
Bi Tinah menangis tersedu membayangkan dia akan ditinggal majikannya kembali setelah kepergian Sonia. Yang dia tahu, jika ada orang yang sakit, lalu didatangi oleh orang yang sudah meninggal di alam bawah sadarnya, itu pertanda buruk. Seperti mengajak pasien sakit untuk ikut ke alamnya.
" Bu, Ibu kenapa menangis?" Suara perawat dan tepukan di pundak Bi Tinah membuat ART berusia lima puluh tahun itu tersentak kaget.
" Eh, Suster ..." Bi Tinah buru-buru menyeka air mata yang membasahi pipinya. Dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya itu di hadapan perawat itu.
" Saya cek kondisi Pak Rizal sama mau mengganti infus, ya, Bu!?" Perawat itu dengan ramah meminta ijin mengecek kondisi Rizal dan mengganti infus yang sudah hampir habis.
" Bagaimana kondisi pasien, Sus?" tanya Bi Tinah penasaran dengan kondisi majikannya.
" Kondisinya stabil, Bu. Sudah dicek bagus semua hasilnya," sahut perawat yang sudah selesai menuntaskan tugasnya.
" Kalau kondisi bagus semua, kenapa pasien belum sadar-sadar juga ya, Sus?" tanya Bi Tinah terheran.
" Sebaiknya nanti Ibu tanyakan ke dokternya saja yang bisa memberikan jawaban pasti. Tapi kalau dicek kondisinya semua sudah membaik, hanya menunggu pasien tersadar saja, Bu." sambung perawat tadi.
" Kalau sering diajak bicara apa pasien bisa cepat sadar, Sus?" Bi Tinah merasa penasaran, tindakan apa saja yang dapat dilakukan agar Rizal dapat kembali siuman.
" Itu juga bagus, Bu. Kita melakukan interaksi dengan pasien, diharapkan pasien cepat merespon apa yang kita ucapkan." Perawat itu kembali menjelaskan. Kadang terjadi kasus, pasien yang koms mendengar apa yang kita ucapkan." Perawat itu menjelaskan kemungkinan yang bisa terjadi pada pasien koma.
" Biasanya pasien itu koma betapa lama, ya, Sus?" Bi Tinah terkesan ingin tahu. Dia sudah seperti anggota keluarga Rizal yang membutuhkan informasi seputar kondisi Rizal.
" Setiap pasien kasusnya itu beda-beda, Bu. ada yang hitungan hari, Minggu, bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun koma." Perawat tadi menerangkan kisaran waktu pasien mengalami koma.
" Bertahun-tahun, Sus?" Bi Tinah terperanjat mendengar jangka waktu pasien koma yang dapat terjadi hingga bertahun-tahun, seperti yang disebutkan oleh sang perawat. Dan jika hal itu terjadi pada Rizal, dia tidak tahu bagaimana sedihnya Grace dan Isabella. Bahkan bukan hanya mereka berdua, durynya dan Surti pun pasti akan merasakan kesedihan yang sama.
Sementara di ruang dokter kandungan, Grace baru selesai menjalani pemeriksaan kandungannya.
" Bagaimana, Dok? Anak saya benar hamil, kan?" Agatha terlihat tidak sabar mengetahui kondisi kandungan Grace.
" Benar, Bu. Mbak Grace memang sedang mengandung. Usia kehamilan saat ini memasuki lima minggu." dokter itu membenarkan soal kehamilan Grace saat ini, sementara tangannya sibuk menulis resep obat untuk Grace.
" Kondisi janinnya bagaimana, Dok?" Agatha merasa khawatir dengan kondisi janin Grace karena selama satu Minggu ini, Grace berada di rumah sakit.
" Kondisi janin sejauh ini sehat, Bu." jawab dokter itu.
" Dok, anak saya ini suaminya sedang dirawat di sini. Sudah seminggu ini dia menunggu suaminya. Apa itu tidak masalah untuk kondisi bayinya, Dok?" Agatha ingin Grace mendengar sendiri penjelasan dari dokter soal bahayanya terlalu lama di rumah sakit bagi wanita hamil.
" Oh, Papanya calon debay nya sedang dirawat di sini? Sakit apa Papanya?" tanya dokter wanita berpenampilan menarik dengan wajah cantik bernama Nadia.
