
Keluar dari pintu lift, Grace berjalan menuju mobil Rizal yang terparkir di basement apartemen tempat tinggalnya. Dia masih ingat di mana Rizal memarkirkan mobilnya kemarin, jika pria itu tidak memindahkan letak posisi parkir mobilnya.
Tok tok tok
Grace mengetuk jendela pintu mobil milik Rizal. Dan tak lama pintu mobil pun terbuka. Grace pun langsung masuk dan duduk di samping Rizal.
" Hai, Pak tua. Apa tidurmu semalam cukup nyenyak?" Grace sudah mulai aksinya menggoda Rizal yang tak menolehnya sama sekali ketika dia masuk ke dalam mobil.
" Semalam dituntaskan di mana?" Pertanyaan nyeleneh dilontarkan Grace dengan senyuman nakal di bibirnya. Dia pernah berhubungan dengan pria, sudah pasti dia tahu rasanya jika tidak sampai tersalurkan.
" Apa Anda tidak bisa tidak membahas masalah itu, Nona?" Kesal karena Grace masih saja membahas soal berciuman, Rizal menegur Grace dengan geram.
" Memangnya ciuman kita semalam itu tidak berkesan untukmu, Pak tua?" Grace memperhatikan wajah Rizal yang masih enggan menatapnya.
" Tidak! Itu tidak bermakna apa-apa!" tegas Rizal menyangkal jika ciuman yang mereka lakukan semalam tidak berarti apa-apa untuknya, padahal semalaman dia sulit tertidur untuk menghilangkan bayangan kehangatan sentuhan bibir Grace dari benaknya.
" Kok begitu? Apa kau tidak suka berciuman dengan wanita muda seumuran anakmu, Pak tua?" Grace setengah tertawa meledek Rizal.
" Jika Anda terus bicara, seat belt itu akan saya pakai untuk mengikat mulut Anda, Nona!" gertak Rizal karena Grace tidak juga menghentikan ocehannya.
" Hahaha, aku bicara baik-baik kenapa kau marah seperti itu? Apa karena kau terlalu lama menduda jadi cepat marah?" Tidak takut dengan ancaman Rizal, Grace kembali meledek pria itu. " Hei, bagaimana jika aku jodohkan kau dengan Mamaku? Mungkin lebih cocok jika dengan Mamaku itu. Mamaku juga masih terlihat cantik, kan?" Grace justru menyampaikan ide gi la menjodohkan Rizal dengan Agatha.
" Anda benar-nenar sudah gi la, Nona!" ketus Rizal.
" Kau bilang aku gi la? Oh, you broken my heart ..." Grace mendramatisir dengan menyilangkan tangan di dadanya seolah ucapan Rizal melukai hatinya.
" Dasar gi la!" umpat Rizal kemudian menyalakan mesin mobilnya, tak ingin terus meladeni perkataan-perkataan Grace yang membuatnya sakit kepala.
Selama dalam perjalanan menuju kantor Rizal, tak henti-hentinya Grace berbicara. Rizal yang mendengarkan suara wanita itu hanya diam sambil memijat pelipisnya
" Oh ya, Pak tua. Anakmu itu kuliah di mana?"
Pertanyaan Grace kali ini langsung direspon Rizal dengan cepat. Pria itu bahkan sampai menghentikan mobilnya secara mendadak ketika Grace menyinggung soal Isabella.
" Jangan berani mengusik kehidupan putri saya, Nona!" gertak Rizal penuh intimidasi.
__ADS_1
" Hei, aku hanya bertanya! Siapa juga yang ingin mengusik anakmu itu?!" Grace memutar bola matanya. " Tapi, kalau anakmu itu tahu apa yang kita lakukan semalam, kira-kira dia akan marah tidak, ya?" Pertanyaan Grace selanjutnya justru memancing emosi Rizal.
" Saya peringatkan Anda, Nona! Jangan mengganggu putri saya dengan segala omong kosongmu itu!" kembali Rizal mengancam Grace. Sudah pasti Rizal takut jika sampai Grace menyakiti Isabella.
" Iiiihh, Papih galak banget, deh! Aku kan jadi takut ..." Bukannya merasa takut, Grace justru meledek Rizal dengan menyebut Rizal dengan sebutan yang biasa Isabella gunakan.
Melihat Grace yang tidak menampakkan rasa takut pada ancamannya, Rizal terlihat semakin kesal. Jika saja orang yang ada di sampingnya saat ini adalah seorang pria, mungkin sebuah tinju sudah Rizal hantamkan ke wajah orang itu.
" Papih jangan marah-marah, dong! Nanti makin tua, lho! Makanya buruan nikah lagi, Pih! Biar ada penyaluran jadi tidak emosian seperti ini ..." Dengan mengusap lengan Rizal, Grace berkata-kata dengan nada yang sangat manja dan menggoda. Namun, dengan cepat Rizal menepis kasar tangan Grace yang menyentuh lengannya.
