TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Love Doesn't Need A Reason


__ADS_3

" Ada apa, Vit?" Rizal memperhatikan Vito yang terlihat ragu ingin menyampaikan sesuatu kepadanya. Hal itu tentu membuat Rizal merada penasaran dengan sikap Vito yang terkesan tidak tenang seperti biasanya.


" Hmmm begini, Pak Rizal. Saya mau minta ijin Pak Rizal."


" Kamu mau cuti?" Belum selesai Vito menyebutkan maksudnya, Rizal sudah memotong kalimat Vito lebih dahulu.


" Tidak, Pak. Bukan itu!" Vito menepis anggapan Rizal yang mengira dirinya berniat untuk cuti.


" Saya ingin minta ijin mengajak Bella pergi makan siang ini." Vito meminta ijin kepada Rizal untuk mengajak Isabella karena dia ingin menasehati Isabella agar tidak mudah dipengaruhi oleh Rivaldi.


" Apa kau ingin mengungkapkan perasaanmu terhadap Bella, Vit?" Rizal menyeringai seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya. Dia menduga jika anak buahnya itu berniat menyatakan rasa cintanya pada Isabella yang selama ini dipendamnya.


Vito mengulum senyuman seraya menganggukkan kepala seolah mengiyakan apa yang dikatakan oleh bosnya itu.


" Jika Pak Rizal memperkenankan saya mendekati putri Bapak," jawab Vito tanpa canggung.


" Baiklah, Vito. Saya akan mendukung kamu jika kamu memang menyukai Bella. Saya kenal kamu itu pria seperti apa!? Saya pasti akan tenang jika yang menjaga Bella adalah pria sepertimu, Vit." Bekerja cukup lama dengannya, membuat Rizal sangat mengenal sifat dan karakter Vito. Vito termasuk pria yang sabar dan telaten,. menurutnya sangat cocok untuk putrinya yang manja itu.


" Terima kasih atas kepercayaan Bapak terhadap saya." Vito berucap terima kasih karena diberi kesempatan oleh Rizal untuk mendekati Isabella. Lampu hijau yang diberikan Rizal kepadanya semakin membuatnya bersemangat untuk menggapai impiannya untuk memiliki anak dari bosnya itu.


" Apa kau sudah buat janji dengan Isabella?" tanya Rizal kemudian.


" Sudah, Pak. Saya sudah menghubungi Bella," sahut Vito.


" Ya sudah, kalau begitu pergilah! Jangan membuat putriku menunggu lama!" Rizal menyuruh Vito segera pergi.


" Baik, Pak. Permisi ..." Vito bergegas meninggalkan ruangan kerja Rizal. Saat hendak melewati pintu ruangan kerja Rizal, Vito berpapasan dengan Grace.


Grace dan Vito saling berpandangan sesaat, sebelum akhirnya Vito keluar dari ruangan Rizal.


" Kenapa dia?" tanya Grace heran saat melihat wajah bahagia Vito saat keluar dari ruangan kerja Rizal.


" Dia minta ijin ingin menemui Bella," sahut Rizal bangkit dan berjalan mendekati Grace.


Grace membelalakkan matanya saat Rizal mengatakan jika Vito ingin bertemu dengan Isabella. Dia takut jika Vito sampai bercerita soal Rivaldi pada Rizal.


" Dia ingin mengutarakan perasaannya pada Bella," lanjut Rizal, membuat Grace semakin terkesiap.


" Maksudnya? Vito menyukai Bella?" tanya Grace tak percaya jika ternyata Vito menyukai Isabella. Namun dia merasa tenang karena dia tidak salah memilih orang untuk membantu Isabella agar terlepas dari pengaruh pria licik seperti Rivaldi.


" Iya, apa kamu setuju Bella dengan Vito?" tanya Rizal seraya melingkarkan tangannya di pundak Grace.


" Kenapa kau tanya padaku?" tanya Grace menoleh pada Rizal karena saat ini Rizal merangkulnya.


" Kamu 'kan calon Mamihnya Bella, jadi kamu juga berhak memberikan pendapatmu." Rizal menyeringai sambil mencubit hidung Grace saat menyebut Grace sebagai calon Mamih dari Isabella.


" Bisa tidak? Tidak usah pakai KDRT?" Grace mengusap hidungnya yang dicubit Rizal, membuat pria itu tergelak.


" Kalau aku sih, terserah saja. Menurutku Vito baik, dia pasti akan menuruti apa yang anakmu mau." Grace seketika teringat saat Vito menjadi perantara antara dirinya dan Isabella, saat mereka berdua bertemu hingga terjadi berdekatan yang menyebabkan terjadinya keke rasan antara dia dan Isabella. Tentu saja hal itu karena ide Isabella tanpa sepengetahuan Rizal.


