
Rivaldi tersenyum senang karena akhirnya dia mendapatkan informasi tak terduga yang selama ini tidak dia dapatkan dari Jimmy dan anak buahnya. Secara tidak sengaja, dia justru mendapatkan informasi yang akurat dari sumber yang terpercaya dan tidak diragukan lagi kebenarannya.
" Saya tidak menyangka ternyata Rena sangat pemberani, Tante." Rivaldi tidak menyangka saat mendengar cerita Agatha soal Grace yang pernah ingin menyakiti seorang pengusaha kaya raya mantan Papa tirinya sendiri.
" Itu hanya salah paham, Aldi. Tapi, Grace itu sebenarnya anak baik." Agatha mencoba meyakinkan Rivaldi agar tidak merubah pendiriannya ingin meminang Grace.
" Untung saja Tuan David berbaik hati tidak sampai memproses masalah ini ke jalur hukum," ujar Rivaldi.
" Tante memang memohon-mohon pada Tuan David, Aldi. Tante tidak ingin Grace sampai mendekam di penjara. Apapun akan Tante lakukan untuk menolong Grace." tutur Agatha menceritakan bagaimana dirinya sampai merendahkan dirinya sendiri.
" Berapa lama Rena harus menjalani hukumannya itu, Tante?" tanya Rivaldi kemudian.
" Satu tahun, tapi hanya menghitung hari saja dia sudah terbebas dari hukumannya itu, Aldi. Makanya Tante berharap kamu bisa secepatnya melamar Rena." Agatha memang sangat berharap Rivaldi secepatnya melaksanakan niatnya untuk melamar Grace, seperti yang pernah pria itu sampaikan saat datang ke kantornya.
" Tentu, Tante. Tante tenang saja! Saya akan melaksanakan apa yang pernah saya katakan kepada Tante." Senyum tipis terlihat di sudut bibir pria tampan itu.
" Tante lebih setuju dan lebih tenang jika Grace bersama kamu daripada dengan pria yang usianya hampir dua kali lipat dari Grace. Kamu bayangkan saja, bukankah Grace itu lebih pantas jika menjadi anaknya daripada menjadi istri Pak Rizal, kan?"
Rivaldi mengerutkan keningnya seraya menatap wajah Agatha. Hal tersebut membuat Agatha salah tingkah.
" Jangan berpikiran kalau Tante itu menyukai Pak Rizal ya, Aldi! Tante itu hanya membandingkan usia Grace dengan Pak Rizal yang memang tidak wajar untuk ukuran pasangan suami istri." Agatha tidak ingin Rivaldi beranggapan jika dirinya hendak bersaing dengan putrinya sehingga menentang hubungan Grace dan Rizal.
" Tidak, Tante. Saya tidak berpikir sejauh itu! Saya sedang mengingat jika Rizal itu mempunyai anak perempuan seusia Rena." Rizal teringat Isabella, saat Agatha menyebut jika Grace lebih cocok menjadi anak daripada jadi istri Rizal.
" Benarkah? Pak Rizal punya anak seusia Grace??" Agatha terkejut dengan informasi yang diberi oleh Rivaldi soal anak Rizal. Dia yakin, Grace tidak akan mungkin cocok dengan anak dari Rizal itu.
" Benar, Tante. Rizal sendiri yang memperkenalkannya pada saya. Waktu itu mobil yang dikendarai anaknya itu menabrak mobil saya, Tante." Rivaldi menceritakan bagiamana dia mengenal Isabella, anak dari Rizal.
" Apa kamu kenal anak Pak Rizal itu, Aldi? Di mana Tante bisa bertemu dengan dia?" Agatha yakin jika anak Rizal pun tidak akan mudah menerima Grace, sehingga dia berpikir tidak ada salahnya dia mengajak bekerja sama Isabella untuk menjauhkan Grace dan Rizal.
" Saya hanya kenal sepintas, Tan. Tapi, sepertinya dia masih kuliah dan saya tidak tahu dia kuliah di mana?!" jawab Rivaldi.
" Ya sudahlah, kita tidak usah bicarakan itu lagi. Yang penting kita fokus saja dengan rencana kita. Nanti Tante akan bicara dengan Om nya Garce agar meluangkan waktu supaya kamu bisa melamar Grace. Kalau perlu langsung menikah saja, biar tidak buang waktu." Agatha sepertinya tidak sabaran ingin anaknya segera dipinang dan dinikahi oleh Rivaldi.
