TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Dilema


__ADS_3

Rizal memperhatikan Grace yang dengan lahap menyantap makanan yang disediakan oleh Bi Tinah. Dia melihat Grace sama sekali tidak mengeluhkan rasa makanan yang disantap oleh wanita itu.


" Bagaimana? Enak rasanya, kan? Nanti kamu harus belajar sama Bi Tinah bagaimana cara memasak menu masakan yang enak kalau sudah menjadi istriku," ucap Rizal dengan santai.


Grace mengentikan kunyahannya saat mendengar ucapan Rizal. Sambil melirik sinis kepada pria itu dia berucap, " Siapa juga yang mau menjadi istrimu!?" Grace melanjutkan mengunyah makanan yang memang terasa enak di lidahnya.


" Kau harus dengar kata bosmu tadi! Kau itu harusnya mencari wanita dewasa yang pantas mendampingimu, bukan wanita muda seperti aku! Kau tidak kasihan apa dengan anakmu itu?! Dia pasti akan malu mengetahui Papanya menikah dengan wanita muda yang usianya seumuran dengannya. Pasti dia kena bully teman-temannya. Seharusnya kau ini memikirkan perasaan anakmu, bulan naf sumu saja!" Grace menasehati dengan kalimat sindiran kepada Rizal.


Rizal tak menjawab, dia hanya tersenyum dengan terus memandang Grace. Namun, tak lama dia bangkit dari duduknya.


" Cepat habiskan makanannya! Kita akan kembali ke kantor," ucapnya meninggalkan Grace sendiri di meja makan.


Melihat Rizal berjalan meninggalkannya, Grace pun mengikuti langkah pria itu walaupun makanan di piringnya belum habis.


" Sudah selesai makannya?" tanya Rizal heran karena dia tadi melihat masih ada beberapa sendok lagi yang tersisa di piring Grace.


" Sudah kenyang," sahut Grace. " Cepatlah kita pulang!" Grace kemudian berjalan ke luar rumah menuju mobil Rizal yang terparkir di pekarangan rumah Rizal. Dia sebenarnya tidak nyaman berada di rumah itu.


Rizal akhirnya berjalan mengekor Grace seraya berseru pada Bi Tinah yang masih berada di dapur.


" Bi, saya akan ke kantor lagi. Assalamualaikum ...."


" Iya, Pak. Waalaikumsalam ..." Suara Bi Tinah terdengar menjawab salam dari Rizal.


Lima belas menit kemudian ...


Isabella bergegas turun dari mobilnya. Dia tak menemukan mobil Papihnya terparkir di halaman rumah.


Isabella mendengus kasar. Dia menduga jika Rizal dan Grace sudah tidak ada di rumahnya saat ini. Sepertinya dia telat kembali ke rumah.


" Assalamualaikum, Bi Tinah!" Isabella berteriak memanggil nama ART nya saat membuka pintu rumah.


" Bi, Papih sama wanita itu sudah pergi?" Masih dengan berseru, Isabella bertanya pada Bi Tinah yang belum menyahutinya.


" Waalaikumsalam, Non Bella. Papih Non sudah kembali ke kantor sekitar seperempat jam lalu, Non." Bi Tinah ke luar dari arah dapur menyambut anak majikannya itu.


" Ck, Papih apa-apaan, sih!? Bawa-bawa wanita jahat itu ke sini!" Dengan berkacak pinggang, Isabella berjalan mondar-mandir.


" Memang dia siapa sebenarnya, Non?" Bi Tinah merasa penasaran dengan sosok Grace.


" Dia itu wanita jahat, Bi! Dia itu sudah melakukan kejahatan dan dia itu sedang menjalani hukuman dan menjadi tawanan Papih." Isabella menjelaskan apa yang dia dengar dari Vito beberapa bulan lalu tentang sosok Grace.


" Dia melakukan kejahatan? Kok, dia bisa bebas berkeliaran, Non? Bukannya di penjara?" tanya Bi Tinah bingung.


" Itu karena pihak korban berbaik hati jadi tidak memproses wanita itu ke jalur hukum!" ujar Isabella. " Eh, ujung-ujungnya jadi menjebak Papih gini!" Isabella mendengus kasar.


