TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Menolak Kuliah


__ADS_3

Setelah memberi arahan kepada kedua ART di rumahnya, Rizal mengajak Grace masuk ke dalam kamarnya di lantai atas. Ini pertama kali Rizal membawa masuk Grace ke kamarnya itu. Sebelumnya Rizal minta Bi Tinah dan Surti menurunkan foto dirinya dan Sonia yang selama ini terpasang di dinding kamarnya. Bagaimanapun juga dia harus menjaga perasaan Grace. Dia tidak ingin Grace cemburu pada mantan istrinya dulu meskipun mantan istrinya itu telah meninggal.


Saat membuka pintu kamar, aroma maskulin langsung menyeruak ke indetabpenciuman Grace. Walau wanginya agak kuat, namun Grace sangat menyukai wangi ruangan kamar Rizal ini.


" Ini kamar kita untuk beraktivitas, Nyonya." Rizal mengulum senyuman menyebut Grace dengan sebutan Nyonya.


" Aku bukan Mamaku, kenapa Papih panggil aku Nyonya?" Grace memprotes sebutan Nyonya untuknya.


Rizal terkekeh dengan memeluk pinggang Grace dari belakang dan menuntunnya berjalan masuk ke dalam kamar.


" Karena kamu adalah Nyonya Rizal Gunawan sekarang ini," bisik Rizal meninggalkan gigitan di cuping telinga sang istri.


" Apa kamu suka kamarnya? Belum sempat aku renovasi karena pernikahan kita mendadak," tutur Rizal yang memang tidak menambahkan sentuhan feminim pada kamar tidurnya. Dua tahun setelah kepergian sang istri, Rizal memang sempat merubah interior kamarnya dengan nuansa maskulin, sama seperti interior ruang kerja di kantor Rizal.


" Tidak apa-apa, aku lebih suka begini." Grace justru menyukai interior kamar suaminya yang banyak didominasi oleh warna gelap.



" Seperti ini terlihat sangat romantis kalau untuk bercinta." Grace terkekeh menyebutkan kalimat yang membuat Rizal langsung menaikkan kedua alisnya ke atas.


" Apa kamu ingin melakukannya sekarang, hmmm?" Rizal merespon cepat ucapan Grace.


" Astaga, Pih! Tadi pagi sudah dua ronde. Apa tidak capek!?" Grace memutar bola matanya mendengar kata-kata Rizal yang mengarah ke aktivitas memenuhi kebutuhan biologis.


" Kamu tahu aku sudah puasa enam tahun, kan?" Rizal mengurai pelukannya lalu menjatuhkan tubuhnya atas tempat tidur dengan tangan melipat di belakang kepalanya dan kaki menjuntai menyentuh permadani yang menutupi lantai kamar tidurnya itu.


Grace memperhatikan Rizal yang berbaring di atas tempat tidur. Dia ingin mendekat ke arah spring bed yang sedang ditiduri oleh Rizal, namun agak ragu.


" Apa dulu Papih sama Mamihnya Bella tidur disitu juga?" tanya Grace menunjuk tempat tidur yang sedang ditiduri oleh sang suami.


Rizal bangkit dan duduk di tepi spring bed. Tangannya mengulur ke arah Grace seolah menyuruh istrinya itu mendekat ke arahnya.


" Aku merenovasi kamar ini empat tahun lalu, termasuk mengganti perabotannya. Spring bed ini baru, dan belum pernah dipakai untuk aktivitas bercinta. Spring bed yang kami pakai dulu aku taruh di kamar tamu bawah." Rizal menjelaskan kepada Grace hingga akhirnya Grace mau mendekati Rizal dan duduk di samping Rizal.


Grace mengedar pandangan menyapu semua sudut ruangan kamar Rizal, seakan mencari sesuatu.

__ADS_1


" Foto Mamihnya Bella kok tidak ada, Pih?" Karena tidak menemukan apa yang dicarinya, Grace akhirnya langsung bertanya kepada Rizal agar mendapat jawaban.


" Foto Mamihnya Bella?" Rizal terkesiap saat Grace menanyakan foto mantan istrinya itu. Dia bahkan tidak terpikirkan jika Grace justru mencarinya.


" Iya, aku ingin tahu wajah Mamihnya Bella, yang bikin Papih tidak bisa move on sebelum bertemu aku." Grace mengatakan kalimatnya dengan percaya diri jika dia adalah wanita yang sukses menaklukkan hati Rizal.


" Aku baru meminta Bi Tinah menurunkan figura foto kami dari kamar ini." Rizal menjelaskan kepada Grace jika sebelumnya dia masih memajang foto dia dan Sonia.


" Kenapa diturunkan, Pih? Nanti Bella marah kalau tahu foto itu sudah tidak ada di kamar ini." Grace tentu tidak ingin Isabella salah paham lagi kepada dirinya. Dia tidak ingin Isabella beranggapan jika dirinya yang menyuruh Rizal menurunkan figura foto Rizal dan Mamihnya Isabella. Grace sendiri sudah berniat tidak ingin berdebat dengan Isabella, karena dia tidak ingin membuat Rizal pusing harus memilih di antara dirinya dengan Isabella.


" Sekarang ini yang menjadi istriku adalah kamu, Grace! Tidak mungkin aku memajang foto aku dengan Mamihnya Bella di sini." Rizal menjelaskan alasannya kenapa dia menurunkan figura tersebut.


