TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Minta Sama Siapa?


__ADS_3

Grace bertanya kepada Isabella, kenapa Isabella menyuruhnya cepat-cepat pulang. Namun, pandanganya saat ini mengarah pada pada Rizal yang menggerakkan kepala menoleh ke arahnya. Sontak Grace langsung terbelalak, hingga hawa panas menyerang matanya yang menyebabkan cairan bening mengembun di bola mata wanita cantik itu.


Grace seakan tidak percaya pada menglihatannya, saat kini dia bersitatap dengan suami tercintanya, hingga air mata itu tak berbedung menetes di pipinya.


" Papih?" Dengan terisak Grace berjalan perlahan ke arah brankar Rizal. Dia takut jika ini hanya sekedar mimpi semata. Namun tatapan matanya tidak terputus bersitatap dengan pria yang sedang menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya, hingga kini mendekat dan berada di tepi brankar Rizal.


" Pih ..." Grace terisak hingga pundaknya bergetar, tapi dia masih belum berani memeluk Rizal.


" Grace ..." Barulah setelah Rizal menyebut namanya, Grace langsung menjatuhkan tubuhnya memeluk tubuh Rizal. Grace seakan tidak dapat berkata apa-apa selain menangis dan menangis bahagia.


Isabella yang melihat pemandangan haru perjumpaan Grace dengan Rizal setelah Papihnya itu tersadar memilih keluar dari kamar Grace karena dia tidak ingin mengganggu mereka berdua. Dia pun menutup pintu kamar Grace yang sejak tadi terbuka lebar.


Hingga beberapa saat, Grace hanya menangis di dada Rizal. Kebahagiaan setelah mengetahui suaminya tersadar sepertinya tidak dapat dilukiskan lewat kata-kata.


Rizal pun membiarkan Grace terus menangis melepaskan kerinduan akan dirinya, seperti dia pun merindukan semua yang ada pada diri Grace.


Sekitar lima menit berlalu, suara isak tangis Grace mulai mereda. Wanita itu pun kemudian mengangkat kepalanya yang sejak tadi dia sandarkan di dada Rizal lalu terduduk di tepi brankar sang suami. Grace membungkukkan tubuhnya dengan tangan membelai kepala Rizal, sementara tatapan matanya kembali bersitatap dengan sang suami yang hampir satu bulan tak sadarkan diri.


" Akhirnya Papih bangun juga." Dengan bibir bergetar, akhirnya suara Grace terdengar di sela-sela tangisannya.


" Aku kangen sama Papih ..." Grace kini mengecup kening Rizal beberapa detik sampai cairan bening itu menetes di kulit Rizal, lalu berpindah mencium pipi Rizal dan terakhir mencium bibir suaminya itu cukup lama, seperti yang selama ini dia lakukan saat Rizal tak sadarkan diri. Namun kali ini berbeda, karena Rizal merespon sentuhan bibirnya, meskipun tak seganas biasanya jika mereka berciuman dalam kondisi normal.


Grace kemudian membaringkan tubuhnya di samping Rizal dan memeluk tubuh sang suami seolah tidak ingin melepasnya lagi. Pandangannya terus menatap wajah Rizal yang masih menampakkan kelelahan, sementara tangannya membelai wajah Rizal yang banyak ditumbuhi cambang di rahangnya. Dia masih belum percaya jika suaminya benar-benar sudah sadar saat ini.


" Pih, Papih jangan seperti itu lagi, ya? Aku benar-benar takut akan kehilangan Papih. Kasihan anak kita ini, Pih." Grace mengambil tangan Rizal lalu mendekatkan telapak tangan Rizal ke atas perutnya. " Di sini, saat ini sudah ada benih Papih. Aku hamil, kita akan punya anak, Pih." Dengan rasa haru Grace mengungkapkan tentang kehamilannya yang sudah Rizal dengar dari Indra tadi.


