TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Penguntit


__ADS_3

" Jadi gimana, Bel? Mau tidak aku dekatkan kamu dengan Aldi? Siapa tahu kalian berdua itu jodoh." Grace seperti seorang marketing yang sedang menawarkan dan membujuk konsumennya agar tertarik pada apa yang ditawarkan olehnya.


" Orang tua dia baik banget, lho! Tidak akan menyesal mempunyai mertua seperti mereka." Grace sampai mempromosikan kebaikan orang tua Rivaldi kepada Isabella agar Isabella dapat mempertimbangkan tawarannya itu.


" Kamu pasti akan menjadi menantu idaman dan disayang sama mereka, Bel. Karena kamu itu akan menantu pertama mereka. Mereka pasti senang banget kalau Aldi menikah." Grace tak henti-henti membanggakan keluarga Rivaldi. Bahkan saat masih menyamar sebagai Rena, dia pun sempat membayangkan betapa menyenangkan mempunyai mertua seperti mereka, meskipun dirinya tidak menyukai Rivaldi.


" A-aku tidak tahu. Kak Aldi kelihatan acuh seperti itu kalau berhadapan denganku sekarang ini." Isabella merasa pesimis jika Rivaldi dapat menerima dia sebagai kekasihnya.


" Itu gampang diatur, nanti aku ajari bagaimana caranya menaklukkan hati pria, deh!" Grace siap memberikan tips nya kepada Isabella.


" Yang pasti, Aldi itu tidak suka sama wanita yang terlihat sekali menyukainya. Kamu paham tidak maksudku ini?" tanya Grace.


" Maksudnya?" tanya Isabella dengan kening mengeryit, dia memang tidak memahami apa yang dimaksud oleh Grace.


" Aldi itu lebih suka pada wanita yang bersikap cuek dan tidak menunjukkan rasa suka kepadanya. Dalam arti, dia itu tidak suka kalau ada seorang wanita yang tergi la-gi la kepadanya, dia itu alergi. Contohnya kayak kamu kemarin datang ke kantor dia, dia itu tidak suka kalau ada wanita yang sok perhatian sama dia." Grace menyebutkan apa yang tidak disukai Rivaldi. Setidaknya, itulah yang pernah Rivaldi jelaskan dulu kepadanya.


Isabella menbelalakkan matanya, karena terkena sindiran Grace.


" Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih, kok! Bukan cari perhatian sama dia!" Dengan cepat Isabella membantah jika dirinya mengunjungi kantor Rivaldi karena berusaha mencari perhatian Rivaldi.


" Iya aku tahu. Aku hanya mencontohkan saja," balas Grace merespon sanggahan Isabella.


" Lagipula kamu tidak bilang kalau Kak Aldi tidak suka yang seperti itu!" protes Isabella karena Grace tidak mengatakan sebelumnya jika Rivaldi tidak suka didatangi wanita di kantornya.


" Mana aku tahu kalau kamu suka dia!" Grace membela diri karena awalnya dia memang tidak mengetahui jika Isabella diam-diam menyukai Rivaldi.


" Sudah, yuk! Kita pulang. Kamu mau mampir ke mana lagi?" Grace mengajak Isabella meninggalkan restoran setelah makanan yang mereka pesan itu habis.


" Pulang saja, deh!" sahut Isabella.

__ADS_1


Setelah mereka selesai menyantap makanan dan melakukan pembayaran, mereka berdua pun meninggalkan mall, tanpa mereka sadari jika pada saat yang bersamaan Joe melihat kebersamaan mereka sambil bertanya-tanya heran bagaimana Grace dan Isabella bisa saling mengenal.


Sepuluh menit kemudian ...


Grace melirik ke arah spion mobilnya, dia merasa sejak keluar dari mall tadi, dia merasa ada sebuah mobil yang terus mengikuti mobilnya. Dia mengerutkan keningnya, siapa lagi yang berani bermain-main dengannya? Itu yang ada di dalam pikirannya.


" Bel, coba kamu perhatikan mobil di belakang yang warna hitam itu. Kayaknya dari tadi mengikuti kita terus, deh! Kamu merasa, tidak?" Grace bertanya kepada Isabella, siapa tahu dia salah menduga. Namun, dia sangat yakin jika mobil itu benar-benar sedang mengikuti mobil yang dia kendarai saat ini.


" Mobil mana?" Isabella justru memutar badannya melihat ke arah belakang, untuk melihat mobil yang ditunjuk oleh Grace. Dia melihat ada mobil hitam yang dimaksud oleh Grace di belakang mobil putih, tepat di belakang mobil yang sedang dikendarai oleh Grace


" Memangnya dia siapa, Grace?" tanya Isabella, tiba-tiba saja kecemasan mulai melanda hatinya, dia langsung dihinggapi ketakutan jika ada yang hendak berbuat jahat kepadanya.


" Mana aku tahu!" Grace menjawab dengan mengedikkan bahunya. Dia merasa tidak sedang berurusan dengan orang, kenapa juga tiba-tiba ada orang yang mengikutinya sejak tadi.


