
Grace selesai mengirimkan hasil rekaman cctv di ruang tamu apartemennya ke alamat email kantor Rizal yang dia dapatkan sore tadi dari Vito. RG Special Agent mempunyai dua alamat email. Satu alamat email yang hanya bisa dibuka oleh Rizal. Satu lagi alamat email yang dapat diakses oleh semua karyawan. Dan alamat yang dipakai oleh Grace untuk mengirimkan videonya adalah alamat email yang bisa diakses oleh semua pegawai kantor Rizal.
Perkataan menyakitkan Rizal yang menyamakan dirinya seperti wanita penghibur membuat Grace sakit hati. Dan rasanya dia tidak puas jika tidak membalas rasa sakitnya itu pada Rizal. Grace sama sekali tidak menyadari jika dirinya lah yang memancing Rizal berpendapat seperti itu.
" Kita lihat saja, bagaimana rasanya dipermalukan di depan anak buahmu ini, duda tua si alan!" umpat Grace geram.
Grace lalu mengambil paspornya, dia menaruh dokumen penting itu di dalam tasnya. Dia berencana akan pergi ke Singapura setelah dia melancarkan aksi balas dengannya kepada Rizal. Grace kemudian membuka aplikasi untuk memesan tiket pesawat, karena dia berencana kabur besok.. Dia memilih Singapura sebagai tempat persembunyian sementara waktu, karena visa untuk ke Jerman belum selesai dia urus.
***
Rizal menoleh ke arah pintu ruang kerjanya saat pintu itu terbuka. Dia melihat Grace yang masuk lalu mengunci pintu ruang kerjanya itu.
" Kenapa Anda kunci pintu ruangan saya, Nona?" protes Rizal merasa tidak nyaman karena Grace mengunci pintu ruangan kerjanya.
" Biar tidak ada pegawaimu yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ini seperti tadi," ujar Grace mengantongi kunci pintu ke dalam saku kemejanya
" Berikan kuncinya, Nona! Saya tidak ingin pegawai saya salah paham jika pintu ruangan kerja saya terkunci dan tahu Nona ada bersama saya di sini!" Rizal meminta Grace untuk menyerahkan kunci pintu itu padanya.
" Kalau kau berani, ambil saja sendiri!" Grace menunjuk saku di bagian dada kemejanya.
Tentu saja arah yang ditunjuk oleh Grace tepat berada di salah satu asset kembar wanita cantik itu.
" Nona tolong berikan!" Walau Rizal mengulurkan tangannya, sudah pasti dia tidak berani mengambil sendiri kunci itu.
" Kan sudah aku bilang, ambil saja sendiri! Nih ...!" Grace justru membusungkan dadanya seakan menantang Rizal.
Rizal harus menelan salivanya, apalagi belahan perbukitan itu terlihat jelas terlihat di matanya.
" Ambil nih!" Grace manarik tangan Rizal hingga menyentuh salah satu asset kembar Grace di mana kantung berisi kunci pintu ruang kerja Rizal berada.
Rizal dibuat tercengang dengan sikap Grace yang mengarahkan tangannya ke dada wanita itu. Bahkan Grace tak membiarkan tangannya lepas seakan meminta dia menyentuh bukitnya itu.
__ADS_1
" Ee, Nona ..." Rizal semakin kaget saat satu tangan Grace lainnya mengambil tangan kiri Rizal lalu mengarahkan ke bagian bukit yang lain.
" Aaakkhhh ..." Grace mende sah saat kedua tangan Rizal menyentuh puncak kembarnya.
Rizal seketika menatap Grace yang menatapnya penuh damba, apalagi suara de sahan yang terdengar dari mulut Grace membuat dirinya seakan terhipnotis pada wanita di hadapannya saat ini.
Rizal langsung meremas benda yang disentuhnya membuat Grace kembali mengeluarkan suara yang menandakan wanita itu merasakan kenikmatan. Apalagi saat tangan Grace tiba-tiba merangkul dan menarik tengkuknya lalu mencium dan melu mat bibir Rizal, saat itu juga Rizal seakan tak berpijak bumi. Rizal seketika terhayut dengan sentuhan Grace, bahkan membalas pagutan Grace. Tak membutuhkan waktu lama mereka berdua terbuai, saling melu mat dan bertukar saliva dengan penuh ga irah.
Rizal mengangkat tubuh Grace di depan tubuhnya tanpa melepaskan penyatuan bibir mereka hingga dia menjatuhkan tubuh Grace di atas sofa.