" Alhamdulillah ..." ucap Rizal masih dengan nada yang pelan, sementara jari tangannya bergerak di perut Grace.


" Papih senang, kan? Aku sekarang ini hamil?" Suatu pertanyaan konyol yang dilemparkan Grace, karena tentu saja dia tahu kehamilannya sangat dinantikan oleh Rizal.


Rizal memberi respon dengan anggukan kepalanya atas pertanyaan yang dilontarkan Grace. Sudah pasti dia merasa bahagia saat mengetahui dia akan mendapatkan keturunan dari buah cintanya dengan Grace. Justru itulah yang dia dambakan.


" Kalau Papih senang, jangan bikin takut lagi kayak kemarin, ya, Pih! Aku tidak mau jadi janda muda walaupun banyak pria yang menginginkanku," keluh Grace.


Ucapan Grace membuat Rizal mengerutkan keningnya. Tentu dia tidak ingin sampai ada pria lain yang memiliki Grace. Bahkan tak rela Grace jatuh pada pelukan pria lain seandainya dia tak kembali tersadar.


" Grace ..." Mungkin ucapan Rizal sebagai protes karena dia tidak menyukai mendengar kata-kata Grace tadi.


" Tapi Papih sekarang sudah sadar, jadi aku tidak akan jadi janda muda." Grace terkekeh berseloroh.


" Grace, ada Dokter Peter." Dari arah pintu kamar, Isabella memberitahu kedatangan Dokter Peter yang datang setelah mendengar kabar dari Suster Rita tentang kondisi Rizal yang sudah tersadar.


Grace langsung terduduk di tepi brankar mengetahui kehadiran Dokter Peter di kamarnya.


" Dok ...."


" Sedang melepas kerinduaan, nih?" Canda Dokter Peter seakan tahu apa yang dirasakan Grace dan Rizal.


" Iya, Dok." Grace mengakui tanpa malu-malu, karena apa yang dia curahkan saat ini lebih dari kata melepas rindu.


" Halo, Pak Rizal. Selamat datang kembali. Saya Peter, saya dokter yang menanggani Anda selama Anda dirawat." Dokter Peter memperkenalkan dirinya kepada Rizal.


" Halo, Dok." Rizal menyahuti..


" Bagaimana perasaannya saat ini?" Dokter Peter menanyakan apa yang dirasakan oleh Rizal setelah terbangun dari tidur panjangnya.


" Apa Pak Rizal dapat mengingat dengan baik, Mbak?" Lanjut pertanyaan Dokter Peter.


" Aku rasa begitu, Dok. Soalnya suamiku dapat mengingat kalau aku ini adalah istrinya." Jawaban Grace membuat Dokter Peter tersenyum.

__ADS_1


" Tapi, suami saya irit sekali bicara, Dok. Dari tadi diajak bicara jawabannya sepatah dua patah kata saja." Grace mengeluhkan Rizal tak banyak bicara.


" Itu karena Pak Rizal cukup lama tertidur dan terjadi penurunan kesadaran. Kondisi pasca terbangun dari koma kadang bisa seperti itu. Karena itu dalam masa pemulihan nanti Pak Rizal disarankan melakukan terapi, untuk memulihkan ingatan juga kondisi fisik Pak Rizal." Dokter Peter menjelaskan apa yang harus dijalani oleh Rizal pasca tersadar dari tidur panjangnya.


" Kira-kira berapa lama kondisi suami saya akan cepat membaik, Dok?" tanya Grace kemudian.


" Jika segera melakukan terapi semoga bisa cepat pulih. Karena waktu pemulihan pasien setelah mengalami koma itu berbeda-beda." Kembali Dokter Peter menerangkan.


" Tuh, Pih! Papih harus terapi agar kondisi Papih cepat pulih seperti sedia kala." Grace menyarankan suaminya untuk segera menjalankan proses terapi.


" Iya," sahut Rizal, tentu dia juga ingin cepat sembuh. Akan jenuh menghabiskan waktu dibatas tempat tidur saat kondisi kita sedang sadar.


