TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Aku Tidak Rela Papih Memilih Sonia!


__ADS_3

Bi Tinah memperhatikan Agatha yang terlihat sibuk dengan laptopnya, bahkan beberapa kali dia melihat Agatha keluar ruangan karena harus menerima telepon. Bi Tinah melihat jika Agatha seperti berpindah kantor ke rumah sakit karena harus ikut menjaga Rizal.


Kesan Bi Tinah pertama kali melihat dan bertemu dengan Agatha, tak beda jauh dengan saat pertama kali bertemu dengan Grace. Terlihat galak dan menakutkan. Namun, setelah sering bertemu di rumah sakit ini, walaupun hanya beberapa kali bertemu, ternyata Agatha dan Grace memang mempunyai kesamaan.


" Bu ..." Ketika Agatha mulai terlihat santai melihat televisi di ruang rawat Rizal, Bi Tinah mencoba berbicara dengan Agatha. Dia ingin mengatakan soal apa yang dia dengar kemarin saat Rizal menyebut nama Sonia.


" Ada apa, Bi?" Agatha menoleh ke arah Bi Tinah dengan tangan memegang remote mencari saluran telivisi yang enak untuk dia tonton.


Bi Tinah lalu berjalan mendekat ke arah Agatha yang duduk di sofa dan ikut duduk di ujung sofa.


" Ada apa, Bi?' tanya Agatha kembali menatap curiga dengan sikap ART di rumah menantunya itu.


" Begini, Bu. Sebenarnya waktu Non Grace periksa kandungan kemarin, Pak Rizal sempat mengigau, Bu." ungkap Bi Tinah mulai bercerita soal kejadian kemarin pagi saat Grace dan Agatha meninggalkan kamar rawat inap Rizal untuk periksa kandungan.


Agatha langsung menaruh remote televisi yang tadi dia pegang di atas meja. Perkataan Bi Tinah tentu saja membuat dia terkejut. Sejak pertama dirawat di rumah sakit, baru kali ini dia mendengar Rizal bereaksi, walaupun hanya mengigau.


" Rizal mengigau? Kapan? Kenapa Bibi tidak bilang sama saya, sih?" Agatha terheran karena Bi Tinah yang tidak segera melaporkan kejadian Rizal mengigau kepadanya.


" Maaf, Bu. Bibi takut soalnya." Bi Tinah menyebut alasan yang membuatnya tidak langsung mengatakan soal Rizal yang mulai menunjukkan reaksi.


" Takut kenapa? Takut sama siapa?" tanya Agatha saat Bi Tinah .nenyebut kata takut.


" Bibi takut kalau Non Grace tahu, Bu." jawab Bi Tinah mengatakan alasan yang sebenarnya.


" Kenapa Grace tidak boleh tahu, Bi? Dia itu justru berharap akan kesembuhan Rizal, Bi. Kalau Rizal sudah bereaksi itu 'kan bagus, kita bisa konsultasi juga sama dokter." Agatha merasa kecewa dan menyalahkan sikap Bi Tinah yang menyembunyikan respon dari Rizal.


" Maaf, Bu. Soalnya Bibi takut Non Grace akan sedih kalau mendengar apa yang diucapkan Pak Rizal kemarin." Bi Tinah masih berusaha membela diri.


* Memangnya apa yang diucapkan Rizal, Bi?" Agatha penasaran apa kalimat yang diucapkan oleh Rizal sehingga membuat Bi Tinah menutupinya.


" Hmmm, Pak Rizal mengigau menyebut nama Bu Sonia, Bu." Akhirnya Bi Tinah mengatakan hal yang membuatnya menutupi apa yang dikatakan oleh Rizal dari siapa pun terutama dari Grace dan Isabella.


" Sonia? Siapa Sonia itu?" Agatha mengerutkan keningnya. Namun hatinya menduga-duga jika itu adalah bagian dari masa lalu Rizal.


" Bu Sonia itu Mamanya Non Bella, Bu." jawab Bi Tinah.


" Mantan istri Rizal?" Benar dugaan Agatha jika Sonia itu adalah bagian masa lalu dari Rizal.