" Apa mereka berniat jahat kepada kita, Grace?" Ketakutan Isabella hingga dia mencengkram erat seat belt yang melingkar di tubuhnya.


" Mungkin!" Grace kembali melirik spionmya kembali untuk memastikan jika dia bisa menjebak orang yang sedang mengikutinya itu untuk mengetahui siapa mereka dan apa tujuan mereka mengikutinya. Dia lalu melirik Isabella yang terlihat senewen sambil menoleh terus ke belakang.


" Jangan bercanda, dong, Grace!" Isabella menegur Grace yang dia anggap bercanda di saat yang tidak tepat. " Aku mesti kasih tahu Papih! Papih harus tahu kalau ada orang yang mengikuti kita!" Isabella lalu mengambil ponsel di dalam tasnya untuk melaporkan soal penguntit yang sedang mengikuti mobil mereka.


" Tidak usah kasih tahu Papih, Bel! Papih sedang ada di luar kota. Papih pasti akan khawatir kalau tahu ada yang mengikuti kita. Nanti Papih tidak konsentrasi dengan pekerjaannya!" Grace dengan cepat melarang Isabella yang hendak menghubungi Rizal. Dia tentu lebih memikirkan ketenangan hati Rizal, apalagi saat ini suaminya sedang berada di luar kota Jakarta.


" Lalu kita bagaimana, Grace? Aku takut kita kenapa-napa. Sekarang ini kasus kejahatan itu makin marak, Grace. Kamu lihat sendiri di berita. Kasus penem bakan, pemu kulan, muti lasi. Astaghfirullahal adzim! Serem banget itu, Grace!" Rasa khawatir Isabella hingga dia menyebutkan kasus-kasus yang belakangan marak terjadi dan menjadi sorotan publik.


" Kamu tenang saja, Bel! Berdoa saja kita baik-baik saja dan selamat sampai rumah." Melihat kecemasan hingga membuat wajah Isabella memucat, Grace akhirnya merasa kasihan sehingga mencoba menenangkan Isabella.


Grace lalu mengencangkan laju mobilnya. Jika beruntung, dia akan lepas dari orang yang membuntutinya itu. Jika tidak bisa, terpaksa dia memancing untuk menjebak si pengendara mobil yang mengikutinya sejak tadi.


Sekitar satu kilometer mobilnya berjalan, mobil itu masih terus menguntitnya, membuat Grace akhirnya membelokkan mobilnya ke jalan yang sepi dan sangat sempit dan satu jalur. Dari kaca spion, Grace melihat mobil itu pun tidak memilih berbelok mengikuti mobilnya, namun mobil itu pun berhenti, sekitar lima puluh meter dari mobilnya.

__ADS_1


" Kenapa berhenti di sini, Grace?" Melihat Grace memilih berhenti membuat Isabella merasa heran. Menurutnya jika berhenti, sama saja dengan memancing orang itu untuk mendekati mobil mereka.


" Sssttt, kamu jangan berisik, Bel!" tegur Grace memyutuh Isabella untuk diam dan tidak banyak memprotes tindakannya.


Isabella pun akhirnya diam. Dia pasrah pada apa yang diarahkan Grace kepadanya. Sementara mulutnya terus saja berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang menimpa mereka berdua.


Setelah ditunggu beberapa saat, orang di dalam mobil itu tidak juga keluar, Grace memundurkan mobilnya, hingga begitu dekat dengan mobil tersebut.


Apa yang dilakukan Grace membuat Isabella terheran. " Kenapa kita malah mendekati mereka, Grace?" keluh Isabella semakin khawatir.


" Kamu diam saja, tunggu di sini dan kunci pintu mobilnya!" Grace membuka seat belt nya. Tentu saja dia harus turun untuk menanyakan siapa mereka yang sebenarnya.


" Kamu mau apa, Grace? Mau turun? Jangan Grace! Itu berbahaya! Sebaiknya kita pergi saja dari sini!" Isabella mencengkram lengan Grace, melarang istri dari Papihnya itu yang hendak turun ke luar untuk menemui orang itu.


" Kamu tenang saja, Bel! Tidak usah khawatir kayak gitu! Aku sudah biasa menghadapi yang seperti ini." Grace melepas tangan Isabella yang menahannya untuk keluar, dia tersenyum melihat kekhawatiran Isabella. Namun, dia tetap pada pendiriannya untuk turun dari mobil dan menemui orang yang diam-diam membuntutinya itu.


" Hati-hati, Grace!" Saat menyadari dirinya tidak dapat menahan kemauan Grace yang ingin menemui orang di dalam mobil yang mengikutinya, Isabella hanya bisa menasehati agar Grace hati-hati.


Setelah turun dari dalam mobil, Garce lalu berjalan dengan langkah lebar menuju mobil yang mengikutinya itu.


Tok tok tok


" Keluar!" Dengan memben tak Grace menyuruh orang di dalam mobil untuk keluar dari mobil tersebut.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading m❤️


__ADS_2