" Benar, Dok. Menantu saya itu baru saja menjadi korban peni kaman satu Minggu lalu, dan kondisinya masih koma sampai saat ini." Agatha yang menjelaskan kepada dokter Shanty. Dan ini pertama kalinya Agatha menyebut Rizal sebagai menantunya. Hal tersebut membuat Grace tertegun sampai menoleh ke arah Mamanya. Secara tidak langsung hal itu menegaskan jika Agatha sudah dapat mengakui Rizal sebagai menantu Agatha.
__ADS_1
" Ya Allah, saya turut prihatin atas apa yang menimpa suami Mbak Grace. Semoga Papanya calon debay cepat sembuh dan cepat siuman." Dokter Nadia mendoakan agar Rizal cepat sadar dari komanya.
" Aamiin, terima kasih, Dok." sahut Grace.
" Jadi karena Papanya calon debay masih koma, yang membuat Mbak Grace menginap di rumah sakit ini, ya?" Dokter Nadia dapat memaklumi jika Grace ingin selalu dekat dengan sang suami.
" Benar, Dok. Aku ingin berada dekat suamiku ketika suamiku itu siuman nanti, makanya aku tidak mau jauh dari dekatnya." Grace menjelaskan alasannya ingin menemani suaminya itu di rumah sakit.
" Saya dapat memaklumi apa yang dirasakan oleh Mbak Grace. Tapi rumah sakit adalah tempat untuk merawat orang dengan beragam jenis penyakit, ada yang menular, ada juga yang tidak. Karenanya, rumah sakit jelas bukan tempat yang aman bagi ibu hamil. Sebab, dengan berada di rumah sakit, ibu hamil akan rentan terpapar mikroorganisme patogen (penyebab penyakit), yang bisa mengganggu perkembangan janin dalam kandungan ibu hamil dan memicu beragam komplikasi dalam kehamilan dan persalinan. Ibu hamil hanya diperkenankan berada di rumah sakit jika ada alasan yang sangat mendesak, seperti untuk kontrol rutin kehamilan, untuk bersalin, untuk mendampingi bayinya periksa saat baru lahir, dan sebagainya." Dokter Nadia menjelaskan **
" Kamu dengar 'kan, Grace? Apa yang dokter Nadia bilang? Mulai saat ini Mama tidak ijinkan kamu berlama-lama di rumah sakit. Itu berisiko dengan kehamilan kamu, dan Mama tidak ingin calon cucu Mama ini kenapa-napa!" tegas Agatha tetap pada keputusannya yang tidak ingin melihat putrinya mengalami gangguan dengan kehamilannya karena berkeras hati ingin menemani Rizal di rumah sakit.
***
Grace melihat mata Bi Tinah yang terlihat seperti orang yang habis menangis, membuat dirinya bertanya-tanya heran. Grace langsung menoleh dan berjalan ke arah brankar sang suami, takut terjadi sesuatu pada Rizal.
" Bibi kenapa?" Setelah mengecek tidak ada yang aneh dengan Rizal, Grace kembali mendekati Bi Tinah untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
" Oh, Bibi tidak apa-apa, Non." Bi Tinah mengelak apa yang dia rasakan dengan mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Dia tidak mungkin mengatakan apa yang didengarnya tadi saat Rizal mengigau menyebut nama Sonia. Bisa dibayangkan reaksi Grace jika tahu Rizal menyebut nama Sonia. Bi Tinah menoleh Grace yang kini berdiri di hadapannya. Bi Tinah pun langsung bangkit dari duduknya.
" Bagaimana hasil pemeriksaannya, Non? Non Grace benar hamil, ya?" tanya Bi Tinah mengalihkan topik pembicaraan.
" Baik, Bu. Nanti saya akan bilang ke Surti." sahut Bi Tinah. Sudah pasti Bu Tinah juga takut janin Grace bermasalah jika harus berlama-lama di rumah sakit.
" Mam, aku mau di sini ...!" Grace merengek menolak pergi dari rumah sakit itu.
" Grace, kamu jangan membandel, deh! Kamu mau kehamilan kamu mengalami masalah!? Kamu ingin bayi kamu kenapa-napa!? Sudah, jangan membantah apa yang Mama larang!" Kali ini Agatha agak keras menanggapi anaknya yang terlihat membandel.
Grace pun akhirnya hanya bisa pasrah. Sikap tegas Mama saat ini bukan menunjukkan sikap egois Agatha, tapi menunjukkan keperdulian Agatha kepada calon cucunya. Ada rasa bahagia di hati Grace karena ternyata di balik sikap keras Agatha, Mamanya itu sangat menyayangi calon cucunya.