" Iya, Bu. Bu Sonia sudah meninggal enam tahun lalu. Bibi berpikir saat Pak Rizal mengigau itu, Pak Rizal sedang didatangi Ibu Sonia, makanya Pak Rizal menyebut nama Ibu Sonia. Yang Bibi pernah dengar katanya kalau orang sakit didatangi orang yang sudah meninggal itu pertanda buruk. Makanya Bibi tidak cerita karena hal ini akan membuat Non Grace sedih, Bu." Bi Tinah memaparkan secara detail alasan pasti dia menyembunyikan fakta kalau dia mendengar Rizal mengigau.


" Menurut Ibu, apa Bibi harus memberitahu hal ini kepada Non Grace?" Kali ini Bi Tinah bertanya. " Bibi tidak ingin Non Grace dan Non Bella sedih mendengar hal ini, Bu." lanjut Bi Tinah kemudian.


" Jangan, Bi! Grace sedang hamil. Dia tidak boleh mendengar hal yang membuatnya stres. Ya sudah, sebaiknya Bibi jangan bicara apa-apa pada Grace soal ini. Saya tidak malu hal ini akan mempengaruhi emosi Grace. Biar nanti saya konsultasi pada dokter tentang reaksi Rizal itu." Agatha akhirnya bisa mengerti alasan Bi Tinah menyembunyikan hal tersebut pada Grace.


" Reaksi Papih apa, Ma?"


Agatha dan Bi Tinah tersentak kaget saat mendengar suara Grace dari pintu kamar rawat inap Rizal.


" Grace?"


" Non Grace?"


Agatha dan Bi Tinah saling berpandangan melihat kemunculan Grace di kamar itu. Kedua orang itu spontan berdiri. Bahkan Agatha langsung menghampiri Grace. Dia berharap Grace tidak mendengar apa yang dibicarakannya tadi dengan Bi Tinah.


" Mama pikir kamu tidak akan ke sini, Grace." Agatha langsung mengalihkan pembicaraan. " Kamu sudah makan belum?" tanya Agatha kemudian menoleh kepada Bi Saonah yang ada di belakang Grace. Bi Saonah memang diminta Agatha untuk menemani Grace selama Grace tinggal di apartemen yang dia sewa selama Rizal di rawat di rumah sakit.


" Bi, vitamin, su su hamil, buah dan sayuran yang saya minta buatkan untuk Grace sudah diminum dan dimakan semua?" tanya Agatha kepada Bi Saonah.

__ADS_1


" Sudah, Bu." jawab Bi Saonah.


" Mam, Papih kenapa?" tanya Grace Kembali.


" Rizal tidak kenapa-napa, kok, Grace." Agatha merangkulkan tangannya ke pundak Grace lalu melirik ke Bi Tinah,dengan gerakan matanya, dia menyuruh Bi Tinah menjauh agar Grace tidak mengintrogasi Bi Tinah untuk mencari jawaban. " Tadi Mama berbincang dengan Bi Tinah, kira-kira hal apa yang dapat membuat Rizal cepat merespon kita agar dia cepat siuman." Agatha memberi jawaban yang dia anggap masuk akal dan tidak mengundang kecurigaan Grace.


" Yakin hanya itu yang Mama bicarakan dengan Bi Tinah?" Grace menatap mata Mamanya penuh tanya.


" Grace, untuk apa Mama berbohong, sih? Coba saja kamu lihat sendiri, bagaimana kondisi suami kamu kalau kamu tidak mempercayai Mama." Kini Agatha membawa Grace ke arah brankar Rizal.


" Kamu harus sering mengajak bicara suami kamu, Grace. Biar dia cepat merespon dan cepat siuman." Agatha menasehati Grace agar tetap semangat membangunkan Rizal.


" Ya sudah, Mama mau bertemu dengan dokter dulu. Mama ingin menanyakan apa yang tadi Mama bicarakan dengan Bi Tinah." Agatha berlalu meninggalkan Grace.


Grace menatap Rizal yang masih tenang dalam tidurnya. Grace tidak tahu sampai kapan suaminya itu akan tak sadarkan diri. Dia sendiri tidak tahu, apa yang dirasakan oleh sang suami saat ini dalam tidur panjangnya. Apakah benar seperti yang tadi dia dengar dari Bi Tinah saat dia mencuri dengar percakapan antara Agatha dan Bi Tinah, walau Mamanya tadi menutupinya.


Flash back on


" Non, jalannya pelan-pelan. Jangan cepat-cepat! Non Grace sedang hamil, lho!" Bi Saonah berlari mengikuti kecepatan langkah Grace yang berjalan di koridor rumah sakit.


