
Grace menolehkan pandangan ke arah pintu saat mendengar Yuanita dan Jaja menyebut nama Isabella. Sontak dia terkejut karena harus bertemu dengan putri dari Rizal kembali, setelah pertemuan pertama mereka beberapa bulan lalu yang meninggalkan kesan tidak baik bagi mereka berdua.
Dan saat pandangan mata Isabella pun mengarah kepadanya, putri dari Rizal itu langsung menunjukkan sikap tidak suka dengan keberadaan dirinya di dalam kantor itu.
" Kamu?? Kamu sedang apa di kantor Papih aku?! Kamu sengaja ingin menggoda Papih aku dengan terus mendekati Papih, kan?!" Bahkan saat ini Isabella melangkah ke arahnya dengan menuduhnya sengaja mendekati Rizal.
Suara Isabella yang terdengar menyentak sontak membuat anak buah Rizal yang berada di lantai bawah sebanyak dua belas orang termasuk Yuanita dan Jaja menoleh ke arah Isabella dan Grace. Tentu saja perkataan Isabella mengingatkan mereka akan video rekaman saat Rizal dan Grace beradegan in tim di apartemen Grace.
" Jangan asal bicara kamu!" Dituduh di hadapan banyak orang membuat Grace tidak terima. Grace bangkit dari duduk dan bahkan sampai menggebrak meja. " Siapa juga yang ingin mendekati pria tua itu?! Aku justru ingin lepas dan bebas dari sini! Dan asal kamu tahu, Papih kamu yang memaksa aku di sini! Kalau kamu tidak suka aku di sini, kamu bilang sama Papihmu itu untuk membiarkan aku keluar dari tempat ini!" Grace memanfaatkan kebencian Isabella terhadapnya untuk mempengaruhi Rizal agar melepaskannya dari tempat ini.
" Kamu itu wanita jahat, tidak mungkin kamu bebas hidup seenaknya!" Tentu saja Isabella menolak membantu Grace terbebas dari hukuman yang harus dijalankan oleh wanita itu.
" Kalau begitu terima saja, tidak usah banyak protes dengan keberadaan aku di sini!" Grace menaikkan dagunya dan melipat tangan di dadanya.
" Awas saja kalau kamu sampai menggoda Papih aku!" ancam Isabella kembali.
" Heh, aku itu bisa mendapatkan pria yang masih muda, tampan dan kaya raya! Jadi untuk apa menggoda pria tua seperti Papihmu itu!? Dia itu bukan seleraku! Sama sekali aku tidak tertarik dengan singa tua itu!" Grace mengibas tangannya menyepelekan pesona seorang Rizal Gunawan.
" Kau bilang apa tentang Papihku?!" Mendengar Grace menyebut Papihnya dengan sebutan singa tua, sontak Isabella terpancing emosi.
" Singa tua! Memang Papihmu itu seperti singa tua!" Grace semakin memancing kemarahan Isabella.
" Dasar wanita jahat!" Isabella ingin menyerang Grace. Dia tidak terima Papihnya dihina apalagi di hadapan anak buahnya sendiri.
" Isabella, ada apa ini?!" Suara Rizal terdengar dari ujung tangga atas. Rizal diberitahu Vito soal kedatangan Isabella yang sedang beradu mulut dengan Grace, membuat pria itu keluar dari ruangannya.
" Pih, kenapa wanita itu ditaruh di sini, sih? Dia itu wanita jahat! Bella tidak mau dia dekat-dekat dengan Papih!" Isabella lalu mendekat dan memeluk pinggang Papihnya.
" Bella, dia di sini karena permintaan klien Papih, Sayang." Rizal mencoba menenangkan putrinya agar tidak emosi karena saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian anak buah Rizal.
" Tapi dia itu orang berbahaya, Pih! Dia bahkan menghina Papih!" Isabella mengadukan sikap Grace yang dianggapnya kurang sopan kepada Rizal.
Sorot mata Rizal kini mengarah kepada Grace yang tak mau menatap wajahnya.
" Dia bilang tidak tertarik pada pria tua seperti Papih! Dia itu tidak menghormati Papih sebagai bos di sini!" Isabella berharap Rizal akan menegur Grace bahkan bila perlu memarahi Grace.
