
PERINGATAN!!
BEBERAPA ADEGAN TIDAK PANTAS UNTUK DITIRU!!
......................
Bugh.
Bugh.
"ARGH!! SIAL!!" Ujung bibir pemilik suara itu mengeluarkan darah.
"HIIYYYAAAAAA!!!" Menerjang pangkal paha pada titik kelemahan para laki-laki, tangan terkepal Ara meninju ulu hati sosok gembul berkaos maroon. Amarah Ara sudah berada di puncak ubun-ubun kepala ingin meledak.
Brugh.
"ANJIIMM!! SETTAAANNN!!! AAAAARRRGGGHH!!" Teriakan menggema seperti auman Harimau tidak menggentarkan Ara. Justru semakin Ara tekan sesuatu milik sosok yang sudah roboh di bawah sneakers hitamnya itu sepenuh hati.
“AAARRGGHH!!!” Jeritan pilu penuh kesakitan menghentikan langkah 2 orang laki-laki yang siap menyerang Ara. Bergidik ngeri keduanya menatap nanar si gembul sembari memegangi kepemilikan masing-masing.
"DIBILANG JANGAN SENTUH YA JANGAN!! BUDEG YAA!!" Beranjak dari laki-laki gembul yang sudah tampak sekarat, Ara ayunkan tungkai kakinya menendang wajah sosok hitam manis yang langsung terkapar di lantai.
Baru saja Ara berbalik ingin memberi bogeman mentah pada 1 sosok yang masih diam mematung, tarikan kasar pada rambutnya membuat Ara terhuyung. Disikutnya bagian perut si penarik segenap jiwa, namun gagal dan malah tamparan yang Ara dapatkan.
Plak.
Plak.
Brugh.
Meringis Ara menahan nyeri di kepalanya. Menatap nyalang dengan rahang mengeras, Ara terus berusaha melepaskan diri.
“Gus UDAH!” Akhirnya yang dikira manequin oleh Ara bersuara.
'Gus? Oh namanya Gus.' Membatin Ara bertekad mengingat nama itu.
“Kalau lo gak mau ikut campur pergi sana! Lo liat si Beno udah mati kayaknya itu. Dari awal juga lo gak mau nikmatin dia kan?”
Diam-diam Ara mengambil ancang-ancang untuk menyerang titik lemah lagi, Ara tidak punya cara dan senjata lain selain itu.
Membuang rasa jijik, geli dan ngerinya Ara remas barang pusaka milik si hitam manis sekencang mungkin kalau bisa hingga kering.
Bunyi gemeretak gigi Ara yang beradu menahan rasa sakit jambakan dan tamparan si korban remasan agar Ara menghentikan aksinya diabaikan begitu saja.
Entah bagaimana nasib akhirnya, yang pasti sesi itu berhenti dengan teriakan kencang dan robohnya si pemilik pusaka yang mengkerut meringkuk di sudut ruangan. Ara yakin ada tangisan yang mengiringi proses meringkuk itu.
Hilang sudah kesan gadis polos di benak ketiga laki-laki itu sebelumnya. Ara sangat beringas seperti sudah kerasukan roh psikopat dan macan garong.
“ASTAGA!!! Dek udah yaa.. Abang mohon ampun dek!!” Menangkupkan kedua telapak tangannya, sosok rupawan imut berlesung pipi tidak mampu menggoyahkan Ara kali ini.
Pipi lebam, bibir terkoyak, rambut acak-acakan, kancing baju tergeletak di lantai dan mata nyaris bengkak, Ara menyorot tajam bola mata si pemohon, “Kalian mau apa? Siapa Dinda?” Basa-basi Ara lontarkan untuk mengulik informasi yang lebih dalam.
__ADS_1
“Kita cuma becanda nakut-nakutin aja kok.. Dinda itu Adinda Ayu.”
“Kurang ajar!! Kalau becanda ngapain grepe-grepe?? Dasar busuk!! Dinda sialan!!” Tangan Ara kembali terkepal erat, melangkah mendekati sosok imut yang sudah menegang “Tunggu jemputan polisi!”
Bugh.
“Argh!!” Satu bogeman mentah Ara arahkan pada wajah rupawan itu. Muak sekali Ara lama-lama melihat wajah imut berlesung pipi itu sangat mulus, namun sangat disesali sifatnya tidak serupawan wajahnya.
Bersyukur Ara saat ketiga lawannya ternyata tidak sekokoh tampilannya. Bukan tidak mungkin Ara yang terkapar meski sudah pengalaman adu jotos.
...----------------...
Berbekal informasi yang keluar dari mulut si imut, Ara bergegas mencari Dinda, kakak kelas sekaligus kekasih cinta pertamanya. Mata Ara menyalang melihat sosok yang ia panggil Dinda yang sedang bergelayut manja di lengan Dewa.
"Maksud kakak apa suruh orang merkosa aku??" Jambakan kasar menghentak kepala Dinda, suara meninggi Ara menarik perhatian seluruh orang. Jika dulu pasti Ara akan menghindar, khusus untuk Dinda kali ini Ara tidak akan menghindari masalah dengan sebangsanya.
"Lepasin!! Dasar STALKER MURAHAN!! Udah kayak jalang jijik banget." Bukan suara Dinda, tapi Dewa, sosok pujaan hati Ara sang cinta pertama dan cinta masa kecil yang sudah 6 tahun masih bertahta mungkin langsung kandas di saat itu juga.
Mencelos sakit hati Ara, penampilannya yang mengerikan ulah orang tercinta Dewa sendiri yaitu Dinda. Tapi bukannya meluruskan, justru Ara yang menerima penghinaan. Tidak bisa berkata-kata lagi, Ara ambruk pingsan.
