TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Kecemburuan Isabella


__ADS_3

Grace menoleh ke arah Isabella yang memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil yang dikendarainya. Sejak pulang dari kantor Rivaldi kemarin, Isabella lebih banyak berdiam diri, bahkan tidak banyak bicara kepadanya. Padahal sebelumnya, anak dari suaminya itu sudah mulai mau berkomunikasi dengannya. Hal tersebut membuat Grace merasa heran.


Grace mengarahkan mobilnya ke sebuah kawasan mall besar di Jakarta. Tentu saja hal itu membuat Isabella menolehkan pandangan ke arah Grace yang masih memegang kemudi mobilnya.


" Mau ke mana?" tanya Isabella kemudian karena sebelumnya mereka tidak berencana pergi ke suatu tempat.


" Kita makan dulu, deh!" sahut Grace kemudian mencari parkiran yang kosong.


" Bukannya kamu sudah makan dulu sebelum ke sini sama Papih?" Pernah diceritakan oleh Rizal soal aktivitas rutin Grace sebelum menjemput dirinya dari kampus, Isabella jadi tahu jadwal malam siang Grace dan Papihnya maju satu jam sebelum Garce menjemput ke kampusnya.


" Papih pergi ke luar kota sama Vito tadi jam sepuluh, jadi aku tidak masak di rumahku," sahut Grace membuka seat belt nya setelah menemukan tempat untuk memarkirkan mobilnya. " Yuk, turun!" Grace kemudian membuka pintu mobil lalu turun dari mobilnya diikuti oleh Isabella yang turun dari pintu yang berbeda.


" Mau makan apa, Bel?" tanya Grace saat mereka memasuki bangunan mall besar tersebut.


" Terserah kamu saja!" sahut Isabella, tidak menyebut di mana akan makan siang.


" Aku kepingin makan spaghetti, deh! Kamu mau tidak?" Grace menujuk ke arah restoran Italia yang ada di hadapannya.


" Terserah saja," sahut Isabella. Dia hanya mengikuti arah kaki Grace melangkah.


Setelah masuk ke dalam restoran Italia itu, Grace dan Isabella memesan menu makanan yang mereka pilih, dan menunggu makanan mereka siap dihidangkan oleh pelayan restoran tersebut.


" Kamu kenapa, Bel? Sejak pulang dari kantor Aldi kelihatannya murung terus? Aldi melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan ke kamu, ya?" Grace mencoba mengalah dengan menanyakan perihal sikap Isabella yang banyak berdiam diri setelah bertemu dengan Rivaldi di kantor pria itu.


Isabella melirik ke arah Grace sepintas. lalu memalingkan wajahnya ke arah lain . Sebenarnya Isabella menyadari, tidak sepatutnya dia menunjukkan kekesalannya terhadap Grace, karena Grace tidak salah kemarin. Lagipula, Rivaldi bukan kekasihnya, kenapa dia harus menyalahkan Grace? Dia pun tidak sepantasnya merasa cemburu dengan perbedaan sikap Rivaldi padanya dengan sikap Rivaldi kepada Grace.


" Kalau memang Aldi melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan di hati kamu, kamu bilang saja sama aku, biar nanti aku ton jok mukanya itu biar bon yok!" Grace bahkan siap memberikan hukuman pada Rivaldi, jika memang Rivaldi terbukti bersalah.

__ADS_1


Isabella langsung membelalakkan matanya mendengar ancaman yang terucap dari bibir Grace. Membayangkan wajah tampan Rivaldi harus dipenuhi oleh le bam, rasanya tidak tega sosok penolongnya itu harus menerima tindakan kekera san dari Grace. Isabella yakin, Grace tidak akan main-main dengan ancamannya itu.


" Pasti karena Aldi melarang kamu keluar dari kantornya, ya!?" tebak Grace kemudian. Dia berpikir jika Isabella marah karena Rivaldi melarang Isabella keluar dan justru menyuruh dirinya yang menjemput Isabella dari ruangan Rivaldi, walaupun dia sendiri tidak tahu tujuan Rivaldi itu untuk apa.


" Tidak, kok!" tepis Isabella menyangkal apa yang dikatakan Grace, meskipun yang dikatakan Grace memang ada benarnya.


" Lalu karena apa?" Grace semakin merasa penasaran, karena Isabella tidak bersikap terbuka kepadanya. " Bel, kalau memang ada sesuatu yang mengganjal di hati kamu, kamu cerita saja sama aku, apalagi kalau menyangkut si Aldi itu! Biarpun dia sudah menolong kamu kemarin, kalau dia memang bersikap kurang ajar, kamu jangan menutupi dari aku. Aldi itu memang senang membuat orang kesal. Dan dia akan merasa bahagia jika dia sudah membuat orang marah-marah." Grace mengungkapkan bagaimana sikap Rivaldi yang kadang suka memancing emosi dirinya.


