
Isabella membantu Cantika membereskan peralatan tulis milik gadis kecil itu, karena waktu belajar Cantika sudah selesai.
Setelah beberapa kali mengajar Cantika, Isabella mulai menikmati pekerjaan sampingannya itu. Isabella juga tidak menganggap aktivitasnya saat ini sebagai beban baginya. Apalagi anak yang dia beri les privat cepat mengerti materi yang dia ajarkan.
" Sampai jumpa hari kamis ya, Cantika." Isabella berpamitan kepada murid les nya.
" Bye, Kak Bella." sahut Cantika lalu masuk ke dalam kamarnya membawa perlengkapan belajarnya yang tadi dirapihkan oleh Isabella.
" Hmmm, Mbak Bella. Saya boleh bertanya?" Cyhtia meminta ijin bertanya kepada Isabella saat melihat putrinya selesai belajar dengan Isabella.
" Tanya apa, Mom?" Isabella serius mendengarkan apa yang ingin ditanyakan Cyntia kepadanya, karena dia mengira jika itu berhubungan dengan tugasnya mengajar Cantika.
" Hmmm, saya mau tanya masalah bersikap pribadi." Cyntia menjelaskan pertanyaan yang akan ditanyakan menyangkut hal privacy.
" Soal apa ya, Mom?" Isabella merasa curiga jika yang ingin ditanyakan adalah seputar istri Papihnya itu.
" Hmmm, wanita yang bersama Mbak Bella dan Papih Mbak Bella itu Mama tiri Mbak Bella, ya?" tanya Cyntia dihinggapi rasa penasaran.
Isabella menghempas nafas pelan. Tepat seperti dugaannya jika hal yang ingin ditanyakan Cyhtia adalah seputar Grace.
" Hmmm, iya, Mom." jawabnya bernada malas.
" Sudah lama menikah?"
" Baru beberapa Minggu ini."
" Ow, pantas ... masih terlihat muda sekali."
Sungguh, Isabella merasa sangat malu mendengar Cyhtia mengatakan soal istri Papihnya yang terlihat sangat muda.
" Selisih berapa usianya sama Mbak Bella?" tanya Cyntia lagi.
" Satu tahun di atas saya, Mom." Isabella merasa tak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan dari Cyntia. Namun jika dia tidak menjawab, dia takut akan dianggap tidak sopan dan takut Cyntia merasa tersinggung.
" Hanya satu tahun? Saya sama anak sambung saya selisih usianya lima tahun di atas saya malah. Daddy nya Cantika juga selisih jauh usianya sama saya. Tiga puluh tahun. Yaaa, mau bagaimana lagi? Mungkin sudah jodohnya dengan pria dewasa." Tanpa ditanya, Cyntia justru menceritakan kehidupan pribadinya pada Isabella. Dan hal itu membuat Isabella kaget mengetahui selisih usia Cyntia dan Papanya Cantika terpaut sampai tiga puluh tahun. Jauh lebih parah dengan perbedaan usia Papihnya dengan Garce yang hanya terpaut sembilan belas tahun.
" Masih mending kamu sama Mama tiri kamu bisa berkumpul dan makan satu meja. Anak sambung saya malah tidak tahu jika Papanya punya istri muda. Karena status saya selalu disembunyikan oleh suami saya dari keluarganya." Tanpa malu Cyntia membuka rahasianya sebagai istri simpanan seorang bos.
" Tapi, tidak apa, sih! Yang penting kehidupan saya dan Cantika terjamin. Daripada mendapat suami yang lebih muda tapi bikin hidup menderita." Cyntia masih terus bercerita, sementara Isabella memilih diam tidak memberikan tanggapan apa-apa atas kehidupan pribadi Cyntia.
" Eh, maaf kalau saya jadi banyak cerita. Barangkali Mbak Bella sudah mau pulang, silahkan ...."