" Memangnya bisa ya, Non? Melakukan kejahatan tapi tidak di penjara? Enak sekali kalau begitu ..." sahut Bi Tinah.


" Aku juga heran, Bi! Kenapa tidak dipenjarakan saja wanita jahat itu! Biar tidak jadi pengacau!" gerutu Isabella kesal.


" Bibi tahu, tidak? Dia itu pernah mengaku sebagai pacarnya Papih di depan orang-orang dan di depan Fauziah teman aku! Pakai peluk-peluk segala. Menji jikkan sekali dia itu!" Isabella memang sudah menanamkan kebencian pada Grace sejak pertama mereka bertemu.

__ADS_1


" Sugar Babynya Pak Rizal gitu, Non?" tanya Bi Tinah penasaran.


" Iya, dia memang mengaku begitu! Tidak tahu malu 'kan dia?!" Geram hati Isabella saat mendengar Grace mengaku sebagai sugar baby Papihnya beberapa waktu lalu.


" Dan kurang a jarnya, dia menyebut Papih itu singa tua, Bi. Tidak ada sopan santunnya sama sekali, kan? Kalau sekarang Papih ingin menjadikan dia sebagai istri Papih, Bella tidak bisa membayangkan akan seperti apa rumah ini, Bi?" Isabella memijat pelipisnya. Dia benar-benar dibuat pusing dengan pengakuan Papinya yang mengatakan Grace sebagai calon istrinya.


***


Selepas Magrib, Rizal kembali ke rumahnya. Kedatangan pria itu tentu sudah sangat ditunggu oleh putri semata wayangnya itu di ruang tamu.


" Assalamualaikum ..." Rizal membuka pintu dan mengucap salam.


" Waaliakumsalam ..." Isabella yang memang sengaja menunggu Rizal di ruang tamu membalas sapaan pria itu.


" Lho, kamu kok ada di sini, Sayang." Rizal menghampiri Isabella yang duduk di sofa dengan melipat tangan di dadanya.


Rizal berjalan menghampiri Isabella dan ikut duduk di samping Isabella lalu melingkarkan tangannya di pundak Isabella. Dia bisa melihat wajah cantik putrinya itu tidak menampakkan keceriaan.


" Ada apa? Muka kamu cemberut begini?" tanya Rizal heran.


Isabella mendengus kasar kemudian bertanya dengan nada ketus, " Apa maksud Papih bawa-bawa wanita jahat itu kemari? Dan apa maksudnya Papih menyebut kalau wanita jahat itu adalah calon istri Papih?!" Emosi Isabella yang sejak tadi tertahankan dia lepaskan kepada Papihnya.


Rizal terkesiap saat putrinya itu ternyata mengetahui kedatangannya bersama Grace ke rumahnya. Dia menduga jika Bi Tinah lah yang sudah melaporkan apa yang terjadi tadi siang di rumahnya.


" Pih, demi Allah ... Bella tidak rela Papih menikah sama dia, Pih!" Seketika Isabella menangis tersedu. " Kenapa Papih memilih dia? Bella tidak melarang jika Papih ingin menikah lagi. Tapi, bukan dengan wanita jahat itu! Bella tidak suka wanita jahat itu! Bella sudah ingatkan Papih agar tidak usah dekat-dekat dengan dia. Dan Papih selalu menyangkal jika Papih hanya menjalankan tugas. Nyatanya apa sekarang, Pih? Papih malah menginginkan dia menjadi istri Papih! Papih sudah terpengaruh dengan wanita jahat itu!" Dengan berurai air mata, Isabella melepaskan segala unek-uneknya tentang rencana Papihnya itu yang ingin menikahi Grace.


" Dia itu jahat, Papih sendiri sudah tahu, kan? Kenapa Papih mau menjadikan. dia istri Papih?! Bella tidak setuju, Pih! Dan kalau Papih tetap bersikeras menikahi dia, Bella akan pergi dari rumah ini! Bella tidak ingin bertemu dengan Papih lagi!" Bahkan Isabella mengancam akan meninggalkan Papihnya itu jika Rizal bersikukuh dengan pendiriannya.


Rizal dibuat tertegun dengan sikap dan kalimat-kalimat yang diucapkan Isabella kepadanya. Dia tidak menyangka, membawa Grace makan di rumahnya bagaikan suatu pukulan untuk putri kesayangannya itu.


