TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Bisa Diajak Ke Party


__ADS_3

Grace mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, melintasi jalanan kota Jakarta menuju kampus Isabella bersama anak sambungnya itu. Selama perjalanan, Isabella lebih banyak terdiam, bukan karena dia malas untuk berbicara, tapi karena dia canggung untuk memulai satu percakapan dengan Grace.


Grace sendiri terlihat lebih rileks, dengan santainya dia ikut menyayikan lagu-lagu yang terdengar dari audio di mobilnya. Grace memang terkesan masa bo doh dengan sikap Isabella kepadanya. Yang penting dia tidak bersikap masa bo doh pada apa yang terjadi dengan Isabella. Dia tetap perduli kepada anak sambungnya tersebut.


" Nanti kamu pulang jam berapa, Bel? Kamu kabari aku saja sebelum mata kuliah terakhir, jadi aku bisa cepat meluncur ke sini." Setelah sampai di depan pintu gerbang kampus Isabella, Grace mengingatkan Isabella untuk menghubungi sebelum jam pulang kuliah Isabella. Agar Isabella tidak terlalu lama menunggunya di kampus.


" Oke, thanks, Grace." Sambil melepas seat belt nya, Isabella mengucapkan terima kasih kepada Grace lalu membuka pintu untuk turun dari mobil.


Grace menaikkan alisnya mendengar ucapan terima kasih yang terucap dari bibir Isabella. Ini pertama kalinya dia mendengar Isabella mengucapkan kalimat itu secara langsung kepadanya. Tidak seperti saat dia memberikan oleh-oleh, ketika dia pulang honeymoon dari Bali. Kala itu Isabella nampak enggan mengucapkan terima kasih kepadanya.


" Sama-sama, Bel." Grace pun lalu menjawab ucapan Isabella.


Tin tin


Dari arah belakang mobil Grace, Mobil Fauziah melintasi mobil Grace dengan membunyikan klakson mobilnya. Tak lama berselang, kaca jendela mobil Fauziah pun diturunkan.


" Hai, Mbak!" sapa Fauziah melihat Garce juga menurunkan kaca jendelanya.


" Hai, Zie!" Grace balas menyapa Fauziah.


" Mengantar anak kuliah, Mbak?" Fauziah iseng meledek Isabella yang baru turun dari mobil.


" Iya, nih, Zie. Biar makin disayang sama Papihnya, dong!" Grace menyahuti candaan Fauziah.


" Kenapa tidak ikut kuliah sekalian, Mbak? Daftar saja jadi mahasiswa di sini, Mbak, biar kita sering kumpul bertiga." Fauziah menyarankan agar Grace mau melanjutkan kuliah di kampusnya dan Isabella.


" Aku sudah malas belajar, Zie! Cukup belajar mengurus suami sama anak saja sekarang, sih!" Grace menjawab dengan tertawa kecil.


" Hahaha, bisa saja, Mbak Grace jawabnya." Tawa Grace tertular pada Fauziah.


" Aku duluan, ya!? Bye ..." Setelah berpamitan Grace pun membawa mobilnya meninggalkan kampus Isabella.


Baru melintas sekitar dua ratus meter dari kampus Isabella, Grace melihat map plastik berwarna biru di atas dashboard mobilnya. Sepertinya itu adalah milik Isabella yang tertinggal.

__ADS_1


Grace menghempas nafas seraya menggelengkan kepala melihat Isabella teledor tidak teliti akan barang yang dibawanya. Atau mungkin Isabella terlalu gugup pergi diantar olehnya.


" Ck, mana harus putar arah lagi ..." keluh Grace.


Grace terpaksa harus mengantar map plastik itu ke kampus Isabella. Dia harus melewati sekitar lima ratus meter sebelum memutar arah kembali ke kampus Isabella. Namun karena map itu penting berisi tugas kampus milik Bella, Grace harus rela berkorban untuk anak suaminya itu.


Beberapa saat kemudian, Grace memarkirkan mobilnya di seberang jalan di depan kampus Isabella. Dia malas harus memutar arah lagi selalu jauh. Dia memilih menyebrang jalan saja untuk mengantar map milik Isabella ke kampusnya.


Grace pun mencoba menghubungi Isabella agar Isabella menemuinya di pintu gerbang.


" Halo, Bel. Map kamu tertinggal di mobil. Aku tunggu di pintu gerbang, ya!?" Saat panggilannya terhubung dengan Isabella, Grace meminta Isabella untuk menemuinya di depan gerbang.


