Aara Bukan Lara

Aara Bukan Lara
Ponsel Biang Masalah


__ADS_3

Brrrtttt..


"Kenapa harus gendong-gendongan sih??" Ucap Yuki bertambah miris, bahkan ia sampai tidak sadar ada bunyi meriam karbit yang berasal dari tubuhnya.


Sama seperti Yuki, Ara dan Rava juga terlalu asik pada dunianya jelas tidak mendengar bunyi apapun. Beruntung angin menghempas jauh aroma kurang sedap agar tidak mempermalukan Yuki.


"Mas.. Malu.." Ucap Ara lirih, ia sudah setengah pasrah pada perlakuan Rava. Pasalnya ingin berontak juga ia sudah kepalang tanggung, banyak pasang mata sudah menyaksikan dirinya dipikul oleh Rava.


"Duduk manis di sini!!" Ucap Rava yang sudah mendudukkan Ara di atas jok motornya, tepat pada bagian penumpang.


"Mas..!!" Rengek Ara kuat. Malu, sebal dan was-was bercampur menjadi satu, sudah terbayang di benak Ara bagaimana Yuki akan bergosip riang bersama Dimas. Ara yakin akan terhempas dari jabatan penengah bila keduanya sudah bergosip tentang dirinya.


"Yuki, kamu gak apa-apa kan bawa motor sendiri??" Tanya Rava yang sudah duduk di depan Ara dengan helm yang belum dikenakan.


"Aman Pak!" Lagi-lagi Yuki mengacungkan ibu jarinya pada Rava. Tersenyum sumringah memerhatikan Ara yang mendelik sebal padanya.


"Pegangan, Ra." Rava menarik kedua tangan Ara tanpa malu untuk dilingkarkan ke perutnya.


'WHAT!!!????' Membelalakkan mata sambil berteriak kencang yang tentunya hanya mampu dilakukan oleh jiwa Yuki yang tiba-tiba melayang. Bahkan jiwa Yuki sudah meronta-ronta ingin menghilang kala melihat keuwuan yang mengiris bola matanya.


Flashback Off


"Nah.. Waktu udah di rumah ku itu mere.. Mmmpphh!!" Telapak tangan kanan Dimas membekap kuat bibir Yuki yang belum selesai berujar. Beruntung bibir Yuki tidak dicubit seperti yang sedang viral di media sosial itu.


"Stop dulu Ki!!"


Plak!


"Sakit tau!!!" Tepisan kuat ikut menyentak bibir Yuki. Mengusap kasar bibirnya yang seolah ternodai, Yuki menendang ujung sepatu Dimas.


"Kenapa lagi sih? Masih panjang ini ceritanya!!"


"Intinya udah dapat, gak usah dipanjangin lagi!"


"Tinggal bilang berhenti baik-baik kan bisa!! Pakai digaplok segala bibir ku ini.. Kalau lecet gimana??" Kumat lebaynya, semoga Yuki bisa berhenti menyerocos secepatnya.


"Lagi ngapain sih Dim? Serius banget kayak banyak pikiran juga.. Ada apa sih di dalam ponsel mu??" Menyadari keanehan dari sikap Dimas, ia ikut menatap ponsel yang terus memunculkan notifikasi pemberitahuan aplikasi yang terhenti.



"Dari tadi pemberitahuan aplikasi si mbah ini berhenti. Udah dipencet laporkan tetap aja muncul. Dipilih batalkan juga tetap aja muncul. Gak ngerti aku!!"


"Coba ke si mbah nyari cara hilangkannya lah, Dim."


"Masalahnya yang ngebug aplikasi si mbah dan dibuka aja gak mau, gimana mau selancaran nyari cara hilanginnya!!??" Memutar bola matanya malas, ucapan Dimas terdengar ketus.


"Hehe.. Iya juga ya.." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Yuki merutuki kebodohannya. Namun, seolah terkena sambaran petir, seketika bola mata Yuki terbelalak lebar.


Bugh!


"Bodoh kamu Dim!!"


"Apaan lagi sih ini dedemit edan!!" Geram Dimas tertahan. Jika nafasnya tidak transparan, mungkin kepulan gelap akan tampak terhembus dari sepasang lubang hidung Dimas.

__ADS_1


"Temen kita ini otaknya pinter IT, bodoh!!" Tunjuk Yuki pada Ara yang memejamkan mata berpura-pura tidak mendengar keributan yang Yuki dan Dimas ciptakan. Dalam hatinya Ara sedang berdoa semoga tidurnya tidak terusik.


"Ara bangun dulu!!" Menggoncang tubuh Ara sekuat tenaganya, Yuki tidak akan menyerah sampai Ara benar-benar bangun.


"Araaaaaa..!!!" Menaikan volume suaranya, Yuki menyasar tepat di dekat telinga Ara. Jelas saja Ara akan terganggu, telinganya yang berdenging tentu spontan ia usap.


"Kan bisa cari caranya pakai ponsel Yuki.." Mendengus kesal waktu bersemedinya terusik. Padahal belum juga Ara bisa menyelami alam mimpi, baru juga ia hampir bertemu cogan impian penjaga gerbang mimpinya.


"Udah sana cari pakai kata kunci 'cara mengatasi si mbah muncul notifikasi berhenti' atau cari 'mengatasi bug si mbah berhenti'. Muncul itu nanti banyak cara-caranya."


"Kelamaan, Ra!" Hampir saja kepala Ara kembali ditelungkupkan harus tertahan di udara. Yuki sudah menahan pertemuan antara kepala dan meja kayu yang sudah tersedia bantal tangan dan tambahan buku tebal.


"Buka mata dulu!!" Berganti suara Dimas yang mengusik Ara kali ini.


"Ganggu aja kalian ini, ck!" Berdecak kesal Ara akhirnya mengembalikan kesadarannya.


