TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Laundry


__ADS_3

Plakkk


" Nyamuk si alan!!"


Entah sudah berapa ekor nyamuk yang mati karena tepukan tangan Grace di dalam kamar yang akhirnya ditempati oleh Grace.


Pada akhirnya Grace memang tidur sendiri, tidak berbagi kamar dengan Nani, karena Nani sendiri menolak satu kamar dengan Grace, dan memilih berdesakan di kamar rekannya yang lain di panti itu daripada harus menghadapi Grace yang galak dan pemarah.


Waktu sudah hampir mendekati jam dua belas malam. Namun, Grace masih belum juga terlelap. Selain banyaknya nyamuk yang mengganggu. Ruangan yang panas dan kasur yang terasa keras di badannya membuat Grace benar-benar merasa tidak nyaman.


" Aku bisa mati berdiri kalau kelamaan berada di kamar ini!" umpat Grace kesal.


" Ini semua gara-gara pria tua si alan dan anak buahnya itu!" Rasanya benci sekali Grace terhadap Rizal yang menyebabkannya berakhir di panti jompo seperti saat ini.


" Awas saja pembalasanku, Pak tua!" Grace seolah menebar ancaman. Dia berjanji akan membalas apa yang dilakukan Rizal hingga membuat dia berada di pengasingan seperti saat ini.


Grace berjalan keluar kamar. Dia merapatkan hoddie nya karena dia ingin keluar panti. Grace ingin mencari udara segar karena bangunan panti itu dirasanya sangat panas.


" Grace, kamu mau ke mana?" suara Ibu Henny yang keluar dari kamarnya menyapa Grace yang saat itu berjalan melintasi kamar Ibu Henny.


" Saya ingin mencari angin segar!" jawab Grace.


" Ini sudah malam, Grace. Seharusnya kamu istirahat di kamar." Ibu Henny menasehati Grace. Karena itu sudah tengah malam, dan besok Grace harus bangun pagi untuk melayani para lansia penghuni panti tersebut.


" Istirahat di kamar? Ruangan itu lebih cocok disebut kandang daripada kamar!" Sudah merasa kesal di kamarnya dia tidak bisa tidur karena tidak mendapatkan fasilitas yang diinginkan, sekarang Ibu Henny malah menyuruh kembali dan istirahat. Sudah pasti Grace menjadi kesal.


" Kamu harus terbiasa dengan kamarmu itu Grace." Setelah menghela nafas, mencoba untuk bersabar menghadapi Grace, Ibu Henny membalas ucapan Grace dengan bahasa yang sangat halus.


" Terbiasa? Yang ada saya tersiksa berlama-lama di tempat itu. Sudah panas, tempat tidurnya tidak empuk, banyak nyamuk pula ..." Grace menggerutu dengan memutar bola matanya.


" Kamu pasang obat nyamuk bakar saja atau pakai lotion anti nyamuk." Ibu Henny menyarankan Grace beberapa pilihan.


" Obat nyamuk bakar? Apa itu obat nyamuk bakar?" Tentu saja untuk orang seperti Grace yang sejak kecil hidup penuh kemewahan tidak mengenal apa itu obat nyamuk bakar. Di rumah atau apartemennya, mana ada satu nyamuk pun yang masuk ke dalam kamarnya. ( Ya iyalah, nyamuknya juga takut kali, ga mau masuk ke kamar, Grace galak gitu 🤭 )


" Nanti Ibu ambilkan, tunggu sebentar ..." Ibu Henny kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil obat nyamuk bakar untuk Grace.


" Ini sudah Ibu nyalakan apinya." Ibu Henny kembali dengan membawa obat nyamuk yang sudah dinyalakan dan juga alat penyangganya.


" Uhuukk uhuukk ..." Grace terbatuk saat menghirup asap dari obat nyamuk bakar yang disodorkan Ibu Henny kepadanya.


" Ibu mau bunuh saya ya!? Bisa-bisa saya keracunan harus menghirup asap dari obat itu!" ketus Grace masih dengan terbatuk.


" Oh, maaf, kamu alergi asapnya ya? Kalau begitu pakai lotion anti nyamuk saja. Nanti ibu ambilkan ya!" Ibu Henny kembali masuk ke dalam kamar mengambilkan lotion anti nyamuk untuk Grace.


