TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Cantik-Cantik Tapi Galak


__ADS_3

Rizal dan Grace baru selesai melakukan ritual suami istri di malam kedua di hotel milik David Richard sebelum besok pulang ke rumah Rizal. Rizal berniat mengajak istrinya itu untuk tinggal di rumah miliknya sendiri.


" Besok kita pulang ke rumahku, ya!? Aku ingin kita tinggal di sana saja." Rizal memeluk tubuh Grace yang hanya berbalut selimut.


" Kenapa tidak di rumahku saja, Pih?" Grace lebih suka mereka tinggal di rumahnya karena lebih dekat dengan kantor Rizal. " Di sana 'kan dekat dengan kantor Papih." Grace mengusap rahang Rizal yang ditumbui cambang.


" Aku tidak ingin tinggal di rumah istri. Lagipula rumah itu milik Mamamu. Aku tidak ingin dianggap menumpang hidup denganmu, Grace. Bella juga belum tentu setuju kalau nanti harus pindah ke rumahmu itu." Rizal menyebutkan alasannya kenapa memilih tetap tinggal di rumah miliknya. Sebagai seorang laki-laki dan suami, tentu dia harus menjaga harga dirinya tak ingin memanfaatkan kekayaan istrinya.


" Lalu, rumahku harus diabaikan saja seperti apartemenku itu?" Sejak menjadi tawanan Rizal dan menetap di rumah yang dibeli oleh Agatha. Grace memang sudah jarang berkunjung ke apartemennya dulu.


" Sebaiknya apartemenmu itu dijual saja, Grace." Rizal menyarankan agar Grace menjual apartemen milik istrinya itu.


" Kenapa dijual?" Grace mengerutkan keningnya heran.


" Aku ingin kamu mengubur masa lalumu. Di apartemen itu pasti banyak kenangan indahmu dengan mantanmu itu. Aku tidak ingin kamu mengingat dia lagi." Rizal beralasan tidak ingin Grace teringat akan Joe. Karena di apartemen itu pasti Grace sering melakukan hubungan bersama dengan Joe.


" Aku sudah tidak pernah ingat dia lagi kok, Pih!" sanggah Grace. Sejak dia tidak tahu di mana keberadaan Joe, dia sudah tidak pernah mencari di mana Joe saat ini berada.


" Baguslah kalau kamu sudah tidak mengingat dia! Oh ya, menurutmu, siapa yang lebih hebat? Suamimu ini atau mantanmu itu?" Rizal merasa penasaran dengan kemampuan bercinta mantan kekasih istrinya itu.


" Kenapa memangnya?" Grace menatap manik mata sang suami.


" Hanya ingin tahu saja. Siapa yang lebih memuaskanmu?" tanya Rizal kembali.


" Papih lebih hebat," jawab Grace menyeringai. " Aku tidak pernah kewalahan melayani Joe. Bersama Papih, rasanya beda," ungkapnya kemudian.


" Yang halal tentu saja rasanya lebih nikmat, kan?" Rizal mencium pipi Grace.


" Aku menyesal tidak bisa memberikan kesucianku pada Papih. Aku malah memberikannya kepada pria breng sek itu!" sesal Grace karena dia terjebak dengan pergaulan yang salah.


" Tidak masalah. Yang penting sekarang ini kamu sudah menjadi istriku. Aku juga sudah duda, walaupun beda status tapi kita bukan pertama kali melakukan hal ini." Rizal tidak mempermasalahkan masa lalu Grace yang pernah hidup bebas tinggal satu atap dengan pria tanpa ikatan yang sah. Hal itulah yang membuat Grace merasa nyaman bersama Rizal.


" Oh ya, Pih. Kalau Papih ke tempat kerja apa aku harus tinggal di rumah sendirian?" Grace membayangkan betapa jenuhnya berada di rumah Rizal saat suaminya itu beraktivitas.


" Ada ART di rumah. Kamu bisa belajar memasak dengan Bi Tinah nanti." Rizal terkekeh menyuruh Grace belajar memasak.

__ADS_1


" Untuk apa belajar masak? Ada ART yang bisa mengerjakan itu," sahut Grace menolak diminta Rizal untuk belajar memasak.


" Biarpun punya ART tapi tidak ada salahnya kamu belajar memasak, Grace. Suami itu lebih senang masakan istri daripada masakan ART, lho!" Rizal menyemangati agar Grace mau belajar memasak.


" Kalau masakan istrinya tidak enak gimana?" tanya Grace kemudian.


" Tidak masalah asalkan mau belajar. Aku 'kan ingin menjadikan kamu istri yang sholehah." Rizal dapat menerima asalkan Grace mempunyai kemauan untuk belajar.


" Pih, bagaimana kalau Papih berangkat aku juga ikut ke sana? Nanti aku menunggu di rumahku. Aku belajar masak sama Bi Saonah saja. Sore harinya kita pulang dan tidur ke rumah Papih?" Grace mempunyai ide agar rumahnya pun tetap dihuni olehnya walaupun hanya siang hari saja.


