
Grace mengikat rambutnya ke atas. Dari cermin di kamarnya, dia memperhatikan love bite yang ditinggalkan Rizal di lehernya yang putih mulus. Dia tersenyum, mengingat sikap Rizal saat dia goda siang tadi. Pria itu sepertinya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menguasainya. Sampai tidak sadar menciptakan tanda-tanda merah di leher Grace padahal mereka sedang berada di kantor.
" Dasar pria tua me sum!" Grace tersenyum seraya mengumpat kelakuan Rizal padanya siang tadi.
Tok tok tok
" Non, ada tamu di luar cari Non." Suara Bi Saonah terdengar dari luar kamar Grace.
Grace lalu berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu untuk Bi Saonah.
" Ada apa, Bi?" tanya Grace kemudian.
" Ada tamu cari Non Grace," jawab Bi Saonah.
" Tamu cari aku? Siapa, Bi?" Grace mengerutkan keningnya. Selama ini yang datang ke rumahnya hanya Rizal, rekannya di kantor Rizal juga Mamanya. Dan orang-orang itu semua Bi Saonah sudah Bi Saonah kenal.
" Bibi tidak kenal, Non. Sepertinya baru kali ini datang kemari. Laki-laki, Non. Ganteng, perawakannya gagah, tinggi. Rambutnya agak-agak cepak kayak tentara gitu, Non." Bi Saonah menyebutkan ciri-ciri orang yang datang ke rumah Grace. Dan ciri-ciri yang disebutkan Bi Saonah, semua itu mengarah pada sosok Rivaldi.
" Mau apa dia datang kemari??" Grace langsung keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga untuk menemui Rivaldi. Dia yakin jika Mamanya lah yang memberitahu alamat rumah tinggalnya saat ini.
Benar saja dugaan Grace, karena saat ini dia melihat sosok Rivaldi yang sedang duduk di sofa tamu rumahnya.
" Mau apa kau kemari?!" tanya Garce dengan nada ketus pada Rivaldi.
" Tentu saja ingin berkunjung menemui calon tunanganku. Apa itu salah?" tanya Rivaldi duduk santai sambil berpangku kaki dan merentangkan satu tangan di sandaran sofa.
" Cih, siapa juga yang ingin bertunangan denganmu! Jangan terlalu percaya diri! Kalau kau berminat, nikahi saja Mamaku!" ketus Grace seraya memalingkan wajah hingga tanpa sengaja memperlihatkan tanda merah yang dibuat oleh Rizal di lehernya.
Rivaldi memicingkan matanya mendapati warah merah di leher jenjang wanita cantik itu. Dia tahu asal warna merah itu karena apa. Hingga akhirnya dia bangkit dan berjalan mendekat ke arah Grace.
" Apa kamu sengaja ingin memamerkan tanda merah itu kepadaku?" tanya Rivaldi tersenyum sinis.
Grace sontak memegang lehernya di mana tanda merah yang tadi dia perhatikan dari cermin berada.
" Apa kamu senang dibuatkan seperti itu? Aku pun bisa melakukan hal itu jika kamu mau," ujar Rivaldi menyentuh leher yang berkulit mulus.
__ADS_1
Grace dengan cepat menepis tangan Rivaldi dan menjauhkan tangan Rivaldi dari lehernya.
Rivaldi kembali menarik sudut bibirnya melihat sikap Grace yang bersikap tidak bersahabat bahkan terkesan memusuhinya.
" Kenapa kamu bersikap memusuhiku? Apa salahku padamu? Bukankah seharusnya aku yang marah kepadamu karena kamu dan kekasih tuamu itu menipuku? Berpura-pura menjadi utusan dari perusahaan Langgeng Putra Persada. Bukankah selama ini aku selalu bersikap baik kepadamu?" Sebenarnya Rivaldi heran dengan sikap Grace kepadanya. Sepantasnya yang marah adalah dia. Dan Grace yang seharusnya meminta maaf, bukan malah memusuhinya.
" Apa maksudmu menemui Mamaku dan mengatakan jika kamu dan orang tuamu ingin melamarku?!" Grace mempertanyakan maksud Rivaldi menemui Mamanya. Dia tahu jika itu adalah rencana licik Rivaldi agar bisa menemukan keberadaannya.
" Karena aku memang ingin melamarmu!" sahut Rivaldi dengan enteng.
" Kau bohong! Aku tahu kau sedang berusaha mempengaruhi Mamaku! Aku tahu kau sedang menyusun rencana untuk balas dendam terhadapku!" Tidak semudah itu Grace bisa mempercayai apa yang diucapkan oleh Rivaldi.
" Kenapa kamu mencurigaiku seperti itu? Bukankah kamu tahu sendiri jika kedua orang tuaku sangat menginginkan kamu menjadi pendampingku?" Rivaldi memang tidak berbohong jika kedua orang tuanya sangat berharap Grace menjadi menantu mereka, walaupun itu terjadi sebelum penyamaran Grace terbongkar.
" Aku tahu kau tidak mencintaiku! Dan aku juga tidak menyukaimu, jadi untuk apa memaksakan kehendak ingin menikah denganku? Kau ingin balas dendam padaku? Kau ingin menyik saku? Menyakitiku? Asal kau tau, Aldi! Aku bukan wanita lemah yang dapat kau intimidasi!" tegas Grace memperingatkan Rivaldi jika dia bukanlah wanita yang mudah ditekan oleh pihak mana pun.