" Coba kamu oleskan ke kulit kamu." Kembali Ibu Henny keluar kamar membawa botol lotion.


Grace menerima dan mendekatkan botol itu ke dekat lubang hidungnya.


" Ini pasti lotion murahan, kan? Baunya tidak enak." Grace mengedikkan bahunya. Dia lalu menyerahkan kembali botol lotion itu kepada Ibu Sari. " Yang ada kulit saya bisa rusak kalau pakai lotion ini!" cibir Grace berlalu dari hadapan Ibu Henny berjalan ke ruangan depan panti.


Sementara di kamarnya, Rizal merebahkan tubuhnya yang terasa penat. Dia baru selesai mengecek beberapa email yang masuk. Sebagian besar dari para klien yang meminta bantuan jasanya untuk menyelidiki dan menyelesaikan masalah-masalah mereka.


Sudah lima belas tahun dia menekuni profesi ini. Awalnya karena saat dia muda begitu menyukai membaca novel karya Sir Arthur Conan Doyle yang menciptakan sosok detective fenomenal Sherlock Holmes. Sehingga dia berkeinginan menjadi seorang penyidik, walaupun orang tuanya dulu menginginkan dirinya menjadi seorang polisi.


Rizal mengambil ponselnya, mengecek beberapa pesan yang belum sempat dia buka. Tiba-tiba dia teringat jika dia memasang alat penyadap di ponsel Grace tersebut. Alat itu dapat mengirimkan semua obrolan meskipun Grace tidak sedang berbicara di ponselnya. Alat itu akan berfungsi merekam apa bunyi di sekitarnya selama ponsel Grace dalam keadaan aktif.


Plakkk


" Nyamuk si alan!!"


" Aku bisa mati berdiri kalau kelamaan berada di kamar ini!"


" Ini semua gara-gara pria tua si alan dan anak buahnya itu!"


"Awas saja pembalasanku, Pak tua!"


Itu suara Grace yang terekam dan terkirim ke ponsel Rizal.


Rizal menarik sudut bibirnya mendengar Grace menggerutu. Dia bisa membayangkan bagaimana wajah Grace saat ini yang pasti diselimuti amarah karena harus berada di tempat yang banyak dihuni para lansia itu.

__ADS_1


" Memangnya kau bisa membalas apa padaku, Nona? Kau berniat ingin kabur? Aku pastikan kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana." Rizal yakin jika Grace tidak akan bisa lepas dari hukuman yang harus diterima wanita muda itu.


***


Semalaman ini Grace tidak bisa tidur nyenyak, sehingga dia memutuskan hanya duduk di atas ranjang dengan lutut ditekuk. Dia menelungkupkan wajahnya di atas lutut karena tidur di atas kasur yang terbuat dari kapuk yang sudah lapuk membuat kulitnya merasa gatal-gatal.


Tok tok tok


" Mbak, bangun, Mbak!!"


Suara ketukan pintu dan suara seseorang dari balik pintu membuat Grace yang baru saja memejamkan matanya tersentak kaget.


Dengan mendengus kasar Grace turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu orang yang mengganggunya tadi.


" Mbak ...."


" Heh, bisa tidak? Tidak mengganggu orang tidur?!" Belum selesai orang yang mengertuk pintu itu menyelesaikan kalimatnya, Grace sudah membentak lebih dahulu.


" Maaf, Mbak. Ibu sudah Shubuh. Mbak harus siap-siap di dapur," ujar petugas panti memberitahu alasannya membangunkan Grace.


" Eh, asal kamu tahu ya! Saya ini mengantuk, belum tidur! Jadi kamu jangan ganggu saya!" Grace menutup kembali pintu kamar dengan kasar.


Brraaakk


Tok tok tok


" Mbak ...!" petugas panti itu kembali mengetuk pintu dan memanggil Grace. Namun Grace tidak memperdulikannya, hingga orang itu akhirnya meninggalkan Grace.


Tak lama kemudian, Santy, petugas panti yang pernah menyebut Grace adalah istri Rizal menghampiri kamar Grace untuk menyuruh Grace bergabung dengan petugas panti lain yang sudah sibuk di belakang.


" Mbak Grace ...! Sudah ditunggu Ibu Henny di dapur!" Santy berseru memanggil Grace.


" Mbak ...!!"


" Ck, ada apa lagi, sih?" Grace akhirnya membuka pintu kamarnya, karena suara Santy dan ketukan pintu sangat mengganggunya.


