
Rivaldi menurunkan kecepatan laju mobilnya saat dia melihat sosok wanita muda yang terlihat berjalan keluar dari sebuah gedung lembaga pendidikan non formal yang terletak di sebelah kiri jalan yang sedang dilalui kendarannya.
Rivaldi mengenali jika wanita itu adalah Isabella, putri dari Rizal. Pria yang saat ini masuk dalam jajaran pria yang dia benci karena perbuatan Rizal yang telah menipunya walaupun itu atas perintah Erlangga.
Sebuah senyum tipis langsung terlihat di sudut bibir pria berwajah tampan itu. Netra matanya kini melihat Isabella yang berjalan mendekati mobil yang dia ingat adalah mobil milik Isabella saat menabrak mobilnya dulu.
Rivaldi membuka kaca jendela mobilnya saat mobilnya melintasi Isabella.
" Hai ...!" Rivaldi menyapa Isabella yang sedang membuka pintu mobil. Membuat Isabella terkesiap dan langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
Isabella membulatkan bola matanya saat dia melihat seorang pria menyapa dari dalam sebuah mobil mewah yang masih dia ingat siapa pemilik mobil itu. Isabella sampai memutar pandangannya saat mobil itu terus melintas dan berhenti di depan mobilnya terparkir.
Isabella menggigit bibirnya, dia takut jika Rivaldi masih dendam kepadanya karena dia pernah menabrak mobil milik pria itu. Dia masih ingat kemarahan Rivaldi saat meminta kartu identitasnya. Kemarahan Rivaldi memang mereda setelah pria itu tahu jika dia adalah anak Rizal. Tapi saat ini Isabella tidak sedang bersama Papihnya. Sementara itu Rivaldi terlihat keluar dari mobil mewahnya berjalan mendekati Isabella.
" Hai, kamu anaknya Pak Rizal, kan? Masih ingat saya?" Saat sampai di hadapan Isabella, Rivaldi menyapa Isabella kembali.
" Oh ya, Kak. Kakak ini yang waktu itu mobilnya aku tabrak, kan?" Tentu saja Isabella masih mengingat Rivaldi. Namun, dia lupa jika saat itu Papihnya sedang menyamar sebagai Firman.
" Kamu sedang apa di sini?" tanya Rivaldi menoleh ke arah bangunan di depannya.
" Hmmm, aku mau ikut mengajar di sini, Kak." jawab Isabella jujur.
" Kamu mengajar di sini? Saya pikir kamu masih kuliah." Rivaldi memang mengira jika Isabella adalah seorang mahasiswa.
" Aku juga masih kuliah kok, Kak. Baru semester dua." sahut Isabella.
" Kamu kuliah sambil kerja?" tanya Rivaldi kembali dengan menatap wajah Isabella.
" Baru belajar saja, Kak. Sambil mengisi waktu luang, tidak ada salahnya berbagi ilmu." Isabella tersipu malu ditatap seperti saat ini Rivaldi menatapnya.
" Wah, kamu hebat! Masih muda tapi sudah belajar mandiri." Rivaldi sengaja memuji Isabella membuat wajah Isabella seketika merona.
" Oh ya, kamu mau ke mana sekarang?" tanya Rivaldi mencoba mengakrabkan diri dengan Isabella, karena tentu saja dia punya rencana yang tiba-tiba saja melintas di benaknya saat dia melihat Isabella.
" Aku mau pulang, Kak." jawab Isabella.
" Hmmm, bagaimana kalau kamu menemani saya makan siang?" Rivaldi mengedar pandangan mencari cafe atau restoran di sekitar dia saat ini berada.
" Kakak mau ajak saya makan di mana?" tanya Isabella bingung.
" Kamu punya tempat makan favorit atau cafe dekat sini?" tanya Rivaldi.
" Cafe ada sekitar lima ratus meter dari sini, Kak." jawab Isabella menunjuk ke arah barat dari arahnya berdiri.
" Ya sudah, kita makan di sana sambil berbincang, bagaimana?" Rivaldi kembali mengajak Isabella.
" Hmmm ..." Isabella nampak ragu untuk menerima tawaran Rivaldi tadi.
" Kalau kamu tidak bisa, tidak apa-apa, kok.!" Melihat Isabella terlihat ragu, Rivaldi tidak ingin memaksa Isabella karena dia tidak ingin membuat Isabella ketakutan padanya. Jika dia sampai memaksakan kehendaknya, hal itu tidak akan baik untuk rencananya.