" Nanti saya akan bicarakan lagi dengan orang tua saya, Tante."
" Tapi, Aldi. Kalau sampai orang tua kamu melarang kamu dengan Grace, karena Grace pernah hampir mencelakai orang bagaimana? Apa orang tuamu mau masih menerima Grace sebagai calon menantunya?" Ada ketakutan di hati Agatha jika sampai Grace mengalami penolakan dari keluarga Rivaldi.
" Tante tidak perlu merasa khawatir. Orang tua saya tidak akan menentang apa yang sudah saya putuskan!" tegas Rivaldi.
" Syukurlah kalau begitu," sahut Agatha menarik nafas lega.
Rivaldi tersenyum senang karena Agatha begitu mempercayainya. Jadi tidak sulit untuknya membalaskan apa yang sudah Grace dan Rizal perbuat kepadanya. Namun, senyuman di bibir pria tampan itu menyurut saat dia melihat dari arah pintu masuk restoran, seorang wanita cantik masuk ke dalam restoran bersama pria yang dia kenal dan juga beberapa orang yang mengikutinya.
Wanita yang tak lain adalah Grace terlihat berbincang dengan pelayan restoran yang menyambutnya. Kemudian berjalan menuju meja dirangkul oleh Rizal. Apalagi saat Rizal menarik kursi dan mempersilahkan Grace duduk. Seketika Rivaldi memicingkan matanya menatap tajam ke arah dua orang tersebut.
" Bukankah itu Rena dan Rizal, Tante?" Rizal menunjuk ke arah meja tempat Grace dan rombongannya berada.
" Mana?" Agatha menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rivaldi. Dan matanya terbelalak lebar saat melihat keberadaan Grace, Rizal dan buah Rizal berkumpul dalam satu meja.
" Sedang apa mereka di sana?" gumam Agatha.
" Mereka yang bersama Rena dan Rizal itu siapa, Tante?" tanya Rivaldi penasaran.
" Mereka itu anak buahnya Pak Rizal," sahut Agatha.
__ADS_1
" Ayo, kita ke sana, Aldi. Mumpung ada Pak Rizal dan anak buahnya, Tante ingin mengenalkan kamu sebagai calon tunangan Grace!" Agatha lalu bangkit dari tempat duduk dan mengajak Rivaldi untuk ke meja di mana Grace dan rombongannya berada. Karena dia harus bertindak cepat sebelum Rizal melangkah lebih jauh.
***
Grace dan Rizal bersama anak buahnya menuju restoran Jepang yang dipilih oleh Grace untuk makan siang bersama sebagai perayaan hubungan asmara antara Rizal dan Grace yang baru saja dimulai dan diakui oleh mereka berdua.
Grace dan Rizal mengunakan kendaraan sendiri terpisah dari anak buahnya. Sepanjang perjalanan, berkali-kali Rizal tersenyum dan menoleh ke arah Grace yang lebih menfokuskan pandangan ke depan. Hati Rizal saat ini sangat senang, walaupun tidak dikatakan secara langsung. Namun, tangisan Grace tadi sudah menjelaskan jika wanita itu mempunyai perasaan yang sama dengannya.
Grace sendiri bukannya tidak tahu jika sejak tadi Rizal sering menolehkan pandangan ke arahnya. Dia tahu kalau saat ini Rizal sedang dilanda rasa bahagia karena dia sudah menunjukkan jika dia pun sebenarnya menginginkan bersama Rizal.
" Fokus saja dengan kemudimu, Pak tua! Jangan terus menoleh kepadaku terus!"
Rizal tertawa mendengar ucapan Grace yang masih bernada ketus.
" Hei, kamu ini masih galak saja kepada kekasihmu ini." Masih dengan terkekeh Rizal melanjutkan perjalanannya. " Lagipula, apa kamu tidak ingin merubah panggilan Pak tua itu? Aku ini calon suamimu," lanjutnya dengan percaya diri.
Grace menoleh merespon perkataan Rizal dan bertanya, " Memangnya kau ingin aku panggil apa? Pak tua itu sudah yang paling cocok untukmu!" sindir Grace.