***


Rivaldi sedang meneliti draf memorandum of understanding sebagai perjanjian kontrak kerja dengan kliennya di dalam ruangannya siang ini. Pengusaha muda itu kini mulai melakukan persaingan yang sehat dengan perusahaan Mahadika Gautama dalam mencari klien baru. Dia tentu akan merasa malu pada Mama sambungnya jika harus bersaing licik dengan menantu Arina.


Ddrrtt ddrrtt ddrrtt


Rivaldi melirik ke arah ponselnya yang berbunyi. Dia melihat nama Isabella yang muncul di layar ponselnya saat ini. Keningnya seketika berkerut, ada apa Isabella menghubunginya? Padahal dia baru saja kembali ke kantor setelah menjemput Isabella tadi. Sejak pertengkaran Grace dengan Isabella, Rivaldi memang beberapa kali menjemput Isabella dari kampusnya. Sebenarnya bukan karena dia tertarik pada Isabella hingga dia melakukan hal itu. Semua ini dia lakukan agar Isabella tidak terus mengusik Grace karena rasa cemburu Isabella yang tak beralasan.


" Halo, ada, Bella?" tanya Rivaldi saat dia mengangkat penggilan masuk itu.


" Assalamualaikum, Kak Aldi. Papih sudah sadar, Kak." Tanpa basa-basi, Grace memberitahu apa yang terjadi pada Rizal sekarang ini.


" Papihmu sudah sadar?" Keterkejutan yang dirasakan oleh Rivaldi sampai membuatnya lupa menjawab salam yang diucapkan oleh Isabella.


" Iya, Kak. Alhamdulillah Papih saat ini sudah siuman. Sekarang sedang dicek sama Dokter Peter kondisinya." Isabella menjelaskan.


" Apa Rena sudah tahu soal ini?" Rivaldi ingat jika tadi Grace pergi bersama Vito saat dia mengantar Isabella ke rumah Grace.


" Grace sudah tahu, sekarang sedang di kamar bersama Dokter Peter juga," jawab Isabella.


" Papih terus saja memanggil nama Grace. Tapi, Aku belum tahu pasti apa yang dialami Papih sampai akhirnya tersadar dan memanggil nama Grace. Mungkin Papih takut Grace disebut sama pria lain," sahut Isabella menyindir Rivaldi.


Rivaldi terdiam mendengar cerita Isabella. Dari sana dia dapat menarik kesimpulan jika dalam alam bawah sadarnya terjadi sesuatu pada Grace yang akhirnya membangunkan Rizal. Dari peristiwa ini pun Rivaldi dapat melihat jika cinta di antara Grace dan Rizal sangat kuat, hingga Grace lah yang dapat mengembalikan roh Rizal ke raganya saat ini.


***


Agatha bergegas turun dari mobilnya. Dia sedang berada di Bandung saat Grace memberi kabar jika Rizal sudah siuman. Sudah pasti kabar itu adalah kabar bahagia juga baginya. Karena putrinya pasti merasa senang dengan sadarnya Rizal dari koma.


" Bi, bagaimana kondisi Rizal?" Tanya Agatha saat memasuki rumah Grace.


" Pak Rizal ada di kamar bersama Non Grace, Bu. Alhamdulillah, Bapak sudah mulai siuman sekarang," jawab Saonah menyampaikan kabar bahagia itu.


" Iya, saya sudah dengar dari Grace," sahut Agatha melanjutkan langkahnya menuju kamar Grace hingga saat ini dirinya sampai di depan pintu kamar Grace.


Tok tok tok


" Grace ..." Agatha mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar, karena saat ini kondisi Rizal sudah sadar. Jika kemarin-kemarin, Agatha masih masuk tanpa permisi lebih dahulu.


" Masuk saja, Mam." Dari dalam kamar, terdengar suara Grace yang menyuruhnya masuk ke dalam kamar.