" Hmmm, ya sudah kita ke cafe itu saja. Ada di sebelah kanan jalan, yang bercat warna terakota cafenya, Kak." Akhirnya Isabella menyetujui permintaan Rivaldi yang memintanya menemani makan siang pria itu.
" Kamu yang kasih tunjuk saja tempatnya. Kamu duluan bawa mobilnya." Rivaldi menyuruh Isabella yang menjadi petunjuk jalan dan menyuruh Isabella mengendarai mobil di depannya, sementara dia akan mengikuti di belakangnya.
" Iya, Kak." sahut Isabella, kemudian dia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya itu, sementara Rivaldi sendiri berlari kecil menuju mobilnya untuk mengekor di belakang mobil yang dikendarai oleh Isabella.
***
" Oh ya, saya lupa nama kamu. Nama kamu siapa?" Sesampainya Rivaldi dan Isabella di cafe dan memesan makanan, Rivaldi menanyakan nama Isabella karena dia memang tidak mengingat nama wanita itu. Dia bukan tipe pria yang mudah jatuh hati pada wanita. Karena itu dia tidak mengingat nama orang yang hanya bertemu dengannya sepintas lalu.
" Isabella, Kak. Panggil saja Bella." Isabella menyebutkan namanya. " Kakak sendiri?" Isabella kini bertanya, walaupun dia masih ingat nama Rivaldi karena belakangan Papanya sempat menyebut nama Rivaldi.
__ADS_1
" Saya Rivaldi, panggil saja Aldi." Rivaldi pun menyebutkan namanya pada Isabella.
" Iya, Kak Aldi." jawab Isabella.
" Kamu kuliah di mana?" tanya Rivaldi ingin mengorek kehidupan pribadi Rizal tentunya, melalui orang-orang terdekat Rizal.
Pertanyaan Rivaldi langsung dijawab Isabella dengan menyebut nama universitas dia kuliah, termasuk fakultas dan jurusan yang dia ambil.
" Kamu mengambil Ekonomi & Bisnis? Kalau kamu butuh tempat untuk magang, kamu bisa hubungi aku. Kamu bisa bekerja di perusahaanku." Rivaldi langsung menawarkan Isabella pekerjaan di kantornya jika Isabella berniat untuk bekerja selepas kuliah nanti.
" Terima kasih, Kak. Tapi, saya baru semester dua. Masih lama untuk memikirkan bekerja di perusahaan besar seperti perusahaan milik Kak Aldi." Tentu saja ditawarkan bisa bekerja di perusahaan besar seperti milik Rivaldi yang mempunyai kantor gedung bertingkat-tingkat adalah keinginannya. Namun, Isabella sadar jika dia juga belum genap satu tahun kuliah. Mungkin ilmu yang dia pelajari belum cukup untuk mencapai posisi yang dia inginkan.
" Oh ya, usia kamu berapa sekarang?" tanya Rivaldi.
" Sembilan belas tahun, Kak." Isabella menyembut usianya saat ini kepada Rivaldi.
" Sembilan belas?" Rivaldi menyebutkan angka yang diucapkan oleh Isabella. " Si alan! Rizal ingin menikahi wanita yang usianya hanya beda satu tahun di atas anaknya." gumamnya mengumpat.
" Kamu masih muda sekali. Papa kamu usia berapa sekarang?" Kali ini Rivadi mulai membahas soal Rizal.
" Papih aku umur tiga puluh sembilan tahun. Papih memang menikah muda. Katanya waktu lulus SMA, Mamih aku mau dijodohkan sama pria lain. Karena itu setelah tamat SMA Papih langsung mengajak Mamih menikah walau awalnya tidak disetujui oleh Kakek sama Nenek, karena Papih juga saat itu belum bekerja." Isabella menjelaskan kenapa di usia Rizal saat ini sudah mempunyai anak seusia Isabella.
" Papih kamu itu cinta sekali sama Mamih kamu itu, ya? Sampai tidak rela Mamih kamu dijodohkan dengan pria lain." Mungkin Isabella memang tidak menyadari jika Rivaldi sedang mengorek informasi soal Rizal darinya.
" Iya, Papih memang sayang sama Almarhumah Mamih aku ..." Isabella menundukkan kepalanya, karena tiba-tiba dirinya merindukan Mamihnya yang meninggal enam tahun silam.