" Lagipula, aku tahu bagaimana wanita idamanmu! Dan aku jauh dari kriteria itu!" ketus Grace. Saat menyamar sebagai Rena, Rivaldi menjelaskan kriteria wanita yang diinginkan oleh pria itu. Dan itu sangat jauh dari dirinya.
" Siapa bilang kamu bukan wanita kriteriaku? Aku justru semakin suka dengan sikapmu yang keras seperti sekarang ini. Semakin membuatku tertantang untuk menaklukkanmu, Rena." Rivaldi menatap lekat wajah cantik Grace yang sedang memberengut.
Grace kembali memalingkan wajah tak ingin memandang Rivaldi yang sedang menatap lekat ke arahnya.
Pertanyaan Rivaldi kali ini sukses membuat Grace menatap ke arah Rivaldi.
" Apa maksudmu?" tanya Grace menatap curiga ke arah Rivaldi. Dia menangkap sebuah maksud terselubung dari kalimat yang diucapkan pria di hadapannya saat ini.
" Maksudku, apa kamu tidak merasa jengah mempunyai anak sambung yang usianya seumuran denganmu?" tanya Rivaldi masih dengan mengulum senyum licik.
" Kau jangan macam-macam dengan Bella!" hardik Grace memperingatkan Rivaldi.
" Apa maksudmu jangan macam-macam, Rena? Hmmm, sebenarnya aku memang tidak berniat macam-macam dengan gadis itu. Tapi, karena perkataanmu ini, sepertinya aku bisa melakukan satu macam saja yang bisa membuat gadis itu lugu itu luluh padaku." Rivaldi seakan menebar ancaman jika dia sanggup melakukan satu hal yang akan merugikan Isabella. .
" Jangan dekati Bella, breng sek!!" geram Grace karena Rivaldi mengancam akan mempermainkan Isabella.
Rivaldi mengerutkan keningnya mendengar Grace sampai berkata kasar dengan menyebutnya breng sek. Mungkin ini pertama kalinya ada seorang wanita yang berkata seperti itu kepadanya langsung.
__ADS_1
" Wow, ternyata sifat asli kamu sangat jauh berbeda dengan Rena yang selama ini aku kenal. " Rivaldi masih terkejut dengan kalimat kasar yang diucapkan Grace kepadanya.
" Aku peringatkan kau, Aldi! Jangan sekalipun kau mencoba mendekati Bella, apalagi mempermainkan dia!!" Grace berkata lantang seakan memberikan ancaman pada Rivaldi yang sepertinya memang sedang merencanakan sesuatu dengan akal liciknya itu.
Rivaldi tertawa kecil mendengar ancaman Grace kepadanya.
" Kamu ternyata galak juga rupanya. Sangat-sangat menantang bagiku." Tak terpengaruh dengan ancaman yang diucapkan Grace, Rivaldi justru menggoda wanita cantik yang sedang kesal padanya itu.
" Aku tidak main-main, Aldi!" geram Grace karena Rivaldi seakan tak menganggap ancamannya.
" Memangnya kamu ingin melakukan apa jika aku tidak menuruti apa yang kau inginkan itu?" Rivaldi kini berkacak pinggang, masih menatap Grace.
" Sepertinya kau begitu menyayangi calon anak sambungmu itu, sayang sekali dia justru tidak menyukaimu." Rivaldi mendengar cerita Isabella jika Isabella tidak menyukai Grace dekat dengan Rizal.
Ucapan Rivaldi membuat Grace memicingkan matanya. Dia yakin jika Rivaldi sudah berjumpa dan berbincang dengan Isabella, karena Rivaldi tahu jika Isabella tidak menyukainya.
" Si alan! Kau sudah mendekati Bella!?" Wajah Grace berbalut kemarahan saat mengetahui Rivaldi sudah berhasil mendekati Isabella sampai mengetahui tentang hubungannya yang berjalan tidak baik dengan anak dari Rizal itu.
" Bukan hal yang sulit bagiku untuk mendekati wanita cantik, kan?" Dengan pesona wajah tampan, tubuh tinggi, tegap dan gagah juga pekerjaannya sebagai seorang pemimpin perusahaan, tentu mudah menaklukan hati wanita lugu seperti Isabella.
" Sebaiknya kau jauhi dia! Jangan berani berbuat sesuatu yang licik padanya, Aldi!" gertak Grace kembali.
" Apa balasannya jika aku menurutimu?" Rivaldi meminta imbalan jika dia mau memenuhi permintaan Grace.
" Apa maumu?!" tantang Grace.
Kembali seringai tipis terbentuk samar di sudut bibir Rizal. Tatapan mata pria tampan itu kini semakin lekat menatap wajah Grace yang dipenuhi aura kemarahan.
" Aku menginginkanmu. Aku akan melepaskan anak Rizal itu asalkan kau bersamaku! Bagaimana? Bukan tawaran yang sulit, kan?!" Dengan percaya diri Rivaldi yakin jika Grace akan memenuhi keinginannya. Senyum penuh kemenangan pun kini terlihat jelas di bibir Rivaldi.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️