
"Gimana kemarin kencannya sama Pak Kim??" Mengabaikan celetukan Yuki yang seenak jidatnya, Ara memindai sosok-sosok kasat mata di sekitarnya.
Bugh
Pukulan kecil melayang indah dari kepalan tangan Ara ke lengan kiri Yuki. Mata yang sudah bulat itu melotot tajam penuh kesal.
"Mulutnya ini hati-hati kalau ngomong." Ara mencubit gemas bibir Yuki.
"Kenapa? Takut? Hahaha.." Tergelak Yuki menatap Ara, "Tau kan akhirnya kalau Pak Kim terkenal di fakultas lain juga.. Coba gak ikut penelitian pasti masih gak keluar dari cangkang zaman paleolitikum."
"Makanya Ra, kalau hidup nomaden itu jangan fokus ke diri sendiri, tapi berita sekitar juga." Lanjut Yuki mencibir Ara, bahkan kucing liar seolah ikut mendukung ucapannya dengan mengeong.
"Heleeh.. Berita apaan?? Gosip iya." Bantah Ara mengacuhkan kalimat cibiran Yuki.
"Heleeh.. Gosip apaan?? Fakta iya." Ujar Yuki mengikuti gaya bicara Ara sebelumnya dengan tambahan nada mengejek.
"Ya udah ceritain Ra gimana kencannya??" Mengernyit heran Ara pada Dimas yang jadi ikutan kepo seperti Yuki. Mungkin memang sudah hukum alam bahwa kebersamaan juga ikut berpengaruh membentuk kebiasaan yang seragam.
"Apaan sih kalian ini?? Mana ada kencan-kencan gitu.. Mau bahas kelanjutan dana kali. Aku kan juga mau dapat uang jajan. Lagian gagal kok, tuh paling juga udah bahas sama Bu Dian." Mendengus kesal Ara sebenarnya malas menanggapi pembahasan Yuki dan Dimas.
"Hish!! Kurang gercep deh Ra.. Kayak Bu Dian tuh Ra pepet terus Pak Kim nya itu!" Ucap Yuki tidak kalah kesalnya pada Ara yang dianggap bergerak seperti bekicot itu.
"Lagian kenapa kalian sih yang heboh?? Kalau naksir jangan kasih umpan ke temen kali Yuki, nanti nyesek, sakit hati, cemburu buta, marahan, main jambak-jambak, sindir-sindiran terus sok gak kenal." Melirik ke kanan kiri pada Dimas dan Yuki yang sedang mengapitnya, Ara sudah benar-benar malas melanjutkan topik ini.
"Lagian aneh-aneh aja loh, kok bisa sih perusahaannya kasih dana ke fakultas kita??" Lanjut Ara sembari menyanggah pipi kanannya.
"Duh!! Apaan lagi sih Dim, main tonyor kepala aja." Ucap Ara kesal karena kepalanya baru saja di hentak kasar dengan telunjuk Dimas.
"Ni anak rupanya masih ada di zaman batu." Menghela nafas berat tapi teratur Dimas terus menggelengkan kepalanya.
"Perusahaannya gerak di bidang dredging and reclamation alias pengerukan dan reklamasi juga jasa konstruksi laut. Ya jelas bisa ada sangkut pautnya wahai Maimunah." Ujar Dimas sembari melipat tangannya di depan dada.
"Masih gak paham aku." Kerutan di dahi Ara bukannya berkurang, namun justru bertambah banyak.
"Ck!! Kok jadi oon gini sih Ra?? Kemarin terlalu syok ya gak jadi ketemu Pak Kim??" Yuki berdecak meremehkan Ara.
"Ingat kasus pejabat korupsi reklamasi belum lama ini??" Mengabaikan pertanyaannya sendiri dan raut wajah tampak terkejut Ara, Dimas ingin langsung menerobos penjelasan berikutnya.
"Dulu kabarnya perusahaan Pak Kim juga terlibat di proyek itu. Tapi gak tau gimana ceritanya tendernya berubah ke perusahaan lain yang sekarang kena skandal korupsi juga. Nah dari situ kita sekarang pindah ke lokasi penelitian dosen-dosen, daerah stasiun 5 sekarang ada breakwater kan?" Ara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pada pertanyaan Dimas.
"Tau kan kalau mau buat itu pasti udah ada tim ahli, pakai izin lagi, jadi jelas pasti gak menyalahi aturan. Harusnya kan gitu, bener gak?" Sekali lagi hanya anggukan singkat Ara sebagai jawaban.
