jeans robek di bagian lutut, Grace akhirnya datang ke kantor milik Rizal.



" Pagi, Mbak Grace." sapa Pak Abidin, security di kantor Rizal selain Junedi.


" Pagi," sahut Grace lalu mengeluarkan uang seratus ribu dari dompetnya yang dia serahkan kepada Pak Abidin. " Nih, untuk Bapak," ucapnya kemudian.


" Ini uang apa, Mbak?" tanya Pak Abidin heran.


" Untuk beli makan, beli rokok, beli bensin. Cukup tidak?" tanya Grace.


" Oh cukup, Mbak. Lebih dari cukup. Malah bisa buat setor uang dapur lima puluh ke bini di rumah." Pak Abidin menyahuti dengan terkekeh." Alhamdulillah, terima kasih banyak, Mbak." lanjutannya sambil mencium uang yang diberi oleh Grace.


Setelah Pak Abidin menerima uang pemberiannya, Grace masuk ke dalam kantor Rizal.


" Morning," sapa Grace seraya melirik jam dinding yang hampir mendekati jam sepuluh pagi.


" Pagi, Mbak Grace ....*


" Pagi, Grace ....*


Beberapa pegawai Rizal membalas sapaan Grace. Karena Grace memang sudah mulai berbaur dengan anggota tim Rizal lainnya. Selama tiga bulan pergaulannya terbatas dengan pegawai Rizal membuat dirinya mau tidak mau harus membiasakan diri berinteraksi dengan mereka.


" Mulai hari ini aku pindah ke atas lagi, atas perintah bos kalian." Grace memberitahu kepada pegawai di lantai bawah.


" Yaaahh, sepi dong di sini ..." Indra menimpali. Indra adalah pagawai Rizal yang memang paling akrab dengan Grace.

__ADS_1


" Kalian harus membiasakan diri. Sepuluh bulan ke depan, aku juga sudah tidak di sini, kan?" Grace tersenyum membalas Indra.


" Setelah dari sini, kamu akan ke mana, Grace?" tanya Yuanita.


" Mungkin kembali ke Jerman," sahut Grace.


" Pasti kita-kita akan kangen kamu, Grace," ucap Yuanita kembali.


" Iya, nih, Mbak. Nanti tidak ada yang suka mentraktir makanan buat kita-kita lagi ..." keluh Indra menimpali.


" Itu gampang, nanti aku bisa transfer uang untuk kalian bersenang-senang, kok." Grace merangkul pundak Indra, dan menjanjikan jika dia tidak akan melupakan staf Rizal yang selama ini menjadi teman-temannya.


" Tapi tetap beda kalau orangnya tidak ada di sini, Grace." ucap Yuanita sedih.


" Memangnya kamu mengharapkan aku terus di sini, gitu?" Grace memutar bola matanya. " Aku justru berharap agar cepat keluar dari tempat ini, agar aku bisa terbebas dari singa tua bos kalian itu!" sambung Grace.


" Eheemmm ...!" obrolan mereka terjeda saat suara orang berdehem terdengar dari atas tangga. Dan mereka semua terperanjat saat mendapati sosok Rizal yang sedang berdiri di ujung anak tangga seraya berkacak pinggang.


" Apa perkataan saya kemarin kurang jelas, Jamal, Indra?!" tanya Rizal dengan nada ketus.


***


Setelah duduk di kursi kerjanya, Rizal melihat layar komputer yang terhubung dengan cctv di pintu masuk kantornya untuk memantau kedatangan Grace. Dan setelah menunggu hampir lima belas menit, dia melihat kemunculan Grace dari balik pintu. Namun, bukannya segera naik ke lantai atas, Grace justru terlihat asyik berbincang dengan beberapa orang pegawai di lantai bawah.


Rizal mendengus saat dia melihat Grace dengan santai berbincang bahkan wanita itu merangkulkan tangannya dengan ke pundak Indra yang duduk di kursinya. Apalagi saat dia melihat Indra dan Jamal ikut mengobrol seolah tidak menggubris peringatannya kemarin saat dia tegur.


Rizal lalu bangkit dari kursinya dan beranjak meninggalkan ruangan kerjanya.


" Ada apa, Pak?" Vito yang sedang beraktivitas terkejut saat melihat Rizal keluar dari ruangannya dengan langkah lebar.


Tak menanggapi pertanyaan Vito, Rizal kini berdiri di ujung anak tangga mendengarkan anak buahnya dan Grace berbincang santai.


" Aku justru berharap agar cepat keluar dari tempat ini, agar aku bisa terbebas dari singa tua bos kalian itu!"


Kali ini telinga Rizal mendengar sendiri Grace menyebutnya dengan kata singa tua di hadapan anak buahnya. Dia sengaja berdehem kencang.


" Ehemmm ...!"


Rizal melihat semua yang ada di bawah menatapnya. Wajah ketakutan langsung terlihat di wajah anak buah Rizal saat mengetahui dirinya sedang memantau mereka yang sedang berbincang. Tapi, itu tak berlaku bagi Grace. Seperti biasa, wanita itu tidak pernah menunjukkan rasa takut terhadap dirinya.


" Apa kau datang ke sini hanya untuk mengganggu pegawai saya bekerja?!" tanya Rizal menatap dengan sorot mata elangnya kepada Grace.


" Dan kalian, apa yang saya katakan kemarin masih kurang jelas?!" Sorot mata Rizal kini beralih ke arah Indra dan Jamal yang kemarin baru dia tegur.


" Maaf, Pak." Jamal dan Indra kompak menyampaikan permohonan maafnya dengan rasa bersalah.


" Kamu, saya tunggu di ruangan saya!" Rizal lalu berlalu dari hadapan anak buahnya kembali ke dalam ruangannya.


" Kau lihat sendiri, kan? Ini yang membuat aku ingin cepat keluar dari sini. Bosan melihat singa tua itu sok mengatur hidupku!" ucap Grace kemudian mengikuti apa yang diperintahkan oleh Rizal.


" Kena marah lagi dia ..." sesal Indra merasa kasihan kepada Grace karena pasti Rizal akan marah besar karena mendengar langsung apa yang diucapkan oleh Grace.


" Tenang, Bro! Dia itu galak seperti singa betina, mana takut dia sama Pak Rizal," celetuk Jamal " Singa tua versus singa betina,"' lanjutnya sambil terkikik.


" Sudah-sudah, kalian jangan bergosip terus! Nanti kena tegur Pak Rizal lagi, tidak keluar bonus tahunan, tahu rasa kalian!" Sam yang tak mengikuti percakapan rekan-rekannya dari awal menasehati agar tidak meneruskan obrolan mereka.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2