
Rivaldi menarik lengan Grace untuk keluar dari mobilnya ketika dia telah sampai di basement apartementnya.
" Aaakkhhh ...! Sakit, Aldi!!" Grace meringis kesakitan saat Rivaldi menarik lengannya yang terkilir tadi. Namun, Rivaldi tidak memperdulikan kesakitan Grace. Dendam Rivaldi kepada wanita itu seolah menutup hati nuraninya.
Rivaldi lalu membawa Grace ke dalam lift menuju unit apartemennya di lantai dua belas.
" Kau gi la, Aldi! Kau sakit jiwa!!" Perlakuan Rivaldi benar-benar membuat Grace naik pitam. Dia tidak menduga jika Rivaldi senekat ini sampai tega menyakitinya.
" Kalian berani mempermainkanku, kau akan rasakan akibatnya!" Rivaldi benar-benar diselimuti emosi. Dia bahkan menarik rambut Grace hingga Grace kembali meringis kesakitan.
Sesampainya di apartemen, Rivaldi membawa paksa Grace ke kamarnya. Dia menghempaskan tubuh Grace ke atas tempat tidur lalu mengunci pintu kamarnya.
Rivaldi pun kemudian mengungkung tubuh Grace. Bahkan dengan kasar dia mencum bu Grace dengan mencium dan melu mat bibir sen sual Grace.
" Hmmpptt, lepaskan, Aldi!!" Grace berontak ingin melepaskan diri dari Rivaldi. Namun, Rivaldi tak memperdulikannya. Dia justru semakin buas.
Sreettt
Bahkan tangan Rivaldi kini berhasil merobek pakaian yang dikenakan Grace hingga tubuh putih mulus wanita itu nampak jelas di mata Rivaldi.
" Aaakkhh ...! Kau gi la, Aldi!!" pekik Grace berusaha menutupi tubuh dengan tangannya.
Rivaldi menyingkirkan tangan Grace yang menutupi bagian dada wanita itu. Terlihat sangat menggiurkan untuk disentuh. Hingga pria itu tak kuasa untuk menahan has ratnya menguasai tubuh Grace.
"' Jangan, Aldi!! Jangan lakukan ini!!" Tangan Grace terus memukuli tubuh Rivaldi yang sedang kese tanan. Hngga akhirnya tangannya merasakan sebuah benda yang menonjol di bagian pinggang sebelah kiri Rivaldi. Dia meraba benda yang dia duga senjata api itu lalu meraihnya tanpa sepengetahuan Rivaldi, karena pria itu sedang dikuasai naf su.
Dengan tangan gemetar Grace mendekatkan senjata itu ke kepala Rivaldi. Tepat di atas telinga Rivaldi yang sedang menguasai bagian dada Grace. Dengan memejamkan mata dan menggigit bibirnya, perlahan jarinya menarik pelatuk senjata api itu.
Doorr
Rivaldi membuka matanya, tangannya spontan menyentuh kepalanya. Namun, tak ada darah yang mengalir dari kepalanya, Pandangan matanya kini mengedar memperhatikan ruangan kamarnya, hingga dia bangkit dan menoleh ke sisi tempat tidur. Tak ada Grace di tempat tidurnya saat ini.
" Si al!! Kenapa aku bermimpi seperti itu!?" Rivaldi mengusap wajahnya dengan kasar. Dia melihat tubuhnya yang saat ini masih mengenakan pakaian kerjanya. Sesampainya dari Singapura, Rivaldi harus ke kantor karena ada pekerjaan yang harus dia urus. Belum lagi saat mendengar berita dari Agatha jika Grace akan menikahi Rizal, membuat emosinya semakin meradang. Saat pulang kantor, dia menhempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan memijat pelipis hingga lama-lama membuatnya terlelap dan mengalami mimpi indah dan buruk secara bersamaan.
***
" Ya ampun, Grace. Kamu cantik banget, deh." Yuanita terpukau melihat Grace yang mengenakan kebaya berwarna broken white yang membalut tubuh semampai wanita cantik itu.
__ADS_1
" Gimana Pak Rizal klepek-klepek lihat kamu seperti ini coba!? Bidadari saja bisa lewat ..." Yuanita masih memuji penampilan cantik Grace di hadapannya saat ini.
" Ini 'kan hari pernikahanku, Nit! Jadi harus sempurna, dong!" sahut Grace tertawa kecil.
Sementara di halaman rumah Grace, Rizal baru tiba untuk menjemput Grace dan membawa wanita itu ke hadapan penghulu di Kantor Urusan Agama.
" Nikah lagi nih, Pak?!" Indra yang melihat kehadiran bosnya dengan setelah jas warna hitam langsung meledek bosnya itu.
" Wah, kita kalah sama Pak Rizal, Dra! Pak Rizal sudah dua kali, kita sekali aja belum pernah mengalami ijab qobul." Jamal menimpali dengan berkelakar.