" Aku suka waktu kamu memanggilku dulu, seperti Bella memanggilku," sahut Rizal menyeringai.
Dengan kening berkerut Grace mengingat saat dia menggoda Rizal seperti Isabella memanggil nama Rizal.
" Papih?" Grace tidak percaya jika Rizal ternyata menyukai dia panggil dengan nama itu. Yang dibalas cepat dengan anggukkan kepala Rizal.
" Terasa manis saat kamu memanggilku dengan panggilanku itu." Rizal berkata dengan tertawa kecil. Sepertinya cahaya cinta benar-benar menerangi hatinya yang selama beberapa tahun mengalami kehampaan karena ditinggal oleh sang istri tercintanya menghadap Illahi.
" Apa tidak takut orang menganggap aku ini anakmu jika aku memanggil dengan sebutan Papih? Mereka nanti akan menganggap kalau kau ini sugar Daddy!"
" Bukankah selama ini juga orang beranggapan jika kamu ini lebih cocok menjadi anakku daripada istriku?" Rizal kembali tertawa menanggapi perkataan Grace.
" Hei, jangan berpikir soal usia, yang penting aku bisa memuaskanmu! Bukankah malam itu kau sampai menginginkan kita melakukannya, kan?" Rizal menyinggung soal kein timan mereka dua hari lalu di rumah Grace. Saat itu Grace pernah menanyakan apakah dirinya menginginkan melakukan hal yang lebih jauh dari sekedar berci uman. Rizal merasakan jika saat itu, Grace juga menginginkan hal tersebut.
" Tidak juga!" sanggah Grace menampik apa yang memang dia rasakan.
" Kau tidak usah menyangkalnya, Grace! Aku bisa merasakan jika kamu pun mendambakan hal itu." Rizal menggoda Grace yang terkesan malu mengakui.
" Kau tahu? Aku tidak pernah menginginkan melakukan hal tersebut selain dengan istriku dulu. Dan saat bersentuhan denganmu, keinginan itu muncul begitu saja. Makanya aku ingin segera menikahiku," ucap Rizal mengungkapkan apa yang dia rasakan pada Grace.
" Kau ingin menikahiku hanya untuk menyalurkan has ratmu saja?!" Grace terlalu cepat mengambil kesimpulan atas ucapan Rizal.
" Tidak! Tentu bukan karena hal itu saja!" tegas Rizal menampik dugaan Grace. " Aku ingin menikahimu karena aku ingin kamu mendampingi hari-hariku, mempunyai anak, mengurus anak bersama dan menghabiskan waktu sampai aku benar-benar menua. Aku tidak ingin saat usiaku senja nanti, aku akan tinggal di panti jompo dan bertemu dengan pengurus panti yang galak sepertimu dulu." Rizal berseloroh mengingat sikap Grace saat harus menjalani tugas sebagai petugas Panti Wreda.
Grace menarik sudut bibirnya, mengingat betapa gi lanya dia bersikap kasar kepada orang-orang yang sudah sepuh.
" Bagaimana kalau lain waktu kita ke sana? Aku ingin minta maaf sama Ibu panti dan pegawai di sana juga. Nanti kita belikan beberapa kebutuhan untuk penghuni di sana." Teringat akan Panti Wreda, Grace tergugah untuk mengunjungi panti jompo itu dan meminta maaf karena dia sempat membuat keonaran di sana.
Rizal tersenyum mendengar niat Grace yang ingin mengunjungi panti. Dia memang merasa jika Grace sudah mulai berubah. Apa yang baru saja dia dengar dari Grace soal rencana Grace ingin mengunjungi panti menunjukkan hal tersebut.
" Itu ide bagus, aku setuju denganmu," sahut Rizal kemudian. " Aku senang kau sudah banyak mengalami perubahan yang positif. Aku harap kebersamaan kita akan membuat kamu bisa menjadi lebih baik lagi." Rizal meraih tangan Grace ,menautkan jari tangannya ke jari tangan Grace lalu mengecup punggung tangan Grace.
" Sudah, ah! Fokus sama jalan di depan! Jangan mesra-mesraan dalam mobil yang akan berakibat fatal." Grace menarik tangannya dari genggaman Rizal dan meminta Rizal fokus berkendaraan.
