
" Permisi, Mbak. Perkenalkan, saya Nani. Mari saya antar Mbak ke kamar Mbak." Setelah Rizal pergi, seorang petugas panti menghampiri Grace, memperkenalkan diri dan berniat mengantar Grace ke kamar yang akan dihuni Grace selama bertugas di panti.
" Silahkan, Nona." Vito mempersilahkan Grace masuk saat Grace menoleh ke arahnya.
Grace mendengus kasar dan berjalan dengan menghentak mengikuti wanita tadi.
" Ini kamarnya, Mbak. Di sini Mbak sekamar dengan saya. Setiap kamar berisi dua orang, Mbak." Setelah sampai di kamar yang dituju, wanita itu memerperlihatkan isi kamar yang akan ditempati oleh Grace.
Grace membelalakkan matanya ketika memasuki kamar yang sangat sempit menurutnya. Grace memandangi seluruh sudut ruangan yang akan dihuninya selama berada di panti itu. Bahkan kamar mandi di apartemennya saja lebih luas dari kamar di hadapannya itu. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu diisi oleh dua buah ranjang single dengan kasur terbuat dari kapuk yang sudah lepek. Tidak bisa dibayangkan, tubuhnya pasti akan pegal-pegal jika tidur di atasnya.
Satu buah lemari kabinet palstik dan satu buah meja kecil. Tanpa ada pendingin ruangan apalagi kamar mandi pribadi.
Grace mengedikkan bahunya. Dia yang terbiasa hidup mewah di rumah dan apartemen mewah membayangkan harus tidur di kamar sekecil itu. Rasanya ini adalah mimpi buruk bagi Grace.
Menurut Grace, ruangan sekecil itu tidak layak untuk dijadikan kamar untuknya. Ukuran kamar di apartemennya saja tiga kali lipat dari kamar itu. Bagaimana mungkin dia bisa nyaman berada di kamar itu.? Apalagi di kamar sempit ini, dia harus berbagi kamar dengan orang lain. Tentu saja dia tidak setuju.
" Saya tidak mau tidur di sini. Saya mau kamar yang luas, yang ada badroom di kamar, pakai AC dan spring bed empuk ukuran king size. Saya juga mau kamar pribadi, tidak bercampur dengan orang lain." Grace menawar fasilitas kamar yang akan dia huni selama berada di panti itu.
" Ini panti jompo, Mbak. Bukan hotel! Mana ada bisa merequest seperti yang Mbak mau." Menanggapi permintaan Garce, Nani mengingatkan Grace jika saat ini Grace sedang berada di panti sosial bukan ingin menginap di hotel sehingga bisa memilih fasilitas kamar.
" Kalau di sini tidak menyediakan, biar saya bawa sendiri saja. Nanti saya akan suruh orang membawa barang-barang yang saya butuhkan ke sini." Bagi Grace yang selalu dimanja dengan kemewahan, tentu dia ingin fasilitas yang istimewa di mana pun dia berada tanpa melihat situasi dan kondisi.
" Memangnya barang-barang Mbak mau ditaruh di mana? Kamar yang paling besar cuma tipe kamar ini saja, Mbak. Bahkan ada yang lebih kecil dari ini. Kalau Mbak ingin yang besar, ada di bangsal, tapi Mbak bergabung dengan para lansia yang ada di panti ini. Mbak mau?" Melihat sikap arogan Grace, Nani sampai menyindir Grace dengan menawarkan bangsal yang dipakai untuk para lansia.
" Hei, kamu menghina saya!?" Mendengar sindiran Nani, seketika Grace terpancing emosi hingga mendorong bahu Nani dengan kedua tangannya dengan kuat, sehingga membuat tubuh Nani terhuyung ke belakang dan terjatuh karena tidak dapat menahan keseimbangan tubuhnya karena kaget mendapatkan bentakan dari Grace.
" Asal kamu tahu ya! Saya ini anak pengusaha kaya raya. Bahkan panti ini pun bisa dibeli oleh orang tua saya! Berani sekali kamu menantang saya!" hardik Grace dengan tangan berkacak pinggang dan mata melotot tajam menatap Nani.
__ADS_1
Melihat kemarahan Grace, Nani seketika beringsut ketakutan.