Rizal hanya membelai kepala Isabella penuh rasa kasih sayang. Dia tidak langsung memberikan penjelasan kepada Isabella. Karena saat ini Isabella sedang emosi. Dia yakin apapun yang akan dia sampaikan, Isabella tidak akan bisa menerimanya dengan baik.


Setelah Isabella terlihat tenang, Rizal membawa putrinya itu berbincang di kamar Isabella. Mungkin lebih terasa nyaman berbincang empat mata di tempat yang lebih privasi dibanding di ruang tamu yang bisa didengar oleh ART nya. Karena yang akan dibicarakan oleh mereka adalah urusan pribadi.


" Bella, Papih minta kamu jangan berpikiran buruk seperti ini terhadap Papih." Rizal menyeka air mata yang mengalir di pipi putrinya. " Semua yang kamu pikirkan itu tidaklah benar, Bella. Papih memang tadi membawa Grace datang kemari. Tapi, bukan seperti yang kamu tuduhkan tadi. Papih ... mana mungkin Papih akan menikahi Grace! Dia seumuran denganmu. Bella jangan salah sangka terhadap Papih." Rizal berusaha menampik tuduhan putrinya.


" Lalu untuk apa Papih bawa dia kemari? Dan kenapa Papih bilang kalau dia calon istri Papih?" selidik Isabella. Sepertinya dia masih belum percaya sepenuhnya dengan penjelasan Papihnya.


Rizal menghela nafas panjang untuk mencari alasan yang tepat agar dapat memberi penjelasan kepada putrinya itu.


" Papih hanya bersandiwara, Sayang. Daripada Papih dijodohkan sama Mamanya Grace. Kamu mau?? Kamu lihat anaknya saja seperti itu, bagaimana Mamanya?" Rizal terpikirkan soal perjodohan dengan Agatha, hingga dia memberikan alasan itu yang dia rasa bisa diterima oleh Isabella.


" Menjodohkan Papih dengan Mamanya?" tanya Isabella heran.


" Iya, Sayang. Jadi, dia itu ingin menjodohkan Papih dengan Mamanya. Sudah pasti Papih tolak mentah-mentah. Tapi, dia masih terus berusaha menjodohkan Papih. Bukan sama Mamanya saja. Tapi, sama klien Papih yang sudah bersuami juga, Apa tidak gi la itu namanya?? Papih tidak ingin dia jodoh-jodohkan. Karena itu Papih sengaja bilang kalau dia itu calon istri Papih supaya dia jera. Karena sebenarnya dia itu tidak suka kalau Papih dekati." Rizal bercerita jika Grace memang tidak menyukai pria dewasa seperti dirinya.


Isabella menatap bola mata Papihnya mencoba mencari kebenaran cerita Papihnya itu.


" Papih tidak sedang berbohong, kan?" tanya Isabella kurang yakin.


" Tentu saja Papih tidak berbohong, Sayang. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya sama Vito. Kamu sering mencari info tentang Papih dari Vito, kan?" Dengan terkekeh meledek.

__ADS_1


" Vito tahu sendiri waktu dia menjodohkan Papih dengan Mamanya di hadapan anak buah Papih. Jadi sekarang ini, Papih ingin memberi pelajaran kepada dia agar tidak mengusik urusan pribadi Papih." Sepertinya alasan itu bisa diterima oleh Isabella.


" Berani sekali dia menjodoh-jodohkan Papih!" geram Isabella dengan kesal.


" Papih juga tidak mengerti. Mungkin saja dia melakukan hal itu karena ingin membuat Papih kesal." Rizal mengedikkan bahunya. Dia senang anaknya itu percaya kepada perkataannya tadi.


" Sekarang, Papih minta kamu hanya percaya dengan omongan Papih. Jangan terpengaruh dengan yang lain. Papih sayang sama kamu, Bella. Mana mungkin Papih akan membuat hatimu sedih." Rizal merengkuh tubuh Isabella dan membiarkan anaknya itu nyaman di dalam pelukannya saat ini.


***


Rizal keluar dari kamar mandi dengan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Dia lalu mengambil pakaian yang akan dia kenakan untuk tidur.


