
Rivaldi baru selesai meet up bersama dengan teman kuliahnya dan dilanjutkan makan siang bersama dengan teman-teman seperjuangannya saat masih menjadi mahasiswa di salah satu universitas yang ada di kota London.
Senang sekali akhirnya dia bisa berjumpa kawan-kawan lamanya. Kebetulan ada salah satu temannya yang sedang berkunjung ke Jakarta, karena sekarang ini menetap di Birmingham.
Rivaldi kembali menuju arah kantornya, walaupun dia belum puas berbincang dengan teman lamanya itu. Tapi malam nanti mereka berencana bertemu kembali agar lebih leluasa berbincangnya.
Mata Rivaldi yang fokus dengan jalan di depannya tiba-tiba mendapati sebuah mobil mirip dengan mobil yang dipakai oleh Joe beberapa hari lalu. Bukan hanya mirip, nomer mobilnya pun memang nomer mobil milik Cyntia.
Rivaldi sudah tidak menyuruh anak buah Jimmy untuk mengikuti Joe. Dia hanya menyuruh Jimmy mengawasi Agatha agar jangan sampai diusik oleh Joe.
Rivaldi mengurungkan. niatnya yang ingin kembali ke kantornya. Dia justru memilih mengikuti mobil Joe, karena dia penasaran apakah pria yang pernah dekat dengan Grace yang saat ini mengendarai mobil itu.
Rivaldi menjaga jarak sekitar lima puluh meter dari mobil milik Cyntia, hingga mobil itu berhenti di sebuah gedung. Rivaldi menoleh gedung di samping mobil Cyntia berhenti. Tiba-tiba dia teringat jika Isabella mengajar di lembaga pendidikan non formal itu. Rivaldi pun akhirnya ikut memarkirkan mobilnya di belakang mobil Cyntia masih dengan jarak yang sama.
Dari Jimmy dia mengetahui jika Cyntia mempunyai anak perempuan di bawah usia sepuluh tahun. Sehingga dia menduga di dalam mobil itu ada Cyntia, yang mungkin ingin menjemput anaknya pulang les.
Tak berselang lama mobil itu bergerak maju sekitar lima meter ke depan. Setelah itu keluarlah seorang pria yang Rivaldi kenali sebagai Joe berjalan menghampiri wanita yang baru keluar dari gedung itu. Dan yang membuat Rivaldi terperanjat adalah wanita yang didekati Joe sangat dia kenal.
" Itu 'kan Isabella!? Mau apa si Joe menemui Isabella." Semakin dibuat penasaran saat Rivaldi mengetahui wanita yang dihampiri Joe adalah Isabella.
Walau dari kejauhan, Rivaldi bisa menangkap gestur tubuh tak nyaman dari Isabella. Terlihat Isabella nampak takut dan cemas. Apalagi saat Isabella berjalan dengan ragu dan sangat terpaksa masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Joe.
" Joe itu mantan kekasih Rena. Dan sekarang Joe mendekati Isabella, anak dari Rizal. Dunia ini memang sempit." Seringai tipis terlihat di sudut bibir Rivaldi.
" Apa Joe tahu jika Isabella itu anak tiri Rena?" Rivaldi mencoba menebak-nebak hingga dia teringat jika Joe adalah seorang penjahat kela min, sedangkan Isabella adakah wanita yang masih lugu.
Merasakan ada gelagat tidak baik dari sikap Joe, Rivaldi akhirnya memutuskan untuk terus mengikuti mobil di depannya itu hingga berhenti di basement sebuah apartemen.
Rivaldi memakai kacamatanya, agar Joe yang hanya sepintas bertemu dengannya tidak terlalu mengenalinya. Rivaldi membiarkan Joe bersama Isabella naik lebih dahulu menggunakan lift. Setelah mereka masuk dan Rivaldi bisa melihat arah lantai yang dituju oleh Joe, Rivaldi pun menekan tombol angka yang sama dengan Joe menggunakan lift yang lainnya.
Saat sampai di lantai empat, Rivaldi keluar dengan perlahan sambil menengok ke arah kanan dan kiri. Dia melihat kedua orang itu berhenti di sebuah pintu dan Joe membuka apartemen itu menggunakan access card.
" Mau apa mereka berdua?" Rivaldi mencurigai Joe ingin berbuat jahat pada Isabella. Dan benar saja dugaannya, karena tak lama kemudian dia melihat Joe manarik paksa Isabella masuk ke dalam apartemen dengan tangan membekap mulut Isabella.
" Si al!" Rivaldi bergegas menghampiri pintu apartemen itu. Namun dia terlambat, pintu itu telah ditutup dan dikunci.
__ADS_1
Rivaldi mencoba membuka paksa pintu apartemen itu. meskipun sangat sulit. Dia tidak memperdulikan jika dia akan disalahkan oleh pengelola apartemen kerena merusak fasilitas apartemen, karena jika dia terlambat menolong, Isabella benar-benar dalam bahaya.
Di parcobaan yang keempat kalinya, akhirnya Rivaldi berhasil mendobrak pintu apartemen yang dimasuki oleh Joe dan Isabella tadi.
" Lepaskan aku!! Papih ...!! Tolong Bella, Pih!!"