" Eh, asal kamu tahu, ya! Papih aku juga tidak suka model wanita jahat seperti kamu! Bukankah kamu sendiri yang sudah mempermalukan diri kamu dengan mengaku sebagai sugar baby Papih aku waktu itu!?" Kini Isabella menyindir Grace. Namun, sindiran Isabella tak berarti apa-apa bagi Grace.
" Bella, sebaiknya kita ke atas. Jangan buat keributan di sini." Rizal mengajak Isabella ke ruangannya, karena Rizal tidak ingin anak buahnya semakin berpikiran macam tentang hubungan dia dan Grace.
" Kalian, kembali ke pekerjaan masing-masing!" Sebelum naik ke atas Rizal sempat menyuruh anak buahnya untuk kembali fokus beraktivitas.
" Pih, kenapa Papih tidak memarahi dia? Dia itu sudah menghina Papih tadi." Ketika sudah berada di ruangan Rizal, Isabella mengadukan kelakuan Grace yang dia anggap tidak menghormati Rizal sebagai bosnya dan juga sebagai orang yang lebih tua.
" Kamu ingin Papih marah-marah di depan pengawai Papih? Kamu tahu Papih tidak pernah memarahi orang di depan orang banyak, kan?" Rizal membelai kepala putrinya itu.
" Ya sudah, sekarang Papih panggil dia! Dia itu sudah sangat keterlaluan menyebut Papih dengan sebutan singa tua!" Isabella mencebikkan bibirnya karena kesal dengan julukan yang diberikan oleh Grace pada Rizal.
" Singa tua?" Rizal mengeryitkan keningnya mendengar putrinya itu menyebut kata singa tua.
" Iya, Pih. Wanita jahat itu bilang gini, ' Heh, aku itu bisa mendapatkan pria yang masih muda, tampan dan kaya raya! Jadi untuk apa menggoda pria tua seperti Papihmu itu!? Dia itu bukan seleraku! Sama sekali aku tidak tertarik dengan singa tua itu!" Isabella mengikuti gaya bicara Grace yang lantang di hadapan Papihnya.
__ADS_1
" Oh ya?" Rizal menaikkan kedua alisnya saat mendengar sebutan yang diberikan oleh Grace untuknya. Tanpa dia sadar sudut bibirnya terangkat ke atas. Sudah lama dia tidak pernah berinteraksi apalagi berdebat dengan wanita itu. Dan sekarang Grace justru memberi tambahan julukan untuknya selain Pak tua.
" Pih, Papih kok malah senyum-senyum begitu?" Melihat Rizal justru tersenyum mendengar pengaduannya, Isabella sontak menegur Rizal.
Rizal terkesiap saat putrinya itu menegur dan mendapati dirinya yang secara refleks tersenyum mendengar umpatan Grace untuknya. Jika dia berani jujur, sepertinya dia pun merindukan berdebat dan mendengar umpatan Garce kepadanya.
" Hmmm, Papih tersenyum karena Papih merasa lucu saja disebut singa tua. Memangnya tampang Papih menyeramkan seperti singa?" Rizal justru terkekeh menanggapinya.
" Kok, Papih menganggap hal ini lucu, sih?" Isabella kembali memprotes Rizal. Dia merasa kecewa karena Rizal seolah membela Grace dan tak berpihak kepadanya.
" Biarkan saja dia mau mengatakan Papih ini seperti apa, yang penting Papih tidak seperti itu, kan? Dan juga, Papih tidak suka melihat kamu marah-marah seperti tadi di hadapan orang banyak. Kamu itu wanita, tidak baik marah-marah begitu." Rizal tidak ingin terus membahas masalah Grace dengan Isabella.
" Tapi Bella takut Papih akan tergoda dengan wanita itu, Pih." Isabella menyampaikan rasa cemasnya jika Papihnya itu akan jatuh pada pelukan wanita yang dia anggap sama sekali tidak pantas menjadi pendamping Rizal.
" Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Sayang? Papih tidak mungkin tertarik dengan wanita seperti dia! Percayalah sama Papih." Rizal meyakinkan Isabella agar tidak terlalu mencemaskannya.
" Oh ya, ada apa kamu kemari, Sayang?" Rizal justru mengalihkan pembicaraan.