" Ya, aku rasa Vito memang cocok dengan Bella. Vito bisa mengayomi Bella." Rizal menyampaikan pendapatnya tentang Vito. Dia lalu membawa Grace duduk santai di sofa ruang kerjanya.


" Oh ya, apa kamu sudah mendapat kabar dari Om kamu? Kapan kita akan menemui Om kamu itu?" Rizal sudah tidak sabar ingin cepat bertemu dengan Om Daniel, agar dia bisa langsung melamar Grace. Sejujurnya, Rizal sudah tidak sabar ingin menikahi Grace. Bukan hanya karena dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Grace saja. Tapi, karena dia takut Rivaldi akan menghalangi keinginannya memiliki Grace.


" Lusa kita akan pergi ke Singapura. Aku baru mau memberitahumu kalau aku sudah pesan tiket pesawat dan juga kamar hotel di sana." Grace menjelaskan kepada Rizal jika dia sudah menyiapkan tiket akomodasi untuk kepergian mereka ke Singapura menemui Om Daniel.


" Kita akan menginap di sana?" tanya Rizal.

__ADS_1


" Iyalah, sekalian kita pergi berlibur. Anggap saja honeymoon di bayar dimuka." Grace berseloroh seraya terkekeh.


" Kamu juga sudah tidak tahan ingin berbulan madu, ya?" Rizal menyeringai memainkan kedua alisnya.


" Iya, aku ingin tahu seberapa hebat kau di ranjang? Tahan lama atau cepat loyo?" Grace mengusap rahang Rizal yang duduk di sebelahnya. Matanya menatap mata elang Rizal yang juga sedang menatapnya lekat.


" Kamu bisa merasakannya nanti, Grace. Sehebat apa aku di ranjang!? Aku yakin, kau akan minta ampun padaku!" Rizal mengulum senyumnya seakan menegaskan jika dia cukup perkasa meladeni Grace nanti.


" Kau memang harus perkasa jika tidak ingin aku tinggal, dan aku cari yang lebih muda." Grace sengaja menggoda Rizal dan memancing kemarahan Rizal karena dia tahu, Rizal akan marah jika dia mengatakan akan berpaling dari Rizal.


" Berani berpaling dariku!? Sebelum kau melakukan hal itu, akan aku buat kau bertekuk lutut dulu di tempat tidur, agar kau tidak pernah memikirkan ingin melakukan hal itu dengan pria lain!" Rizal memberi ancaman agar Grace tidak akan berpikiran untuk menduakan hatinya dengan pria lain.


Grace menatap bola mata tajam Rizal. Pria yang berusia hampir dua kali lipat dari usianya itu memang masih terlihat tampan dan mempesona.


" Kenapa kau menginginku? Kau tahu jika aku bukan wanita yang masih suci." Sebenarnya Grace juga bingung kenapa Rizal terus mengejarnya. Grace menyadari jika secara fisik dia memang menarik kaum adam untuk mendekatinya. Namun, dia pernah merasakan kehidupan bebas dan melakukan hubungan dengan mantan kekasihnya sampai dia kehilangan mahkotanya sebagai seorang wanita. Rizal sebenarnya bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Walaupun usia pria itu sudah hampir kepala empat. Tapi, dia percaya jika banyak wanita yang menginginkan Rizal sebagai pendampingnya.


" Love doesn't need a reason." Rizal menjawab pertanyaan Grace kenapa dia menginginkan Grace untuk dia miliki. " Selama satu tahun kebersamaan kita, aku hanya melihat kamu adalah kamu. Mempunyai sifat keras kepala. Tidak mudah untuk diintimidasi. Tapi, aku rasa kamu adalah wanita yang baik, hanya mungkin kamu kurang mendapatkan perhatian dari kedua orang tuamu sehingga kamu memberontak," tutur Rizal menjelaskan alasannya kenapa memilih Grace menjadi pendampingnya.


Kata-kata Rizal membuat Garce tersentuh. Tentu dengan masa lalunya yang kelam, bisa dicintai begitu dalam oleh pria baik seperti Rizal adalah hal yang sangat membahagiakan.


" Apalagi kamu wanita tangguh, aku rasa kamu adalah tipe wanita yang cocok untuk mendampingiku apalagi dengan pekerjaanku sekarang ini, Yaaa, setidaknya aku bisa manfaatkan keahlianmu itu untuk membantu pekerjaanku secara gratis. Hahaha ..." Di tengah keseriusannya, Rizal justru berkelakar hingga membuat bibir Grace mencebik.


***


Vito tersenyum menyambut kedatangan gadis pujaan hatinya yang baru sampai di cafe yang mereka jadwalkan untuk bertemu. Isabella selalu terlihat cantik dan sempurna di matanya. Sebenarnya Vito sudah menyukai Isabella sejak gadis itu memasuki SMA. Tapi, tentu saja dia tidak berani mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Isabella, karena dia takut Rizal tidak merestuinya. Apalagi Rizal memang melarang Isabella berpacaran sebelum tamat SMA.