Rizal menanggapi ledekan anak buahnya itu dengan senyuman.
" Sam yang menjemput Om nya Grace apa sudah memberi kabar?" tanya Rizal kemudian.
" Pesawat dari Singapura masih belum tiba, Pak." jawab Indra.
" Kamu kasih tahu Sam, langsung menuju KUA saja kalau Pak Daniel tiba, Dra!" Rizal sibuk mengatur anak buahnya.
" Baik, Pak." Indra dengan cepat menyahuti.
" Vito menjemput Mbak Bella, Pak." Kali ini Jamal yang menjawab pertanyaan Rizal.
" Oke, kalau begitu." Rizal melirik arlojinya yang sudah menunjukkan jam dua belas siang. " Kita berangkat sekarang saja! Jangan sampai Pak Daniel tiba di sana mendahului kita!" Rizal memutuskan untuk berangkat ke kantor KUA secepatnya karena dia takut jika Om Daniel sampai di sana penuh dahulu.
" Siapa yang akan membawa mobil pengantin?" Rizal bertanya siapa yang akan mengantar dirinya dan Grace ke KUA.
" Jaka saja, Pak! Tangan saya gemetaran kalau disuruh bawa mobil mewah. Takut lecet, tidak kuat bayar biaya reparasinya," celetuk Jamal menyeringai seraya menggaruk tengkuknya.
" Saya juga sama, Pak!" Indra menimpali.
" Ya sudah, suruh Jaka bersiap!" Setelah memberi perintah kembali, Rizal masuk ke dalam rumah untuk menjemput Grace di kamar. Namun, saat dia memasuki ruangan tamu, dia melihat Grace perlahan turun dari anak tangga dituntun oleh Yuanita.
Tanpa berkedip, Rizal seakan terhipnotis dengan wanita yang sebentar lagi resmi menjadi istrinya itu. Terlihat cantik bak bidadari yang sengaja turun dari khayangan untuk menjadi pendamping hidupnya.
" Kau sudah datang rupanya!"
Suara Grace terdengar membuat Rizal terkesiap.
__ADS_1
" Kamu ini, Grace! Sudah mau menikah kok panggilnya kau, kau, kau terus!? Panggil Sayang, kek! M, Beib, Honey, Cintaku, Sweetheart gitu yang lebih romantis!" Yuanita memprotes Grace yang tidak terlihat ada romantis-romantisnya, padahal ini hari pernikahan Grace sendiri.
" Papih sudah datang?" Grace mengulang perkataannya dengan panggilan berbeda kepada Rizal.
Rizal tersenyum mendengar Grace berkata dengan memanggilnya Papih seperti yang dia inginkan. Sementara Yuanita menyeringai geli mendengar Grace memanggil Rizal dengan sebutan Papih.
" Kita berangkat sekarang!" Rizal menunggu Grace di ujung tangga dan menyodorkan lengannya untuk dirangkul oleh tangan Grace.
" Aku tidak ingin membuat Om mu menunggu kita di sana." Rizal menyebutkan alasannya mengajak secepatnya berangkat menuju KUA.
" Om Daniel sudah sampai?" tanya Grace.
" Belum. Tapi, sebaiknya kita jangan membuat Om kamu menunggu kita. Biarkan kita saja yang menunggu beliau," jawab Rizal.
" Ya sudah! Ayo, berangkat!" Dengan menggandeng lengan Rizal, Grace berjalan menuju mobil pengantin mereka.
Dalam perjalanan menuju kantor KUA, tangan sepasang calon pengantin itu tidak pernah lepas dan saling bertautan. Senyum merekah pun terus mengulum di bibir mereka. Tak jarang mereka saling berpandangan seakan menyampaikan perasaan yang sedang mereka hadapi sekarang ini.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka pun sampai di kantor KUA. Mereka datang lebih dulu, sementara Isabella yang terpaksa datang tiba sepuluh menit kemudian. Om Daniel sendiri tiba tepat pu kul 13.30 menit. Sedangkan Agatha sama sekali tidak nampak hadir di sana.
Acara langsung digelar setelah Om Daniel tiba. Om Daniel dan asisten Om Daniel yang menjadi saksi dari pihak wanita, sementara Vito dan Sam yang menjadi saksi dari pihak Rizal.
Setelah dibacakan ayat suci Alquran dan diberi wejangan, ikrar ijab qobul pun siap untuk diucapkan. Sampai akhirnya tiba giliran Rizal yang siap mengikrarkan janji sucinya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Grace Renata binti Darren Williams dengan maskawin tersebut tunai!"
Kalimat itu diucapkan oleh Rizal dengan tegas dan lantang membuat semua yang ada di sana menarik nafas lega. Namun, berbeda dengan Isabella yang justru memalingkan wajahnya menampakkan gestur tidak menyukai pernikahan Papanya dengan Garce.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading❤️
__ADS_1