Dan setelah m melewati diskusi yang cukup panjang antara Grace dan Mamanya, akhirnya diambil keputusan Grace hanya akan berada di rumah sakit hanya setengah hari saja, selebihnya Grace akan menyewa apartemen yang dekat dengan lokasi rumah sakit agar lebih mudah dan lebih cepat Grace ke rumah sakit jika Rizal tersadar nanti. Bahkan Agatha meminta bantuan dan membujuk pihak rumah sakit agar mengijinkannya memasang cctv yang mengarah langsung ke arah brankar Rizal untuk dapat disambungkan ke laptop milik Grace. Jadi meskipun Grace berada di apartemen, Grace tetap dapat melihat dan memantau suaminya dari layar rekaman cctv tersebut.
***
Seorang pria menggunakan Hoodie warna hitam dengan tudung menutupi kepalanya dan kaca mata hitam dilengkapi dengan masker menyamarkan wajahnya dari orang-orang yang mungkin saat ini sedang mengejarnya Pria itu keluar dari kamar kost nya ingin mencari udara segar, karena selama satu Minggu dia banyak menghabiskan waktu di seputaran kost an nya saja.
Pria yang tidak lain adalah Joe seketika berhenti di sebuah tiang saat melihat kertas selebaran yang tertempel di tiang itu. Kertas itu berisi tentang lowongan kerja, mencari orang yang menguasai ilmu bela diri untuk dilatih menjadi pelatih boxing.
Joe kemudian mengambil ponselnya untuk menyimpan nomer telepon yang tertera di selebaran tersebut. Dia akan coba mencari informasi soal lowongan sebagai pelatih boxing dari nomer ponsel itu.
Sementara di Galaxy Boxing Club, Jimmy sedang berbincang dengan Bobby. Anak buah Jimmy telah mendapatkan informasi tentang keberadaan Joe setelah seminggu berusaha menyelidiki. Dan atas persetujuan Rivaldi, mereka berencana menjebak Joe yang sedang membutuhkan pekerjaan dengan pekerjaan yang berhubungan dengan bela diri dan tidak memerlukan keahlian otak untuk berpikir. Kebetulan Jimmy ingin membuka cabang boxing club' di daerah Bekasi memanfaatkannya untuk menjebak Joe..
__ADS_1
" Kau sudah pasang selebaran itu di daerah tempat dia kost, Bob?" tanya Jimmy.
" Sudah, Jim. Kita tunggu saja dia masuk dalam jebakan kita," lapor Bobby.
" Baguslah kalau memang begitu. Kau harus pantau terus dia, Bob! Jangan sampai lolos. Jangan sampai si bos kecewa lagi kali ini!" Jimmy memperingatkan Bobby agar lebih fokus dalam memantau Joe, jangan sampai mengecewakan Rivaldi untuk yang kesekian kalinya.
" Oke, Jim." sahut Bobby.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba ponsel Bobby bergetar. Bobby melihat nomer yang berjejer di layar ponselnya. Bukan nomer SIM card HP yang muncul,, melainkan nomer yang menggunakan pesawat telepon PSTN dengan kode area Jakarta +6221.
" Halo?" Bobby menyapa orang yang meneleponnya.
" Halo, benar ini dengan Pak Bobby?" tanya orang dari ponsel Bobby.
" Iya, benar. Saya sendiri. Ini dengan siapa?" tanya Bobby melirik ke arah Jimmy. Dia menduga jika yang menghubunginya adalah Joe, hingga dia mendekatkan jari telunjuk di bibir, seakan menyuruh Jimmy diam,
" Saya Gatot, Pak. Saya membaca seputar lowongan untuk menjadi pelatih boxing, katanya diminta menghubungi nomer Bapak ini," ujar orang yang bernama Gatot itu.
" Oh, iya benar. Kalau memang berminat silahkan saja datang ke tempat yang tertera di selebaran itu," sahut Bobby.
" Oke, Pak.Terima kasih," balas Gatot.
" Siapa, Bob? Joe bukan?" tanya Jimmy, saat Bobby mengakhiri panggilan teleponnya.
" Bukan, Jim. Kita mesti bersabar sedikit," jawab Bobby Meninta Jimmy untuk lebih bersabar. Karena dirinya memasang pengumuman itu di depan umum, jadi kemungkinan yang menghubungi dan berminat melamar bisa siapa yang melihat selebaran yang dia tempel di beberapa tempat di gang dekat wilayah kost Joe berada.
" Kabari aku kalau dia sudah menghubungimu, Bob." Jimmy kemudian bangkit lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya.
*
*
*
source ** www.alodokter.com
Bersambung ...
Happy reading ❤️
__ADS_1