" Hai, Kak Vito." sapa Isabella ketika sampai di meja yang Vito pesan.


" Hai, Bella." sahut Vito dengan mengembangkan senyum bahagianya.


" Sorry aku telat, Kak. Soalnya tadi ada agak telat keluar dari kampusnya." Isabella menjelaskan alasannya telat datang menemui Vito.


" Silahkan ..." Pelayan cafe datang dan memberikan daftar makanan dan minuman kepada mereka.


" Aku minta siomay sama lemongrass tea saja, Mbak." Isabella menyebutkan menu makanan dan minuman yang dipilihnya. " Kak Vito pesan apa?" tanya Isabella karena dia melihat Vito belum memesan makanan dan minuman.


" Disamakan saja sama kamu." Vito menyamakan pesanannya dengan Isabella.


" Pesan tadi saja bikin dua porsi ya, Mbak!?" Isabella mengulang pesanannya kembali.


" Baik, Kak. Saya ulang, ya!? Dua porsi siomay dan 2 lemongrass tea? Ada tambahan lainnya?" tanya pelayan cafe.


" Itu saja, Mbak." sahut Isabella.


" Baik, ditunggu sebentar ya, Kak. Permisi ..." Pelayan cafe kemudian meninggalkan Vito dan Isabella.


" Ada apa Kak Vito ingin bicara denganku? Apa ada urusannya dengan Papih?" tanya Isabella yang sama sekali tidak terpikirkan jika Vito sebenarnya ingin menyatakan perasaan cinta kepada dirinya.


" Hmmm, tidak! Ini tidak ada hubungannya dengan Papih Bella." Vito sedikit agak canggung mengatakan alasannya mengajak makan siang Isabella.


" Lalu?" tanya Isabella menatap wajah Vito yang terlihat agak ragu ingin berbicara.


" Sebenarnya Kak Vito ingin bertemu Bella, karena Kak Vito ingin mengatakan jika Kak Vito menyukai kamu, Bella." Akhirnya Vito berani jujur mengungkapkan perasaannya kepada Isabella, tanpa basa-basi lagi.


Pengakuan jujur Vito seketika membuat Isabella terperanjat. Vito bukan pria pertama yang menyatakan ketertarikan pada dirinya. Bahkan sejak SMP, banyak juga teman pria yang mengatakan tertarik dan ingin menjadi kekasihnya. Namun, karena dia merasa terlalu kecil dan juga Papihnya melarang dia berpacaran sampai lulus SMA, Isabella pun tidak pernah berani berpacaran. Dan pernyataan Vito kali ini adalah pernyataan dari pria dewasa pertama yang menyatakan cinta kepadanya. Terlebih Vito adalah anak buah Papihnya sendiri.


" Kak Vito sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini. Tapi, Kak Vito tidak berani karena Bella saat itu masih SMA. Kak Vito juga takut Papih Bella melarang Kak Vito dekati Bella. Tapi, setelah Kak Vito mendapatkan ijin dari Papih Bella, Kak Vito memberanikan diri untuk mengatakan hal ini kepada Bella." Vito menjelaskan alasannya kenapa baru sekarang mengatakan perasaannya itu.

__ADS_1


Isabella terdiam, dia seolah tidak tahu harus berkata apa untuk membalas ungkapan perasaan Vito itu.


" Apa Bella mau memberi kesempatan kepada Kak Vito untuk bisa dekat dengan Bella?" tanya Vito penuh harap.


Isabella menarik nafas panjang. Selama ini Vito memang bersikap baik kepadanya. Mungkin karena Vito adalah anak buah Papihnya, atau mungkin karena Vito menyukainya. Yang pasti Vito memang tidak pernah menunjukkan gelagat buruk terhadapnya.


Selama ini juga dia sudah menganggap Vito seperti kakaknya sendiri. Dan dia tahu bagaimana seandainya harus menjadi kekasih Vito karena dia tidak merasakan debaran apa-apa saat bersama Vito. Sangat berbeda ketika dia berhadapan dengan Rivaldi. Entah mengapa tiba-tiba Isabella teringat akan Rivaldi. Bersama pria itu, Isabella justru merasakan getaran-getaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya jika dekat dengan pria.


" Apa Bella mau menerima permintaan Kak Vito?" Pertanyaan Vito membuat Isabella yang sedang termenung menjadi terkesiap.


" Hmmm, aku belum memikirkan untuk berpacaran, Kak. Aku ingin fokus kuliah dulu." Secara halus, Isabella menolak permintaan Vito.