" Mamih kamu sudah meninggal? Maaf kalau saya mengingatkan kamu akan Mamih kamu." Melihat wajah sendu Isabella, Rivaldi meminta maaf karena dia sudah mengingatkan Isabella tentang Mamihnya.
" Iya, Mamih sudah meninggal karena kanker enam tahun lalu," lirih Isabella tak dapat menutupi kesedihannya.
" Pasti kamu sangat kehilangan sekali, ya? Di usia kamu yang beranjak dewasa seperti sekarang ini, kamu pasti membutuhkan sosok Mama yang dapat menjadi teman curhat untuk kamu, kan?" Baru saja dia meminta maaf, kali ini Rivaldi menyinggung lagi tentang kehadiran sosok Mama untuk Isabella. Dia memang berniat mempengaruhi Isabella untuk menentang keputusan Rizal yang ingin menikahi Grace. Tentu Grace bukanlah sosok Mama sambung yang tepat untuk Isabella, menurutnya.
" Apa Kak Aldi menyukai Grace?" Pertanyaan Isabella kali ini membuat mata Rivaldi terbelalak. Rivaldi tidak menyangka jika Isabella telah mengetahui hal tersebut.
" Kamu tahu dari mana?" tanya Rivaldi kemudian. Namun, dia menduga jika Rizal lah yang mengatakan hal tersebut kepada Isabella.
" Papih aku. Papih aku meminta ijin aku untuk menikahi Grace. Tapi aku tidak suka sama dia! Papih bilang, kalau aku tidak memberikan ijin kepada Papih, Grace akan dijodohkan oleh Mamanya. Dan orang yang ingin dijodohkan dengan Grace adalah Kak Aldi." Isabella menjelaskan bagaimana dia bisa mengetahui soal rencana perjodohan Rivaldi dan Grace oleh Agatha.
Rivaldi menarik samar sudut bibirnya. Dia merasa tidaklah sulit mengajak Isabella bekerja sama untuk menggagalkan niat Rizal yang ingin menikahi Grace. Namun, tiba-tiba saja Rivaldi mempunyai rencana lain untuk membalas apa yang sudah Rizal lakukan kepadanya.
" Itu memang atas permintaan Tante Agatha, Mamanya Rena. Tapi, sebenarnya aku juga tidak setuju dengan rencana perjodohan itu, karena aku juga tidak mencintai Rena." Rivaldi menampik jika dia menyukai Grace di hadapan Isabella. " Lagipula sekarang ini sudah jaman modern, sudah tidak musim acara perjodohan seperti itu."
" Rena?" Kening Isabella berkerut saat Rivaldi menyebut nama Rena.
" Aku selalu memanggil Grace dengan panggilan Rena sesuai nama panjangnya Renata." Rivaldi menyebutkan kenapa dia menyebut Grace dengan Rena.
" Kak Aldi tidak menyukai Grace?" tanya Isabella heran
" Aku suka wanita yang terlihat anggun dan sederhana," sahut Rivaldi menatap bola mata Isabella.
Isabella seketika menundukkan pandangannya kerena dia merasa salah tingkah dipandang dengan lekat oleh Rivaldi. Bahkan wajahnya bersemu merah.
Rivaldi menikmati kecantikan wajah Isabella yang terlihat merona karena ditatap olehnya. " Kamu sendiri, apa kamu sudah mempunyai kekasih?" tanya Rivaldi kemudian.
" Hmmm, tidak, Kak." jawab Isabella menggelengkan kepala dengan malu-malu.
" Oh ya, aku bisa minta nomer telepon kamu?" Rivaldi memberanikan diri meminta nomer telepon Isabella.
Isabella berpikir sebentar. Menurut cerita Papihnya, Rivaldi adalah pria licik. Namun, dia tidak melihat hal tersebut dalam diri Rivaldi dan itumembuatnya merasa heran. Apa itu hanya akalan-akalan Papihnya saja agar dia mau merestui hubungan Papihnya dengan Grace. Itu yang muncul di benak Isabella.
" Tidak boleh, ya?" Pertanyaan Rivaldi membuat Isabella yang sedang termenung terkesiap.
__ADS_1
Isabella lalu menyebutkan nomer teleponnya pada Rivaldi dan Rivaldi langsung menyimpan nomer telepon Isabella di ponselnya.
" Aku miscall nomer kamu, ya!? Itu nomer telepon aku. Kamu simpan saja!" Rivaldi meninggalkan nomernya di ponsel Isabella.