Sementara tangan Grace sibuk melucuti kancing kemeja yang dikenakan oleh Rizal, membuat dada bidang yang ditumbuhi bulu itu terlihat olehnya.
Merasakan Grace melepas kancing pakaiannya, Rizal membalas lebih ekstrim dengan merobek pakaian Grace, membuat wanita itu menekik.
" Iiihhh!! Papih nakal, deh!" Grace kini menyilangkan tangan menutupi dadanya yang hanya mengenakan BRA.
" Nona yang mulai menggoda saya." Rizal membuka penutup bukit kembar Grace hingga kini memperlihatkan pemandangan indah yang memanjakan matanya. Dengan cepat dia menjelajah kedua perbukitan itu. Rizal bagaikan singa kelaparan yang terlepas dari kandangnya dan menemukan mangsa di depan mata.
Grace terus melenguh saat merasakan permainan Rizal di dadanya membuat darahnya berdesir.
" Sudah? Nona yang mulai menggoda dan Nona menyuruh saya menghentikannya? Tidak semudah itu, Nona!" Rizal kembali melu mat bibir Grace dengan rakus. Bibir yang sejak awal menciumnya membuat dirinya salah tingkah itu kini benar-benar dikuasi oleh Rizal hingga mereka berdua membutuhkan pasokan oksigen.
" Kau benar-benar membuat saya gi la, Nona!" desis Rizal di telinga Grace ketika pagutan mereka terjeda.
" Benarkah, Pak tua?" Grace kini mendorong tubuh Rizal dari tubuhnya, lalu bangkit dan menjatuhkan tubuh Rizal di sofa dengan sudut berlawanan dari posisi dia sebelumya.
" Kini giliranku, Pak tua!" Grace melepas celana yang dipakai Rizal sampai memperlihatkan senjata pria itu yang terlihat siap siaga.
Membalas apa yang tadi Rizal lakukan di dadanya, kali ini Grace berganti memberikan layanan istimewa membuat Rizal berkali-kali menge rang, karena sentuhan Grace di senjatanya memberikan sensasi yang sudah lama dia tidak rasakan.
" Bagaimana, Pak tua? Kau menyukai pelayanan dari wanita penghibur seperti aku ini?" Grace seolah menyindir perkataan Rizal sebelumnya
__ADS_1
" Kau benar-benar bocah nakal." Rizal tersenyum bahagia seraya membelai kepala Grace.
Ddrrtt ddrrtt
" HP mu bunyi, Pak tua." Grace menoleh ke arah ponsel Rizal yang ada di meja kerja pria itu.
" Biarkan saja!" Rizal tidak perduli pada bunyi telepon itu, karena dia benar-benar sedang merasakan kenikmatan di senjatanya karena sentuhan Grace.
Ddrrtt ddrrtt
Grace menjauhkan mulutnya dari senjata milik Rizal karena dia merasa terganggu dengan bunyi telepon itu.
" Angkat dulu telepon itu, agar tidak mengganggu aktivitas kita!" Grace kembali menyuruh Rizal mengangkat teleponnya, karena dia tidak nyaman dengan bunyi telepon itu.
" Ck, mengganggu saja!" gerutu Rizal, merasa kesal kesenangannya terusik dering telepon yang berbunyi. Pria itu pun lalu mengambil ponselnya. Dia melihat nomer tanpa nama yang muncul di layar ponselnya itu
" Halo! Siapa ini?! Mengganggu orang sedang asyik saja!" Merasa terganggu karena dia sedang merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakan, membuat Rizal membentak orang yang saat ini meneleponnya.
" Pih. Kok, Papih marah begitu?"
" Bella?" Saat mendengar suara Isabella di ponselnya, Rizal seketika tersentak, bahkan langsung bangkit dan membuka matanya lebar-lebar.
" Papih kenapa? M-memangnya Papih sedang asyik apa? Kok Papih marah-marah begitu?" Nada bicara Isabella saat ini terdengar ketakutan.
" Hmmm ..." Rizal langsung menoleh ke belakang mencari keberadaan Grace sampai dia memutar tubuhnya. Dia memijat pelipisnya saat menyadari jika dia baru saja bermimpi. Apalagi saat dilihat sekarang ini dia berada di kamarnya bukan di ruang kerjanya. Juga tidak dia temukan Grace yang sebelum telepon berbunyi dia rasakan sedang bercinta dengannya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️