" Kalau begitu saya pamit dulu, Mom. Assalamualaikum ..." Tak menyia-nyiakan waktu, Isabella langsung berpamitan pada Cyntia.
" Waalaikumsalam ..." sahut Cyntia.
__ADS_1
Isabella bergegas keluar apartemen Cyntia dan memesan ojek online yang akan membawanya pulang karena Vito beberapa hari ini disibukkan dengan tugas dari Rizal.
" Kamu sudah mau pulang ya?"
Ketika keluar dari lobby apartemen seseorang berbicara pada Isabella membuat Isabella terperanjat. Apalagi saat dilihatnya, Joe lah orang yang bertanya padanya saat itu.
" Hmmm, i-iya, Kak." Isabella menjawab gugup karena dia merasa takut dengan sosok Joe.
" Mau aku antar kamu pulang?" Joe menawarkan diri ingin mengantar Isabella.
" Oh, tidak usah, Kak! Saya sudah pesan ojek online." Isabella dengan cepat menolak tawaran Joe.
" It's OK. Lain kali kalau mau pulang tidak usah pesan ojek online lagi. Biar saya saja yang mengantar kamu." Joe menyarankan agar lain waktu Isabella minta tolong dirinya saja untuk mengantar pulang.
" Tidak usah repot-repot, Kak. Biasanya ada teman yang menjemput saya, kok! Kebetulan hari ini sedang tidak bisa menjemput." Isabella tetap menolak tawaran Joe tadi.
" Saya permisi dulu, Kak." Isabella bergegas meninggalkan Joe, karena dia takut berlama-lama dekat Joe.
" Cantik juga dia. Sepertinya masih lugu dan belum tersentuh." Seringai tipis terlihat di sudut bibir Joe melihat kepergian Isabella dari hadapannya.
***
Rivaldi sedang memeriksa draf kerjasama dengan klien baru saat ponselnya berbunyi. Dia menoleh ke arah ponsel yang dia letakan di meja kerjanya. Terlihat nama Jimmy yang muncul di layar ponselnya itu.
" Halo, ada apa, Jim?" Dengan cepat Rivaldi menjawab panggilan telepon itu.
" Cyntia Amanda? Siapa dia?" Rivaldi penasaran dengan sosok Cyntia Amanda.
" Dari penyelidikkan anak buah saya, dia itu wanita simpanan seorang pengusaha kaya raya, bos." Jimmy kembali menyampaikan apa yang dia dapat dari penyelidikkan anak buahnya.
" Jadi, si Joe hanya bekerja pada wanita itu?" tanya Rivaldi kurang yakin.
" Menurut bos sendiri bagaimana? Jika mendengar cerita soal sepak terjang Joe, sepertinya tidak mungkin dia hanya sekedar pengawal pribadi saja, bos. Apalagi wanita bernama Cyntia itu masih muda sedangkan pengusaha yang menjadi suaminya itu berusia lebih dari setengah baya," jawab Jimmy menjelaskan kemungkinan jika Joe bukan sekedar pengawal bagi Cyntia.
" Oke, Jim."
" Apa saya harus menyelidik Joe lagi, bos?" tanya Jimmy kemudian.
" Iya, Jim. Tolong awasi dia, jangan sampai dia mendekati Tante Agatha." Rivaldi khawatir jika Joe akan membalas apa yang dilakukan Agatha beberapa hari lalu.
" Baik, bos." sahut Jimmy kemudian.
Rivaldi mengakhiri panggilan teleponnya setelah mendengar jawaban dari Jimmy dan meletakkan kembali ponselnya di tempat semula.
Rivaldi menghela nafas panjang. Tidak tahu kenapa dia merasa penasaran dengan sosok Joe, pria yang dulu pernah dekat dengan Grace. Hingga memberi perintah kepada Jimmy untuk menyelidiki Jimmy. Dan entah juga mengapa, meskipun Grace sudah menikah dengan Rizal, tidak membuat hubungannya dengan Agatha menjadi buruk. Dia justru masih menjalin hubungan baik dengan wanita itu, sampai dia bersedia hadir di acara fashion show Agatha yang diselenggarakan weekend lalu.