Rizal menjalankan kembali mobilnya dengan emosi hingga pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepertinya Rizal ingin cepat sampai di kantornya agar tidak terus mendengar ocehan Grace yang membuat kepalanya seakan mau pecah.
Sepuluh menit kemudian, mobil yang dibawa oleh Rizal sudah sampai di depan kantor RG Special Agent.
" Saya peringatkan Anda, Nona! Jangan pernah membahas soal hal konyol semalam!" Sebelum keluar dari mobilnya, Rizal memperingatkan Grace, agar tidak bercerita tentang apa yang mereka lakukan semalam. Karena dia tahu, Grace pasti akan membahas hal tersebut untuk meledeknya. Bahkan tanpa malu, Grace bisa saja menceritakan hal tersebut pada Vito.
" Hmmm, aku tidak janji ya, Pak tua eh, Pih." Kembali Grace meledek Rizal dengan sebutan yang biasa dipakai oleh Isabella.
Rizal langsung mencengkram tangan Grace cukup kencang, karena wanita itu sama sekali tidak menggubris ancamannya.
" Matamu indah sekali, Pak tua. Apalagi kalau sedang menatapku seperti itu. Jangan kelamaan memandang, nanti bisa jatuh cinta, lho!" Grace terkikik tak merasa terintimidasi dengan tatapan tajam mata Rizal.
Sungguh, rasanya Rizal ingin menelan hidup-hidup mahluk di hadapannya yang bertingkah seolah tak punya dosa. Pria itu memilih untuk segera keluar dari mobilnya sebelum emosinya semakin berkobar. Dan dengan langkah lebar Rizal masuk ke dalam kantornya.
" Selamat pagi, Pak." Bahkan sapaan Junaedi, security yang berjaga hanya dibalas Rizal dengan anggukkan kepala, tidak seperti biasanya.
Rizal berlari kecil menaiki anak tangga, seakan ingin cepat sampai ke dalam ruangannya.
" Selamat pagi, Pak." sapa Vito saat mendengar hentakan kaki orang berlari muncul dari tangga.
" Vito, masuk ke ruangan saya sekarang!" Rizal memberi perintah kepada Vito agar mengikuti langkahnya.
" Baik, Pak." Vito segera menuruti apa yang diperintahkan oleh Rizal.
" Ada apa, Pak?" tanya Vito saat mereka sudah berada di ruangan kerja Rizal. Dia merasa apa yang akan disampaikan Rizal sangat penting, melihat Rizal tadi berlari menaiki anak tangga.
__ADS_1
" Siapa yang hari ini bertugas menyelidik kasus sengketa tanah, Vit?" tanya Rizal mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya.
" Jamal dan Indra, Pak. Apa ada masalah, Pak?" tanya Vito.
" Suruh wanita itu ikut menanggani kasus ini, Vit!" Rizal ingin Grace ikut bergabung dengan timnya yang akan menyelidiki seputar kasus sengketa tanah yang beberapa hari lalu diterimanya.
" Wanita itu? Maksud Pak Rizal itu Nona Grace?" tanya Vito kembali.
" Iya."
" Nona Grace langsung terjun ke lapangan, Pak? Apa cukup aman?" Vito meragukan Grace yang akan bisa membantu penyelidikkan.
" Dia harus mulai belajar dari sekarang!" jawab Rizal memberikan alasan. " Oh ya, mulai nanti malam, tolong atur Sam atau siapa saja untuk menjaga Nona Grace di apartemennya. Akan ada tambahan uang lembur untuk mereka yang bertugas mengawasi dia." Rizal menyerahkan tugas mengawasi Grace pada anak buahnya, karena dia sudah terlalu pusing mengatasi aksi wanita itu dalam menggodanya.
" Apa Nona Grace sudah aman, Pak? Mendengar keputusan Rizal yang menyerahkan pengawasan Grace pada anak buahnya. Vito menduga jika Grace sudah dapat dikendalikan.
" Dia tidak akan berani kabur." Rizal yakin jika Grace tidak akan berani ke mana-mana. Karena dia sudah menaruh kamera tersembunyi di ruangan tamu Grace tanpa sepengetahuan Grace ketika wanita itu mengunci diri di kamarnya.
" Baik kalau begitu, Pak. Nanti saya akan konfirmasikan pada Jamal dan Indra untuk mengajak Nona Grace ke lapangan," sahut Vito.
" Ada lagi yang ingin disampaikan, Pak?" tanya Vito kemudian.
" Tidak ada, Vit. Kembalilah ke mejamu!"
" Baik, Pak. Permisi ..." Vito pun melangkah ke luar ruangan kerja Vito untuk memberitahu rekannya yang hari ini akan menjalankan tugas menanggani kasus sengketa tanah.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1