" Kak Aldi tidak bersikap kurang ajar, Bicara saja hanya iya, oke, iya, oke saja, kok!" Isabella mengeluhkan bagaimana dinginnya sikap Rivaldi terhadapnya.


" Oh, jadi kamu marah karena Aldi bersikap cuek sama kamu? Lalu, kenapa malah dia ingin menyandera kamu segala?" Grace mengerutkan keningnya.


" Karena Kak Aldi itu sebenarnya ingin bertemu kamu!" ungkap Isabella ketus.


Grace menyipitkan matanya. Dia kemudian mencurigai sikap Isabella yang terlihat kesal itu sebagai rasa cemburu Isabella kepadanya.


" Bel, jangan bilang kalau kamu cemburu sama aku, deh! Apa sebenarnya kamu menyukai Aldi?" Grace melontarkan dugaannya seperti yang dia perdebatan semalam dengan sang suami, sampai dia merajuk dan hampir keluar dari rumah suaminya itu hanya mengunakan selimut saja yang membalut tubuhnya.


" Tidak! Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Isabella menyangkal, namun rona merah di wajahnya yang seketika membias tidak dapat ditutupinya.


" Oh, kirain kamu benar suka sama Aldi." Grace menghentikan kalimatnya karena pelayan restoran datang membawa pesanan mereka dan menyajikannya di atas meja


" Thanks, Mbak." ucap Garce kepada pelayan restoran.


" Kita makan dulu, deh!" Grace mengajak Isabella untuk menyantap makanannya terlebih dahulu.


" Kamu tahu, Bel. Orang tua Aldi itu baik banget, lho! Terutama Mamanya, memang bukan Mama kandung, sih! Tapi, Mamanya itu sayang banget sama Aldi, begitu juga sebaliknya. Mamanya itu kepingin Aldi cepat-cepat ketemu dengan jodohnya terus menikah. Mamanya itu bukan tipe Mama mertua yang galak atau senang mengintimidasi menantu. Siapapun wanita yang akan menikah dengan Aldi kelak, aku yakin, jika wanita itu adalah wanita yang beruntung mendapat mertua seperti Om Nugraha dan Tante Arina." Sambil menyantap spaghetti, Grace menceritakan bagaimana sosok Arina di matanya. Walau hanya mengenal sebentar, tapi dia merasakan kehangatan keluarga Rivaldi di luar dari aksi licik Rivaldi beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Di sela-sela menikmati makanannya, Isabella mendengar cerita Grace tentang keluarga Rivaldi. Dari cerita itu dapat terlihat jika Grace begitu dekat dengan keluarga Rivaldi, pantas saja Rivaldi terlihat menginginkan Grace.


" Aldi itu sayangnya belum mendapatkan wanita yang mencintai dia dengan tulus sehingga membuat dirinya jatuh cinta pada wanita itu. Kalau dia sudah menemukan wanita yang tepat, dia pasti akan mencintai wanita itu sepenuh hati." kembali Grace bercerita.


" Apa kamu menyesal tidak menikah dengan Kak Aldi?" Tiba-tiba Isabella melontarkan pertanyaan itu kepada Grace.


Grace terkesiap mendegar pertanyaan Isabella yang hampir sama dengan pertanyaan yang dilontarkan Rizal semalam yang akhirnya membuat dirinya merajuk.


" Astaga! Tidak Papihnya, tidak anaknya, sama-sama negatif thinking semua!" protes Grace kemudian seraya memutar bola matanya.


" Papih juga semalam menuduh seperti itu! Mentang-mentang sedarah, jadi pola pikirnya juga sama!" Grace kali ini menggerutu seraya menyantap spaghetti dengan lahap sehingga memenuhi mulutnya.


Isabella menahan tawa melihat Grace. Walaupun menggerutu, tak mengurangi naf su makan Grace.


" Papih itu 'kan sudah cinta sekali sama kamu. Aku tidak ingin Papih sakit hati karena kamu diam-diam selingkuh sama Kak Aldi!" Isabella beralasan menggunakan nama Papihnya sebagai alasan.


" Ya ampun, Bel! Kalau aku niat sama Aldi, untuk apa aku menikah dengan Papih kamu? Kalau aku suka sama Aldi, aku sudah pasti menuruti apa yang Mama aku minta. Tidak beresiko ditentang sama anaknya, dapat restu juga dari orang tua." Grace menyangkal dengan mengatakan jika dirinya tidak pernah menyukai Rivaldi.


" Tapi Kak Aldi sepertinya menyukai kamu," ungkap Isabella. Dia bisa melihat saat Rivaldi menahannya hanya untuk menyuruh Grace datang ke ruangannya.


Grace melirik ke arah Isabella mendengar anak suaminya itu mengatakan jika Rivaldi menyukai dirinya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2