" Aku ingin cepat sampai kamar suamiku, Bi." Grace beralasan jalan dengan gerak cepat karena ingin segera sampai di kamar Rizal.


" Tapi Non Grace sedang hamil muda, Non. Harus hati-hati. Usia kehamilan muda sangat riskan." Bi Saonah menasehati Grace agar lebih memikirkan kesehatan bayi dalam kandungannya.


" Sudah jangan bawel, Bi! Justru janin di perut aku ini yang mendorong aku untuk cepat bertemu dengan Papih!" Grace menggunakan alasan janinnya yang ingin cepat bertemu Papihnya.


Tak lama kemudian Grace sampai juga di kamar rawat Rizal.


" Hmmm, Pak Rizal mengigau menyebut nama Bu Sonia, Bu."


Grace menahan langkahnya saat dia mendengar suara Bi Tinah yang sedang bercerita kepada Agatha.


" Kenapa, Non?" tanya Bi Saonah melihat Grace menghentikan langkahnya.


" Sssstttt ...!" Grace mendekatkan telunjuk ke dekat bibirnya. " Bibi duduk saja dulu di situ!" Grace berbisik menyuruh Bi Saonah untuk duduk menunggu di kursi tunggu depan kamar Rizal. Sementara dia terus mendengar kalimat demi kalimat yang dibicarakan oleh Agatha dengan Bi Tinah hingga akhirnya sampai pada ucapan Bi Tinah tentang makna dari mimpi didatangi orang yang sudah meninggal saat sedang sakit, apalagi sudah satu Minggu ini suaminya itu seperti nyenyak dalam tidurnya.


" Iya, Bu. Bu Sonia sudah meninggal enam tahun. Bibi berpikir saat Pak Rizal mengigau itu, Pak Rizal sedang didatangi Ibu Sonia, makanya Pak Rizal menyebut nama Ibu Sonia. Yang Bibi pernah dengar katanya kalau orang sakit didatangi orang yang sudah meninggal itu pertanda buruk. Makanya Bibi tidak cerita karena hal ini akan membuat Non Grace sedih, Bu."


Setitik air mata langsung jatuh di pipi Grace mendengar cerita Bi Tinah kembali. Apakah alasan suaminya itu tidak juga bangun dari komanya karena roh Rizal merasa nyaman berada di alam bawah sadarnya sebab ditemani oleh wanita yang sangat dicintai oleh Rizal dulu.


Tak kuasa untuk mendengar obrolan antara Mamanya dengan Bi Tinah, Grace akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar Rizal. Dan karena kedua orang yang sedang berbincang di kamar Rizal berniat menyembunyikan cerita itu darinya karena mereka khawatir dengan kondisi kehamilannya, Grace pun memilih seolah tidak tahu semua yang dia sempat curi dengar.


Flash back off


Grace duduk di tepi brankar dengan tangan menggenggam tangan Rizal. Sungguh dia sangat merindukan kehangatan dari sentuhan sang suami yang selama satu Minggu ini tidak dia rasakan.


" Pih, apa Papih ingin terus seperti ini? Apa Papih lebih tenang bersama Mamihnya Bella di sana, Pih? Papih ingin meninggalkan aku? Papih ingin meninggalkan anak-anak Papih? Papih tega membuat anak kita ini terlahir tidak punya Ayah? Bukan hanya Bella yang akan kehilangan Papihnya, tapi janin di perut aku ini juga, Pih." Grace tersedu dengan menciumi punggung tangan dan jemari Rizal. Saat itu juga tiba-tiba Grace merasakan gerakan tangan Rizal yang sedang dia genggam. Grace langsung membuka matanya dan melihat pergerakan pelan jari tangan Rizal


" Son ... nia ...."


Grace terbelalak lebar dan langsung menoleh ke arah wajah Rizal. Mata suaminya itu masih terpejam. Bibir Rizal pun kembali mengatup.


" Pih, bangun, Pih! Ini aku ... Grace! Istri Papih, calon Mama dari benih yang Papih tanam di rahim aku, Pih!" Grace mendekatkan wajahnya ke wajah Rizal. Tangannya kini bahkan mengusap wajah Rizal berharap Rizal cepat tersadar. Sungguh dia tidak rela jika sampai Rizal dibawa oleh mantan istri Rizal yang telah meninggal itu.