" Bella mau antar makanan untuk Papih ..." Isabella menunjuk bungkus makanan yang sudah dia taruh di meja. Isabella memang terkadang datang ke kantor Rizal, hanya untuk mengantarkan makanan kepada Papihnya itu.
" Wah, kebetulan sekali Papih belum makan. Kamu sudah makan belum? Kita makan sama-sama saja kalau begitu." Rizal lalu mengambil makanan yang sudah dibelikan untuknya, lalu mengajak Isabella duduk di sofa untuk menyantap makanan bersama.
" Bella sudah makan, Papih saja yang makan. Bella ambilkan dulu piringnya, Pih." Isabella lalu beranjak ke luar ruangan Rizal untuk mengambil piring, sendok dan gelas untuk Papihnya itu.
***
" Nona, Anda dipanggil Pak Rizal." Setelah Isabella pulang dari kantor Rizal, Vito diperintah Rizal untuk memanggil Grace menghadap ke ruangannya.
" Sebaiknya Nona menghadap saja dulu daripada nantinya Pak Rizal marah kalau Nona menolak untuk menghadap." Vito mencoba menasehati Grace supaya tidak bersikap keras kepala, agar tidak ada konflik kembali antara Grace dan Rizal.
Grace lalu bangkit dari duduknya dengan malas lalu berjalan menaiki anak tangga untuk menunju ruangan Rizal.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Grace masuk ke dalam ruang kerja Rizal, membuat Rizal langsung mengarahkan pandangan ke arah Grace.
" Ada apa memanggilku?" Dengan menatap tajam seakan ingin melakukan perlawanan atas intimidasi yang akan dilancarkan Rizal, Grace bertanya dengan nada ketus kepada pria itu. Grace menduga jika Rizal akan menegurnya dan menyalahkannya atas pertengkaran dengan Isabella tadi.
" Saya dengar dari Bella jika kau mengolok saya. Apa benar?" Nada bicara Rizal saat ini tidak terdengar tinggi,. bahkan terdengar santai, dengan gaya dia duduk menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan melipat tangan di dadanya.
Grace melempar pandangan ke sembarang arah karena dia sudah menduga jika putri dari Rizal itu akan mengadukan dirinya kepada Rizal.
" Singa tua? Selama beberapa bulan ini kita tidak pernah berdebat, apa kau sengaja mencari perkara dengan mengolok saya dengan sebutan itu?" Kini Rizal bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari Grace berdiri. Dan kini berhenti tepat di belakang Grace.
" Apa kau merindukan kita saling beradu argumen sehingga kamu mencari perkara dengan bertengkar dengan Bella?" desis Rizal di telinga Grace dari arah belakang Grace berdiri.
" Tidak usah terlalu pede! Siapa juga yang ingin berdebat denganmu!" Dengan cepat Grace membantah apa yang dituduhkan Rizal kepadanya.
" Saya pikir selama tiga bulan kamu bersosialisasi dengan pegawai saya di lantai bawah, sikap kamu bisa berubah lebih tenang. Ternyata tidak ada yang berubah, masih sama seperti biasa." Rizal menyindir Grace kemudian berjalan ke arah sofa lalu mendudukkan tubuhnya di sofa itu.
" Mulai besok kembalikah ke tempatmu di atas! Saya tidak bisa memantau pekerjaanmu jika di bawah. Bisa saja kau hanya lebih banyak mengganggu pegawai saya yang lain daripada membantu pekerjaan mereka." Rizal menatap wajah Grace yang memberengut. Tak ada sama sekali senyum di wajah cantik wanita itu.
" Aku lebih senang di bawah!" Grace menolak permintaan Rizal. Berada di lantai atas, membuat dia akan lebih sering berinteraksi dengan pria itu.
__ADS_1
" Kau lebih senang di bawah? Bukankah kau lebih senang jika berada di atas?" Kalimat absurd yang diucapkan Rizal membuat Grace melotot ke arah pria itu.
" Bukankah kau ini anak orang kaya? Kau selalu ingin selalu dipandang dari kalangan atas karena status ekonomi orang tuamu itu, kan?" Rizal menyeringai karena dia tahu apa yang ada dipikiran Grace saat dia mengatakan jika Grace lebih suka berada di atas. Dia menduga jika pikiran Grace langsung berpikiran ke hal berkonotasi me sum.