" M-maaf, Mbak. Saya minta maaf, Mbak." Nani segera meminta maaf karena dia takut melihat amarah Grace.
Braaakkk
Grace menggebrak pintu kamar kemudian berjalan meninggalkan ruangan itu dengan langkah lebar.
" Kamu mau ke mana, Grace?" tanya Ibu Henny yang berpapasan dengan Grace. Saat mendengar ada kegaduhan, Ibu Henny bergegas menuju asal suara ribut-ribut yang berasal dari kamar Nani.
" Saya ingin pergi dari tempat ini! Saya tidak sudi harus berada tempat seperti ini!" ketus Grace berlalu meninggalkan Ibu Henny tanpa memperdulikan Ibu Henny yang memanggil namanya .
" Ada apa ini, Nan?" Kini Ibu Henny bertanya kepada Nani yang berjalan ke arahnya sambil memegangi bo kongnya karena masih terasa sakit karena terjatuh tadi.
" Bu, saya pindah kamar saja kalau Mbak Grace mau pakai kamar itu." Tidak ingin diintimidasi oleh Grace, Nani memilih pindah kamar.
" Mbak Grace menolak kamar itu. Dia meminta kamar yang luas yang ada AC nya, ada kamar mandi di dalam kamar dan tempat tidur yang luas, Bu. Saya bilang itu tidak mungkin karena ibu panti sosial bukan hotel. Mbak Grace marah lalu mendorong saya sampai jatuh, Bu." Nani mengadukan kelakuan Grace kepada Ibu Henny.
" Astaghfirullahal adzim ..." Ibu Henny terkesiap seraya menutup mulut dengan telapak tangannya.
" Bu, apa Ibu yakin akan mempekerjakan Mbak Grace? Bisa-bisa para lansia di sini mati mendadak mendapat perlakuan kasar dari Mbak Grace nanti." Nani tidak bisa membayangkan bagaimana Grace yang tidak bisa mengontrol emosi dan bersikap kasar bisa melayani dan meladeni para lansia yang tinggal di Panti Wreda itu.
Sementara Grace yang berjalan cepat keluar panti langsung dihadang oleh Vito yang masih menunggu rekannya yang akan mengawasi Grace di panti itu.
" Mau ke mana, Nona?" tanya Vito.
" Awas!! Jangan halangi aku!" Grace pun melakukan hal yang sama kepada Vito. Dia mendorong bahu Vito namun hanya membuat posisi Vito berdiri mundur selangkah.
__ADS_1
" Anda tidak bisa pergi dari sini, Nona!" Vito menahan lengan Grace yang ingin berlalu darinya.
" Lepaskan aku, breng sek!" Grace lalu menendang senjata Vito karena Vito berusaha menghalanginya.
" Aaarrggghh ...!" Vito meringis kesakitan dengan menahan kesal karena tindakan kasar yang dilakukan Grace kepadanya seraya memegang senjatanya.
" Aduuuhhh ... ngilu ya, A?" Seorang lansia yang sedang duduk berbincang dengan lansia lainnya di teras bertanya kepada Vito, membuat teman lansia lainnya terkikik melihat aksi Grace menendang alat vi tal Vito tadi.
" Nona, jika Anda tetap nekat, percayalah ... bukan kami yang akan menjemput Nona nanti, tapi dari pihak berwajib!" Vito memperingatkan Grace agar tidak kabur dari panti itu.
" Aku tidak perduli!" Grace sedikit berlari sambil memegangi lehernya yang tiba-tiba kembali terasa sakit akibat luka sayatan.
Tin tin
Saat Grace ingin melewati pintu gerbang panti, sebuah mobil masuk menghalangi langkah Grace. Apalagi ketika dua orang keluar dari dalam mobil tersebut.
" Tolong jangan biarkan Nona itu kabur, Sam!" Vito berseru kepada salah seorang yang turun dari mobil itu.
Melihat dua pria bertubuh kekar di hadapannya, sepertinya Grace tidak sanggup melakukan perlawanan. Mungkin jika lehernya tidak cidera, bukanlah hal sulit mengatasi mereka semua dengan ilmu bela dirinya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️