" Kalau Bella bertanya, bagaimana? Pasti dia akan menuduh aku yang menyuruh Papih melakukan hal itu." Grace memang tidak ingin memancing keributan dengan anak dari suaminya itu.


" Bella pasti akan mengerti, kok! Jangan mengkhawatirkan hal itu." Rizal meminta Grace agar tidak berburuk sangka terhadap Isabella.


Tok tok tok


" Pak, makan siang sudah disiapkan." Surti yang sebelum Rizal dan Grace masuk ke kamar mereka diminta menyiapkan makan siang, terdengar mengetuk pintu dan berkata sedikit berseru dari balik pintu kamar.


" Pih, apa Papih tadi lihat? ART di sini kok, kayak tidak suka sama aku, ya!?" Grace merasakan jika kedua ART suaminya seperti tidak menyukai kehadirannya di rumah suaminya itu.


" Hahaha ... kamu ini, dibilang jangan su"udzon!" Rizal mengacak rambut Grace lalu merangkul pundak Grace dan mengajak istrinya itu menikmati makan siang bersama dengan Isabella.


***


Grace melirik ke arah Isabella yang hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Jika tidak ditanya oleh Rizal, Isabella hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jawaban yang dilontarkan oleh gadis itu pun hanya jawaban singkat dan dijawab dengan nada terpaksa dan malas.


" Bella, bagaimana pekerjaan sampinganmu di Lembaga Bimbingan Belajar itu? Apa kamu mengalami kesulitan di sana, Nak?" Rizal pun nampak bingung menghadapi situasi yang canggung seperti saat ini. Sampai dia menanyakan perihal yang pernah dia tanyakan sebelumnya kepada putrinya itu.


" Tidak." Singkat jawaban yang diberikan oleh Isabella.


" Grace, Isabella ini mengambil pekerjaan sampingan sebagai tenaga pengajar di Lembaga Bimbel punya dosennya." Rizal ingin Grace tahu aktivitas yang dikerjakan oleh Isabella. Dia tentu ingin istri mudanya itu dapat akrab dengan Isabella sebagai anak sambung Grace.


Grace hanya menoleh tak tahu harus merespon dengan jawaban apa? Sepertinya baru kali ini dia menghadapi situasi yang membuatnya seperti orang kebingungan, tidak tahu harus berbicara apa.

__ADS_1


" Oh ya, Grace. Apa kamu Ingin melanjutkan kuliah? Kalau kamu ingin kuliah, kamu bisa melanjutkan di kampus Bella, agar kalian bisa akrab satu sama lain."


Kalimat Rizal kali ini membuat Grace dan Isabella sama-sama menoleh ke arah Rizal secara spontan.


" Aku tidak mau, Pih!"


" Aku tidak setuju, Pih!"


Grace dan Isabella saling berebut jawab. Isabella justru langsung menoleh ke arah Grace seraya mengerutkan keningnya saat mendengar Grace menyebut Rizal dengan kata yang sama dengan dia menyebut Papihnya itu.


" Lho, memangnya kenapa kamu tidak setuju, Bella?" Rizal lebih tertarik merespon jawaban putrinya yang menentang usulannya meminta Grace melanjutkan kuliah di kampus Isabella.


" Aku tidak mau sekampus sama dia! Kalau dia mau kuliah, cari kampus lain saja! Universitas di Jakarta itu 'kan banyak, bukan kampus Bella saja, Pih!" Isabella menjelaskan alasannya tidak setuju sekampus dengan Grace.


Jika saja dalam kondisi normal, Grace pasti akan membalas kata-kata ketus Isabella kepadanya. Namun, dia harus menahan diri karena dia menjaga perasaan sang suami.


" Kalau Grace di kampus lain, Papih takut nanti banyak laki-laki yang akan mendekati Grace, Bella. Kalau Grace kuliah di kampus yang sama denganmu, setidaknya kamu bisa kasih Papih informasi jika ada pria yang mencoba-coba menggoda Grace." Rizal mencoba mencairkan suasana dengan melempar candaan.


Apa yang dikatakan Rizal membuat Grace memutar bola matanya.


" Bella, apa kamu menolak Grace kuliah di kampusmu karena kamu malu jika Grace adalah istri Papihmu ini?? Apa kamu malu teman-temanmu tahu jika Papih menikah dengan wanita muda yang seusia denganmu?" Rizal mulai serius bertanya kepada Isabella.


Isabella tidak menjawab pertanyaan Rizal. Namun dari wajahnya yang memberengut tak menampakkan senyum di bibir wanita itu, sudah dapat ditebak, jika apa yang dikatakan oleh Rizal memang seperti itulah kenyataannya. Belum lagi sikap Grace sejak pertama bertemu dengan Isabella tidak pernah menunjukkan sikap yang baik dan bersahabat.


" Pih, sudahlah! Jangan memaksa Bella untuk menjawab. Lagipula, aku juga tidak kepingin kuliah lagi, kok! Otakku ini sudah tidak muat jika dimasuki materi-materi mata kuliah." Grace mencoba bersikap bijak, agar Rizal tidak terus menekan Isabella.


*


*


*


Bersambung ...


Happy reading❤️

__ADS_1


__ADS_2