Rivaldi langsung disambut dengan teriakan histeris Isabella yang dibarengi suara tangisan saat dia berhasil membuka pintu apartemen.
" Aaakkhh ...!" Suara pekikan Isabella kembali terdengar membuat Rivaldi berlari ke arah kamar di mana suara Isabella berasal.
" Aku tidak mau!! Papih ...!!" Teriakan histeris Isabella terus terdengar sampai akhirnya Rivaldi sampai di kamar. Dia mendapati Joe yang sedang mengungkung tubuh Isabella dan sedang mencum bu paksa Isabella. Mencium bagian dada Isabella yang sudah berhasil Joe koyak kain penutupnya.
" Ba jingan, kau!" Rivaldi menarik lengan Joe hingga tubuh Joe menjauh dari tubuh Isabella.
Buuggghh
Sebuah pu kulan mengenai hidung Joe dan itu berasal dari kepalan tangan Rivaldi.
Buuggghh
Isabella tersentak saat melihat kehadiran Rivaldi di apartemen itu. Walau dia bersyukur dia selamat dari Joe, tapi justru saat ini dia berhadapan dengan pria yang tak kalah licik dari Joe Apalagi saat dia melihat Rivaldi melepas blazernya, Isabella langsung beringsut ketakutan.
" Jangan!" Dengan terisak dan bola mata dipenuhi air mata Isabella menggelengkan kepala. Tangannya kini melipat di dada menutupi sebagian dadanya yang terbuka.
" Aku tidak akan menyakitimu! Pakailah ini untuk menutupi tubuhmu!" Rivaldi memakaikan blazernya itu dengan posisi terbalik di depan agar bagian dada Isabella tertutupi.
" Sebaiknya kita keluar dari sini!" Rivaldi menbantu Isabella yang terlihat syok dan terus menangis untuk turun dari tempat tidur.
" Kamu sudah aman, kamu tenang saja." Rivaldi menuntun Isabella yang masih ketakutan dan.tubuh bergetar.
" Hiks ..." Isabella terus terisak. Dia merasa kaget dan syok karena hampir mengalami peristiwa naas seperti tadi.
" Apa kamu masih sanggup berjalan?" tanya Rivaldi saat merasakan langkah Isabella terasa berat.
Isabella tak menjawab, hanya isak tangis yang terus terdengar dari mulut Isabella.
__ADS_1
Rivaldi akhirnya mengangkat tubuh Isabella dengan kedua lengannya, karena dia merasa tubuh Isabella semakin lemas dan hampir luruh ke bawah.
Rivaldi bergegas ke luar apartemen menuju lift untuk kembali ke mobilnya yang dia parkir di basement.
Ketika sampai di basement, seorang security menghampiri Rivaldi karena Rivaldi berjalan terburu-buru.
" Selamat siang, Mas. Mbak nya kenapa, Mas? Ada yang bisa saya bantu?" tanya security itu.
" Pak, tolong bantu saya!" Rivaldi minta security itu mengikuti langkahnya hingga sampai di samping mobilnya. " Tolong bukakan pintu mobil saya, Pak! Kuncinya di saku celana bagian belakang." Rivaldi meminta bantuan security untuk membuka pintu mobil Rivaldi.
" Baik, Mas." Security itu menjalankan apa yang diminta oleh Rivaldi.
Setelah pintu mobil terbuka, Rivaldi menaruh Isabella di kursi depan dengan mengatur sandaran jok dan memasangkan seat belt ke tubuh Isabella.
" Kenapa Mbak ini, Mas?" Sebagai security yang berjaga di apartemen itu, security tadi merasa perlu mengetahui jika ada sesuatu yang janggal terjadi di apartemen yang dia jaga.
" Dia hampir saja menjadi korban pemerko saan." Rivaldi menjelaskan apa yang terjadi pada Isabella agar dia tidak dicurigai berbuat buruk kepada Isabella.
" Astaghfirullahal adzim, lalu Mbak ini tidak apa-apa, Mas?" tanya security tersentak kaget mendengar cerita Rivaldi jika hampir terjadi pemerko saan di apartemen yang dia jaga.
" Dia syok tapi bersyukur masih terhindar dari musibah itu." Rivaldi mengeluarkan dompet dari kantong celana bagian lainnya.
" Tolong Bapak dan rekan Bapak cek kamar empat puluh tiga D. Pelakunya masih ada di sana setelah kami adu jo tos. Ini kartu nama saya dan ini uang untuk perbaikan pintu apartemen yang saya dobrak. Jika kurang hubungi saja saya di nomer yang tertera di kartu nama saya, Pak. Jika lebih ambil saja untuk Bapak sisanya." Rivaldi menyerahkan kartu nama dan beberapa lembar uang seratus ribu sekitar dua juta rupiah kepada security.
" Oh terima kasih, Mas." Security itu berterima kasih kepada Rivaldi
" Oh ya, Pak. Si pelaku memakai mobil itu, Bapak amankan saja dulu mobilnya. Bapak juga bisa minta pengelola apartemen untuk mengecek rekaman cctv di apartemen itu untuk membuktikan jika ucapan saya benar." Rivaldi kemudian menunjuk arah mobil Cyntia yang dibawa oleh Joe, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya untuk meninggalkan apartemen itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️