" Pih, Mamih Bella sudah tenang di alam sana! Aku tidak rela Papih memilih Sonia! Sonia sudah tidak membutuhkan Papih! Aku yang membutuhkan Papih! Anak-anak Papih yang membutuhkan Papih di dunia ini! Papih jangan lepas tanggung jawab dengan meninggalkan kami begitu saja! Ayo bangun, Pih! Bangun!!" Grace bahkan menguncang bahu Rizal dengan terus terisak.


" Non, Non, Bella. Sabar, Non." Bi Saonah yang ada di kamar Rizal langsung menghampiri Grace saat mendengar Grace menangis dan berbicara dengan nada tinggi pada Rizal yang tak bereaksi apa-apa.

__ADS_1


***


Agatha mengusap punggung Grace dan membiarkan Grace bersandar di pundaknya, ketika mereka menghadap dokter yang menangani Rizal. Dia dan putrinya butuh penjelasan dari dokter Peter soal kondisi Rizal.


" Secara medis, kondisi Pak Rizal sudah membaik, Bu. Hanya tinggal menunggu Pak Rizal tersadar saja. Jika pasien sudah memberi respon dengan gerakan dan suara, itu kemajuan yang sangat besar. Untuk itu saya sarankan agar orang terdekat pasien terus memberikan terapi cerita dengan menceritakan kembali kisah menyenangkan untuk melatih sirkuit otak yang bertanggung jawab terhadap memori jangka panjang. Rang sangan itu perlahan membantu memicu bangkitnya kesadaran pasien saat koma." Dokter Peter terus memberikan dorongan agar pihak keluarga aktif bercerita. **


" Kesadaran yang timbul dari rang sangan cerita ini bisa bertambah hingga berpeluang besar membantu pasien koma untuk lebih cepat sadar. Pasien juga lebih sadar terhadap lingkungannya untuk menanggapi percakapan," tutur Dokter Peter selanjutnya. **


" Lalu, bagaimana anggapan jika pasien mengigau dan menyebut nama orang yang sudah meninggal, Dok?" Agatha panasaran dengan ucapan Bi Tinah yang disebut sebagai pertanda buruk.


" Untuk hal itu di luar kemampuan saya sebagai petugas medis, Bu. Mungkin Ibu bisa bertanya pada orang yang paham soal spriritual agama untuk mendapatkan jawaban yang Ibu cari." Dokter Peter menyarankan untuk bertanya kepada orang yang ahli dalam hal tersebut di luar medis.


" Saran saya, pihak keluarga tetap harus sabar untuk terus berkomunikasi dengan pasien. Gunakan penghayatan dan intonasi dalam bicara seperti layaknya bicara pada orang dalam kesadaran yang normal," lanjut dokter Peter.


" Menurut dokter, apa perlu menantu saya itu dipindah rawat ke luar negeri, Dok?" tanya Agatha kembali. Jika dirawat di rumah sakit di luar negeri dengan fasilitas yang lengkap dan memadai kemungkinan Rizal sembuh lebih besar, Agatha tidak mempermasalahkannya asalkan suami dari anaknya itu cepat sadar.


" Seperti saya katakan tadi, Bu. Secara medis, kondisi Pak Rizal sudah bisa dibilang membaik. Hanya menunggu kemauan dari pasien untuk kembali tersadar. Jadi dirawat di mana pun hasilnya tidak akan berbeda jauh, Bu." Dokter Peter menjelaskan jika hasilnya akan tetap sama jika pasien lebih merasa nyaman dengan tidur panjangnya itu.


" Di luar semua itu, bantuan doa juga sangat penting, agar pasien cepat tersadar," lanjut dokter Peter menyebut faktor paling penting dalam penyembuhan pasien sakit di luar pengobatan medis.


" Dok, apa suami saya bisa dirawat di rumah sendiri?" Mendengar penjelasan dokter, Grace terpikirkan untuk membawa suaminya pulang ke rumah dan merawat suaminya di rumah sendiri.


" Bisa saja, Mbak. Asalkan kondisi kamarnya disesuaikan dengan kondisi kamar rawat inapnya sekarang ini. Termasuk alat-alat penunjangnya. Dan juga harus ada tenaga ahli yang memantau kondisi pasien." Dokter Peter menjelaskan.