"Ingatkan yang pernah dibahas kalau dari data kuisioner nelayan di sana malah ke ganggu sama pemecah gelombang itu yang katanya bikin mereka putar haluan. Padahal kalau dilihat secara geografis juga bener proyeknya. Nah itu lah salah satu tujuan terselubung perusahaan kasih dana. Paham??" Ucap Dimas dengan seringai tipisnya.
Seketika mata Ara terbelalak lebar, bola matanya nyaris meloncat kabur. Mulutnya bukan hanya terbuka saja, namum sudah menganga seluas samudra Hindia yang siap diisi kapal tanker.
__ADS_1
"Gila!! Baru sadar aku Dim.. Memang beda ya kalau seperempat isi otak mu yang udah ada materi perairan, kelautan, perikanan terus diselipi politik ekonomi lagi. Gak nyesel aku jadiin temen." Berucap bangga Ara telah menjadikan Dimas teman seperjuangannya.
"Rupanya mereka mau secara efektif dan efisien meredam suara nelayan lewat hasil akademisi." Gumam Ara saat akhirnya paham tujuan terselubung kucuran dana itu.
"Kalau dari segi lingkungan cuma berpengaruh ke parameter fisika sementara aja, kayak kekeruhan. Paling yang masih harus dipantau arah arus sama efek jangka panjangnya lagi. Tapi biologinya jelas ada sebagian habitat yang harus dikorbankan, tapi selebihnya bisa kembali secara alami atau lewat rehabilitasi." Ucap Ara panjang lebar menerawang jauh sambil membayangkan lokasi pesisir yang dibicarakan.
"Kalau yang di garis pantai itu emang pasti bagus buat nahan abrasi, tapi lagi-lagi nelayan kecil yang tangkap udang di pesisir atau tepian aja bakal kehilangan sebagian lahannya. Kita tau sendiri walaupun statusnya nelayan, tapi gak semuanya punya kapal." Kali ini berganti Dimas yang menambahkan ujaran Ara.
"Dan jelas banget segi waktu dan ekonomi, penggunaan bahan bakar nelayan pasti memangkas jarak tempuh lokasi penangkapan. Yang awalnya bisa tancap gas lurus, sekarang harus putar dulu gara-gara breakwater melengkung gitu. Sedangkan subsidi kita tau sendiri ngurusnya repot. Beli minyak kapal beda sama motor yang bisa eceran atau mau ke pom bensin manapun kapan aja bisa." Yuki mendesah iba pada nasib para nelayan kecil.
Meskipun banyak nelayan yang tampaknya memiliki nilai kemakmuran tinggi. Akan tetapi kesejahteraan mereka masih banyak yang sangat rendah, bahkan dibawah garis kemiskinan. Padahal produksi komoditas hasil laut sangat melimpah ruah.
Begitulah keseharian Ara, Yuki dan Dimas jika sudah bersatu. Kekompakan otak ketiganya yang seolah memiliki saraf saling terhubung membuat hubungan lebih lengket. Tidak perduli apapun topik bahasan awalnya, bila sudah saling terkoneksi pada hal yang menarik minat mereka, maka perbincangan itu akan melebar sampai kemana-mana bahkan topik utama bisa terlupakan.
...----------------...
Di sebuah rumah, tepatnya pada ruang kamar tidur bernuansa warna krem tampak seorang laki-laki dewasa sedang asik membaca buku di atas ranjangnya.
"Yon, sibuk??" Tanya sosok yang berada di ambang pintu pada pemilik kamar.
"Abang mau ngomong serius sama kamu." Lanjut sosok itu yang ternyata Pak Rava.
"Ngomong serius? Tumben banget sampai ngajak gini Bang." Terkekeh Dokter Dion menanggapi Abang kandungnya itu.
"Duduk sini aja ya Bang.." Menutup buku yang dibacanya, Dokter Dion menyilang kan kakinya, "Mau ngomong soal apa Bang?"
"Apa Abang tau aku suka sama Ara dan gak setuju?" Batin Dokter Dion yang masih bingung maksud dan tujuan sebenarnya Pak Rava.
"Kita udah sama-sama dewasa. Kita besar hanya berdua setelah Ayah Bunda ke surga." Ucap Pak Rava. Iya, sepertinya sementara ini lebih cocok untuk disematkan panggilan 'Pak' pada sosok Rava mengingat umurnya yang sudah lebih tua, atau maksudnya dewasa dari Dokter Dion.
"Abang lebih mau bahas ini duluan, sebelum kamu tau sendiri atau dari pihak luar yang buat kita jadi renggang." Pak Rava menarik nafas dalam-dalam, "Sejak kapan kamu suka sama Ara?"
"Sekitar setelah 2 bulan pertemuan. Apa Abang gak setuju?" Ucap Dokter Dion serius, ia tidak ingin berbasa-basi. Bagi Dokter Dion untuk apa juga menyangkal bila itu fakta sebenarnya.