" Mbak harus bergabung dengan petugas lainnya di dapur, karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan," ucap Santy.


" Banyak, Mbak. Memasak untuk sarapan lansia dan penghuni panti, membersihkan panti, mencuci, menyetrika pakaian para lansia dan memandikan lansia yang sudah tidak bisa jalan. Nanti akan kebagian tugas masing-masing kok, Mbak. Hari ini kebetulan Mbak Grace dan saya kedapatan tugas mencuci pakaian para lansia, Mbak." Santy menjelaskan kepada Grace apa yang harus dikerjakan Grace.


Mendengar deretan tugas yang harus dijalani beberapa petugas panti termasuk dirinya, sontak Grace terbelalak.


" Hahh?? Mencuci pakaian lansia? Hiiiii ..." Grace mengedikkan bahunya. Tidak bisa dia bayangkan jika dia harus mencuci pakaian orang-orang yang tidak dikenalnya.


" Iya, Mbak. Hari ini kita kebagian tugas itu. Sebaiknya kita kerjakan sekarang. Soalnya cuaca akhir-akhir panasnya kurang terang. Jadi kalau kita cuci sekarang nanti sore bisa disetrika pakaiannya," ucap Santy lagi.


" Kenapa tidak memakai jasa laundry saja, sih?" protes Grace.


" Sayang-sayang kalau menyewa jasa laundry, Mbak. Masih mending dananya digunakan untuk hal yang bermanfaat," jawab Santy.


" Memangnya berapa sih mahalnya bayar cuci pakai jasa laundry? Biar saya yang bayar kalau memang panti ini tidak mampu membayar." Dengan sombongnya Grace mengatakan akan membayar ongkos laundry.


" Tapi aturannya di sini, pekerja kita-kita yang melakukan tugas itu, Mbak." Santy mengatakan jika melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan lansia adalah tugas pekerja di panti itu.


" Ayo kita ke belakang sekarang." Santy kemudian mengajak Grace untuk segera ke dapur.


***


Grace menutup hidungnya saat melihat tumpukan pakaian kotor lansia di hadapannya. Seketika perutnya mual sampai ingin muntah karena mencium aroma tidak sedap dari pakaian-pakaian itu. Bahkan untuk memindahkan pakaian lansia ke dalam ember dia menggunakan jari-jari kakinya.


" Hoek ..." Perut Grace seolah bergolak karena aroma tak sedap itu semakin menyeruak ke dalam penciumannya.


" Kenapa, Mbak?" tanya Santy melihat Grace yang terlihat seperti ingin muntah.


" Ini bau sekali. Kamu saja yang mencuci pakaian ini." Grace berlari ke dalam kamar mandi karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan isi yang ada di perutnya.


" Sudah enakan sekarang, Mbak? Ayo kita mulai mencuci. Pakai diterjennya yang ini, takarannya untuk satu kali cuci delapan potong pakaian, Mbak." Santy memberikan arahan kepada Grace apa yang mesti dilakukan Grace setelah Grace keluar dari kamar mandi.


" Saya ini tidak pernah mencuci. Kalau bukan ART yang mencuci pakaian saya, saya selalu taruh di laundry. Sekarang Mbak taruh saja pakaian ini di laundry bag, terus cepat cari laundry dekat sini, nanti saya yang bayar." Grace bersikukuh ingin menggunakan jasa laundry untuk mencuci pakaian para lansia.

__ADS_1


" Tapi, Mbak ...."


" Kalau kamu tidak mau mengikuti perintah saya, kamu cuci saja baju ini sendiri! Saya tidak mau!!" tegas Grace kemudian pergi meninggalkan Santy membuat Santy kebingungan.


Beberapa jam kemudian sekitar jam sembilan pagi, seorang pegawai laundry datang ke Panti Wreda pimpinan Ibu Henny atas perintah Grace.


" Permisi, dari Super Clean laundry, Mbak." Abang laundry turun dari motornya lalu mendekat ke arah petugas panti yang sedang menyisir rambut seorang lansia.


" Tidak pakai laundry di sini Mas," jawab petugas panti yang berpikir Abang laundry itu hendak menawarkan jasa cuci pakaiannya.


" Saya mau mengambil barang yang mau dilaundry dari sini, Mbak." ucap Abang laundry itu.


