
Kayra menaikkan alisnya, dia pun akhirnya mengingat momen pertemuan dirinya dengan Grace. Dia ingat saat pertama kali bertemu dengan Mama kandungnya ketika itu, Grace mendampingi Arina.
" Ah, iya, kita pernah bertemu di toilet, ya? Terima kasih banyak, karena kamu lah akhirnya saya bisa bertemu dengan Mama kandung saya." Kayra menyampaikan rasa terima kasihnya karena menganggap Grace banyak membantunya menemukan jati dirinya dan bertemu dengan Arina.
" Sama-sama, Bu. Saya hanya menjalankan tugas saat itu," jawab Grace apa adanya.
" Oh ya, Bu Kayra. Bagaimana kabar Rivaldi sendiri?" Rizal tiba-tiba menanyakan soal Rivaldi pada Kayra.
Pertanyaan Rizal sontak membuat Grace menoleh ke arah suaminya, begitu jika Kayra yang menoleh ke arah Erlangga.
" Rivaldi sekarang ini sedang di luar negeri, Pak Rizal. Belakangan ini dia memang banyak pergi ke luar negeri, dia ingin mengembangkan usahanya di luar Indonesia." Erlangga yang menjelaskan, karena di dalam negeri, usaha milik Rivaldi kalah bersaing dengan perusahaan miliknya, Rivaldi mencoba mencari peluang pasar di negara Asia Tenggara lainnya.
" Oh, pantas saja ..." Kini Rizal dan Grace saling pandang.
" Saya dengar dari Bondan, jika Rivaldi ikut membantu menangkap orang yang menyerang Anda, Pak Rizal?" tanya Erlangga memastikan apa yang sudah dia dengar dari Bondan benar.
" Hmmm, benar, Pak Erlangga. Oh ya, terima kasih juga karena Pak Erlangga sudah menginjinkan Bondan membantu saya." Rizal kembali melirik ke arah Grace. Dia yakin jika Bondan sudah banyak bercerita kepada Erlangga soal Joe, bisa jadi juga Erlangga pun tahu apa yang terjadi pada Joe sesungguhnya. Dan dia khawatir Erlangga akan menyinggung soal itu di hadapan Grace.
" Bondan adalah teman Anda, Pak Rizal. Tentu saja saya mengijinkan dia mencari siapa yang melakukan itu pada Anda," jawab Erlangga.
" Hmmm, oh ya, mungkin Pak Erlangga dan Ibu Kayra ingin ke tempat lain, silahkan, Pak, Bu ..." Rizal buru-buru mempersilahkan Erlangga untuk pergi daripada Erlangga akan keceplosan bicara soal Joe yang sudah meninggal.
" Baik, Pak Rizal. Kami duluan." Dengan melingkarkan tangan di pinggang Kayra, Erlangga lalu meninggalkan Rizal dan Grace.
Rizal menarik nafas lega, karena dia tidak ingin Grace sampai tahu jika peni kamannya pada Joe menyebabkan pria itu kehilangan nyawanya.
" Ayo, Pih!" Grace menarik tangan Rizal mengajak suaminya masuk ke outlet untuk membeli pakaian untuk suaminya itu tanpa rasa curiga sedikit pun.
Rizal tersenyum dan menganggukkan kepala lalu mengikuti langkah Grace masuk ke dalam toko itu.
***
" Pagi, Bu. Pak Rizal sudah bangun?" tanya Vito saat Grace menuruni anak tangga.
" Sudah, sedang mandi. Ada apa, Vit?" tanya Grace heran karena Vito sampai mendatangi Rizal di rumah padahal waktu masih jam delapan lebih lima belas menit. Sementara Rizal selalu datang ke kantor pukul sembilan.
__ADS_1
" Saya hanya ingin memberitahu, tadi orangnya Pak Kris kasih kabar, acara pertemuannya dengan mereka minta dimajukan ke jam sembilan, Bu. Saya kemari takut Pak Rizal belum bangun." Vito menyebut alasannya datang ke rumah milik Grace itu.
" Oh, ya sudah nanti aku sampaikan ke suamiku," sahut Grace.
" Kalau begitu saya permisi, Bu." Vito berniat kembali ke kantor yang berada di depan rumah Grace itu.
" Vito, tunggu!" Suara Grace menghentikan langkah Vito.
" Ada apa, Bu?" Vito memutar kembali tubuhnya.
" Apa kamu masih mengharapkan Bella?" tanya Grace berjalan mendekat ke arah Vito.
Vito menghempas nafas kasar sebelum akhirnya berucap, " Bella sudah meminta saya untuk tidak berharap padanya, Bu." ucap Vito datar.
" Apa kau sudah menghilangkan rasa sayangmu pada Bella?" tanya Grace kembali.