" Tidak apa-apa jika Bella tidak bisa menjawabnya sekarang. Tapi, setidaknya beri kesempatan kepada Kak Vito untuk membuktikan jika Kak Vito serius dengan kamu, Bella." Vito mencoba meyakinkan Isabella agar gadis itu tidak ragu kepadanya.


" Hmmm, nanti Bella pertimbangkan lagi ya, Kak. Karena Bella tidak ingin mengambil keputusan tanpa dipikirkan matang-matang terlebih dahulu. Apalagi urusan asmara. Selama ini hubungan kita terjalin sangat baik. Aku tidak ingin hubungan baik ini akan menjadi buruk karena aku terlalu cepat mengambil keputusan." Isabella sebenarnya ingin menolak langsung. Tapi, dia tidak tega melakukan seketika itu juga pada Vito.


" Tidak apa-apa, Bella. Kak Vito siap menunggu kamu." Vito memang sudah menyiapkan diri untuk berbesar hati menerima apapun keputusan yang akan diambil oleh Isabella.


" Oh ya, Kak. Bagaimana hubungan Papih dengan wanita itu?" Isabella merubah topik pembicaraan.


" Yang Kak Vito lihat, Papih kamu lebih bersemangat sekarang ini, Bella." Vito tersenyum jika mengingat kelakuan bosnya itu yang sedang terserang virus bucin pada Grace.


" Apa benar kalau wanita itu sudah dijodohkan dengan pria lain oleh Mamanya?" tanya Isabella kembali.


" Kamu tahu dari mana?" tanya Vito penasaran.


" Papih yang bilang," jawab Isabella, tidak mungkin dia mengatakan jika Rivaldi pun mengatakan hal tersebut kepadanya.


" Iya benar. Dan pria yang ingin dijodohkan. dengan Nona Grace itu adalah pria licik yang pandai menipu korbannya!" Kalimat Vito terdengar penuh rasa kesal. Tentu saja kini dia pun mulai merasa tidak menyukai Rivaldi karena Rivaldi sudah mendekati Isabella, dan bukan tidak mungkin pria itu akan memperdaya Isabella.


" Memang apa yang dilakukan pria itu sehingga Papih dan Kak Vito menyebut dia itu licik?" Sudah pasti Isabella sangat penasaran, karena menurutnya Rivaldi sangat baik dan jauh dari kriteria kata licik. Mungkin karena dia terlalu lugu dan tidak mengenal macam-macam karakter pria.


" Beberapa waktu lalu, kami mendapatkan tugas untuk menyelidiki pria itu. Karena pria itu pernah melakukan tindakan yang kurang terpuji. Dia berniat merebut istri dari seorang pengusaha terkenal. Bahkan dia juga pernah menyusup di perusahaan pengusaha itu dan berpura-pura menjadi karyawan untuk mengetahui klien-klien perusahaan itu, lalu dia mencoba mengambil mereka untuk dia ajak bekerja sama dengan perusahaannya sendiri." Vito menjelaskan keburukan Rivaldi kepada Isabella agar Isabella tidak terpengaruh dengan bujuk rayu Rivaldi.


" Dan soal perjodohan, sebenarnya dia ingin membalas dendam kepada Pak Rizal dan juga Nona Grace. Dia sengaja menemui Nyonya Agatha, Mama dari Nona Grace dengan mengatakan jika dia mencintai dan ingin melamar Nona Grace. Kami juga tidak tahu apa tujuan dia melakukan hal terserbut? Yang pasti dia punya dendam yang teramat sangat terhadap Pak Rizal dan Nona Grace.


Pernyataan yang disampaikan oleh Vito sontak membuat Isabella terperanjat. Dia tidak menyangka jika Rivaldi yang baru dia kenal baik ternyata selicik itu. Bahkan ingin membalas dendam kepada Papihnya. Seketika itu juga Isabella merasakan ketakutan. Dia takut jika Rivaldi ingin membalas rasa sakit hati kepada Papihnya melalui dirinya. Karena dia telah membuka jalan dan memberi peluang kepada Rivaldi untuk mendekatinya


" Astaghfirullahal adzim!"


" Kenapa, Bella?"


" Ya Allah, Kak. Orang itu sudah menemui Bella. Bella tidak tahu kalau dia sejahat itu. Bella bahkan memberi nomer telepon Bella. Bella juga memberitahu kampus Bella. Gimana ini, Kak?" Isabella seketika merasakan cemas.


" Orang itu sudah menemui Bella?" Vito berpura-pura tidak mengetahui jika Vito sudah tahu hal itu dari Grace.


" Iya, Kak. Jadi bagaimana ini, Kak?" Isabella menggigit bibirnya.


" Kamu tenang saja, Bella. Mulai saat ini jangan pernah berhubungan dengan dia lagi! Kalau dia menemui Bella, cepat beritahu Kak Vito." Vito mencoba menenangkan Isabella yang terlihat sangat ketakutan.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2