" Siap, Bos!" Rizal terkekeh dan fokus dengan kemudinya.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah makan yang mereka tuju. Anak buah Rizal sampai lebih dahulu di restoran itu. Tapi, mereka memilih menunggu Grace dan Rizal di parkiran sebelum masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
" Kenapa kalian pada berdiri di sini? Kenapa tidak langsung masuk saja?" tanya Rizal pada anak buahnya.
" Kita belum pernah makan di sini, Pak. Takut salah ..." jawab Indra.
" Kami tunggu Pak Bos sama Bu Bos dulu, takut salah milih menu, harganya kemahalan, Pak." Jamal menimpali. Karena dia melihat mobil yang terparkir di halaman parkir adalah deretan mobil-mobil mewah. Tentulah selera yang dipilih oleh anak pengusaha seperti Grace bukanlah restoran kaleng-kaleng.
" Iissshh, kalian ini!" Grace memutar bola matanya menanggapi ucapan kedua anak buah Rizal. " Ayo masuk!" Grace lalu mengajak rekan-rekannya itu untuk masuk ke dalam restoran. Kebetulan Grace sudah reservasi tempat untuk mereka makan terlebih dahulu.
" Selamat siang, silahkan ..." Pelayan restoran menyambut Grace dan yang lainnya.
" Saya sudah pesan tempat sebelumnya, Mbak. Atas nama Grace Renata." Grace menyebutkan nama pemesan kepada pelayan tersebut.
" Oh, atas nama Kak Grace Renata, ya?" Mari saya antar, Kak." Pelayan itu mengantar Grace dan rombongannya ke meja yang dipesan oleh Grace.
" Ini meja yang Kakak pesan," ujar wanita itu menunjuk meja yang dipesan oleh Grace.
" Terima kasih. Mbak. Menunya sudah saya pesan, kan? Tadi saya sudah konfirmasi sebelum ke sini." Grace memang tidak ingin menunggu lama jadi sebelum berangkat dia sudah memesan menu yang ingin dia pesan terlebih dahulu.
" Baik, Kak. Nanti saya cek dulu, ya! Permisi ..." Pelayan itu kemudian meninggalkan Grace untuk menyiapkan pesanannya Grace.
" Jika ada menu lain yang ingin kalian pesan, pesan saja! Tidak usah khawatir akan dipotong ke gaji kalian nantinya." Rizal berseloroh membuat anak buahnya tertawa.
" Pak Rizal lagi happy terus bawaannya, nih! Benar-benar panah asmara itu membuat hati berbunga-bunga ya, Pa?" ledek Indra.
" Maklumlah puber kedua!" Grace ikut menyindir Rizal yang duduk di sebelahnya.
" Hei, siapa yang memancingku seperti itu?" Rizal bahkan tak canggung bercanda seperti itu dengan Grace di hadapan anak buahnya.
" Jangan-jangan ini gara-gara video itu ya, Pak?" Yuanita terkikik menyindir Rizal dan Grace soal video kein timan Grace dan Rizal.
" Video itu menginspirasi banget lho, Pak. Bikin saya kepingin cepat-cepat melamar pacar saya." Jamal pun ikut menggoda bosnya dan juga Grace.
" Ehemm, Grace, Pak Rizal. Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Suara Agatha yang tiba-tiba terdengar membuat semua yang ada di meja itu menolehkan pandangan ke arah suara Agatha.
" Mama?"
" Nyonya?
" Tante Agatha?"
Baik Grace, Rizal dan semua anak buah Rizal terkesiap saat melihat kemunculan Agatha di hadapan mereka terlebih lagi saat ini terlihat sosok pria tampan dengan penampilan charming mendampingi Agatha.
" Aldi?" Grace kembali terkejut saat melihat Rivaldi bersama Mamanya dengan tatapan tajam ke arahnya bergantian ke arah Rizal.
" Selamat siang, Pak Firman. Hmmm, maksud saya, Pak Rizal. Senang bisa berjumpa kembali dengan Anda tanpa membawa nama PT. Langgeng Putra Persada." Rivaldi menyindir Rizal dengan menyebut nama perusahaan milik Satria yang selama ini menjadi tameng aksi Rizal dan Grace saat menyamar.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1