Setelah mendapatkan ijin dari Grace, Agatha pun membuka handle pintu kamar Grace. Agatha melihat Grace bangkit dari berbaring di samping Rizal. Grace bahkan kini merentangkan tangannya menyambut pelukan hangat darinya. Agatha langsung memeluk Grace, dan seketika Grace menangis bahagia dalam pelukannya. Sepertinya baru kali ini Agatha merasakan Grace yang sensitif dan mudah menangis. Apalagi saat Grace menangis dalam pelukannya, Agatha merasakan jika dia sangat dibutuhkan oleh anaknya itu.


" Bagaimana kondisi Rizal, Grace?" Tanya Agatha memandang ke arah Rizal yang sedang mengarahkan pandangan ke arahnya.


" Papih masih lemah, belum bisa banyak bergerak dan berbicara. Harus menjalani terapi agar pemulihannya lebih cepat." Grace menjelaskan apa yang dijelaskan oleh Dokter Peter tadi kepadanya.


Pemandangan Grace dan Agatha yang tertangkap mata Rizal terlihat sebagai pemandangan yang menyejukkan hati Rizal. Apa yang sudah terjadi dengan Ibu dan anak itu saat dirinya tertidur panjang? Yang pasti apa pun itu adalah hal positif yang membuat hubungan Grace dan Agatha membaik.

__ADS_1


" Senang melihat kamu sudah tersadar, Rizal. Grace selalu menemanimu saat di rumah sakit dan tidak mau pulang ke rumah karena ingin menjagamu. Karena kehamilannya lah yang membuat dia terpaksa menyewa apartemen di rumah sakit agar dapat lebih cepat sampai di rumah sakit jika sesuatu terjadi kepadamu. Seharusnya kamu jangan sampai membuat putri saya ini menderita lagi!" Agatha masih nampak kaku berhadapan dengan Rizal meskipun dia sudah merestui pernikahan mereka.


" Iya, Bu. Saya ... akan menjaga Grace ... sebaik mungkin." Dengan kalimat terputus-putus Rizal menjawab ucapan Agatha.


" Mam ... sudah, deh! Jangan memarahi Papih! Papih itu baru sadar." Grace memprotes Mamanya yang dia anggap sedang memarahi Rizal.


" Astaga, Grace! Yang memarahi itu siapa? Mama hanya memberitahu pengorbanan kamu selama hampir sebulan di rumah sakit!" Agatha merasa jika dia tidak memarahi, hanya menasehati.


* Ya sudah tidak usah mengungkit apa yang aku lakukan dalam menjaga Papih. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri." Grace menegaskan jika apa yang dia lakukan adalah kewajibannya dalam merawat suami.


" Kau lihat, kan? Putriku selalu membelamu. Seharusnya kamu bersyukur mempunyai istri seperti Grace." Agatha terlihat masih gengsi mengakui jika dia sudah dapat menerima Rizal sebagai suami Grace.


" Mam, kalau kedatangan Mama hanya untuk bikin ribut, sebaiknya Mama pulang saja, deh!" Grace justru mengusir sang Mama dan menganggap Mamanya itu hanya mengusik kebahagiaan yang dia rasakan karena kesembuhan sang suami.


" Grace, jangan begitu ...!" Rizal menegur istrinya. Situasi yang berlaku sekarang berbeda dengan kondisi tadi saat Agatha baru sampai di kamar itu. Perdebatan yang dia lihat antara Grace dan Agatha kali ini memang terasa tidak asing baginya.


" Kemarin saat suami kamu belum sadar, kamu selalu bersikap manis terhadap Mama, sekarang suami kamu sudah sadar, kamu malah mengusir Mama!" Agatha merasakan sikap pembangkang dan keras kepala Grace kembali muncul setelah kesadaran Rizal.