Rizal mengerutkan keningnya mencoba mempertimbangkan saran Grace yang ingin ikut bersamanya jika berangkat dan akan menunggu dirinya di rumah Grace.


" Boleh juga, jadi aku tidak repot kalau kepingin makan siang menyantapmu." Rizal menyeringai seraya mengedipkan matanya.


" Dasar ...!" Grace memutar bola matanya, membuat Rizal tertawa lebar dan menghujani pipi istrinya itu dengan ciuman.


***


" Bi Tinah, Surti deg-degan kalau istrinya Pak Rizal tinggal di sini." Sambil menyiapkan menu makanan untuk makan siang karena Rizal mengabarkan akan pulang ke rumah membawa istri barunya, Surti dan Bi Tinah berbincang di dapur.


" Surti harus siap-siap cari pekerjaan baru kalau begini, Bi Tinah. Buat jaga-jaga kalau Surti tidak betah bekerja di sini karena sikap istri barunya Pak Rizal itu." Surti bahkan sudah prepare sampai mencari-cari lowongan pekerjaan jika sampai dia keluar dari rumah Rizal.


" Kamu tega mau tinggalkan Bi Tinah, Sur?" Bi Tinah kaget dengan rencana Surti yang mengatakan sudah mempersiapkan diri jika harus hengkang dari rumah bos mereka saat ini.


" Bukannya Surti tega, Bi. Orang bekerja itu bukan hanya gaji tinggi, tapi juga mencari rasa nyaman, Bi. Kalau makan hati dimarahi terus, dibentak-bentak terus. siapa yang akan betah?" Sepertinya Surti sudah teracuni dengan cerita soal Grace dari Bi Surti sebelumnya hingga membuatnya ketakutan lebih dahulu.


" Ya sudah, sekarang ini kita bekerja yang benar saja agar tidak kena marah dan disalahkan, Sur!" Bi Tinah menasehati Surti agar bekerja sebaik mungkin. " Pak Rizal sama Non Bella selama ini 'kan baik sama kita. Masa kamu tega keluar dari sini, Sur?" Bi Tinah justru menyuruh Surti untuk melihat kebaikan Rizal dan Isabella.


" Iya juga ya, Bi Tinah. Semoga saja Surti tidak akan berbuat kesalahan agar tidak kena marah," sahut Surti kemudian.


Beberapa jam kemudian


Setelah dua malam menginap di hotel mewah milik David Richard menghabiskan waktu honeymoon mereka. Rizal dan Grace pun akhirnya pulang ke rumahnya.


Kedatangan mereka langsung disambut oleh Bi Tinah dan Surti saat Rizal dan Grace turun dari mobil.

__ADS_1


" Assalamualaikum ..." Rizal menyapa kedua ART nya yang menyambut di ruang tamu.


" Waalaikumsalam, Pak, Non." sahut Bi Tinah masih memanggil Grace dengan sebutan Non karena usia Grace yang masih muda.


" Bi Tinah, Surti. Perkenalkan ini Grace. Karena sekarang Grace sudah menjadi istri saya, mulai hari ini Grace akan tinggal di sini. Bi Tinah dan Surti harus memperlakukan Grace seperti kalian memperlakukan dan melayani saya ataupun Bella." Rizal meminta ART nya agar memperlakukan Grace dengan baik di rumahnya.


" Baik, Pak." jawab Bi Tinah dan Surti bersamaan dengan memberanikan diri melirik ke arah Grace. Grace yang sedang mengulum senyuman di mata mereka seperti sedang memperlihatkan seringai licik.


" Cantik-cantik tapi galak ..." gerutu Bi Tinah dalam hati.


" Ya Allah, kena pelet apa Pak Rizal dapat istri kayak gini?" Surti pun sama mengeluh dalam hati seperti Bi Tinah.


Grace bukannya tidak menyadari jika kedua ART suaminya terlihat kurang menyukai kedatangan. Namun dia tidak ingin terlalui memikirkan hal tersebut.


" Oh ya, Bi Tinah. Apa Bella ada di rumah?" tanya Rizal kemudian.


" Ada, Pak." sahut Bi Tinah.


" Oke, oke ... Bi Tinah sudah siapkan menu untuk kami makan?" tanya Rizal kembali.


" Sudah, Pak. Tinggal dihangatkan saja," jawab Bi Tinah.


" Ya sudah, kami mau ke kamar dulu. Nanti kalau sudah siap, panggil kami ya, Bi!?


" Baik, Pak."


Rizal lalu membawa Grace manaiki anak tangga menuju kamar yang akan menjadi kamar mereka berdua selanjutnya.


*


*


Bersambung ....


Happy reading❤️

__ADS_1


__ADS_2