Padahal Ara sudah berusaha bertahan sampai sejauh itu. Ara tetaplah manusia dan masih seorang gadis yang butuh perlindungan.
Tubuh tegar itu bergetar sepanjang kejadian dimana Ara sebenarnya ketakutan, namun Ara berusaha melawan getar menakutkan itu. Akan tetapi pertahanannya runtuh kala kata 'murahan' dan 'jalang' terlontar dari mulut Dewa sang pujaan hati. Ara mau tidak mau merasa menyakini bahwa ia memang seperti yang Dewa tuduhkan.
Flashback Off
Di ruang ICU sudah 4 hari Ara di rawat terbaring lemah dalam kondisi tidak sadarkan atas percobaan bunuh diri. Kelopak matanya tidak sedikitpun ingin terbuka. Setelah sebelumnya sempat histeris dan diberikan suntikan penenang, selama 3 hari alam bawah sadar Ara menolak untuk bangun.
"Dok, kakak saya kenapa?" Tanya Jona pada seorang Dokter yang tampak gelisah di depan pintu ruang rawat Ara.
"Kakak kamu masih ditangani dokter lain di dalam. Kita tunggu ya.. Berdoa aja semoga baik-baik aja." Jawab Dokter itu yang tidak lain adalah Dion.
Merasakan ponselnya bergetar, Dion berlalu meninggalkan Jona yang masih menanti Papa Yudith, Mama Lauritz dan kakaknya di sebalik pintu.
Drrt.. Drrt..
Don't let those demons in again
I fill the void up with polished doubt, fake sentiment
Surrender yourself
...
(Noah Kahan - False Confidence)
"Halo Bang?"
[Dimana?] Suara bariton di seberang sana tidak terdengar ramah sama sekali, bahkan tidak ada balasan sapaan Dion.
"Ck! Lupa ya Adik mu dokter? Di Rumah Sakit lah. Kenapa?" Dion memutar bola matanya malas.
__ADS_1
[Cewek itu gimana?] Kali ini suara itu terdengar khawatir.
"Cewek yang mana?" Berpura-pura tidak mengerti maksud si penelepon.
[Yang bunuh diri di jembatan.]
"Hah!" Helaan nafas kasar Dion menjawab terlebih dahulu, "Masih belum sadar. Barusan gagal nafas, cukup kritis." Rasanya sangat putus asa Dion berucap.
"Syukurnya Abang dekat TKP bisa langsung bawa ke rumah sakit. Aku ngerasa gagal Bang jadi Dokternya Ara. Abang tau kan aku udah setahun bantu dia?" Lanjut Dokter Dion.
Dion bukan membongkar privasi pasiennya, hanya saja abangnya itu pernah menunggu sesi konsultasi Dion yang kebetulan pasiennya adalah Ara. Kebetulan pertemuan kedua datang lagi pada proses penyelamatan seorang gadis yang melompat ke sungai pada malam kejadian itu yang tidak lain adalah Ara dan si penyelamat ialah Abang dari Dion.
[Bukan salah mu. Kita gak pernah tau apa yang dirasakan sama dia. Kamu gak gagal dek.. Kamu tetap Dokter terbaik untuk pasien-pasien mu.]
"Makasih Bang udah kuatin aku. Ara itu berarti banget buat aku Bang. Saat ini rasanya aku juga kacau ngelihat kondisi dia." Menengadahkan kepalanya, mata Dion sudah berkaca-kaca.
...----------------...
Beralih pada keadaan di depan ruangan Ara saat ini sudah ada salah satu yang bertugas sedang berhadapan dengan Papa Yudith, Mama Lauritz dan Jona.
"Dokter anak saya kenapa?" Tanya Mama Lauritz pada sang Dokter.
"Sekarang kondisinya sudah stabil Bu. Kesadarannya memang sempat menurun dan kejang karena mengalami gagal nafas. Selebihnya kita pantau lagi selama 1 kali 24 jam kedepannya, kalau cukup stabil bisa segera kita pindahkan ke ruang rawat umum." Ucapnya penuh ketenangan, tentu hal itu agar kepanikan keluarga pasien mereda.
"Jika nanti pasien masih tidak kunjung sadar, bisa sesekali diajak komunikasi saja ya.. Semoga pasien mendengar dan bersemangat untuk segera bangun." Jelasnya lagi.
"Nah ini Dokter Dion, Bu, Pak." Menunjuk pada Dokter Dion yang sudah ikut bergabung, "Beliau ini Dokter yang bertanggungjawab dalam pengobatan kejiwaan putri Ibu dan Bapak, lebih kurang setahun belakangan ini."
"Astagaa.. Anak kita Pa.." Ucap Mama Lauritz syok.
"Ara anak kita Pa.. Udah setahun Pa.. Anak kittaaa.. Ibu macam apa aku inii.." Histeris Mama Lauritz dipelukkan Papa Yudith saat baru mengetahui fakta sebenarnya kondisi Ara. Selama 4 hari anak gadis semata wayangnya itu di rawat sebenarnya Papa Yudith sudah diberitahu terlebih dahulu, ia belum mampu memberi kabar tersebut pada istrinya. Papa Yudith juga tidak kalah terkejut, namun harus menjadi lebih tegar demi istri dan anak-anaknya.
...****************...
Code Blue : salah satu kode gawat darurat atau istilah yang digunakan saat terjadi kondisi darurat medis yang berpotensi mengancam nyawa pasien.
*
*
*
Kenapa Ara tidak sadarkan diri begitu lama?🤔
*
*
Maaf ya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan karya ini😊
*
__ADS_1
Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🥰