" Mungkin lebih baik jika suami kamu tidak sadarkan diri terus, biar kamu mau menurut sama Mama!" Agatha bahkan menyebutkan hubungannya bersama Grace terlihat lebih baik saat kondisi Rizal tak sadarkan diri. Walaupun itu tidak diucapkan dari lubuk hatinya yang terdalam.


" Ya ampun, Ma! Mama tega banget mendoakan suami aku tidak sembuh!" Ucapkan Grace ditanggapi dengan salah arti oleh Grace. Wanita itu justru beranggapan Mamanya itu masih membenci Rizal.


" Mama bukannya tidak suka lihat suami kamu sembuh! Mama hanya tidak suka dengan sikap kamu yang kembali melawan Mama!" Agatha menepis tudingan Grace yang menganggapnya senang melihat Rizal terus tak sadarkan diri.


" Lagipula jika Mama senang melihat suami kamu terus sakit, untuk apa Mama hampir setiap hari datang dan menemani kamu di rumah sakit menjaga suami kamu ini!?" Agatha menunjukkan jika dia juga perduli pada kesembuhan Rizal.


Rizal menggelengkan kepala lemah melihat perdebatan antara Grace dengan Agatha. Namun, dia dapat melihat di antara mereka berdua sebenarnya mereka saling menyayangi dan perhatian, hanya saja sifat keras kepala ibu dan anak itu terlalu kuat mempengaruhi mereka berdua.


***


Kini Rizal sudah dipindahkan di tempat tidur yang digunakan oleh Grace, sudah tidak di brankar lagi, karena semua alat bantu medisnya sudah dilepas dari tubuh Rizal. Rizal saat ini hanya butuh pemulihan fungsi otak untuk mengingat banyak hal tentang yang terjadi sebelum dirinya mengalami koma dan pemulihan kondisi fisiknya.


" Pih, saat Papih tidak sadarkan diri, Papih selalu menyebut nama Mamihnya Bella. Apa Papih di sana nyaman ditemani Mamihnya Bella sampai tidak mau tersadar?" Ketika malam hari dan menjelang tidur, Grace menanyakan apa saja yang dilakukan oleh Rizal dalam alam bawah sadarnya itu.


" Iya ... aku merasa Sonia menemani sepanjang waktu dan mengajakku pergi ..." Rizal menjeda ucapannya, karena dia harus mengatur nafas. Untuk berbicara saja, sepertinya sangat melelahkan baginya. " Sampai akhirnya aku mendengar kamu berteriak memanggilku, meminta pertolonganku ..." Rizal menceritakan apa yang dia ingat dalam alam bawah sadarnya.


" Aku ada dalam alam bawah sadar Papih?" Grace terkesiap saat Rizal mengatakan dirinya pun hadir dalam alam bawah sadar Rizal.


" Di sana aku melihat Om Daniel datang ingin membawa kamu dan anak kita pergi," lanjut cerita Rizal.


" Anak kita? Di sana anak kita juga ada, Pih?" Kembali Grace terkesiap karena calon anak mereka juga masuk dalam alam bawah sadar sang suami. Mungkin itu adalah pertanda, jika kehadiran janin diperutnya menginginkan Papihnya itu tetap bertahan hidup.


" Iya, kamu dan calon anak kita yang hadir di alam bawah sadarku, Grace." Rizal mencoba menggerakkan tangannya untuk membelai wajah sang istri yang dia rindukan.


" Badan Papih masih lemas, ya?" Tanya Grace menggenggam tangan Rizal yang menyentuh pipinya.


" Iya, lelah sekali rasanya, Grace." sahut Rizal.


" Papih nanti harus ikut terapi biar kondisi fisik Papih cepat pulih, ya!? Aku kangen sama Papih. Sudah hampir satu bulan aku tidak disentuh Papih. Kalau Papih masih lemas terus, saat aku kepingin, aku mintanya sama siapa coba?" Pertanyaan konyol dilontarkan Grace pada Rizal membuat kening pria itu berkerut.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2