__ADS_1
***
Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan kantor Rizal, membuat security yang berjaga menatap ke arah pintu mobil untuk mengetahui siapa orang berkunjung ke kantor bosnya itu.
Terlihat seorang pria tampan dan gagah keluar dari dalam mobil dengan membawa tas kerjanya. Pria itu berjalan menghampiri security yang sejak tadi memperhatikannya.
" Selamat siang, Pak. Cari siapa, ya?" tanya Pak Jun, security yang pagi ini kebagian berjaga.
" Apa Rizal ada?" tanya pria itu kepada Pak Jun.
" Pak Rizal ada, Pak. Maaf, dengan Pak siapa, ya?" Pak Jun menanyakan orang yang berniat bertemu dengan Rizal sesuai dengan tugasnya.
" Bilang saja Dirga ingin bertemu." Dirga, pria pemilik mobil mewah itu menyebutkan namanya kepada Pak Jun.
" Oh, mari silahkan, Pak." Melihat penampilan perlente Dirga, membuat Pak Jun langsung membawa Dirga masuk ke dalam kantor tanpa melapor terlebih dahulu.
" Mas Vito, ada tamu yang ingin bertemu dengan Pak Rizal." Saat sampai di lantai atas, Pak Jun memberitahu Vito soal kedatangan Dirga.
" Pak Dirga? Selamat siang, Pak Dirga. Bagaimana kabarnya?" Saat melihat kehadiran Dirga, Vito langsung menyapa dan menghampiri bos properti tersebut. Vito bersama bosnya pernah membantu Dirga mengatasi masalah yang dihadapi Dirga saat itu, sehingga dia pun mengenal siapa Dirga.
" Seperti yang kamu lihat, Vito. Apa bosmu ada?" Kini Dirga bertanya kepada Vito, sementara Pak Jun langsung meninggalkan mereka untuk kembali ke tempatnya semula.
" Pak Rizal ada, Pak." Vito melangkah menuju pintu ruangan Rizal.
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu, Vito membuka pintu ruang kerja Rizal.
" Silahkan, Pak Dirga." Vito mempersilahkan Dirga untuk masuk ke dalam ruangan bosnya tanpa menunggu perintah dari Rizal, karena dia tahu jika orang yang bertamu adalah orang penting yang merupakan sahabat dari bosnya sendiri.
Rizal menoleh ke arah pintu ruangannya saat melihat pintu itu dibuka oleh Vito. Dan saat Vito menyebut nama Dirga, seketika keningnya berkerut. Dia pun langsung bangkit saat mendapati kemunculan pria itu di belakang Vito.
" Wah, angin apa yang membuatmu datang ke markasku ini, bos?" Rizal langsung menghampiri Dirga, melakukan salam ala pria dengan mengadu kepalan tangannya dengan tangan Dirga.
" Aku ingin menyelesaikan janjiku, Zal. Memberi hadiah pernikahan untukmu dan istri mudamu itu." Dirga menyeringai meledek Rizal soal istri muda.
" Bos, sungguh aku tidak enak menerima hadiah itu. Aku juga sama sekali tidak mengharapkan diberi hadiah pernikahan darimu. Cukup beri aku doa agar pernikahanku kali ini langgeng." Rizal masih enggan menerima pemberian satu unit apartemen yang diberikan Dirga kepadanya.
" Itu sudah pasti, Zal!" sahut Dirga cepat. " Oh ya, ngomong-ngomong, dari mana kau bisa mendapatkan wanita muda itu, Zal?" Dirga masih merasa penasaran bagaimana Rizal bisa menikahi wanita yang jauh lebih muda dari usia Rizal sendiri. " Apa jangan-jangan dia itu teman putrimu yang kau kencani?" Dirga kembali menyeringai.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️