" Iya, Kak." Setelah Isabella menyimpan nomer telepon Rivaldi, pelayan cafe membawakan menu makanan yang dipesan oleh Rivaldi dan Isabella. Mereka pun menyantap menu makan siang mereka sambil melanjutkan perbincangan mereka.
***
" Malam nanti kita akan ke mana?" tanya Rizal duduk di tepi meja Grace. Rizal bahkan seolah mengabaikan keberadaan Vito yang langsung melirik saat bosnya itu berbincang dengan Grace.
Grace melirik ke arah Vito yang mengulum senyuman melihat tingkah Rizal saat ini benar-benar sedang mengalami puber kedua.
" Apa kau tidak melihat anak buahmu itu menertawakanmu?" Grace menunjuk ke arah Vito dengan arahan matanya.
" Vit, fokus saja dengan pekerjaanmu! Tak usah perdulikan kami!" tanpa menoleh ke arah Vito, Rizal menegur orang kepercayaannya itu.
" Siap, Pak!" Vito kembali memfokuskan tatapannya pada layar komputer di hadapannya saat ini.
" Jadi, nanti malam kita akan ke mana?" Masih belum mendapatkan jawaban dari Grace, Rizal kembali menuntut jawaban dari wanita itu.
" Nanti malam bukan malam Minggu, kan? Kenapa kau mengajakku berkencan?" sindir Grace.
" Memangnya pergi berkencan itu khusus malam Minggu saja?" balas Rizal.
" Kau ini seperti ABG yang sedang kasmaran saja!" Grace bangkit dari kursinya lalu berjalan masuk ke dalam ruang kerja Rizal.
Rizal menyeringai saat Grace berjalan masuk ke dalam ruangannya. Dia melirik ke arah Vito yang masih menatap laptop namun terlihat sedang menahan senyuman.
" Makanya kau cepat bergerak, Vit! Biar kau juga bisa merasakan seperti yang apa saya rasakan saat ini!" Rizal menyindir Vito yang masih belum melakukan pendekatan apa-apa pada Isabella, membuat Vito memicingkan matanya. Sementara Rizal segera masuk ke dalam ruangannya.
Rizal mendapati Grace kini duduk di kursi kerja miliknya, membuat Rizal melangkah mendekat ke arah wanita yang telah resmi menjadi kekasihnya itu.
" Mungkin suatu saat nanti aku yang akan menggantikanmu duduk di sini jika kau sudah semakin tua!" Grace mengerakkan kursi yang sedang didudukinya ke kanan dan ke kiri.
" Apa kamu berminat menjadi detektif?" Rizal berhenti dan berdiri tepat di hadapan Grace lalu menyandarkan bo kongnya di tepi meja.
" Detektif apa? Detektif cinta?" Grace bangkit dari kursi kerja Rizal dan melingkarkan tangannya di leher Rizal yang ada di depannya saat ini.
" Detektif cinta yang sudah berhasil mencuri hatiku?" Rizal yang masih duduk di tepi meja melingkarkan tangannya di pinggang Grace lalu mengangkat tubuh Grace dan memutar tubuhnya hingga saat ini Grace lah yang terduduk di tepi meja dengan tangan masih melingkar di leher Rizal.
" Siapa suruh kau jatuh cinta padaku?" Kini tangan Grace membelai cambang di rahang Rizal. " Apa ini akan terasa geli jika kita kau mencium punyaku, ya?"
Pertanyaan absurd bernada nyeleneh diucapkan Grace seraya terkekeh. Sontak pertanyaan itu membuat Rizal menautkan kedua alisnya.
" Hei, kenapa kau sampai memikirkan hal itu?" tanya Rizal mendengar pertanyaan nakal Grace kepadanya tadi. " Apa kau sedang memikirkan hal me sum, hmmm?" Rizal langsung menautkan bibir mereka karena dia tak tahan untuk tidak menyentuh Grace apalagi dengan ucapan yang dikatakan Grace tadi.
Grace membalas sentuhan bibir Rizal tak kalah berga irah. Grace yang berpengalaman tentu saja membuat dirinya ahli membuat lawannya merasa senang.
" Apa kau berminat melakukannya nanti di meja kerjamu ini jika kita sudah menikah?" tanya Grace kembali menanyakan hal yang tentu membuat kepala Rizal mau pecah.
" Arrrggghhh, Grace ...!!" Rizal langsung menjatuhkan tubuh Grace di atas meja kerjanya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1