"Mana!!?" Ucap Ara ketus, tangannya menengadah meminta ponsel Dimas diberikan padanya.


"Halaah.. Cuma bug gini aja juga." Kalimat cibiran yang sangat meremehkan terlontar dari bibir Ara.


"Nih!! Udah tuh!" Tidak menunggu lama, bahkan tidak ada 60 detik waktu berlalu. Ara sudah meletakkan ponsel biang masalah di meja dengan tatapan sombongnya.


"Beruntung aku gak cuma temenan sama si Yukicot saudaranya bebek yang berisik ini. Coba semuanya kayak Ara, kan aku gak pusing kalau ada apa-apa gini."


"Itu mulut!! Jaga ya mulutnya Dim!! Kalau bukan aku yang ingat juga pasti nangis meraung-raung kan dirimu!!??" Telunjuk Yuki udah terangkat tepat menunjuk wajah Dimas.


"Idih.. Ngapain nangis cuma gini aja juga." Kilah Dimas seakan bukan masalah besar yang baru saja dihadapinya.


"Gak nyadar tadi mukanya udah kecut, asin, pahit menjadi satu rasa memuakkan." Menyeringai Yuki mengejek Dimas yang memang sempat panik itu.


"Ganggu banget sih kalian ini." Wajah yang separuh tertutup lengan itu masih enggan membuka mata.


"Merem juga gak apa-apa, tapi ngomong." Paksa Dimas pada Ara.


"Berisik!!" Ucap Ara ketus.


"Kapok kan kena marah.. Hihi.." Terkekeh Yuki pada Dimas yang sudah cemberut.


"Ayolah, Ra.."


"Buka pengaturan, cari bagian aplikasi. Kalau gak ke penyimpanan aplikasi, pilih kelola aplikasi. Habis itu pilih deh aplikasi yang katanya terhenti. Hapus aja datanya. Kalau masih ngebug juga uninstall baru install ulang. Udah beres gitu aja.. Gampang kan? Intinya cari itu aplikasi dulu terus hapus data aja, kalau gak bisa baru copot pemasangannya."


"Kalau hapus data berarti ilang dong riwayat pernah login nya??" Tanya Dimas serius, matanya tidak menatap ponsel dengan berbinar lagi.


"Ya hilang lah.. Lagian uninstall juga bikin semuanya justru hilangkan??"


"Iya sih.." Jawab Dimas dengan suara kurang bersemangat.


"Jadi kalau pakai username atau email terus lupa sandi, bisa gagal login ulang dong?"


"Iya bisa gitu kalau gak ada pencadangan akun. Biasa kan ada tuh diminta pencadangan pakai nomor ponsel atau akun lainnya, nah kalau punya aplikasi yang kayak gitu gak ada salahnya kita pilih cadangkan di akun lainnya. Jadi kalau harus hapus data bisa gampang dipulihkan."


"Jadi gak ngaruh kalau kita pilih laporkan dari notifikasi yang muncul itu??"

__ADS_1


"Percuma kalau udah pilih laporkan juga paling itu notif tetep muncul kan??"


"Iya.. Udah ratusan kali aku pilih laporkan terus ganti jadi batalkan gak ada yang berubah sama sekali."


"Makanya itu, ikuti aja yang aku bilang tadi kalau ada bug lagi."


"Makasih banget ya Ra.. Temen paling best deh lu itu.." Ucap Dimas sungguh-sungguh, tidak ada unsur candaan sedikitpun.


Kruukkk..!!


"Hahahhaha..!!" Tawa Yuki dan Dimas menggelegar. Suara nyaring bersumber dari perut Ara sungguh sangat memalukan.


"Yuk kantin dulu..!! Aman lah, kita makan bersama.."


"Aman?? Makan bersama?? Mau dibayarin nih??" Tanya Yuki girang.


"Dengerin dulu sampai selesai.. Heh!!"


"Apaan??"


"Aman, kita makan bersama, tapi bayar masing-masing.." Ucap Dimas sambil berlari kabur. Sudah ia prediksi Yuki akan memukulinya bila tidak langsung kabur.


"Gak usah ngomong kalau kayak gitu, peak!!" Teriak Yuki memekakkan gendang telinga Ara.


Meski perutnya sudah meronta, Ara tetap malas untuk sekedar berdiri. Apalagi keluar ruang kelas yang pasti menyesakkan pendengaran, walaupun untuk mata kuliah selanjutnya Ara tetap harus berpindah kelas.


...****************...


Bug : Dalam bahasa pemrograman atau komputer, bug merupakan kesalahan/cacat/kegagalan/error yang menyebabkan terjadinya galat aplikasi/software sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


(Kalau salah satu aplikasi di ponselnya ngebug, gak ada salahnya dipakai dulu cara Ara di atasšŸ‘†)


*


*


*


Apa yang akan menyesakkan pendengaran Ara di luar ruangan itu?šŸ¤”


*


*


Hana sekali lagi mohon maaf karena terlambat UPšŸ™šŸ™ Hari ini juga kebetulan lumayan bagus dibandingkan beberapa hari sebelumnya.. Itu juga tadi UP bab 80 nungguin loading aja lebih dari 10 menit.



Itu bukti screenshot waktu Hana menanti šŸ‘† Gitu juga berhasil terkirim waktu menit berubah ke angka 51. 😭


Beruntung bisa terkirim, dari kemarin gagal memuat terus mau UP.😭🤧 Semoga UP bab 81 dan seterusnya bisa lebih lancar, meski harus nungguin sebentar gak apa-apa deh.šŸ˜ž


*

__ADS_1


Terima kasih untuk yang setia memantau kisah Ara dan selalu memberikan dukungannya untuk Hana🄰


__ADS_2