" Siapa yang pesan, Mas? Di sini tidak pernah ada yang mencuci pakai laundry, kok. Salah alamat kali, Mas " petugas panti itu beranggapan jika Abang laundry itu salah alamat.


" Tapi alamatnya benar Panti Wreda Usia Senja di sini, Mbak." Sedang Abang laundry tetap yakin jika dia menuju alamat yang benar.


" Memang siapa yang memesan, Mas?" tanya petugas panti.


" Di sini dibilang namanya Santy, Mbak." jawab Abang laundry.


" Mbak Santy?" Petugas panti itu tentu saja mengenal Santy. Namun, dia tidak percaya jika Santy memesan jasa laundry.


" Apa di sini ada yang namanya Santy, Mbak?" tanya Abang laundry.


" Ada, sih. Sebentar saya tanya orangnya dulu." petugas panti berniat memanggil Santy.


" Ada apa, Yas?" Ibu Henny yang hendak pergi mengambil uang di ATM dan berbelanja keperluan panti bertanya kepada Tyas, petugas panti yang tadi berbicara dengan Abang laundry.


" Ini, Bu. Mas ini bilang Mbak Santy minta Abang ini suruh kemari." Tyas menceritakan kepada Ibu Henny.


" Santy pesan laundry?" Ibu Henny pun terkejut. Karena selama ini dia menugaskan beberapa pegawai panti untuk mencuci dan menyetrika pakaian tiga puluh orang lansia di panti Wreda itu demi mengirit pengeluaran panti.


" Ibu tidak percaya, kan? Sama, saya juga tidak percaya, Bu. Kok, Mbak Santy tiba-tiba panggil laundry?" tanya Tyas heran.


" Ya sudah, kamu cepat panggil Santy, biar dia jelaskan alasannya memanggil laundry." Ibu Henny menyuruh Tyas untuk segera memanggil Santy karena dia pun butuh penjelasan.


" Baik, Bu." Tyas bergegas masuk ke dalam panti untuk memanggil Santy.


" Tunggu sebentar ya, Mas " Sementara kepada Abang laundry, Ibu Henny meminta menunggu sebentar.


" Baik, Bu." jawab Abang laundry memilih kembali ke motornya lalu memainkan ponselnya.


Tak sampai lima menit, Tyas berhasil membawa Santy ke depan menemui Ibu Henny dan Abang laundry.


" Santy, apa benar kamu menghubungi pihak laundry ini?" Tanpa basa-basi, Ibu Henny bertanya kepada Santy.


" Hmmm, i-iya, Bu." jawab Santy gugup.


" Memangnya mau melaundry apa? Bukankah setiap pegawai sudah mendapat tugas bergilir tiap harinya?" Ibu Henny tidak mengerti kenapa Santy mengambil keputusan menyewa jasa laundry tanpa sepengetahuannya. Padahal Santy bukan orang baru di panti itu.


" Hmmm, sebenarnya itu bukan atas kemauan saya, Bu. Tapi Mbak Grace memaksa saya untuk menyewa jasa laundry. Mbak Grace bilang dia tidak bisa mencuci, jadi Mbak Grace menyuruh saya panggil tukang laundry. Katanya dia yang akan bayar biaya laundry nya, Bu." Santy jujur mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ibu Henny.


" Grace? Grace yang menyuruh pakai laundry?" Ibu Henny seketika memijat pelipisnya saat mengetahui jika ide menyewa jasa laundry itu berasal dari Grace.


" Kamu panggil Grace, sudah dia menghadap Ibu di rumah kerja Ibu, Santy!" Ibu Henny mengurungkan niatnya ke ATM. Dia berencana pergi setelah berbicara dengan Grace.


" Jadi laundry nya gimana, Bu?" tanya Abang laundry.


" Maaf, Mas. Sepertinya dicancel saja. Karyawan di sini yang akan mengerjakan pekerja di panti." Ibu Henny meminta maaf karena membatalkan pesanan Santy.


" Yaaaahhh, gimana sih, Bu? Sudah jauh-jauh kemari, nunggu lama, ujung-ujungnya batal. Ganti rugi dong, Bu! Saya ini banyak tempat yang harus dikunjungi. Kalau begini menghambat waktu saya bekerja saja!" Abang laundry menggerutu karena Ibu Henny membatalkan memakai jasa cucinya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2