Grace kembali memutar bola matanya mendengar uraian yang dijelaskan oleh Rizal, Dia tahu jika saat ini Rizal sedang memancingnya.
" Kau boleh keluar sekarang!" Rizal mempersilahkan Grace untuk keluar dari ruangannya.
Dengan melirik sinis, Grace keluar dari ruangan kerja Rizal.
" Jangan lupa, mulai besok pagi kau pindah ke atas!" Sebelum Grace menutup pintu, Rizal masih sempat berseru berkata pada Grace.
Braaakkk
Ucapan Rizal dibalas oleh Grace dengan pintu yang ditutup dengan kencang oleh Grace.
Rizal mengulum senyuman. Sudah lama dia tidak melihat Grace berbuat seperti itu. Namun, Rizal mengerjapkan matanya, karena secara tidak langsung dia mengakui jika dia begitu merindukan perdebatan dengan wanita yang sempat membuat dirinya panas dingin dalam mimpinya.
" Bagaimana, Mbak Grace? Pak Rizal marah, ya?" tanya Indra saat Grace kembali ke tempatnya dengan bersungut-sungut. Sehingga membuatnya berpikiran jika Rizal telah memarahi Grace.
" Aku disuruh kembali ke atas," sahut Grace memberengut.
" Bella itu anak semata wayang Pak Rizal, sudah pasti Pak Rizal tidak senang jika ada orang yang menyakiti dan mengusik anaknya, makanya Mbak Grace kena marah Pak Rizal gara-gara Mbak Grace tadi ribut sana Bella. Padahal, yang mulai itu 'kan Bella, ya? Bella yang mulai berkata kasar sama Mbak Grace." Indra yang saat kejadian berada di sana tahu, jika Isabella lah yang terlihat memulai keributan.
" Tapi, memang sebelumnya Mbak Grace pernah bertemu sama Bella?" Jamal yang duduk di sebelah Indra penasaran karena melihat Isabella ternyata mengenal Grace.
" Hmmm, pernah bertemu sepintas, sih! Waktu itu aku sama bos kalian sedang sarapan terus bertemu sama dia. Dia menilai aku yang tidak-tidak. Ya sudah, aku bilang saja kalau aku ini sugar baby Papihnya. Karena itu dia jadi benci sama aku." Tanpa dosa Grace menceritakan awal pertemuan dengan Isabella.
" Serius Mbak Grace mengaku sebagai sugar baby nya Pak Rizal?" Indra sampai tak mampu menahan tawanya mendengar pengakuan Grace.
" He-eh, aku malah pikir kalau si Bella itu selingkuhannya bos kalian, makanya aku bilang seperti itu. Niat aku sebenarnya membuat bos kalian kesal lalu membebaskan aku dari hukuman." Grace menceritakan apa yang dia lakukan kepada Rizal dan Isabella kala itu.
" Hahaha, pantas saja Bella marah banget tadi waktu lihat Mbak ada di sini," timpal Jamal ikut tertawa.
" Aku masih penasaran nih, Mbak." Suara Indra terdengar berbisik. " Soal video itu ..." Indra berpindah posisi untuk membelakangi kamera cctv yang ada di ruangan itu. " Kalau dilihat dari video itu, Pak Rizal seperti menikmati sekali beradegan seperti itu dengan Mbak Grace. Selanjutnya apa yang terjadi setelah adegan bibir bertemu bibir itu? Apa dilanjut ke adegan yang lebih panas lagi, Mbak?" Jiwa super kepo Indra seakan tak tertahankan ingin mengetahui apa yang terjadi setelah sepenggal video yang dikirim oleh Grace. Karena Grace tidak penuh mengirim rekaman videonya.
" Berani tidak tanya pada bos kalian apa yang kami lakukan setelah itu?" Grace memainkan alisnya menantang kedua rekannya itu untuk bertanya kepada Rizal.
" Alamak, bisa digantung sama bos kalau kita tanya langsung sama beliau, Mbak." sahut Indra tertawa, diikuti tawa Jamal dan juga Grace.
Tanpa mereka sadari jika aktivitas mereka saat ini sedang diawasi mata elang Rizal dari dalam ruang kerjanya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1