" Saya sudah mengikhlaskan Bella, Bu." sahut Vito, pria itu sepertinya sudah mengikis harapannya memilik Isabella.
" Bella sekarang ini sedang patah hati, aku hanya ingin kasih tahu kamu itu saja. Kalau kamu masih mencintai Bella, kejar dia! Tapi, kalau kamu sudah melupakan rasa sayang kamu itu kepadanya, ya terserah kamu ..." Selesai mengatakan kalimat itu, Grace lalu kembali ke arah tangga untuk memberitahu suaminya soal pertemuan dengan klien.
Dan Grace juga merasa bersalah karena saat itu mendesak Vito untuk mundur, padahal Vito begitu tulus menyayangi Isabella.
***
Rizal sedang serius memperhatikan layar komputer. Dia sedang mempelajari soal dunia bisnis karena dia dikejar waktu untuk menjalankan perusahaan milik Papa mertuanya di Jerman.
Sejujurnya Rizal merasa pusing harus mempelajari itu. Dia bukan berbasic dari bisnis, tentu saja akan sulit baginya untuk dapat mengelola perusahaan itu, apalagi perusahaan milik Papa mertuanya itu adalah perusahaan besar.
" Papih sedang apa?" tanya Grace ikut duduk di samping Rizal sambil menyantap ice cream.
" Aku sedang mempelajari dunia bisnis, Grace." Rizal melepas kacamatanya, sambil melirik ice cream yang sedang dimakan oleh Grace.
Grace menyendok ice cream lalu menyodorkannya ke mulut suaminya saat suaminya itu memperhatikan ice cream yang dia pegang. Grace memang belum cerita kepada Rizal soal permintaannya pada Agatha untuk mengelola usaha Papanya di Jerman.
" Papih tidak usah pikirkan itu! Aku sudah minta bantuan Mama untuk mengurus perusahaan Papa," sahut Grace kembali menyuapkan ice cream ke mulut suaminya.
__ADS_1
" Maksudmu?" Rizal mengeryitkan keningnya tidak paham maksud perkataan Grace.
" Aku sudah bilang sama Mama, aku akan mengurus usaha Mama di sini, asalkan Mama yang mengelola perusahaan Papa di Jerman," jelas Grace.
" Ya ampun, Grace. Kamu kok tega sama Mama kayak gitu?" Rizal tidak sependapat dengan pemikiran istrinya.
" Lho, memangnya kenapa? Daripada Papih yang dipaksa urus perusahaan Papa, mending Mama saja yang urus. Lagipula dulu Mama pernah bantu Papa di perusahaan itu, kok! Jadi Mama sudah paham soal perusahaan Papa itu." Grace merasa saat ini yang cocok memegang usaha warisan Papanya adalah sang Mama yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis.
" Mama itu mau punya cucu. Kamu tega menjauhkan Mama dengan cucunya sendiri?" tanya Rizal.
" Papih ini gimana, sih? Om Daniel itu meminta Papih mengurus perusahaan di Jerman. Kalau Papih pindah ke Jerman, memangnya Papih ingin meninggalkan aku dan anak kita ini di Jakarta ini? Memangnya Papih tidak Ingin mengajak aku ikut ke sana? Papih ingin mencari wanita Jerman di sana?" Grace memutar bola matanya menganggap suaminya tidak berpikir, baik Agatha dan Rizal yang akan mengurus perusahaan Papanya, tetap saja dirinya nanti akan berpisah jauh dari Agatha.
" Iya juga, ya?" Rizal menyeringai menyadari kekeliruannya.
" Tapi Mama sangat mencintai pekerjaan Mama di sini, Grace."
" Memangnya Papih sendiri tidak mencintai pekerjaan Papih di sini?" Grace membalikkan ucapan suaminya.
" Ada syarat yang aku penuhi ketika aku menikahimu, Grace. Dan aku tidak boleh mengingkari janjiku itu." Sebagai seorang lelaki, pantang untuknya ingkar dari janji yang sudah dia ucapkan.
" Tapi, aku ingin tetap di Jakarta, Pih." Grace menyandarkan kepalanya di pundak Rizal. Dia merasa berat meninggalkan kota Jakarta yang banyak memberikan kenangan indah hingga dapat bertemu dengan Rizal yang menjadi jodohnya.
" Memangnya tidak ada orang lain yang bisa mengurus usaha Papa, apa?" Bibir Grace mengerucut. Sungguh dia tidak ingin kembali ke Jerman, dan dia tidak tahu harus memberi penjelasan apa lagi kepada Om nya itu.
" Hmmm, gimana kalau perusahaan Papa dijual saja ya, Pih?" Tiba-tiba muncul ide konyol dalam benak Grace untuk memecahkan masalah kepengurusan usaha Papanya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1