" Kalau begitu, saya ingin membawa suami saya pulang ke rumah saja, Dok. Biar saya bisa fokus mengurus suami saya." Grace berpikir jika Rizal dirawat di rumah, dia bisa dua puluh empat jam mendampingi Rizal tanpa harus takut tertular penyakit seperti jika dirinya berada di rumah sakit seperti yang dikhawatirkan oleh Mamanya.


" Grace, apa kamu yakin akan membawa Rizal pulang?" Agatha ragu dengan rencana Grace.


" Aku yakin, Ma! Di sini aku tidak bisa setiap saat mendampingi Papih karena Mama melarang. Kalau di rumah, aku akan bisa merawat Papih karena lebih aman bagi ibu hamil dibandingkan rumah sakit." Grace makin mantap dengan keputusannya untuk membawa Rizal pulang. Agar dia lebih intens merawat suaminya itu.


" Bagaimana, dokter? Apa aman bagi pasien?" Agatha mencoba minta pendapat Dokter Peter.


" Kalau memang Mbak Grace sudah siap dan yakin, dan semua persyaratan pasien untuk rawat di rumah bisa disediakan, tidak ada masalah, Bu. Nanti kami bantu sediakan tenaga perawat yang akan membantu Mbak Grace merawat Pak Rizal di rumah. Nanti saya juga akan rutin mengontrol kondisi Pak Rizal." Dokter Peter mencoba memastikan fasilitas yang menunjang Rizal rawat di rumah dapat tersedia.


***


" Mam, tolong suruh orang untuk merenovasi kamar di rumahku. Buat senyaman kamar rawat inap ini." Grace meminta bantuan Agatha untuk menjalankan apa yang dianjurkan oleh Dokter Peter.


" Kamu ingin membawa pulang ke rumah kamu, Grace?" Agatha heran, kenapa Grace tidak membawa ke rumah milik Rizal.


" Aku tidak akan membawa Papih ke rumahnya selama Papih belum tersadar, Mam. Di sana banyak kenangan Papih dengan mantan istrinya. Aku takut itu akan mempengaruhi kemauan Papih untuk siuman. Kalau di rumahku dan dekat dengan kantor Papih, mungkin itu lebih naik. Papih sangat mencintai pekerjaannya. Siapa tahu hal itu akan membuat Papih cepat sadar." Grace memaparkan alasannya memilih membawa Rizal pulang ke rumahnya, bukan ke rumah milik Rizal yang banyak menyimpan kenangan bersama Sonia.


" Tapi kamu harus membicarakan hal ini pada anak suamimu, Grace. Dia juga berhak atas Papihnya. Jangan sampai dia berpikiran kamu membenci Mamihnya dan kamu ingin menguasai Rizal." Agatha menyuruh Grace berkomunikasi juga pada Isabella. Agatha tidak ingin Isabella sampai beranggapan jika Grace ingin menghaki Rizal.


" Iya, Mam. Aku nanti akan memberi pengertian pada Bella. Aku yakin, Bella juga lebih ingin Papihnya tetap hidup, meskipun Bella juga sangat menyayangi Mamihnya. Atau mungkin aku akan menyuruh Bella untuk tinggal di sini sementara waktu sampai Papih tersadar." Grace merasa apa yang dia lakukan bukan hanya karena sikap egonya semata. Tapi juga untuk kebaikan bagi semua, termasuk untuk Rizal dan Isabella. Dan Grace yanin, Isabella pasti akan mendukungnya, karena Isabella tidak ingin Papihnya itu menyusul Mamihnya dan membuat Isabella menjadi anak yatim piatu.


" Ya sudah kalau memang kamu sudah yakin seperti itu. Nanti Mama akan atur orang untuk membuat kamarmu senyaman kamar rawat untuk Rizal." Agatha akhirnya menyetujui apa yang diminta oleh Grace.


" Terima kasih, Mam." Grace memeluk tubuh Agatha. Dia bahagia di saat dirinya sedang mengalami masalah, Mamanya bisa ada menemaninya, begitu juga dengan Agatha yang merasa senang dia bisa berdamai dengan Grace dan hubungan mereka semakin hangat.


*


*


*


Source : ** artikel detikhealth

__ADS_1


Bersambung ...


Happy reading❤️


__ADS_2