" Oh, ya sudah aku ke gerbang sekarang."


Setelah mendapatkan jawaban dari Isabella, Grace sehat mematikan ponselnya. Dan melanjutkan langkahnya menuju gerbang.


Suiitt suiitt


Terdengar siulan saat seorang pria mengendarai motor melintasi Grace. Tak hanya satu, dua atau tiga pria yang merupakan mahasiswa di kampus itu memperhatikan Grace yang terlihat cantik dan berpenampilan sangat modis.



" Hai, cantik. Sedang menunggu siapa?" Seorang pria menggunakan motor sport berhenti di depan Grace dan menyapa Grace dengan sok akrabnya.


" Yang pasti bukan menunggu kamu!" jawab Grace sedikit ketus.


" Aaaiihh, cantik-cantik galak banget, sih!?" Pria itu terkekeh, bukannya marah pada Grace. " Boleh, dong, kita kenalan!? Aku Romeo, Apa kamu adalah Juliet ku?" Pria yang mengaku bernama Romeo itu memperkenalkan dirinya pada Grace dan mulai aksinya merayu Grace.


" Hati-hati, Mbak. Dia itu fakboy!" Seorang mahasiswi yang berjalan masuk ke dalam kampus berseru memberitahu Grace agar Garce bersikap hati-hati terhadap Romeo.


" Benar, Mbak! Tiap lihat yang bening langsung saja didekati. Huuuuu ..." Teman wanita tadi menimpali seakan menguatkan tuduhan wanita tadi yang mengatakan jika Romeo adalah fakboy.


" Jangan dengarkan mereka! Kenalan saja, sih, tidak masalah, kan?" Romeo terus berusaha mendekati Grace.

__ADS_1


" Ada apa?" Isabella baru sampai gerbang, dia melemparkan tatapan curiga ke arah Romeo yang sedang ada di hadapan Grace. Sebagai mahasiswi di kampus itu, tentu saja Isabella mengetahui reputasi Romeo yang memang senang berganti pacar.


" Tidak ada apa-apa," sanggah Grace cepat.


" Ini ..." Grace lalu menyerahkan map plastik berisi tugas-tugas Isabella.


" Thanks ..." sahut Isabella, mengambil barangnya yang tertinggal di mobil Grace. Tadi dia terlalu bingung harus bicara apa pada Grace.


" Oke, nanti jangan lupa kasih kabar biar bisa cepat aku jemput!" Grace kembali mengingatkan.


" Iya," sahut Isabella.


" Dia ini kakak kamu, ya!? Kakak beradik sama-sama cantik." Romeo mengagumi kecantikan Garce dan Isabella.


" Kamu namanya siapa? Kalau kakak kamu ini namanya siapa?" tanya Remeo yang masih penasaran dengan sosok Grace, tapi dia juga tidak mengenal nama Isabella.


" Sebaiknya kamu kembali ke dalam!" Grace memyuruh Isabella untuk kembali ke dalam kampusnya dan tidak meladeni pria bernama Romeo itu. Isabella menuruti apa yang diperintah oleh Grace. Peristiwa kemarin membuatnya takut harus berurusan dengan pria-pria agresif dan mata keranjang seperti Romeo.


" Lho, ditanya malah kabur!?" protes Romeo pada Isabella yang berjalan cepat meninggalkannya.


" Heh, awas saja kalau kau berani dekat-dekat dia, kuton jok mukamu!" Garce langsung menebar ancaman sambil mengepalkan ke arah wajah Romeo, sebelum akhirnya berjalan ke arah mobilnya.


Ancaman yang diucapkan oleh Grace sontak membuat Romeo tercengang. Dia tidak menyangka akan diancam oleh wanita sampai seperti itu. Tapi, bukannya dia marah atau kesal dengan sikap Grace yang terkesan kasar, Romeo justru mengulum senyuman.


" Menarik juga itu cewek. Cantik, galak, pemberani juga. Belum pernah aku dapat pacar yang kayak dia. Boleh juga, nih. Bisa diajak ke party-party," gumam Romeo terus menatap ke arah Grace yang masuk ke dalam mobil milik Grace yang terparkir di seberang jalan kampusnya.


" Ah, si al! Tidak kuat sama mobilnya ..." gumam Romeo bernada pesimis, saat melihat mobil yang dipakai oleh Grace adalah salah satu mobil mahal yang nilainya milyaran rupiah.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading❤️


__ADS_2