"Bukan itu. Ini bahkan lebih dari itu." Helaan nafas berat Pak Rava justru membuat Dokter Dion gusar. Kebingungan tercetak jelas pada wajah rupawan Dokter Dion.
"Abang jatuh cinta sama bocah yang panggil Abang Om kala itu dan dia 12 tahun lebih muda dari Abang. Awalnya Abang pikir itu gak mungkin, dia cuma anak umur 10 tahun, paling juga baru kelas 5 SD. Tapi nyatanya rasa itu makin besar seiring dia tambah dewasa." Menunduk, Pak Rava meremas jemarinya sendiri. Ada beban berat yang bertumpu di pundak dan sesak yang menyeruak dadanya.
"Dion tau Bang kisah itu. Abang dulu Bahkan sempat galau banget gara-gara ditinggal pindah rumah." Ucap Dokter Dion diselingi dengan gelak tawanya mengingat kegalauan sang Abang pada gadis cilik yang mungkin sudah berumur 11 tahun kala itu.
"Kamu tau kan di saat itu akhirnya Abang sadar kalau Abang mu ini penjahat? Bisa-bisanya naksir anak kecil." Tersenyum manis Pak Rava mencoba menghalau kegundahan hatinya, "Abang udah ketemu dia lagi Yon. Saat umur dia 15 tahun keluarganya sempat pulang, tapi dia gak ingat Abang.. Bahkan sampai sekarang dia lupa sama Abang." Mata sendu Pak Rava terlihat sangat miris.
Dokter Dion sempat terhanyut pada cerita masa lalu yang masih setia di simpan oleh Abang satu-satunya itu. Namun tiba-tiba Dokter Dion tersadar akan sesuatu yang ganjil sejak awal pembicaraan.
Brak
__ADS_1
Tangan Dokter Dion tidak sengaja menyenggol buku di sampingnya hingga terjatuh ke lantai dengan kasar. Tatapan mata Dokter Dion menelisik tajam bola mata Pak Rava.
Menganggukkan kepala secara perlahan, Pak Rava seolah membenarkan segala pertanyaan yang berkecamuk dipikiran Adik sematawayangnya.
"Jadi, Ara?? Gak mungkin Bang.. Bukan Ara kan yang Bang Rava maksud??" Tanya Dokter Dion frustasi pada Pak Rava.
...****************...
Paleolitikum : Zaman batu tua atau awal dari zaman batu yang dicirikan dengan mulai berkembangnya alat-alat batu sederhana untuk membantu aktivitas manusia sehari-hari dan diperkirakan berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Kegiatan manusia pada zaman itu adalah hidup berpindah pindah atau bersifat nomaden, berburu dan menangkap ikan.
Breakwater : Breakwater atau pemecah gelombang merupakan
bangunan yang digunakan untuk melindungi
daerah perairan dari gangguan gelombang yang dapat dibagi menjadi dua
macam yaitu pemecah gelombang sambung
pantai (digunakan untuk perlindungan perairan pelabuhan) dan lepas pantai (perlindungan pantai terhadap abrasi). Memiliki 3 tipe, yaitu breakwater sisi miring, tegak dan campuran.
Nelayan : Istilah bagi orang-orang yang sehari-harinya bekerja menangkap ikan atau biota lainnya yang hidup di dasar, kolom maupun permukaan perairan, baik perairan tawar, payau maupun laut.
(Jadi, sebutan nelayan tidak terkhusus hanya buat mereka yang menangkap ikan dari atas kapal, sampan maupun rakit ya😄 Yang duduk cantik gali pasir pantai buat cari kerang atau cari di sela-sela lamun juga nelayan ya😉 Kenapa?? Karena mereka juga menangkap biota dasar perairan.)
Abrasi : Pengikisan pada daerah pesisir pantai yang diakibatkan oleh ombak, gelombang dan arus laut atau pasang-surut air laut yang sifatnya merusak, sehingga dapat menyebabkan terjadinya penyempitan daratan.
*
*
*
Setuju gak sama keputusan Rava yang jujur ke Dion??🤔
*
*
Maaf kalau bab ini juga gak bikin puas ya😞
Pengen bumbu bucin??
Harap sabar ya, belum saatnya.. Hana juga masih berguru kebucinan dari pasangan laknat yang suka seliweran di depan mata😢
*
__ADS_1
Ku ingatin lagi ya kalau up kisah Ara ini gak punya jadwal khusus.. Aku hanya berusaha bakal up 1 bab/hari. Kalau jam gak bakal teratur maaf ya🙏