Rizal mengambil kaos tanpa lengan dan boxer lalu memakainya. Masih dengan tangan mengeringkan rambutnya yang habis dia keramas. Dan mengambil rokok di laci nakasnya dan melangkah ke arah balkon, membuka pintu balkon kamarnya dan medudukkan tubuhnya di kursi santai seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, lalu menutupi wajah dengan handuk yang tadi dia pakai untuk mengeringkan rambutnya.


Rizal tidak tahu apa yang sedang dia rasakan sekarang ini. Melihat kemarahan dan kesedihan putrinya saat mendengar jika Grace adalaj calon istrinya,. hatinya tercubit. Namun, dia tak bisa menampik jika sosok Grace lambat laun mulai masuk ke dalam hatinya.


Rizal bukan pemain cinta yang senang merayu wanita hanya untuk bersenang-senang apalagi melakukan sentuhan fisik termasuk berci uman. Tapi, bersama Grace, dia seolah ingin melakukannya lagi. Mungkin bibir wanita itu mengandung candu yang membuatnya tidak bisa melupakan sentuhan dengan bibir Grace.


" Ada apa aku ini?" Rizal mendengus cukup kencang, menandakan jika dia sedang berada dalam kegalauan.


" Aku tidak boleh begini terus. Apa yang aku rasa pada wanita itu salah." Rizal seakan berada dalam satu dilema. Sebagai seorang pria dewasa, dia membutuhkan sosok pendamping, dan entah mengapa hatinya seakan sudah terpaut dengan sosok wanita pemberontak seperti Grace. Namun, sebagai seorang ayah, kebahagiaan Isabella adalah di atas segalanya. Dia tidak mungkin mengorbankan kebahagiaan putrinya hanya karena keegoisannya dengan mengutamakan kesenangannya semata.


Rizal mengambil sebatang rokok dan menyalakan korek api untuk membakar rokok yang dijepit oleh bibirnya. Rizal selalu membeli satu bungkus rokok untuk persediaan di rumahnya setiap Minggu. Jika dalam waktu seminggu Rokok itu tidak habis atau tidak dia sentuh sama sekali, dia akan memberikannya kepada satpam yang berjaga di rumahnya. Dan dia akan membeli yang baru untuk satu Minggu ke depan.


Rizal mengepulkan asap rokok yang dia hisap hingga membentuk lingkaran. Dia tersenyum menertawakan dirinya sendiri yang terjebak permainan Grace dan terjerat permainan yang dia ciptakan sendiri tanpa mempertimbangkan resiko yang akan terjadi dengan perbuatannya itu.


Sedangkan di dalam kamarnya, Isabella sedang menghubungi nomer telepon Vito. Isabella tentu saja ingin minta bantuan Vito untuk menyelamatkan Papihnya dari Grace.


" Assalamualaikum, Kak Vito. Maaf kalau Bella mengganggu waktu istirahat Kak Vito," ujar Isabella saat panggilan telepon dengan orang kepercayaan Papihnya itu terhubung.


" Waalaikumsalam, tidak apa-apa, Bella. Kakak juga sedang bersantai, kok. Ada apa, Bella?" sahut Vito dari seberang dengan bersemangat.


" Kak, aku ingin bicara berdua saja dengan Grace. Apa Kak Vito bisa tolong sampaikan pada wanita itu jika aku ingin bicara bertemu dan bicara empat mata dengan dia. Tapi, jangan sampai Papih tahu jika aku akan berbicara dengan Grace. Apa Kak Vito bisa bantu aku?" tanya Grace menyampaikan alasan nya menghubungi Vito malam-malam begini.


" Oh, iya, tentu saja Kakak akan membantu Bella." Bagi Vito, permintaan Isabella adalah hal yang wajib untuk dijalankan. Apapun akan dia lakukan untuk Isabella.


" Terima kasih ya, Kak. Sorry kalau Bella selalu merepotkan Kak Vito."


" Tidak apa-apa kok, Bella. Sangai saja ... itu bukan hal yang sulit untuk dilakukan, pasti Kakak akan bantu kamu."


" Ya sudah, kalau begitu, Bella tutup dulu teleponnya ya, Kak. Assalamualaikum ..." Isabella berpamitan ingin mengakhiri panggilan telepon itu.


" Waalaikumsalam ..." Vito masih menyahuti salam Isabella sebelum sambungan telepon itu tertutup.


***


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2